
“Hei, aku sudah menghabiskan mangkuk yang lebih besar dari milikmu ini. Sekarang giliranmu yang menenggaknya hingga tetes terakhir, tanpa menyisakan setetes pun. Jangan bilang … kau tidak ingin menghabiskannya karena takut rasa pahit. Yang benar saja, Wuxian, sebagai seorang lelaki, kita harus mengalami banyak kepahitan dalam hidup ini. Masa hanya obat saja kau … .” Belum sempat Liu Wei menceramahi Wuxian panjang kali lebar, Wuxian dengan cepat merebut semangkuk sup obat yang ada di tangan Liu Wei. Wuxian menghabiskan semangkuk sup obat yang pahit itu dalam sekali teguk, tanpa menyisakannya sedikit pun.
“Lihat! Aku sudah menghabiskannya. Karena obatku sudah habis, berhentilah bicara. Kepalaku sangat pusing. Aku tidak ingin mendengar ceramahmu yang tidak berujung,” protes Wuxian seraya memberikan mangkuk kosong kepada Liu Wei.
“Wah, benar-benar dihabiskan. Anak yang pintar,” puji Liu Wei. Kemudian, ia bangkit dari tempatnya untuk mengembalikan mangkuk obat itu ke dapur.
Kala Liu Wei tiba di dapur, ia langsung mendapati sosok Chang Sheng, begitupula dengan Chang Sheng yang reflek menyadari kehadiran Liu Wei.
“Bagaimana? Apa kau sudah memastikan dia menghabiskannya?” tanya Chang Sheng, sekadar untuk memastikan bahwa tugasnya telah berhasil dilakukan dengan benar.
Liu Wei pun dengan cepat menjawab, “Jangan khawatir. Aku sudah memastikannya meminum semuanya tanpa tersisa setetes pun,” jawabnya.
“Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu repot-repot menampung orang yang tidak ingin sembuh,” kata Chang Sheng dengan dinginnya.
Ketika mendengar ucapan Chang Sheng, Liu Wei merasa perkataan Chang Sheng terlalu kasar untuk dikatakan kepada orang yang sakit. Liu Wei pun angkat bicara, “Hei, apa kau yakin kalau kau seorang tabib? Jika perkataanmu sekasar itu, kau bukannya membuat pasienmu sembuh, tapi malah memperparah penyakitnya,” protes Liu Wei menyuarakan pendapatnya.
“Lalu? Apa yang kukatakan salah? Untuk apa berobat jika tidak ingin meminum obat? Sebagai seorang tabib, memetik tanaman herbal bukanlah hal yang mudah, apalagi jika harus menemukan bahan-bahan langka yang tumbuhnya di daerah curam. Kau tidak pernah menjadi tabib, apalagi mengumpulkan bahan-bahan langka itu. Jadi, jangan bicara seenaknya saja. Lalu setelah berbagai upaya yang dilakukan untuk menyembuhkan, bisa-bisanya mereka menolak untuk meminumnya hanya karena rasanya yang tidak enak. Sebagai tabib, kami hanya membantu meringankan kesakitan orang lain. Lalu sisanya, tergantung orang itu sendiri, ingin menyembuhkan rasa sakitnya atau tidak. Sudahlah … orang lain tidak akan merasakan perasaan orang lain sebelum merasakannya sendiri,” balas Chang Sheng panjang kali lebar, selang berlalu pergi meninggalkan dapur begitu saja.
Sementara Liu Wei hanya bisa tertegun dan terpaku di tempatnya, tak bisa berkata-kata tatkala mendengar perkataan dari Chang Sheng. Rasanya, seakan-akan kepalanya langsung terhempas membentur jeruji besi. Chang Sheng jarang membuka mulutnya, tetapi sekali mengutarakan pendapatnya, perkataannya membuat orang lain tak berdaya untuk membalasnya.
__ADS_1
“Orang pendiam sepertinya memang mengerikan setelah mengutarakan perasaan yang sudah lama terpendam,” gumam Liu Wei.
Selang beberapa waktu setelah Chang Sheng pergi, beberapa orang lainnya muncul di pintu dapur ketika Liu Wei tengah mencari bahan-bahan makanan yang sekiranya bisa dimasak untuk mengganjal perutnya. Namun sebelum ia berhasil menemukannya, ia harus menundanya ketika salah seorang dari mereka menginterogasinya dengan beberapa pertanyaan.
“Apa kau murid yang berada di tempat kejadian?” tanyanya dengan wajah seriusnya, dan sepertinya memang ia terlahir dengan wajah seperti itu.
“M-maksudnya … apa kalian bisa menjelaskannya terlebih dahulu agar aku tahu pembahasan apa yang kalian maksud,” gagap Liu Wei.
“Beberapa hari lalu, insiden di halaman belakang sekte, apa kau termasuk korban yang terluka?” tanyanya.
Akhirnya, Liu Wei pun mengerti dengan pembahasan yang mereka maksud. Kemudian, ia pun menjawab pertanyaan itu, “Benar, aku terluka karena salah seorang Senior menyerangku dan membuatku membentur … .”
“Kau bisa menjelaskan semua itu setelah ikut bersama kami.” Dia memotong perkataan Liu Wei dan memintanya ikut bersamanya dan satu orang lainnya yang lebih banyak diam.
“Sidang,” jawabnya singkat.
“Ha? Apa aku juga akan disidang? Apa aku ada melakukan kesalahan?” tanya Liu Wei. Ia sangat terkejut ketika mendengar pernyataan tenyang sidang yang dimaksud.
“Salah atau tidaknya, tidak ditentukan di tempat ini. Kau bisa membuktikan ketidakbersalahanmu ketika sidang berlangsung,” ujarnya. “Aku dengar, ada 3 orang murid yang terluka di tempat kejadian. Mana 2 lainnya?” tanyanya.
__ADS_1
“Saudara, salah satu di antara mereka sudah berangkat sejak tadi,” sambung teman di sampingnya.
“Kalau begitu, mana 1 orang lainnya? Apa kau tahu di mana dia?” tanyanya.
“Dia … sepertinya dia belum benar-benar pulih. Apa sebaiknya … .” Lagi-lagi Liu Wei belum sempat menyelesaikan perkataannya, tetapi begitu saja langsung disahut oleh salah satu dari mereka.
“Asalkan dia sudah sadarkan diri. Kita tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Kasus ini harus segera terselesaikan,” sahutnya.
“B-baiklah,” kata Liu Wei.
Kemudian, Liu Wei pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ruang penyimpanan obat-obatan untuk menjemput Wuxian yang tengah memulihkan diri di sana.
Kreeekk … Liu Wei membuka pintu ruangan itu, lalu bergegas menyampaikan segala hal itu kepada Wuxian. Tanpa banyak mengatakan apa pun, Wuxian pun bangkit dari tempatnya. Meskipun merdian tubuhnya belum benar-benar pulih, tetapi sepertinya obat yang diberikan oleh Chang Sheng banyak membantunya menyeimbangkan energi dalam tubuhnya yang menggerogoti jantungnya.
Wuxian dan Liu Wei pun berangkat ke aula pertemuan bersama dengan kedua senior yang tidak mereka kenal. Kedua senior itu membawa Wuxian dan Liu Wei ke tempat persidangan yang tak lain adalah aula pertemuan yang diberi nama aula Lao Wu.
Hampir lupa jika pertemuan umum jatuh pada hari ini. Setelah melalui pertimbangan matang-matang, akhirnya para Mahaguru memutuskan untuk membahas insiden yang terjadi bersama dengan para pendekar hebat dunia Jianghu lainnya. Meskipun keputusan ada sedikit perubahan karena sekte Qing Long telah memutuskan untuk mengungkap kemunculan pedang misterius itu kepada dunia, dengan tujuan terselubung yang telah didiskusikan dan disepakati bersama.
“Guru, kami telah membawa mereka semua,” ucap kedua murid senior itu sembari memberi penghormatan kepada guru yang telah memerintahkannya, lalu memberi hormat kepada pendekar-pendekar yang telah hadir di aula pertemuan.
__ADS_1
Para pendekar itu merasa penasaran karena tidak tahu apa yang telah terjadi, sebab tak seorang pun dari sekte Qing Long yang telah mengungkapkannya.
“Salam dan selamat datang kepada semua pendekar-pendekar hebat yang telah hadir pada pertemuan kali ini. Semua, kali ini, selain mendiskusikan penataan ulang pemegang posisi Xiandu (Ketua pemimpin seluruh pendekar aliran lurus dunia Jianghu) ada hal lain yang perlu kami bahas dalam pertemuan ini,” ucap Run Yu.