
“Oh … jadi anak itu bernama Wuxian,” ucap Fa Hai sembari mengangguk-anggukkan pelan kepalanya.
“Apa kau mengenalnya?” tanya Huo Yi tanpa berbasa-basi.
“Aku tidak sempat mengenalnya. Anak itu kelihatan sangat tertutup. Dia jarang berada di kamar. Entah ke mana dan apa yang dia lakukan di luar sana. Aku tidak tahu. Mungkin dia sedang berjalan-jalan di luar.” Fa Hai hanya mengatakan apa yang diketahuinya.
“Aishh … sialan,” desis Huo Yi. “Baiklah. Karena anak itu tidak ada di sini, aku akan pergi,” ujar Huo Yi.
Huo Yi akhirnya meninggalkan tempat itu dengan tujuan menemukan Wuxian. Dia tidak akan menyerah sebelum menemukan Wuxian dan memberinya pelajaran.
Sementara Fa Hai pun segera menghampiri Liu Wei. Fa Hai membantu Liu Wei yang terluka untuk bangkit dari posisisinya.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?” tanya Fa Hai karena khawatir.
Ketika Fa Hai membantu Liu Wei untuk bangkit, Liu Wei menolak dengan kasar bantuan dari Fa Hai. Ia mendorong tubuh Fa Hai karena marah kepadanya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkanku setelah kau merendahkan harga diriku di depan orang berengsek sepertinya. Dengar, aku tidak akan berterimakasih sedikit pun kepadamu. Kau sama sekali tidak membantuku, tapi semakin melukai harga diriku. Apa kau senang? Apa kau sangat bahagia memuji manusia hina sepertinya Perkataanmu itu membuatku merasa mual!” ucap Liu Wei dengan sikap ketusnya.
Dia sama sekali tak menghargai bantuan yang diberikan oleh Fa Hai kepadanya. Karena baginya, bantuan Fa Hai membuktikan kelemahan dan ketidakberdayaannya. Dan itu membuat Liu Wei yang mementingkan harga dirinya semakin tersakiti karena bantuan yang didapatkannya.
__ADS_1
“Liu Wei! Aku melakukan semua itu agar dia tidak melukaimu. Aku melakukannya demi melindungimu. Kau adalah sahabatku. Apa aku salah ketika ingin melindungi sahabatku sendiri? Aku … .” Belum sempat Fa Hai menuntaskan perkatannya, Liu Wei memotongnya karena ia tak ingin mendengar alasan ataupun penjelasan dari Fa Hai.
“Berhenti mengatakan omong kosong itu. Jika kau menganggapku sebagai sahabat, kau pasti tidak akan pernah melakukan tindakan bodoh itu. Kau seakan menunjukkan betapa lemahnya aku di hadapannya. Aku sama sekali tidak takut dengan manusia hina sepertinya! Aku lebih memilih dihajar sampai babak belur daripada harus merendahkan martabatku. Aku tidak pernah merendahkan martabatku, tapi kau yang mengaku sebagai sahabatkulah yang melakukannya. Melindungiku? Memangnya kau siapa? Lelaki melindungi dirinya dengan kemampuannya, bukan dengan bualannya. Kau membuatku sangat kecewa!” timpal Liu Wei.
***
“Apa ini? Kenapa pakaian-pakaian ini berserakan di atas tanah? Kurang ajar! Apa bocah itu sengaja membuangnya?! Dia sama sekali tak berniat melakukan tugas yang kusuruh. Aku pasti akan memberinya pelajaran! Akan kubuktikan saat ini dia tengah berurusan dengan siapa!” cetus Huo Yi.
Pencarian Huo Yi terhadap Wuxian tetap berlanjut. Dia tidak akan menyerah sebelum menemukan Wuxian dan memberinya pelajaran dengan tangannya sendiri.
Kala ia menuruni tangga tebing yang bertempat di belakang sekte, ia menemukan pakaian-pakaian miliknya dan para saudara seperguruannya yang berserakan terbuang di tanah. Perihal itu membuat kemarahan dalam diri Huo Yi semakin memuncak. Dia menebak bahwa Wuxian meremehkan perintah darinya dengan sengaja.
“Bagus! Akhirnya aku menemukan bocah sialan itu. Berani sekali dia bersantai ria, berbaring dengan nyaman di sana! Bocah itu pasti sudah gila!”
Huo Yi mempercepat langkahnya semata menghampiri sosok yang ia cari-cari. Ia sudah tidak sabar untuk memberikan pelajaran kepada Wuxian.
“Hei, bocah sialan! Apa yang kau lakukan di sini?!” sentak Huo Yi sembari menendang-nendang tubuh Wuxian dengan kaki kanannya. “Wah, yang benar saja. Apa ditertidur? Berani sekali! Hei, cepat bangun!”
Berkali-kali Huo Yi menendang-nendang kasar tubuh Wuxian, tetapi Wuxian tak kunjung sadarkan diri. Karena kesal, Huo Yi mengalirkan tenaga dalamnya dan membangunkan Wuxian secara paksa. Dia memukul punggung Wuxian dengan tenaga dalam hingga membuat Wuxian terbangun paksa sembari memuntahkan darah.
__ADS_1
“Akhirnya kau sadar juga. Hei, bocah bau! Cepat berdiri!!!” perintah Huo Yi dengan nada menyentak.
Sementara Wuxian yang baru saja sadarkan diri, belum dapat menyesuaikan pikiran dan ruhnya. Ia terlihat lunglai kebingungan dengan dirinya sendiri karena terbangun dengan paksa. Dia sama sekali tak mengindahkan perkataan Huo Yi karena terlalu sibuk mengumpulkan kesadarannya yang masih tercerai-berai.
Merasa perkataannya diremehkan, Huo Yi pun akhirnya menyeret Wuxian dan membuatnya berdiri secara paksa. Huo Yi menatap Wuxian dengan tatapan elang yang telah siap menerkam mangsanya. Sementara pandangan Wuxian kosong dan lurus tak menganggap sosok Huo Yi yang berdiri di hadapannya.
“Hei, bocah bau! Cepat sadar!” bentak Huo Yi.
Sentakan itu reflek membuat kedua manik mata Wuxian tertuju kepada wajah tegas sosok Huo Yi yang tengah berdiri tepat di hadapannya. Namun, pandangannya tetap kosong tak fokus karena merdian tubuhnya terasa kacau balau. Bukan hanya karena pukulan keras dari Huo Yi saja, tetapi ada semacam energi aneh yang mengalir di dalam tubuh Wuxiah. Perihal itulah yang membuat Wuxian kebingungan untuk mengontrol atas tubuhnya sendiri.
Di sisi lain, Huo Yi sengaja menyipitkan kedua matanya ketika melihat respon tidak normal yang ditunjukkan oleh Wuxian. Ia pun akhirnya melepaskan cengkramannya terhadap tubuh Wuxian dan mendorong menjauhinya.
“Apa ini? Apa ada yang salah dengan anak ini? Dia terlihat tidak normal. Apa dia gila?” Huo Yi bertanya-tanya ketika menghadapi situasi yang tengah terjadi di antara mereka. “Sudahlah, sudahlah. Aku akan melupakan kesalahanmu jika kau telah selesai mencuci semua pakaian yang aku berikan. Aku terlalu malas memunguti semuanya. Pungut semua itu dan cuci hingga bersih. Benar-benar tidak berguna. Mencuci pakaian saja tidak bisa, malah membuatnya semakin kotor!” ucap Huo Yi sebelum ia berlalu pergi meninggalkan Wuxian sendiri di sana.
Udara dingin yang menusuk tubuh Wuxian hingga ke tulangnya semakin membuat Wuxian kacau ketika energi aneh yang mengalir di dalam tubuhnya seakan-akan mendidihkan darahnya. Hawa dingin itu semakin mencekam ketika matahari yang akhirnya tenggelam. Sementara Wuxian yang tak berdaya karena menahan energi aneh dalam tubuhnya kembali terbaring kala sendi-sendi tubuhnya mulai melemah.
Langit pun mulai gelap, tetapi Wuxian tanpa daya menggerakkan sendi-sendi tubuhnya. Dia kembali tergeletak di atas tumpukan salju yang mulai menutupi tubuhnya. Namun kali ini, Wuxian tak kehilangan kesadarannya. Hal itulah yang membuat Wuxian semakin tersiksa karena harus merasakan perasaan sakit yang tiada tara.
‘Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dengan tubuhku? Perasaan macam apa ini? Kenapa aku tidak bisa mengendalikan tubuhku?’ batin Wuxian ketika menyadari tubuhnya yang perlahan mulai mati rasa.
__ADS_1