
“Aku lelah. Tapi, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa berlari dari satu tempat ke tempat lainnya untuk menghindari bandit yang ditugaskan untuk membunuhku. Awalnya, aku telah berputus asa dan menyerahkan hidupku kepada takdir. Jika mereka menemukanku, maka aku hanya perlu menyerahkan nyawaku agar semuanya berhasil. Tapi mengingat apa yang terjadi kepada kedua orangtuaku, aku akhirnya memutuskan untuk terus bangkit, meskipun selalu jatuh dan terluka. Demi membalaskan dedamku dan dendam kedua orangtuaku, aku tak bisa lemah. Tidak, aku tidak boleh sekalipun melonggarkan pertahananku dan memusatkan tujuanku. Lelah jika kita terlalu merasakan dan menghayatinya. Jika kita mengacuhkan rasa lelah itu, maka lelah pun tidak akan mengalahkan kita,” cetus Huang Chao.
Entah mengapa, semua perkataan yang diucapkan oleh Huang Chao benar-benar motivasi yang benar-benar berhasil membangkitkan semangat Yu Wuxian yang mulai mengendur setiap kali ia ingin menyerah. Semua yang dikatakan Huang Chao benar. Jika ingin membalaskan dendam dan mencari dalang di balik tragedi kehancuran desanya, Wuxian harus tetap bangkit untuk menjadi kuat.
Di dunia yang kejam ini, tanpa kekuatan, siapa pun akan mudah tertindas. Dan asal kekuatan itu berbagai macam. Entah itu dari status sosial dan kekayaan, hingga kehebatan yang tak tertandingi. Satu hal yang akan ditempuh pertama kali oleh keduanya yakni, kehebatan yang tak tertandingi. Dan untuk mendapatkan kehebatan itu, mereka perlu berjuang untuk memperolehnya. Mungkin, mereka akan menempuh perjalanan panjang untuk menjadi seorang Pendekar kuat yang tak terkalahkan.
“Apa ini Kota Yi?” gumam Huang Chao tak percaya ketika melihat penampakan Kota Yi yang tak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.
“Apa yang terjadi dengan suasana mati ini? Apa ini sebuah Kota? Kenapa tidak terlihat satu pun kehidupan?” Wuxian pun ikut bergumam, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Kota yang saat ini tengah disinggahinya bersama Huang Chao.
“Semua rumah dan bangunan ini terlihat normal. Namun, apakah berpenghuni?” tanya Huang Chao sambil melirik Wuxian yang berdiri di sampingnya.
“Bagaimana jika kita memastikannya?” usul Wuxian.
“Benar juga,” ucap Huang Chao.
Keduanya pun berjalan mendatangi salah satu rumah yang ada di sana. Huang Chao mulai menggerakkan lengan kanannya, mengetuk pintu kayu salah satu rumah yang ada di Kota Yi itu.
TOK… TOK… TOK…
__ADS_1
Perlahan-lahan Huang Chao mengetuk pintu rumah itu. Andaikata rumah itu berpenghuni, maka, ia pun tidak akan terlalu mengganggu siapa yang ada di dalam sana.
Sayangnya, tak ada sedikit pun respon dari si pemilik rumah. Namun, Huang Chao tetap memasang sikap sopannya dan menunggu sampai pemilik rumah keluar dan membukakan pintu untuknya.
TOK… TOK… TOK… Huang Chao mengetuk pintu rumah itu sekali lagi. Tak ada respon dari dalam, hingga beberapa menit kemudian, pintu pun sedikit terbuka.
“Anak muda, ada perlu apa siang-siang mengganggu kami?” tanya seorang Nenek dari balik pintu rumahnya dengan pandangan mata tertutup rapat.
“Maaf karena mengganggu. Izinkan kami bertanya. Kenapa siang hari Kota ini sangat sepi?” tanyanya.
“Anak muda, sebaiknya kalian masuk ke dalam lebih dulu.” Mempersilakan Huang Chao dan Yu Wuxian masuk ke dalam. Memang ada yang mengganjal. Entah Nenek itu buta atau karena apa, tapi kedua matanya benar-benar terpejam.
Tak ingin berpikir lebih, Wuxian dan Huang Chao pun masuk ke dalam rumah Nenek itu, setelah saling pandang dengan penuh rasa penasaran dalam diri masing-masing.
Nenek itu menyuruh Yu Wuxian dan Huang Chao untuk duduk di salah satu kursi yang ada di dalam rumahnya. Dibarengi Nenek itu yang juga duduk berseberangan dengan mereka.
“Sepertinya kalian bukan orang lokal. Dari mana asal kalian?” tanya Nenek tua itu.
“Kami dari … .”
__ADS_1
Huang Chao menarik pakaian Wuxian tatkala Wuxian hendak menjawab pertanyaan dari Nenenk itu. Yu Wuxian pun reflek menghentikan ucapannya seraya memandang wajah Huang Chao yang tampak serius.
“Dari mana?” tanya Nenek itu sekali lagi.
“Em… kami hanyalah sepasang saudara yang tidak memiliki keluarga. Kami berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Rumah kami tidak menetap. Ketika melihat jalan Kota Yi, kami tertarik untuk berkunjung dan beristirahat sementara. Namun, kami hanya tidak mengerti… kenapa suasana Kota Yi terasa sunyi di siang hari? Apa Kota Yi selalu seperti ini?” tanya Huang Chao, mengutarakan semua uneg-uneg yang ada di pikirannya.
Nenek tua itu terlihat biasa-biasa saja dan sama sekali tidak curiga dengan semua yang baru saja dikatakan oleh Huang Chao.
“Baiklah. Tidak tahu siapa sebenernya identitas kalian dan dari mana kalian berasal, itu juga tida penting bagiku. Karena kalian telah datang ke Kota Yi, maka kalian berdua adalah tamu. Apa yang membuat kalian penasaran itu, suasana Kota Yi?” tanyanya.
“Benar. Semua bangunan Kota ini tampak normal dan tidak ada tanda-tanda suatu masalah. Kenapa semua orang di Kota ini tidak terlihat keluar beraktifitas ketika siang hari? Apakah setiap bangunan Kota ini berenghuni?” tanya Huang Chao.
“Jadi, hanya itu yang ingin kalian ketahui? Baiklah, sepertinya aku harus memberitahunya. Sepertinya, kalian hanyalah anak kecil yang baru berkelana. Jika kalian sudah lama berkelana di dunia, pasti kalian akan mengetahui tentang informasi Kota Yi,” ujarnya. “Kota Yi memang selalu seperti ini. Ada sebuah legenda yang mungkin jika kuceritakan kepada kalian, waktuku dan waktu kalian akan terbuang Cuma-Cuma. Begini saja, aku hanya akan menjelaskan apa yang ingin kalian ketahui saja tentag Kota Yi. Kota Yi juga disebut dengan Kota tanpa siang,” lanjutnya menjelaskan.
Wuxian dan Huang Chao saling pandang tatkala mereka mendengarkan apa yang bar saja dikatakan oleh Nenenk tua yang saat ini tepat di hadapanannya. Penjelasan yang cukup aneh dan unik. Begitulah yang mereke berdua pikirkan.
“Kota tanpa siang? Kenapa bisa disebut demikian? Apa karena… semua orang di Kota ini tidak beraktifitas ketika siang?” Wuxian bertanya karena sangat penasaran perihal unik yang baru saja ia ketahui saat ini.
“Benar, semua penduduk Kota ini tidak keluar rumah ketika siag haru, dan tidak beraktifitas juga ketika siang hari. Alangkah baiknya, tidak ada satu pun yang keluar ketika siang hari,” jelasnya.
__ADS_1
“Kenapa?” Huang Chao bertanya dengan ekspresi serius, seraya mengernyitkan kedua alisnya dan membulatkan kedua netranya.
“Siang hari adalah kesialan bagi penduduk Kota Yi. Jika ada yang keluar ketika siang hari, maka Kota Yi harus mulai waspada. Entah bahaya seperti apa yang akan datang, tapi sudah pasti bukan pertanda baik bagi kami,” jelasnya.