
“Maksudnya?” tanya Wuxian sembari mengernyitkan kedua alisnya karena ia belum benar-benar mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Huang Chao.
Huang Chao mneghela nafasnya, lalu angkat bicara, “Tentu saja. Aku tahu daerah Utara bukanlah sembarang tempat. Apa kau lupa dengan tujuan utama kita? Daerah Utara terdapat sekte besar. Para pendekar dunia Jianghu yang berkultivasi, dapat dengan mudahnya memanipulasi segala sesuatu sekan menjadi nyata. Bagi mereka yang memiliki kultivasi tinggi, memanipulasi badai salju bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Aku menebak, mereka sengaja memanipulasi terjadinya badai salju agar warga sekitar percaya akan terjadi bencana yang terjadi di sana. Lalu, setelah warga merasa daerah tidak aman dan akan terjadi bencana yang lebih besar sewaktu-waktu, warga sekitar pun memutuskan untuk mengungsi. Semua yang dilakukan para pendekar itu hanya untuk satu tujuan, yaitu menutupi suatu insiden yang terjadi di sana agar dunia tidak meributkannya,” jelas Huang Chao panjang kali lebar.
Wuxian mendengarkan asumsi Huang Chao dengan seksama. Apa yang dikatakan Huang Chao memang masuk akal baginya. Namun, semua itu hanyalah asumsi atau pandangan dari satu pihak. Kejadian yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang mengetahuinya. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi, mereka harus menyelidikinya secara pribadi.
“Cukup masuk akal. Namun, apa yang terjadi di sana, kita belum bisa memastikannya,” ujar Wuxian.
“Satu-satunya cara untuk memastikannya yaitu … .” Huang Chao dan Wuxian saling pandang, dengan tatapan meyakinkan.
Mereka akan memastikannya sendiri. Tidak perduli dengan rumor atau desas-desus yang terjadi di daerah Utara. Wuxian dan Huang Chao telah memutuskan untuk datang ke sana dan memastikannya sendiri. Di samping itu, tujuan utama mereka bukan hanya untuk memastikan insiden apa yang sebenarnya terjadi di daerah Utara, melainkan mendaftarkan diri ke suatu sekte kebenaran dan menjadi Pendekar di dunia Jianghu.
Setelah Wuxian dan Huang Chao menikmati tehnya dan menghabiskannya, mereka menaruh beberapa koin ke atas meja dan berlalu pergi dari sana. Ya, mereka akan memilih untuk menuju daerah Utara. Meskipun jalan terblokir, Wuxian dan Huang Chao mencari jalan lain untuk menuju ke sana.
Wuxian dan Huang Chao memilih jalur hutan cemara untuk menuju tempat tujuan mereka.
“Kak Chao, kira-kira berapa lama kita sampai ke daerah Utara?” tanya Wuxian.
“Entahlah. Ini kali pertamaku. Namun, daerah Utara adalah tempat yang jauh. Saat kita menemukan hujan salju dan segala sesuatu yang ada di sana tertutupi es, maka kita telah sampai di daerah Utara,” jelas Huang Chao.
“Hanya ada pohon cemara di sekitar sini. Tidak ada tumbuhan lain yang tumbuh. Hanya pohon cemara yang bisa bertahan di daerah paling dingin. Semakin kita berjalan, udaranya semakin dingin. Sepertinya, kita akan segera sampai ke daerah Utara.” Wuxian mengutarakan asumsinya.
__ADS_1
“Kau benar. Sepertinya, kita akan segera sampai. Wuxian, apa kau lelah?” tanya Huang Chao.
“Bukan hanya lelah saja, tapi kakiku seperti mati rasa,” ucapnya jujur.
“Aku juga sangat lelah. Bagaimana kalau kita beristirahat dan bermalam di sini. Kita akan melanjutkan perjalanan besok,” ususl Huang Chao.
“Baiklah.”
Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang, akhirnya, keduanya pun bisa mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing. Tidak perlu ditanya seberapa lelahnya mereka, setelah melakukan petualangan dari tempat asal yang cukup jauh. Tertutama Huang Chao yang asal-usulnya saja, Wuxian tak tahu ia dari mana.
Huang Chao yang dikejar puluhan bandit, secara tidak sengaja bertemu Wangxian. Keduanya sama-sama memiliki nasib yang malah. Untuk menjadi tak terkalahkan, mereka harus melakukan perjalanan yang cukup jauh. Tentu saja tujuan perjalanan mereka tidak sembarangan. Daerah Utara tempat banyak sekte-sekte besar menyebar di sana. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa daerah Utara yang terkenal makmur itu, pastinya harus sering berhadapan dengan orang-orang dunia Jianghu.
Sekte iblis dikenal sebagai sekte yang sering sekali membuat onar, hingga menyebabkan kerugian-kerugian bagi warga lokal dan warga sekitar. Mereka tak pandang bulu. Jika tak mementingkan bagi mereka, mereka tak akan segan untuk membunuh siapa pun tanpa ampun. Itulah mengapa, sekte iblis selalu bermusuhan dengan sekte kebenaran yang senantiasa melindungi rakyat tak bersalah.
“Kak Chao, apa kau melihat sesuatu?” tanya Wuxian.
“Shutt!” Huang Chao dengan sigap menutup mulut Wuxian. Kaki kanannya menghancurkan api unggun, hingga api padam.
Huang Chao menyeret Wuxian ke tempat persembunyian. Ketika telah dirasa aman, Huang Chao melepaskan telapak tangannya yang membungkan mulut Wuxian.
“Kak Chao ada ap … .”
__ADS_1
“Shut… pelankan suaramu.” Huang Chao langsung memberi peringatan kepada Wuxian agar Wuxian memelankan suaranya.
Tanpa banyak berpikir, Wuxian pun mematuhi apa yang Huang Chao katakan. Kemudian, Wuxian bertanya dengan suara yang lebih pelan, “Kak Chao, siapa mereka?” tanyanya kepada Huang Chao, dengan pandangan mata tertuju kepada sekelompok orang yang berjalan melintas di sekitar tempat keberadaan mereka saat ini.
Huang Chao mengalihkan pandangannya ke sekelompok itu. Tatapan mataya intens memperhatikan gerak-gerik, hingga cara berpakaian mereka.
“Aku juga tidak tahu siapa mereka. Untuk berjaga-jaga, kita hanya bisa bersembunyi dari mereka. Kita tidak tahu apakah mereka orang baik, ataukah orang jahat,” ujar Huang Chao.
“Apa yang sedang mereka lakukan di hutan ini?” gumam Wuxian, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
“Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan,” ujar Huang Chao.
Wuxian dan Huang Chao pun hanya bisa bersembunyi dari sekelompok orang yang tengah berhenti d jarak 20 meter dari tempat Wuxian dan Huang Chao berpijak saat ini.
Karena malam itu sangat gelap, Wuxian dan Huang Chao tak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Mereka berdua hanya bisa melihat bayang-bayang tubuh orang-ornag itu yang tampaknya tengah melakukan sesuatu.
“Itu… apa yang mereka lakukan?” gumam Huang Chao tatkala melihat sekelompok orang-orang asing yang tengah melakukan sesuatu yang cukup sakral. “Apa mereka melakukan ritual? Ritual macam apa itu?” Huang Chao bertanya-tanya karena penasaran dengan apa yang saat ini tengah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Kak Chao, apa kau mencium bau darah? Bau darah yang sangat menyengat,” tanya Wuxian.
Pertanyaan Wuxian membangunkan indra penciuman Huang Chao seketika. Karena terlalu fokus melihat apa yang tengah sekelompok orang itu lakukan, Huang Chao sampai tidak sadar jika ia pun mencium bau darah yang sangat menyengat.
__ADS_1