
JEDARRRR!!! Suara guntur menggetarkan jiwa. Seketika pemandangan yang dilihat oleh Wuxian benar-benar hancur merata, menjadi gurun pasir yang luas, begitupula orang-orang yang hendak mencapai nirwana telah menghilang dari pandangan.
"Ada apa lagi ini? ke mana orang-orang yang barusan kulihat? ke mana mana mereka semua? mengapa semuanya menghilang dan berubah menjadi gurun pasir? sekarang, di mana aku?" Logika Wuxian berpikir keras, tetapi segala sesuatu yang disaksikannya sungguh tak berlogika.
CETARRR!!! CRINGGG!!! Suara guntur dan pedang saling berhadangan. Selang muncul 2 sosok pria gagah berbaju zirah yang tengah berduel pedang dan kemampuan sihirnya. Keduanya bertarung dengan sangat gesit. Kekuatan yang mereka miliki sangatlah besar dan setara tak tertandingi.
CRINGG!!!
Satu di antara mereka menggunakan baju zirah berwarna emas, sementara yang lainnya menggunakan baju zirah berwarna hitam.
"Zhi Lin, menyerahlah! kau bukanlah tandinganku!" ucap seorang pria yang mengenakan baju zirah berwarna emas.
Ketika mendengar hal itu, pria yang menjadi lawannya hanya menyeringai dengan senyuman licik yang menghiasi ujung bibirnya.
"Benarkah? kalau begitu, tunjukkanlah kekuatanmu! aku ingin lihat, sekuat apakah Dewa Agung yang tengah kuhadapi saat ini," tantangnya.
HIAATTTT!!!
Keduanya terus berduel tanpa melemahkan serangannya. Di sisi lain, Wuxian yang tengah menyaksikan pertempuran itu pun akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Apa aku bermimpi? Siapa mereka? Apa mereka semua tidak bisa merasakan kehadiranku diri sini?" Tiba-tiba Wuxian tersadar bahwa kehadirannya saat ini tak diketahui oleh segala sesuatu yang ia lihat di hadapan pandangannya.
"Kenapa aku bisa terjebak di tempat ini? Apa mereka yang kulihat di tempat ini seoran manusia sepertiku? Apakah makhluk astral? Mereka memiliki sihir yang sangat kuat. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? Kenapa mereka salinh menyerang secara bertubi-tubi?" pikir Wuxian.
__ADS_1
Wuxian termenung memikirkan langkah selanjutnya, yang akan dilakukan oleh dua makhluk perkasa yang ada di hadapannya. Satu detail yang aneh, jelas-jelas Wuxian berdiri tak jauh dari para makhluk itu. Akan tetapi, mereka semua tak menyadari keberadannya.
Semua itu karena tubuh Wuxian terdapat energi aneh yang dapat menyembunyikan wujud manusianya dari makhluk lain, selain manusia. Tempat Wuxian berpijak saat ini bukanlah tempat untuk manusia sepertinya. Oleh sebab itu, tak ada seorang pun makhluk yang dapat melihatnya.
"Tidak ada yang bisa kulakukan di sini, selain menjadi penyimak makhluk-makhluk itu bertarung. Tapi, bagaimana caraku keluar dari sini? Caraku masuk saja secara tiba-tiba," gumam Wuxian.
CRRINGG!!! SLERETTTT!!!
Seorang pria berbaju zirah emas yang dijuluki sebagai Dewa Agung berhasil melukai lengan seorang pria yanh bernama Zhi Lin.
Zhi Lin terhempas jatuh ke hamparan pasir gurun. Akan tetapi, dengan sigap ia bangkit sembari memegangi luka di lengannya yang mengeluarkan darah.
Dengan tatapan mata terhunus, Zhi Lin menatap sang Dewa Agung. Baginya, perhitungan belumlah berakhir. Luka kecil di tangannya, bagi Zhi Lin bukanlah apa-apa.
"Puihh!!!" Zhi Lin meludah agar kesannya meremehkan perkataan sang Dewa Agung. Ia sama sekali tak mengindahkan tawaran darinya karena ia merasa semua yang terjadi sudah terlanjur terjadi. "Dalam mimpimu! Menyerah? Kata itu tidak ada di dalam kamusku. Kau ingin mengampuni klanku? Kau pikir, aku akan percaya dengan pengkhianat sepertimu. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan selama ini, apa? menyerahkan klanku dan tunduk padamu? jangan harap!" tolaknya matang-matang dengan suara lantang dan tegas.
"Hahaha. Kalau begitu, jangan salahkan aku karena tidak akan sungkan lagi," balas Dewa Agung.
"Banyak omong! Hiaaattt!!!" Zhi Lin mengangkat pedangnya kembali. Namun siapa sangka, kekuatan spiritual dalam tubuhnya perlahan melemah hingga ia pun tak dapat mengangkat pedangnya kembali. Ia pun terjatuh berlutut di hadapan Dewa Agung sembari menjadikan pedangnya sebagai penyangga tubuhnya. "Apa yang terjadi kepadaku? mengapa kekuatanku tiba-tiba menghilang?" gumamnya penuh tanda tanya kala mendapati suatu keanehan yang terjadi kepadanya.
"Hahaha, akui saja. Kau sudah kalah," ujar Dewa Agung seraya menampilkan senyum tersungging di wajahnya.
"Makhluk hina! Ternyata kau menaruh racun di pedangmu. Sudah kuduga, dewa seperti kalian memang munafik!" cerca Zhi Lin dengan kemarahan yang membara.
__ADS_1
"Dalam pertempuran, pemenanglah yang menentukan takdir. Hina? munafik? Kau saja yang terlalu naif karena kurangnya strategi. Ah, benar. Racun itu tidak akan membunuhmu, tetapi hanya melenyapkan kekuatanmu sementara. Karena racun itu tidak membunuhmu, akulah yang akan melakukannya!" cetusnya.
Dewa Agung mengeluarkan sebuah benda sihir dan melayangkanya di atas udara, tepat di atas kepala Zhi Lin.
Zhi Lin mengernyitkan kedua alisnya sembari menatap wajah Dewa Agung dengan tatapan yang melebihi kebencian dan dendam.
"Formasi penangkap iblis ini perlahan akan mengacaukan merdian di seluruh tubuhmu hingga syaraf tubuhmu terputus satu persatu. Kekuatan spiritual dalam tubuhmu akan berbalik melawanmu, hingga akhirnya tubuhmu yang tidak dapat menahan kekuatanmu akan meledak. Pada saat itu, kau akan mati," ungkapnya.
"Meskipun aku mati, menjadi hantu, hingga butiran ruhku menyebar ke setiap penjuru, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku pastikan untuk membalasmkan dendamku dan dendam klan-klanku. Meskipun bukan aku sekali pun, akan ada orang lain yang akan membalaskan dendamku. Tunggu saja hingga saat itu tiba. Pada saat itu, kau dan orang-orang munafik itu pasti akan binasa!" cetus Zhi Lin penuh dengan kebencian.
"Hahaha ... kau pikir aku takut dengan omong kosong yang kau katakan? formasi ini akan menghancurkan sisa-sia roh primodialmu dan mengurungnya. Kau tidak akan pernah bereinkarnasi. Jiwamu tidak akan pernah mencapai nirwana. Jadi, lupakan tentang balas dendam yang kau sebutkan itu. Aku yang mendengarnya saja sangat malu," kata Dewa Agung dengan sengaja meremehkan ucapan Zhi Lin.
"Aaaarrgggh!!!" Zhi Lin meraung kesakitan tatkala formasi semakin berpengaruh kepada tubuhnya. Tubuhnya perlahan menghilang, dan ruhnya pun tak sempat menyebar karena benda sihir itu mengurung ruh Zhi Lin ke dalamnya.
"Dia sangat konyol! balas dendam? Dia bahkan tidak bisa memimpikannya!"
Selang beberapa waktu kemudian, tiba-tiba halilintar menghancurkan seluruh tempat itu dan membuat pasir-pasir gurun beterbangan. Segala sesuatu yang ada di sana telah menghilang, rata seperti ruangan hampa.
SLERETTT!!! CTAR!!!!
Bagai petir kehancuran. Dan .... "Aku sudah kembali?" Wuxian akhirnya berhasil keluar dari hutan ilusi.
Wuxian melihat sekeliling yang menampakan bongkahan-bongkahan es dan hujan salju. Ya, dia telah kembali ke kenyataan. Ketika ia menyentuh kawasan yang sempat ia kira sebuah formasi, itu menghilang. Tak ada pembatas apa pun ketika Wuxian menyentuhnya.
__ADS_1
"Aneh sekali. Peristiwa apa yang baru saja kulihat tadi? "