PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
MOTTO HIDUP


__ADS_3

Huang Chao melihat ke arah yang ditunjuk oleh Wuxian. “Sebuah gua? Wuxian, bagaimana jika kita bermalam di sana?” usulnya. “Bermalam di dalam sana sepertinya lebih aman, daripada bermalam di alam bebas. Jika di luar, takutnya kita menghadapi sesuatu yang tidak kita inginkan seperti tadi,” sambungnya.


“Baik,” jawab Wuxian singkat, karena meskipun Huang Chao tidak bertanya, maka ia yang akan mengusulkan demikian.


Kemudian, mereka pun masuk ke dalam gua tersebut. Di dalamnya sangat gelap, tetapi jauh lebih hangat daripada suhu di luar sana.


Sepertinya, Wuxian dan Huan Chao hampir sampai ke daerah Utara, karena semua tempat yang mereka susuri saat ini turun kristal-kristal salju, walau tidak terlalu deras.


Wuxian dan Huang Chao memutuskan untuk bermalam di dalam gua itu. Mereka pun mulai menghidupkan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka.


“Sial sekali. Karena barang-barang kita hilang, kita tidak punya baju ganti. Kita hanya memiliki satu baju basah yang kita pakai saat ini,” ucap Wuxian.


“Tidak masalah. Aku tebak, sebentar lagi kita akan sampai ke daerah Utara. Kau lihat? Di sekitar sini sudah mulai turun salju,” ujar Huang Chao.


Wuxian menoleh ke arah mulut gua. Ia memperhatikan setitik demi titik butiran salju yang turun dari langit pada malam itu.  “Benar. Aku baru sadar, ternyata di luar sana sedang turun salju. Indah sekali. Sepertinya, ini kali pertamaku melihat salju,” ucap Wuxian datar.


Huang Chao pun menolehkan kepalanya ke mulut gua. Ia juga memperhatikan rintikan salju yang turun pada malam itu.

__ADS_1


“Tenang saja. Sebentar lagi tujuan kita akan tercapai. Kita akan datang ke sekte terbesar yang ada di daerah Utara dan berlatih di sana,” ujar Huang Chao.


“Entahlah. Entah kenapa, semakin dekat dengan tujuan, semakin aku merasa gelisah dan resah. Aku tidak percaya dengan diriku sendiri. Apakah aku bisa berlatih di sana? Apa mereka akan menerima diriku yang bodoh ini?” Wuxian bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Raut wajahnya terlihat sedih, risau, dan gundah gulana.


“Wuxian! Siapa yang mengajarimu menjadi sentimental seperti itu? Jika kau masih tidak percaya dengan kemampuanmu sendiri, aku tidak akan menganggapmu saudaraku,” celetuk Huang Chao. Ia sengaja berkata demikian, agar Wuxian menjadi lebih bersemangat dan percaya kepada diri sendiri dan kemampuannya.


“Kak Chao, bukannya apa-apa… aku hanya… aku hanya merasa, firasatku tidak enak. Bukannya aku tidak ingin percaya dengan diriku dan kemampuanku sendiri, tapi yang aku percayai sebatas demikian. Aku tidak memiliki kemampuan apa pun. Aku tidak berbakat dalam melakukan apa pun. Bukankah seorang pendekar yang menerapkan budidaya, harus memiliki bakat?” ungkapnya.


“Wuxian, di dunia ini, siapa sih yang tidak memiliki kekurangan? Dan juga, apa mereka yang memiliki banyak kekuarangan, tak memiliki kelebihan yang dimiliki orang lain? Malahan, banyak dari mereka yang memiliki banyak kekurangan dari orang lain pada umumnya, biasanya terlahir dengan bakat istimewa dan luar biasa. Mereka hanya tidak menyadari semua itu, karena terlalu melas memperlajari apa yang harus mereka tekuni. Kau juga, jangan pernah merasa rendah atau tak bisa melakukan apa pun? Kau bisa melakukan banyak hal. Contohnya, kau bisa menangkap ikan, atau membuat api unggun. Bagaimana denganku? Aku tidak berbakat melakukan semua hal itu. Lagian, memangnya kenapa dengan bakat seseorang? Bakat juga tidak akan berguna jika kita tak memiliki kemauan dan usaha. Semua hanya akan terbuang sia-sia,” tutur Huang Chao panjang kali lebar.


“Kak Chao, semua yang katakan tidak pernah salah. Kau sangat pintar dan baik. Aku yakin, kau pasti berasal dari keluarga terpandang yang terdidik dengan moral yang baik dan budi pekerti luhur. Meskipun aku tidak tahu siapa identitasmu sebenarnya, aku meyakini satu hal ini. Kau orang yang hebat, dan suatu saat nanti akan melakukan sesuatu yang sangat hebat,” ujar Wuxian.


“Kak Chao, terimakasih. Terimakasih karena telah memberiku semangat, terimakasih karena telah melindungiku, terimakasih karena telah memberikan motivasi-motivasi yang membangun mentalku, terimakasih atas segalanya. Aku rasa, bertemu dengan orang sebaik dirimu adalah anugerah terbesar bagiku,” ucap Wuxian dengan tulus.


Huang Chao tertawa kecil, melunturkan suasana yang tadinya terbawa serius. “Mari berhenti menjadi si paling serius dan sok bijak. Aku benar-benar tidak tahan melakukannya. Baiklah, baiklah. Lupakan semua hal itu. Aku hanya mengatakannya dengan spontan saja. Aku sendiri geli ketika mengingatnya,” celotehnya.


“Tidak! Bagaimana boleh perkataan sebagus itu dilupakan. Pokoknya, aku akan terus mengingatnya. Aku akan menjadikan perkataan-perkataan itu sebagai motto hidupku,” ujar Wuxian.

__ADS_1


“Aih… berlebihan sekali," celetuk Huang Chao. “Lupakan hal itu. Apa kau tidak kedinginan dengan pakaian basa itu? Lepaskan pakaianmu,” perintah Huang Chao.


Perintah dari Huang Chao membuat Wuxian reflek menutupi tubuhnya. Ia menatap Huang Chao penuh dengan tanda tanya.


Melihat Wuxian yang malah bersikap aneh, ia pun dapat menebak dengan mudah apa yang dipikirkan oleh Wuxian.


“Hei, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku ini normal. Meskipun aku tidak normal sekali pun, seleraku pasti bukan anak kecil umur 12 tahun sepertimu,” ujar Huang Chao memberi penjelasan.


“Lalu, kenapa kau memintaku melepas pakaian?” Wuxian sangat penasaran dengan maksud dan tujuan Huang Chao.


“Tentu saja untuk mengeringkannya. Untuk apa lagi? Hei, anak kecil. Apa yang kau tahu tentang pikiran pria 18 tahun ke atas? Aku saja baru berumur 15 tahun,” celetuk Huang Chao.


“Ah, jadi kau ingin membantuku mengeringkannya. Harusnya kau bilang dari tadi agar aku tidak salah paham,” balas Wuxian.


“Hei, bukannya aku tidak ingin mengatakannya. Aku memang belum selesai bicara. Kau saja yang memotongnya dengan ekspresi aneh dan menggelikan itu,” celetuk Huang Chao.


Wuxian pun mulai melepaskan pakaiannya. Akan tetapi, dia tidak memberikannya kepada Huang Chao karena ia bisa mengeringkan pakaiannya sendiri, tanpa bantuan dari Huang Chao. Huang Chao pun tak masalah dengan hal itu. Jika Wuxian ingin mengeringkan pakaiannya sendiri, maka ia pun tak perlu repot-repot membantu Wuxian mengeringkannya.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, tentang pria 18 tahun ke atas, apa kau berpikir hanya pria 18 tahun ke atas yang tahu tentang hal itu? Apa kau yakin tidak pernah memimpikan sesuatu yang … .”


__ADS_2