PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
PETUALANGAN


__ADS_3

“Bagaimanapun, saya tetap harus berterimakasih kepada dua pemuda yang telah menyelamatkan cucuku. Kalian adalah orang-orang baik dan berhati mulia. Kalian pasti akan menjadi orang hebat di masa depan,” ucap Kakek itu. “Kalau begitu, kami pamit pergi. Sekali lagi, termakasih untuk kalian,” ucap Kakek itu, sebelum berlalu pergi bersama anak yang bernama Li Jing.


Wuxian dan Huang Chao saling pandang beberapa saat. Lalu, Huang Chao melemparkan tas yang berisi pakaian kepada Wuxian.


“Nah! Giliran kau yang membawanya,” perintah Huang Chao.


Setelah menyusuri lorong gelap yang begitu panjang, akhirnya mereka pun sampai di ujungnya. Mereka berhasil keluar pada malam itu juga. Hari masih gelap, tetapi sinar bulan berhasil menjadikan malam itu tak terlalu gelap gulita.


“Kau… bukankah kau yang menunjukkan kami lorong ini? Anak muda, kami sangat berterimakasih karena bantuanmu, kami semua bisa selamat,” ucap seorang pria paruh baya tatkala mengenali wajah Huang Chao.


Seketika, serentak penduduk Kota Yi berterimakasih kepada Huang Chao. Tidak lupa pula, mereka memberikan benda-benda berharga yang berhasil mereka selamatkan kepada Huang Chao. Huang Chao memang sedikit risih dengan perlakuan mereka yang berlebihan kepadanya.


“Kau bisa memilikinya. Kau pasti membutuhkannya.”


“Tidak, kau yang lebih memerlukannya. Kalian tidak perlu membalas jasaku, karena aku melakukannya semata-mata hanya ingin membantu diri sendiri dan kalian semua agar kita bisa selamat bersama,” ucap Huang Chao.


“Terimalah. Kami melakukannya karena kami merasa tidak enak jika menerima bantuan secara Cuma-Cuma.”


“Kalau begitu, terimakasih,” ucap Huang Chao. Ia pun tidak bisa menolak barang yang mereka berikan kepadanya, karena mereka memaksa Huang Chao menerimanya.


Setelah penduduk Kota Yi yang selamat itu memberikan barang-barang berharga mereka kepada Huang Chao, mereka pun berpencar memilih jalan hidup mereka masing-masing. Meskipun mereka telah kehilangan segala sesuatu yang mereka bangun dan miliki di Kota Yi, sebisa mungkin mereka tak ingin meratapinya.


Mereka berpencar untuk mengungsi ke Kota-Kota lain yang berdekatan dengan Kota Yi. Ada baiknya juga, karena mereka tidak perlu hidup dengan membalik hari, yakni menjadikan siang sebagai malam, dan menjadikan malam menjadi siang.


“Lihat! Inilah balasan karena telah bersedia menolong orang lain,” goda Wuxian.

__ADS_1


Huang Chao memalingkan matanya, karena ia berpikir bahwa ucapan Wuxian sangat menyebalkan baginya. “Aku menolong mereka buat untuk mendapatkan semua barang-barang merepotkan ini. Itu artinya, beban kita di perjalanan bertambah. Karena kau senang, maka kau saja yang membawa semua ini,” cetus Huang Chao.


Huang Chao menyerahkan barang-barang yang diberikan oleh penduduk Kota Yidan menyatukannya menjadi satu, lalu melemparkannya ke arah Wuxian.


“Karena kau senang, kau saja yang bawa semua itu,” ucap Huang Chao sembari menampilkan senyum liciknya. Ia melemparkan gulungan itu ke arah Wuxian. Wuxian pun tak punya pilihan selain menangkapnya, karena ia tak ingin gulungan barang-barang itu terjatuh ke bawah.


Setelah menyerahkan semua barang-barang itu kepada Wuxian, Huang Chao pun berjaan mendahuluinya tanpa beban sedikit pun.


“Hei! Kak Chao, kau benar-benar keterlaluan. Setidaknya, bawa beberapa barang. Kenapa kau menyruruhku membawa semua ini?” protes Wuxian.


“Tutup mulutmu dan bawa saja semua itu. Kita harus melanjutkan perjalanan,” ucap Huang Chao.


“Benar-benar. Dia kelihatan senang tanpa beban setelah memperbudakku,” gumam Wuxian, kesal karena kelakuan Huang Chao yang semena-mena kepadanya.


Wuxian pun tak punya pilihan selain membawa barang-barang itu dan menyususl Huang Chao yang telah berjalan meninggalkannya. “Yang benar saja. Dia bilang kita saudara? Hei, tunggu aku!” teriak Huang Chao.


***


“Permisi, apa jalan di depan sana akan membawa kita ke daerah Utara?” tanya Huang Chao kepada seorang pemilik kedai teh.


“Benar, jalan itu memang merujuk ke daerah Utara. Ngomong-ngomong, kenapa kau bertanya?” tanya pemilik kedai itu.


“Kita akan … .” Seperti biasa, perkataan Wuxian langsung dipotong oleh Huang Chao.


“Tidak apa-apa, kami hanya penasaran,” lanjut Huang Chao.

__ADS_1


“Oooh, jadi seperti itu. Jika kalian ingin pergi ke sana, saya sarankan lebih baik jangan pergi untuk saat ini,” ujar pemilik kedai.


Huang Chao mengernyitkan kedua alisnya ketika mendengar pernyataan dari pemilik kedai teh itu. Terdengar sedikit mencurigakan, membuat Huang Chao dan Wuxian semakin penasaran. “Kenapa? Kenapa kita tidak boleh pergi ke sana?” tanya Huang Chao dan Wuxian serentak.


“Sepertinya kalian bukan orang sini. Anak muda, apa kalian tidak memiliki wali?” tanya Pemilik kedai teh.


“Wali?” tanya Wuxian.


“Apa kalian tidak memiliki orang tua?” tanya Pemilik kedai the sekali lagi.


Wuxian dan Huang Chao hanya membisu. Hingga akhirnya, Huang Chao pun angkat bicara terlebih dahulu. “Tidak, kami tidak memiliki orangtua. Kami hanya anak sebatang kara yang ingin berkelana,” jawab Huang Chao.


“Ah, jadi begitu. Saya sarankan, sebaiknya kalian jangan datang ke daerah Utara. Akhir-akhir ini, saya dengar iklim di daerah Utara tidak stabil. Lapisan es mulai menebal karena sering terjadi badai salju. Para pedang yang berdagang di sana pun banyak yang mengungsikan dagangan mereka ke arah lain,” jelas Pemilik kedai teh.


“Benarkah? Apa lapisan es itu terjadi hanya karena iklim, atau mungkin… sesuatu yang lain? Selama ini, aku tidak pernah mendengar daerah Utara mengalami bencana seperti itu.” Huang Chao yang dari awal curiga, langsung bertanya untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya.


Pemilik kedai itu berpikir sejenak, baru ia mulai menyuruh Wuxian dan Huang Chao mendekatkan teliga mereka.


“Sebenarnya, tentang badai salju itu hanya rumor yang dibuat-buat warga sekitar. Cerita yang sebenarnya, insiden besar sepertinya telah terjadi di sana. Masyarakat setempat berusaha menutupi insiden dengan rumor bahwa daerah Utara mengalami bencana  badai salju,” bisik Pemilik kedai teh.


“Terimakasih atas informasinya,” ucap Huang Chao.


“Kalau begitu, nikmati teh kalian. Saya akan melayani yang lain,” ucapnya sebelum meninggalkan Wuxian dan Huang Chao yang tengah duduk di salah satu kursi pelanggan.


“Menarik. Wuxian, bagaimana menurutmu?” Huang Chao meminta pendapat dari Wuxian.

__ADS_1


Wuxian terhening beberapa saat, baru mulai angkat bicara. “Aku merasa apa yang dikatakan Pemilik kedai itu benar. Agak aneh jika daerah Utara yang tidak pernah mengalami bencana serupa, diromarkan mengalami bencana yang terkesan dilebih-lebihkan. Namun, ada sedikit yang mengganjal. Tentang pedagang dari sana, apa mereka benar-benar mengungsi?” Wuxian mengutarakan apa yang dipikirkannya.


“Lumayan. Kau cukup pintar,” ujar Huang Chao. “Jika ingin membuat rumor seakan nyata, tentu saja dibutuhkan beberapa hal yang mendukungnya. Aku pikir, tentang badai salju itu tidak sepenuhnya salah. Bisa jadi, badai salju yang terjadi di daerah Utara benar-benar terjadi. Namun, badai itu tidak terjadi secara alami,” tutur Huang Chao.


__ADS_2