PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
PENGHINAAN


__ADS_3

“Bukankah kau murid baru yang bernama Yu Wuxian? Aku dengar, kau tidak mendapatkan seorang guru. Melihatmu secara langsung seperti ini, membuatku yakin dengan rumor yang beredar. Kau terlihat sangat lemah karena memiliki energi spiritual lemah bawaan lahir. Sebagai murid pengangguran, aku akan memberimu satu tugas,” ucap salah seorang dari sekte Tian Hai.


Kemudian, ia tiba-tiba melepaskan pakaian jubahnya, lalu begitu saja melemparkannya ke wajah Wuxian. Dia melakukannya dengan sengaja agar Wuxian merasa terhinakan.


“Ini … .” Ucapan Wuxian langsung dipotong oleh murid itu.


“Kau harus mencucinya. Karena kau tidak memiliki pekerjaan lain, aku memberimu satu tugas. Kau harus mencuci bajuku sampai bersih. Awas saja jika aku sampai melihat sebercak noda di pakaianku. Kau harus menanggung konsekuensinya. Ah, benar. Jangan sampai kau mencuci bajuku di laut. Kau harus mencucinya di sungai.” Ia memerintah Yu Wuxian dengan semena-mena. Wuxian hanya memandangi sehelai jubah milik murid itu. Ia mengernyitkan kedua alisnya. Dia tidak mengerti, mengapa dia harus mencuci pakaian milik orang lain? Kenapa harus dia?


“Kenapa? Kenapa kau tidak bergerak? Tunggu apa lagi? Kau pikir, aku melakukan semua ini dengan Cuma-Cuma? Seharusnya kau bersyukur, karena denganku melakukan ini, kau bisa melatih kekuatan fisikmu. Setidaknya, kau tidak akan terlalu tidak berguna.” Meremehkan Yu Wuxian. “Benar juga. Aku rasa, hanya mencuci satu pakaianku saja tidak cukup. Junior, sebagai junior, sudah seharusnya kau berbakti kepada para senior. Tunggu di sini, jangan ke mana-mana! Jangan sampai ketika aku telah kembali, kau menghilang entah ke mana!” ancamnya.


Murid sekte Tian Hai itu pun beranjak dari tempatnya meninggalkan Wuxian. Wuxian tetap terpaku di tempatnya, tanpa berani beranjak sedikit pun. Selalu seperti ini, ketika orang lain menindasnya, Yu Wuxian sama sekali tak bisa berkutik. Dia hanya menerimanya begitu saja. Entah mengapa, Yu Wuxian benar-benar tidak bisa melawan orang lain.


Murid itu berjalan ke setiap kamar saudara seperguruannya semberi mengetuk setiap pintu.


“Apa kalian memiliki pakaian kotor? Cepat keluarkan! Aku akan mencucinya untuk kalian!” teriaknya ke setiap kamar saudara seperguruannya.


Dia adalah Huo Yi dari kediaman keluarga pondok keenam, di bawah naungan gurunya yang bernama Yun He. Dia berteriak ke seluruh kamar murid dari guru yang bernama Yun He. Meminta mereka mengeluarkan pakaian kotor mereka, denngan alasan bahwa dia akan mencucinya. Padahal, dia sengaja melakukan semua itu demi memberatkan pekerjaan Yu Wuxian.


“Huo Yi, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kau tiba-tiba ingin mencuci pakaian kami semua?” tanya salah satu saudara seperguruannya.


Salah seorang saudara seperguruannya menghampiri Huo Yi dan menghadang jalannya.


“Aku hanya sedang dalam suasana hati baik. Saudara, apa kau memiliki pakaian kotor? Cepat keluarkan! Aku akan mencucikannya untukmu,” pinta Huo Yi.


“Huo Yi, apa kau serius?”


“Memangnya penting, aku serius atau tidak? Yang penting lakuin saja dulu lah,” desaknya.


“Eih, jangan sampai nanti kau malah mengotorinya.” Curiga.


“Tidak, aku bersumpah akan mencucinya sampai bersih!” cetus Huo Yi.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku akan menitipkan padamu. Awas saja jika kau sampai merusaknya!” Memberi peringatan keras.


“Tidak akan. Aku berjanji akan mencucinya hingga bersih.” Huo Yi berusaha meyakinkan.


“Tunggu! Aku akan mengambil pakaian kotorku dulu,” ujarnya.


Selang beberapa menit kemudian, saudara sepergurannya pun membawa setumpuk pakaian kotor miliknya. Ada sekitar 5 setelan kotor yang belum dia cuci, langsung diberikan kepada Huo Yi.


“Saudara, apa hanya ini saja?” tanya Huo Yi.


“Hanya ini? Kau yakin? Aku bukan orang yang tidak tahu diri juga. Mungkin, anak lain memiliki beberapa. Kalian semua, apa ada pakaian kotor yang belum dicuci. Huo Yi bilang, dia akan mencucikannya untuk kalian hingga bersih!” teriaknya dengan lantang, hingga seluruh kediaman mendengar teriakannya.


“Aku.”


“Aku ada.”


“Aku juga.”


Seketika seluruh murid di kediaman itu mulai berbondong-bondong menghampiri Huo Yi sembari menyerahkan pakaian kotornya, hingga Huo Yi kewalahan membawa semuanya.


“Apa hanya ini saja?” Sudah seperti itu, Huo Yi tetap menanyakan pertanyaan yang sama persis seperti sebelumnya.


Semua yang mendengar pertanyaan Huo Yi pun reflek menganga, karena tidak mengerti dengan tingkah aneh yang ditunjukkan oleh Huo Yi hari ini.


“Huo Yi, apa kau serius akan mencucinya?”


“Benar, Huo Yi. Kau tidak bercanda kan?”


Pertanyaan-pertanyaan menghujani Huo Yi. Namun, Huo Yi tetap memasang sikap santainya.


“Tenang saja. Aku akan melakukannya dengan baik. Percayalah padaku! Kalau tidak ada lagi, aku akan pergi,” ujar Huo Yi. Ia pun berlalu pergi meninggalkan kediaman dan para saudara seperguruannya.

__ADS_1


“Senior, apa kau tahu kenapa dengannya hari ini?”


“Entahlah.”


“Mungkin pantatnya lagi bolong.”


“Hussh!”


“Tidak ada angin, tidak ada hujan. Apa kalian percaya, dia akan mencuci semua pakaian itu sampai bersih?”


“Apa susahnya? Sebagai seorang kultivator, mencuci pakaian segitu bukanlah masalahnya. Yang menjadi permasalahannya itu adalah sikapnya. Apa kalian tidak curiga?”


“Curiga atau tidaknya, apa itu masalah penting? Nikmati saja hasilnya, jangan terlalu banyak protes. Bubar, bubar!”


Semua murid di kediaman itu pun akhirnya menghambur dari tempatnya, setelah mereka sekejap menggosipkan kekuan Huo Yi yang terbilang aneh hari ini.


Setelah Huo Yi meninggalkan kediamannya, ia pun segera kembali ke tempat dia bertemu dengan Yu Wuxian. Sesuai dengan dugaannya, Yu Wuxian tidak berani beranjak dari tempatnya. Yu Wuxian masih saja berdiri di tempatnya, menunggu Huo Yi datang.


Huo Yi datang dengan membawa setumpuk pakaian kotor dan melemparkannya begitu saja ke arah Yu Wuxian.


“Cepat ambil semua pakaian itu! Cepat! Lambat sekali,” perintahnya semena-mena.


Yu Wuxian tak bisa melawan perintahnya. Yu Wuxian memunguti semua pakaian yang berhambur di tanah, tanpa mengatakan apa pun. Dengan tubuh kecil Yu Wuxian, dia kewalahan membawa semua pakaian kotor itu. Namun, Huo Yi sama sekali tak perduli. Asalakan melihat Yu Wuxian tersiksa, dia merasakan kepuasannya tersendiri.


“Ingat, kau harus mencucinya dengan benar. Jangan sampai kau merusaknya. Jika sampai ada pakaian yang rusak ataupun hilang, kau akan tahu sendiri apa akibatnya. Dan juga, jangan mencucinya di laut, atau semua pakaian itu akan asin. Carilah sungai dan cuci semua pakaian itu di sungai.” Huo Yi memberi peringatan dan pesanan kepada Yu Wuxian dengan mudahnya.


Huo Yi sangat senang melihat seseorang yang mudah diperintah seperti Yu Wuxian. Ketika melihat mereka direndahkan olehnya sendiri, dia merasa sangat puas.


Yu Wuxian selama ini tak mengerti mengapa dia selalu dibully, dihina, dan direndahkan. Perlakuan dari Huo Yi hari ini mengajarkannya akan satu hal. Kebencian dalam diri seseorang, mereka membencinya, bukan karena Yu Wuxian tidak baik. Mereka hanya membencinya, tanpa alasan sedikit pun. Terlihat mudah dibully, maka mereka akan melakukan aksi pembullyannya.


Yu Wuxian awalnya tak mengerti mengapa di manapun dia, dia selalu dibenci orang lain. Yu Wuxian tak mengerti alasannya. Namun, kali ini akhirnya dia mengerti. Dibenci, bukan karena dia kurang baik atau semacamnya, tapi karena hanya perasaan tidak suka secara sepontan. Alasan pembullyan juga sama, karena membuat orang yang dibenci merasa terendahkan, maka mereka akan merasa semua itu menyenangkan.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menerima penghinaan ini!" gumam Wuxian.


__ADS_2