
“Ilmu pemurnian? Bagaimana caranya?” tanya Wuxian karena dia benar-benar tidak tahu.
“Panggil aku ‘Guru’ dan beri hormat tiga kali, baru aku akan memberitahunya,” cetus Liu Wei sembari menempatkan telapak tangan di dadanya dengan bangga. Sementara Wuxian hanya menatap wajah Liu Wei dengan tatapan malas, kedu matanya sengaja dia sayupkan untuk menjelaskan ekspresi wajahnya.
“Lupakan. Aku akan mencaritahunya sendiri,” kata Wuxian.
“Aihh … ilmu pemurnian, itu … kau bisa mempelajarinya sendiri jika kau memiliki bukunya. Ah, benar. Sepertinya, pelajaran untuk pemula seperti itu pasti ada di buku yang disimpan di perpustakaan. Kau bisa mencarinya, atau aku bisa menemanimu menemukannya. Lihat, kau membutuhkanku karena aku lebih mengenal bagaimana bentuk buku itu,” ucap Liu Wei berbangga diri.
“Baik, baik. Sepertinya aku akan membutuhkan bantuanmu. Sebelum itu, katakan! Kenapa kau memaksaku ikut bersamamu?” timpal Wuxian.
“Ah, benar! Hampir saja lupa. Wuxian, 2 hari lagi ada pertemuan umum. Apa kau lupa? Atau, tidak ada seorang pun yang memberitahumu?” tanya Liu Wei.
Wuxian terdiam tanpa mengatakan apa pun. Jangankan lupa, seorang pun memang tak ada yang memberitahunya hal itu.
“Memangnya, ada acara seperti itu? Aku tidak tahu. Siapa juga yang akan memberitahuku? Aku tidak pernah berbicara dengan orang lain selain dirimu. Kau juga, kau baru memberitahuku hal ini,” ujar Wuxian tanpa rasa bersalah.
“Wuxian, oh Wuxian, kau selalu saja ketinggalan berita. Setidaknya, kau harus sesekali mengunjungi kediaman kita. Jika begini terus, kau akan membuat anak lain melaporkanmu. Bagaimana jika hal itu terjadi? Aku kira, kau sudah mendapat kabar tentang hal ini. Begitu ramainya, tapi ternyata kau sama sekali tidak tahu. Keterlaluan sekali,” celetuk Liu Wei.
“Pertemuan umum semacam apa itu? Kenapa kabar itu sangat ramai?” tanya Wuxian dengan polosnya.
__ADS_1
“Hah?! Sepertinya aku harus memenggal kepalaku sendiri jika kau sampai tidak tahu pertemuan umum yang setiap kali diadakan setiap jatuh 100 tahun,” jelas Liu Wei.
Sesuai dengan namanya, pertemuan umum itu diadakan untuk umum (sekte aliran lurus). Pendekar-pendekar dari sekte kebenaran yang diundang akan datang, mereka datang dari berbagai penjuru.
Karena ketua sekte Qing Long adalah seorang Xiandu (pimpinan persatuan sekte) maka pertemuan itu akan diadakan di sekte Qing Long. Namun, karena Ketua sekte Qing Long menyerahkan posisinya kepada muridnya yang tak lain adalah Run Yu yang diakui sebagai wakil sekte, maka Run Yu-lah yang akan menjadi pemimpin pertemuan.
“Berhubung pertemuan itu jatuh tempo dalam 2 hari lagi, maka semua murid sekte harus mempersiapkan segala hal dengan benar. Wuxian, jangan bilang kau juga tidak tahu hal ini.” Liu Wei menatap wajah Wuxian yang tak menunjukkan reaksi apa pun. Wuxian memasang wajah datar. Akan tetapi, ekspresi wajah itulah yang membuat Liu Wei lebih mudah membaca apa yang dipikirkan oleh Wuxian. “Ternyata kau benar-benar tidak tahu?!” tanya Liu Wei histeris.
Wuxian menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak tahu. Dari siapa aku bisa tahu semua hal itu jika tidak ada seorang pun yang memberitahunya padaku?” celetuk Wuxian.
“Sudahlah, sudahlah. Sepertinya … aku memang harus memenggal kepalaku sendiri. Wuxian, Wuxian … di dunia ini, apa sebenarnya yang kau tahu?” Liu Wei benar-benar tidak habis pikir ketika menghadapi Wuxian yang serba tidak tahu apa pun. Dia benar-benar kehabisan kata-kata.
Sementara Wuxian hanya memasang wajah datar tak berkspresi. Baginya, apa yang tidak ia tahu bukanlah sebuah kesalahan, dia hanya kurang pengetahuan saja.
***
“Senior! Senior!!!” seru seorang gadis kepada seniornya.
Gadis itu mengejar seorang senior yang dengan sengaja berpura-pura tidak mendengar seruan dari gadis itu. Senior itu tetap berjalan dan mempercepat langkahnya ketika mendengar seruan dari gadis itu.
__ADS_1
Wan Hua adalah nama gadis itu. Dia adalah anak dari gurunya yang bernama Jin Xun. Sementara senior itu tak lain adalah Huang Chao. Huang Chao kini telah berusia 20 tahun dan bertumbuh menjadi seorang pria tampan dan gagah yang dikagumi oleh gadis-gadis sekte Qing Long.
Selain ketampanannya, Huang Chao dikenal sebagai seorang murid teladan yang berbudi luhur serta memiliki bakat yang luar biasa. Dia telah menjadi seorang senior yang disegani oleh murid-murid sekte Qing Long.
“Senior! Aku tahu kau pura-pura tidak mendengarku,” gerutu Wan Hua sembari mencengkram lengan baju milik Huang Chao.
Percuma saja ketika Huang Chao berusaha menghindar dari Wan Hua, karena Wan Hua pasti berhasil menangkapnya. Pandangan mata Wan Hua sangat jeli dan tak perna luput dari Huang Chao sedetik pun. Dia gadis yang sangat manja dan suka menempeli Huang Chao hingga membuat Huang Chao merasa tidak nyaman.
Sayangnya, Huang Chao tak bisa terang-terangan mengatakannya karena Wan Hua adalah anak dari Jin Xun, guru Huang Chao yang telah mendidiknya selama 5 tahun. Huang Chao sangat menghormati gurunya dan jasa-jasanya dalam melatihnya selama ini. Jadi, ia tak ingin menyinggung gurunya, termasuk Wan Hua putrinya yang sangat dia sayangi.
Ketika Wan Hua berhasil menangkap Huang Chao, ia pun terpaksa menghentikan langkahnya sembari menampakkan giginya yang rata. “Eh … begini … aku … Adik seperguruan, aku ada urusan penting,” ucap Wang Chao. Dia mencoba mencari alasan agar Wan Hua berhenti mengikutinya.
“Urusan penting apa? Jika sepenting itu, artinya aku lebih harus ikut denganmu. Aku akan pergi ke mana pun kau pergi,” cetus Wan Hua sembari memanyunkan bibirnya.
“Wan Hua, aku rasa … itu tidak perlu. Aku akan bertemu dengan saudara seperguruan dari berbagai kediaman. Kau harus kembali sebelum Ibu guru mencarimu. Aku tahu kau datang ke sini secara diam-diam. Benar, bukan?” timpal Huang Chao.
Wan Hua terhening tanpa berkata-kata. Perlahan-lahan dia melepaskan cengkramannya yang mencengkram ujung lengan pakaian Huang Chao. Wan Hua menundukkan kepalanya, raut wajahnya berubah suram ketika Huang Chao menyinggung tentang ibunya.
“Aku tahu. Aku tahu Ibu selalu melarangku pergi keluar karena mengkhawatirkan kesehatanku, tapi asalkan Kak Chao tidak mengadukanku, aku jamin Ibu tidak akan tahu jika aku pergi keluar. Kak Chao, aku mohon padamu. Sekali ini, saja, bagaimana? Aku hanya ingin pergi melihat-lihat saja, setelah itu aku akan kembali. Kak Chao, aku mohon padamu. Kak Chao, aku mohon padamu, biarkan aku kali ini saja. Sekali ini, aku ingin melihat-lihat saja. Aku janji tidak akan membuat masalah,” rengeknya kepada Huang Chao.
__ADS_1
Melihat Wan Hua merengek, Huang Chao sangat paham perasaannya. Meskipun Huang Chao menganggap Wan Hua sangat menyebalkan, tetapi di hatinya dia benar-benar perduli kepadanya. Huang Chao sangat paham perasaan dan keinginan Wan Hua yang terpendam selama ini.
“Baiklah. Untuk kali ini saja, aku tidak akan bilang kepada Guru,” ujar Huang Chao.