
"Ke mana hilangnya titik formasi?" Wuxian sangat heran ketika hilangnya secara tiba-tiba, formasi yang menghubungkannya ke hutan suatu tempat asing yang tak dikenalnya. "Aneh. Benar-benar menghilang. Lalu, kenapa peristiwa itu harus muncul di hadapanku? Apa semua yang kulihat beberapa saat lalu hanyalah ilusi? Sebenarnya, apa hubungannya semua itu denganku?" Semakin memikirkannya, semakin Wuxian tak mengerti dengan apa yang terjadi.
SLERETTT ... CTARRR!!!
"Hah?!!" Wuxian terkejut dan mulai waspada, tatkala indera penglihatannya melihat sebuah petir yang menyambar bongkahan es. Lengannya reflek menutupi netranya karena ia tak memiliki persiapan untuk menghindar.
Beberapa saat kemudian, Wuxian mulai menyingkirkan lengan yang menutupi wajahnya ketika ia menyadari bahwa tak terjadi apa pun terhadapnya.
Tampak gulungan kabut hitam, membentuk wujud layaknya angin tornado kecil. Hingga kemudian, angin itu mulai menghilang dan muncullah sebuah benda asing.
"Apa itu?" Wuxian penasaran dengan benda yang tergeletak di atas tanah yang dilapisi butiran salju.
Untuk menghalau rasa penasarannya, Wuxian memutuskan untuk datang dan memeriksanya.
"Disebut benda apakah ini?" Wuxian tak tahu harus menyebut benda macam apa yang dilihatnya saat ini.
Benda itu berbentuk seperti gesper rantai, tetapi memiliki tonggak lurus yang membantunya berdiri kokoh. Bentuknya seperti pedang yang terlilit oleh rantai belenggu. Namun, ia tidak yakin bahwa benda itu adalah pedang. Selain itu, kabut hitam yang amat tebal tak ragu mengelilingi benda itu.
Tubuh Wuxian tak dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri. Lengan kanannya bergerak maju, perlahan meraih benda yang tampak kokoh di hadapannya. Kala ia menyentuhnya pertama kali, aliran darahnya seakan tersengat aliran listrik, membuat jantungnya terkejut dan berdebar kencang.
"HIAATTT!!!"
__ADS_1
Lengan Wuxian mencabut benda itu, hingga asap hitam mengepul yang menyelimutinya berpindah menyelimuti tubuh Wuxian. Setelah ia berhasil mencabutnya, netranya tiba-tiba berkunang-kunang.
Tubuhnya tak dapat menekan energi besar yang terkandung dalam benda yang ada di genggamannya. Hingga akhirnya, Wuxian pun pingsan tak sadarkan diri.
***
"Matahari sudah hampir terbenam. Ke mana sebenarnya anak bodoh itu? Hanya mencuci pakaian mana mungkin selama ini. Atau jangan-jangan ... dia sama sekali tak berniat melakukannya. Awas saja! akan kuberi dia pelajaran!" cetus Huo Yi dengan geram kala menyadari Wuxian yang tak kunjung memberikan pakaiannya dan pakaian saudara seperguruannya yang perlu dicuci oleh Wuxian hari ini. "Awas saja jika aku bertemu dengannya. Akan kuberi dia pelajaran!!!"
Emosi yang telah menguasai diri Huo Yi, membawa langkah kakinya menuju sebuah pondok gubuk yang dikhususkan untuk murid-murid sekte Qing Long yang mengabaikan dirinya sebagai pelayan sekte.
Berbeda dengan kediaman-kediaman untuk para murid sekte Qing Long yang memiliki seorang guru. Tempat tinggal para murid yang tak berbakat layaknya dikategorikan kasta rendah di dalam sekte. Murid-murid sekte Qing Long yang tak memiliki guru harus tinggal di sebuah gubug satu ruangan bercampur dengan murid-murid lainnya yang setara dengan mereka. Tempat mereka sangat sederhana dan juga sangat sempit sehingga mereka harus tidur dalam keadaan berdesakan.
GRUBAAKK!!! Suara daun pintu yang didobrak dengan keras oleh kekuatan sihir. Dari balik pintu, muncul seorang remaja yang menggenggam pedangnya yang kokoh. Dengan angkuhnya, ia perlahan berjalan masuk ke dalam ruangan kala pintunya terbuka lebar.
"Siapa kau?!" tanya seorang remaja lain di dalam ruangan itu. Ia antusias dan memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan kepada remaja yang mendobrak pintu ruangan dengan paksa.
Remaja yang mendobrak pintu ruangan itu tak lain adalah Huo Yi. Sikap sombong Huo Yi membuat para murid yang berada di ruangan itu tidak terima, mereka sangat murka, tetapi sayangnya tak bisa melakukan apa-apa karena tak berdaya melawan Huo Yi yang terlihat kala menggunakan sihirnya.
"Kau ... apa kau baru saja bertanya siapa aku? apa hak murid rendahan sepertimu bertanya kepadaku, hah?!" balas Huo Yi dengan angkuhnya.
Bagi Huo Yi, murid-murid dalam ruangan itu hanyalah sampah sekte. Ia memandang rendah mereka semua, tak jauh beda dengan para budak.
__ADS_1
"Kau!!!"
Liu Wei, salah seorang murid yang berada di ruangan itu tidak terima ketika Huo Yi membalasnya dengan kangkuhannya, apalagi terang-terangan memandang sebelah mata kepada dirinya, beserta murid-murid lainnya yang tengah berada di ruangan itu.
"Kenapa? aku kenapa? mau bertarung denganku? sini!!!" tantang Huo Yi.
Kesombongan Huo Yi membuat Liu Wei tak tahan lagi. Ia mengepalkan lengannya sembari mengeratkan rahangnya. Ia hampir beranjak dari tempatnya untuk menghampiri Huo Yi. Akan tetapi, seorang murid bernama Fa Hai yang berada di sampingnya dengan sigap menahan tubuh Liu Wei.
"Liu Wei, tahan dirimu! untuk apa meladeni orang sepertinya?" kata Liu Wei sembari menahan Liu Wei dengan lengannya yang menghadang tepat di depan dada Liu Wei.
Liu Wei semakin mengepalkan telapak tangannya kala Fa Hai menghalangi jalannya. Liu Wei menarik nafasnya dalam-dalam dengan harapan agar ia dapat meredam emosinya yang telah mencapai titik didih.
"Fa Hai, kenapa kau menahanku? dia merendahkan kita semua sejelas itu. Apa kau terima? apa kalian semua terima?" ujar Liu Wei sekilas melirik wajah Fa Hai, lalu menatap satu persatu rekan-rekannya yang bersaksi di dalam ruangan itu.
Jika menurut kejujuran dan kata hati, tentu saja mereka semua tidak terima dan merasa sakit hati ketika harga diri mereka direndahkan oleh salah seorang murid yang juga berasal dari sekte yang sama. Ironisnya, perbedaan status membuat mereka merasa bahwa mereka termasuk ke dalam kategori lemah yang mudah ditindas oleh siapa pun.
Sayangnya, protes tentang nasib mereka pun tak ada di dunianya. Dunia Jianghu adalah tempat di mana yang terkuatlah yang berkuasa. Persetan dengan konsep yang mengatakan bahwa para pendekar kuat membela siapa pun yang tertindas. Semua itu hanyalah topeng yang dijadikan perisai nama baik sekte kebenaran, padahal segala hal yang terlihat tak di luar tak seperti kenyataannya.
Dunia persilatan hanyalah tempat bagi orang-orang yang memiliki ambisi gila dengan memanfaatkan rekan-rekannya sebagai batu loncatan. Itulah sebabnya, perebutan kekuasan hingga perselisishan internal dalam sekte pun sering terjadi.
"Kalau begitu, Liu Wei, apa kau akan menghampirinya dan memberi pukulan di wajahnya? jangan konyol!!!" sentak Fa Hai.
__ADS_1