PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
APA YANG TERJADI?


__ADS_3

Para tahanan yang ditangkap itu memohon ampunan agar mereka dibebaskan dan dipulangkan ke rumahnya. Akan tetapi, permohonan itu percuma. Sia-sia saja mereka memohon kepada iblis yang tidak berhati seperti Master Guili. Ambisi hampir tercapai, tujuan yang dinanti-nanti sebentar lagi terlaksana, sedikit lagi saja, klan iblis akan menguasai dunia.


“Banyak bicara!”


DUAAK!


Penjaga tahanan itu memukul kepala seorang pria paruh baya yang merengek meminta ampunan dengan menggunakan palu besi hingga kepala pria itu mengucurkan darah segar. Pria paruh baya itu jatuh tersungkur sembari menahan rasa sakit kepalanya yang terluka parah.


“Lihat! Jika dari kalian ada yang berani bicara lagi, nasib kalian akan sama sepertinya,” cetusnya.


“Sudahlah … kau tidak perlu memperingati mereka. Karena semuanya sudah keluar, aku kan mengambil mereka,” kata Master Guili.


Sekejap saja Master Guili menghilang bersama dengan para tahanan yang dikeluarkan dari penjara bawah tanah. Master Guili membawa semua tahanan itu ke suatu tempat yang masih berada di kawasan alam iblis. Tempat itu disebut dengan nama Tanah Derita, tempat bagi klan iblis melakukan eksperimen uji coba terhadap klan siluman yang berhasil mereka tangkap.


Sel-sel penjara yang terdapat di tempat itu menahan para siluman yang telah bermutasi menjadi monster iblis. Siluman yang telah bermutasi menjadi monster iblis telah kehilangan akal atau nalurinya sebagai siluman. Yang mereka lakukan hanyalah membunuh dan menghancurkan tanpa memilih teman ataupun lawan.


Klan iblis akan menggunakan mereka sebagai tentara yang akan memporakporandakan dunia. Monster iblis itu ditahan di dalamnya agar tak membuat kekacauan yang tidak diperlukan. Mereka akan terus tinggal di dalamnya sampai waktu yang telah ditentukan, pada saat klan iblis bergerak untuk menyatukan tiga alam dan menjadi pemimpin enam makhluk.

__ADS_1


Tanpa menunda waktu, Master Guili pun melemparkan satu persatu manusia itu ke dalam sel di mana monster iblis ditahan. Dengan rakusnya, monster iblis yang kelaparan itu melahap para manusia yang dijadikan sebagai santapannya.


***


“Siapa itu?” gumam Huang Chao tatkala dia melihat seonggok tubuh yang berada di lereng jurang. Tubuh itu tersangkut oleh batang pohon yang tumbuh di lereng jurang. Huang Chao tak bisa memastikan identitasnya karena tak bisa melihat wajahnya.


Dia tidak akan tinggal diam saja melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan. Tanpa pikir panjang, ia pun membawa naik tubuh itu ke atas jurang dengan kultivasinya. Huang Chao tercengang tatkala melihat wajah dari pemilik tubuh yang dia temukan.


“Chang Sheng? Apa yang terjadi padanya?!” Huang Chao histeris dan bergegas memeriksa kondisinya. Untunglah, Huang Chao dapat bernafas lega ketika memastikan bahwa denyut nadinya masih berdetak. Namun, di beberapa tubuh Chang Sheng terdapat luka dalam yang sepertinya ulah senjata tajam. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia bisa terluka seperti ini?” gumam Huang Chao, dia bertanya-tanya tentang kondisiyang dialami oleh Chang Sheng.


Huang Chao mengesampingkan rasa penasarannya karena hal yang paling penting saat ini adalah menyelamatkannya. Dia merangkul tubuh Chang Sheng dan membawanya untuk menemukan tempat peristirahatan. Untunglah, di sekitar tempat itu terdapat sebuah gubuk.


Ia melakukan upaya untuk menyelamatkan Chang Sheng dengan cara mentransfer tenaga dalamnya. Sebelumnya, Huang Chao telah memeriksa jika merdian tubuh Chang Sheng tak beraturan. Sekilas saja dia memahami bahwa tenaga dalamnya terluka parah.


“Okhh … .” Chang Sheng memuntahkan banyak darah pada saat Huang Chao mentransfer tenaga dalam ke tubuhnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa … kondisinya semakin parah?” gumamnya. Huang Chao takut jika dia melakukan kesalahan, karenanya dia pun berhenti untuk mentransfer tenaga dalam untuk mengobati luka Chang Sheng.

__ADS_1


Kali ini, tak ada yang bisa dilakukannya. Selain mengobati luka dalam dengan tenaga dalam, Huang Chao tidak menguasai ilmu pengobatan tradisional untuk menyelamatkannya. Sedangkan untuk membawanya ke sekte, pasti akan memerlukan waktu lama, sebab jarak keberadaan mereka dengan sekte terbilang cukup jauh.


Huang Chao hanya bisa menyalakan api untuk menghangatkannya. Ia ingin membersihkan luka di tubuh Chang Sheng, tetapi karena dia wanita, maka ia merasa bahwa hal itu tidak pantas dilakukan. Ketika pikirannya bimbang dan kalut, tiba-tiba saja dia mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. Ia pun bergegas memasang sikap waspada. Namun, yang muncul dari balik daun pintu ternyata seorang kakek tua yang membawa lanjung anyaman di punggungnya.


“Siapa … kalian? Kenapa kalian ada di rumahku?” tanya Kakek tua itu kepada Huang Chao.


“Ah, apa ini tempat tinggal Anda? Maaf, sebelumnya kami tidak tahu jika kau adalah pemiliknya. Tapi, bolehkah kami tinggal di sini sebentar saja?” Huang Chao meminta ketersediaan kepada pemiliknya.


“Tidak masalah jika kalian bukanlah orang jahat. Sepertinya, kau bukan orang jahat, tapi dia … .” Kakek tua itu tampak menyinggung Chang Sheng karena sorot matanya tertuju kepada seonggok tubuh Chang Sheng yang terbaring di atas ranjang kayu.


“Kau tidak perlu khawatir. Aku bukan orang jahat, dia juga, karena kami berasal dari sekte yang sama. Kami berasal dari sekte abadi,” ungkap Huang Chao.


“Ternyata kau adalah seorang kultivator. Namun, aku tidak tahu apa harus mengatakannya kepadamu, tapi dia yang kau bilang temanmu … sepertinya dia bukan orang baik,” kata Kakek itu. Ia tetap mencurigai Chang Sheng dan yakin bahwa ada yang mencurigakan darinya.


“Kenapa sejak tadi kau hanya mencurigai temanku? Jika kau tidak mengizinkan kami tinggal, kami akan pergi sekarang juga,” balas Huang Chao. Ia berjalan ke arah Chang Sheng, lalu merangkulnya untuk pergi dari tempat itu. Namun sebelum Huang Chao beranjak, tindakannya tiba-tiba terhenti pada saat kakek itu angkat bicara kembali.


“Tidak masalah jika kau sangat mempercayai temanmu itu, tapi aku harus memberikanmu satu saran … dia bukanlah manusia.” Ungkapan dari kakek tua itu sontak membuat Huang Chao terhenyak. Akan tetapi, ia tak bisa mempercayai perkataan sepihak dari kakek tua yang baru saja ditemuinya.

__ADS_1


“Bukan manusia? Kakek, apa maksudmu? Apa kau tidak lihat, dia seorang gadis yang punya kepala, kaki, tangan, dan tubuh? Maaf jika perkataanku tidak sopan, tapi apa mata Kakek sudah tidak bisa melihat dengan jelas? Dia jelas-jelas seorang manusia, dan dia seorang gadis lemah yang terluka. Dia adalah temanku, aku harus segera mengobati lukanya,” cetus Huang Chao.


“Aku tidak akan memaksamu untuk percaya. Namun, aku tetap harus mengatakannya. Temanmu itu bukanlah manusia, tapi siluman yang telah mendapatkan wujud manusia,” ungkapnya.


__ADS_2