PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
SELEKSI


__ADS_3

Huang Chao terhening kala mendengar perkataan Wuxian. Memang benar apa yang dikatakan oleh Wuxian. Satu hal yang tidak boleh mereka lupakan adalah keyakinan, keyakinan atas kemampuan.


Huang Chao yang sempat menaburkan motivasi itu dalam diri Wuxian, tetapi ia sempat melupakannya. Untungnya, Wuxian kini adalah orang yang mengingatkannya.


“Kau benar. Apa pun yang terjadi, kita harus yakin dengan diri kita dan kemampuan kita,” cetus Huang Chao.


SLERETTTT!!!! Tiba-tiba batu melayang yang turun perlahan, kini menambah kecepatannya menjadi lebih cekatan, hingga sampai ke permukaan dataran.


Wuxian dan Huang Chao sempat terbelalak tatkala menyaksikan penampakan yang mereka lihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Tidak diduga, batu melayang yang turun perlahan, kini layaknya ditarik dengan kuat oleh gravitasi bumi, membuatnya sampai hingga ke permukaan dataran tanah.


“Kak Chao, apa yang terjadi?” tanya Wuxian dengan ekspresi wajah ling-lung karena tak percaya dengan apa yang ia lihat.


“Entahlah. Kenapa batu melayang yang turun perlahan, menjadi lebih cepat sampai ke dataran?” Huang Chao bertanya-tanya atas apa yang terjadi.


“Selamat datang di Sekte Qing Long!” Tiba-tiba terdengar suara lantang menggema, entah dari mana sumber suara itu berasal.


Wuxian dan Huang Chao reflek menoleh-nolehkan kepala, mencari-cari siapakah gerangan yang tengah berbicara kepada mereka.


“Siapa kau?!” teriak Huang Chao dengan lantang. Ia penasaran dengan siapakah identitas seseorang yang tengah berbicara kepadanya.


Sayangnya, setelah gema berakhir, tak ada sahutan suara lain setelahnya. Suara itu benar-benar menghilang, kesannya hanya menyampaikan pesan kepada Wuxian dan Huang Chao.


“Kak Chao, ayo! Batu melayang telah menunggu kita. Artinya, kita berdua benar-benar diterima di sekte Qing Long,” ajak Wuxian sembari menggandeng tangan Huang Chao.


Huang Chao sekilas menatap lengan yang digenggam oleh Wuxian, lalu menatap wajah Wuxian dengan tatapan mantap dan meyakinkan.


“Ayo!” jawabnya dengan tegas.


Huang Chao dan Wuxian pun berlari menuju batu meyang, sambil bergandengan tangan. Mereka pun menaiki batu melayang yang setia menunggu mereka. Ketika mereka telah naik di atasnya, keduanya pun berteriak ketika batu melayang yang bergerak sangat cepat membawa mereka ke puncak.


Saat batu melayang telah berhenti, keduanya pun membuka mata mereka.

__ADS_1


“Gerbang sekte Qing Long?” gumam Huang Chao.


“Kak Chao, sepertinya kita telah sampai,” ujar Wuxian.


“Apa ini mampi?” gumam Huang Chao.


“Tentu saja bukan!” Tiba-tiba terdengar suara asing dengan lantang, bersamaan dengan gerbang sekte Qing Long yang terbuka secara perlahan.


Dari dalam gerbang, muncul seorang pria paruh baya berpakaian serba putih.


“Apakah dia … salah satu Guru di sekte Qing Long?” tebak Huang Chao.


“Selamat datang di Sekte Qing Long. Karena Pemimpin sekte pribadi telah memilih kalian, maka, datanglah!” perintahnya.


“Kak Chao, apa dia menyuruh kita masuk ke Sekte Qing Long?” tanya Wuxian sembari menarik lengan baju milik Huang Chao.


“Sepertinya begitu. Kita turuti saja apa perintahnya. Di samping itu, ini adalah sekte Qing Long, dan kita adalah orang terpilih. Tidak mungkin mereka melakukan sesuatu kepada kita,” bisik Huang Chao.


“Begini … bagaimana kami harus memanggil Anda?” tanya Huang Chao.


“Masalah itu tidak penting. Yang terpenting saat ini, tujuan kalian. Jika kalian tidak masuk, maka aku akan menutup pintu gerbang,” ujarnya.


“Kak Chao, ayo kita masuk, sebelum dia benar-benar menutup pintu gerbang,” bisik Wuxian.


“Dia hanya menakut-nakuti kita. Pintu gerbang sekte Qing Long tidak akan pernah tertutup, sebelum tamu seperti kita masuk ke dalamnya,” balas Huang Chao.


“Jadi begitu. Kak Chao, kita masuk saja. Tidak baik juga mengulur waktu lebih lama,” himbaunya.


“Ayo!”


Wuxian dan Huang Chao pun mulai melangkahkan kakinya, melewati pintu gerbang sekte Qing Long. Pria paruh baya itu pun berbalik, menunjukkan jalan kepada keduanya. Ia sama sekali tak mengucapkan satu patah kata pun kepada Wuxian dan Huang Chao sepanjang jalan.

__ADS_1


KREEEK ….


Sebuah pintu nan tinggi dan kokoh pun terbuka lebar. Pria paruh baya itu membawa keduanya masuk ke ruangan yang ada di dalamnya.


Di dalamnya, tampak para Guru sekte Qing Long yang tengah berkumpul dan duduk di kursi milik mereka masing-masing.


“Aku kira, siapa tamu istimewa yang datang, ternyata hanya dua orang anak kecil.”


“Ternyata kita berkumpul hanya untuk ini? Jika ingin memilih murid, kalian saja. Muridku sudah terlalu banyak.”


“Hei, kau pikir muridku hanya hitungan jari? Mengurus mereka saja sudah susah, ditambah lagi dengan mereka? Aku juga tak ingin menerima satu pun murid.”


“Kalian ini benar-benar egois. Kalian pikir, hanya kalian saja yang memiliki banyak murid.”


“Lihatlah! Dong Fang dan Shu Ren yang memiliki ratusan murid. Mereka tidak pernah mengeluh.”


“Hei, Bu Yi, kau bisa berbicara atas nama mereka karena kau tidak punya banyak murid. Atau … bagaimana jika kau saja yang menerima mereka?”


“Kau!”


“Sudah, sudahlah. Kalian berhentilah berdebat. Urusan mereka adalah urusan bersama. Pemimpin sekte sendiri yang memilih mereka. Mereka adalah amanah dari Pemimpin sekte. Jadi, kita harus menyambut mereka dengan baik.” Run Yu, murid langsung dari Pemimpin sekte Qing Long, menengahi perdebatan yang terjadi antara para Guru yang terlihat tidak senang dengan kedatangan Wuxian dan Huang Chao.


“Kak Chao, apa kita tidak diinginkan di sini?” bisik Wuxian di telinga Huang Chao.


“Apa yang kau bicarakan?” Tanpa aba-aba, Huang Chao menurunkan bahu Wuxian, hingga keduanya dalam posisi berlutut di hadapan para Guru sekte Qing Long.


“Maaf karena kedatangan kami mengganggu para Guru sekte sekalian. Nama saya Huang Chao, dan dia adalah Wuxian. Kami hanyalah bersaudara yang kehilangan tempat tinggal karena sekelompok orang asing yang menghancurkan dan membunuh tanpa ampun. Kami hanya ingin mencari keadilan atas diri kami sendiri. Kami datang bukan untuk meminta bantuan agar para Guru sekalian mencari pelaku atas tragedi yang terjadi kepada kami. Kami hanya ingin mencari mereka dan membalaskan dendam kami dengan kemampuan kami sendiri. Para Guru sekalian, terimalah kami. Kami ingin menjadi seorang Pendekar yang kuat. Bukan hanya untuk membalaskan dendam pribadi, melainkan memberantas kejahatan, dan melindungi mereka yang lemah dan membutuhkan bantuan,” cetus Huang Chao, menjelaskan maksud dan tujuan mereka tanpa bertele-tele.


Perkataan Huang Chao sontak membuat Para Guru sekte Qing Long terdiam. Hingga akhirnya, Run Yu yang lebih dulu membuka pembicaraan kembali.


“Huang Chao, apa itu namamu?” tanyanya.

__ADS_1


__ADS_2