
“Lihatlah sekelompok murid-murid tidak berguna itu! Mereka hanya mempermalukan reputasi sekte,” ujar salah seorang murid yang mengenakan pakaian berwarna biru laut.
Seragam biru laut adalah pakaian yang dikenakan oleh murid dari kediaman milik Guru Tianji. Sekte Qing Long sangatlah luas. Setiap guru memiliki kediamannya masing-masing, dengan murid-muridnya yang memiliki seragam sebagai ciri khas.
Ada sekitar sembilan guru besar di sekte Qing Long, antara lain guru Tianji, Jin Xun, Tao Zi Qi, Yuan Lu, Wu Qin Ke, Luo Yin Fei, Zhao Xichun, Lin Chao Guang, dan Run Yu sang wakil pemimpin sekte.
Setiap murid dari 9 kediaman memiliki seragam dengan warna berbeda-beda. Sementara yang dikenakan oleh murid itu adalah seragam dari kediaman Guru Tianji. Seragam berwana biru laut itu tak lain dikenakan oleh murid senior bernama Huo Yi.
“Benar. Mereka sangat memalukan. Satu hal yang membuatku penasaran selama ini. Kenapa pemimpin sekte yang misterius itu memilih murid-murid tidak berguna itu? Selain tidak pernah melakukan kontribusi apa pun, mereka sangat memalukan,” cetus seorang murid lain yang mengenakan seragam yang sama dengan Huo Yi. Dia adalah sahabatnya yang bernama Lu Xue Qi.
“Xue Qi, jangan sulit-sulit memikirkannya. Tentu saja kehadiran mereka di sekte hanya untuk menjadi pembantu seperti itu, menjadi pelayan rendahan.” Huo Yi tak habis-habisnya memandang rendah para murid yang mendapat perlakuan berbeda dari para murid berbakat yang memiliki seorang guru.
“Benar juga. Jika ada murid-murid tidak berguna seperti mereka, kita tidak perlu repot-repot melakukan tugas kasar itu. Kita hanya perlu berlatih kultivasi dengan tekun setiap hari hingga mencapai keabadian,”cetusnya.
__ADS_1
“Apa yang kalian lakukan?!” tegur seorang murid lain yang datang mengahi pembicaraan mereka. Dari kejauhan, ia mendengar bahwa kedua murid itu tengah menjelek-jelekkan murid lain dengan pandangan sebelah mata. Ia merasa tidak terima karena bagaimana pun, semu murid yang telah masuk ke dalam sekte Qing Long, semuanya adalah saudara seperguruan.
Murid yang datang menengahi Huo Yi dan Xue Qi yang tengah bergosip adalah Huang Chao. Ketika Huang Chao menegur keduanya, tampak jelas jika mereka tidak senang. Mereka sengaja memalingkan bola matanya dan tak menganggap kehadiran Huang Chao sedikit pun.
“Lihat siapa yang datang. Adik, apa kau terlalu bosan sampai-sampai ikut campur di tengah pembicaraan kami?” balas Huang Chao sembari memincingkan tatapan matanya.
“Hekh.” Huang Chao membalasnya dengan seringaian tanpa ragu sedikit pun. “Aku pikir ... kedua senior inilah yang sedang bosan sampai-sampai berghosip hal yang tidak berguna. Aku pikir, hanya wanita yang suka bergosip. Tapi ternyata, ada juga pria yang suka berghosip. Bahkan, perkataan kalian lebih memalukan. Ah, benar … apa mungkin, kalian bukan seorang pria?” balas Huang Chao dengan berani.
“Lancang! Berani sekali kau kurang ajar kepada seniormu. Kemampuan baru segitu sudah berani menyombong di hadapan kami. Kau … kau bukan apa-apa. Hanya karena kau telah berpangkat tinggi, bukan berarti kau bisa semena-mena terhadap seorang senior seperti kami. Berlutut dan minta maaf, maka kami tidak akan mempermasalahkannya!” cetus Xue Qi geram karena merasa terhinakan. Akan tetapi, Huang Chao terlihat tak tergoyah sedikit pun. Tatapannya tetap sama, santai tetapi m memancarkan aura tajam yang sangat kuat. “Tunggu apa lagi? Cepat berlutut!” perintah Xue Qi dengan suara lantang hingga membuat murid lain yang berada di sekitar tertuju fokus kepada mereka.
“Kau! Awas saja kau!” Xue Qi sudah tidak tahan lagi dan hampir saja mengeluarkan pedangnya. Namun sebelum itu terjadi, Huo Yi segera mencegahnya agar Xue Qi tidak membuat masalah.
Memang terlihat sedikit mengganjal. Huo Yi yang terkenal kejam dan perhitungan, entah kenapa ketika ia berhadapan dengan Huang Chao saat ini, dia terlihat sangat tenang. Entah apa isi kepalanya, tetapi tentu saja bukanlah hal baik.
__ADS_1
Huo Yi mendorong telapak tangan Xue Qi yang menggenggam pedangnya, hingga pedang milik Xue Qi kembali merapat ke dalam sarungnya. Xue Qi reflek menatap wajah Huo Yi sembari mengernyitkan alisnya, tetapi Huo Yi hanya membalasnya dengan gelengan kepala.
“Adik seperguruan, sebelum itu, apa gurumu tahu jika kau tidak memiliki rasa hormat terhadap seorang senior? Atau mungkin … gurumu sama sekali tak pernah mengajarkanmu sopan santun? Benar juga, gurumu adalah Mahaguru Jin Xun. Tentu saja dia adalah orang yang sangat tahu aturan dan tatkrama. Tapi lihat! Kau sebagai muridnya, hanya karena merasa hebat, kau melupakan ajaran yang diajarkan oleh gurumu. Emm … aku harus menyebutnya apa? Xue Qi, apakah murid durhaka sangat cocok dijadikan julukannya?” Tentu saja Huo Yi tidak pernah ingin kalah. Ia bersilat lidah dan membalas hinaan kepada Huang Chao.
“Kau!” Emosi Huang Chao mulai mendidih. Akan tetapi, sebisa mungkin dia menahannya agar tak menimbulkan masalah yang dapat mempermalukan gurunya dan seluruh penghuni kediamannya. Ia hanya bisa mengeratkan rahangnya sembari mengepalkan telapak tangannya.
“Siapa yang kau sebut murid durhaka?! Memangnya siapa kau? Tidak tahu malu!Jelas-jelas kau juga tidak mengajarkan ajaran dari gurumu. Apa mungkin gurumu juga mengajarkanmu bergoship hal yang tidak berguna? Aku pikir, kalianlah yang membuat guru kalian malu!!!” Wan Hua akhirnya bersuara dengan lantang di hadapan Huo Yi dan Xue Qi.
Karena Huang Chao berusaha menahannya, Wan Hua-lah yang akan meledakkannya. Dia tidak bisa menahannya, karena ia benar-benar tidak tahan lagi dengan para senior yang merasa dirinya setinggi langit, padahal setinggi pohon saja mereka kalah jauh.
“Dasar gadis tengik! Dari mana asalmu? Kau terlihat lemah dan tidak memancarkan kekuatan spiritual. Apa kau penyusup? Baik, Huang Chao, m berani sekali kau membawa manusia biasa ke sekte keabadian. Sepertinya, aku harus memberi kalian pelajaran. Kalian pasti akan menerima hukuman!!!” cetus Huo Yi. Tampaknya, Huo Yi pun tak bisa menahan emosinya lagi. Ia terlihat berapi-api, dengan tatapan penuh aura pembunuh.
“Menakutkan. Kau membuatku takut. Hahahaha!!!” Wan Hua tertaw terbahak-bahak tanpa beban sedikit pun. “Eh, siapa yang kau sebut tengik?! Sembarangan! Yang benar saja. Laporkan saja jika kalian mau. Aku rasa, seharusnya kalianlah yang pantas mendapat hukuman,” cetus Wan Hua.
__ADS_1
“Adik, diamlah …,” bisik Huang Chao kepada Wan Hua. Mau tidak mau, Wan Hua terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat. “Dia bukanlah penyusup. Sedangkan identitasnya, kalian tidak perlu tau. Aku rasa pembicaraan ini cukup sampai di sini,” kata Huang Chao menyudahi.
“Jangan harap!!!”