
“Tidak ada gunanya kita mempermasalahkan hal ini. Wan Hua, ayo kita pergi!” himbau Huang Chao sembari mencekal pergelangan tangan Wan Hua dan membawanya menjauh dari Huo Yi dan Xue Qi.
“Pergi? Mau pergi ke mana kalian? Jangan harap!!!” Huo Yi menarik sabuknya dan seketika sabuknya berubah menjadi cambuk panjang.
Tanpa aba-aba, Huo Yi mengarahkan sabuknya kepada Huang Chao. Huo Yi berencana memberikan pukulan kepada Huang Chao dan Wan Hua, sementara Huang Chao yang menyadarinya pun reflek melindungi Wan Hua
“Hati-hati!!!” Karena tak sempat menghindari serangan, ataupun memberi perlawanan, Huang Chao hanya bisa melindungi Wan Hua dari pukulan. Jika dia tidak harus melindungi Wan Hua, maka ia akan dengan mudah menghindari serangan kecil dari Huo Yi. Namun karena Huang Chao tidak ingin Wan Hua terluka sedikit pun, ia pun terpaksa menghadang serangan dari Huo Yi dengan punggungnya.
Serangan dari cambuk milik Huo Yi memukul keras punggung Huang Chao. Ia berusaha menahan sakit dari serangan yang ia terima. Meskipun hanya serangan kecil, kekuatan cambuk Huo Yi tak bisa diremehkan.
Huo Yi termasuk salah seorang senior yang telah lama menetap di sekte Qing Long, sudah pasti kultivasi yang ia pelajari selama ini tak bisa diremehkan. Hanya saja, tempramennya yang buruk membuat Huo Yi dikenal sebagai seorang senior berengsek yang senang menyombongkan kemampuannya.
Sementara cambuk yang digunakan Huo Yi sebagai sabuknya adalah senjata magis yang diberi nama Hantam Halilintar, dengan artian ketika cambuknya menghantam seseorang, maka orang yang tercambuk oleh cambuk miliknya akan merasakan aliran darah dan syaraf-syaraf di dalam tubuhnya seperti tersengat oleh petir/halilintar.
“Kakak, kau … apa kau baik-baik saja?” tanya Wan Hua. Dia menatap wajah Huang Chao dengan tatapan nanarnya karena sangat khawatir dengan keadaan Huang Chao saat ini.
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” jawab Huang Chao. Ia sengaja berbohong tentang kondisinya kepada Wan Hua karena tak ingin Wan Hua terlalu cemas, padahal perasaan yang dirasakan Huang Chao sedang tidak baik-baik saja.
“Yo, lihatlah! Bukankah ini murid yang dibilang paling berbakat? Lihat betapa menyedihkannya dia! Menghindari serangan saja tidak bisa. Sangat tidak berguna!” cerca Huo Yi kepada Huang Chao.
__ADS_1
“Itu karena dia tidak berengsek sepertimu! Eh, katak laut! Kalau kau merasa hebat, berduel secara adil dengannya, bukannya menyerang tiba-tiba. Berengsek!!!” balas Wan Hua. Dia sangat marah dan kesal ketika Huo Yi membuat Huang Chao harus terkena cambuk karena berusaha untuk melindunginya.
“Hei, gadis tengik! Siapa yang kau sebut katak laut?! Benar juga, aku belum memperhitungkannya denganmu. Manusia biasa sepertimu berani sekali menyusup ke sekte. Aku pasti akan melaporkanmu dan membuatmu dipenjara di balik jeruji besi!!!” cetus Huang Chao dengan lantang.
“Kau berani!” Perkataan Wan Hua terpaksa harus terhenti ketika Huang Chao mencengkram erat pergelangan tangannya. Huang Chao menatap Wan Hua, dengan harapan agar Wan Hua dapat membaca perkataan yang disampaikan di dalam hatinya.
Wan Hua mengerti dengan jelas maksud Huang Chao. Huang Chao tidak ingin Wan Hua berbicara lagi untuk menghindari masalah. Karena sudah seperti ini, Huang Chao terpaksa harus mengalah karena tidak ingin terlibat dalam masalah, terlebih tidak ingin membuat masalah dengan siapa pun, mengingat apa yang disampaikan oleh gurunya.
“Ayo kita pergi!” himbau Huang Chao.
Keributan yang terjadi atara Huang Chao dan Huo Yi tentu saja menjadi sorotan oleh murid-murid sekte yang melihatnya. Terlebih lagi, saat ini semua murid tengah sibuk mempersiapkan acara besar yang akan diselenggarakan di sekte Qing Long.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Liu Wei kepada salah seorang murid yang tengah berghosip.
“Lihat! Mereka sedang bertengkar. Kau pasti mengenal mereka. Mereka adalah murid senior yang terkenal.” Dia menunjuk ke arah bersangkutan.
“Siapa mereka?” tanya Wuxian kepada Liu Wei. Namun, belum sempat Liu Wei menjawab pertanyaan dari Wuxian, tatkala Wuxian memperhatikan ada yang tidak beres, ia begitu saja menghampiri mereka.
Dan ternyata, memang benar sesuai dengan dugaannya. Huo Yi menyembunyikan sesuatu di balik lengan bajunya. Ketika Huo Yi hampir saja mengeluarkannya, Wuxian dengan sengaja mendatangi mereka dan mencampuri urusan mereka.
__ADS_1
“Senior, gurumu memanggilmu,” ucap Wuxian sembari menarik lengan Huang Chao dan membawanya pergi dari hadapan Huo Yi.
‘Ternyata dia lagi? Sialan! Hampir saja aku berhasil memberi pelajaran kepada anak sombong itu. Sayang sekali!’ batin Huo Yi merasa ketus dan dendam.
Wuxian menyeret Huang Chao bersama Wan Hua ke tempat yang lebih sepi. Kemudian setelah sampai, ia pun melepaskan mereka. Wuxian membawa Huang Chao dan Wan Hua ke halaman belakang sekte, di bawah pohon persik yang tengah berbunga.
“Untung saja,” ucap Wuxian seraya menghela nafas karena merasa lega.
Di sisi lain, Huang Chao dan Wan Hua saling menatap ketika mereka menghadapi situasi yang aneh dan cukup canggung untuk bisa dijelaskan. Mereka tidak mengerti alasan mengapa Wuxian menyeret mereka dengan alasan bahwa guru mereka memanggil.
“Permisi … Adik seperguruan, apa benar Guru memanggilku? Apa kau tahu siapa guruku?” tanya Huang Chao dengan bahasa sopan.
Wuxian pun reflek menjawab pertanyaan Huang Chao tanpa ragu, “Aku tidak tahu,” jawabnya berterus terang.
“Lalu kenapa kau menyeret kami ke tempat ini?Apa tujuanmu? Aku lihat, kau tidak mengenakan seragam dari kediaman mana pun sepertiku. Apa mungkin … kau yang dibilang murid … ah, lupakan saja. Aku tidak ingin membahasnya. Jadi, apa tujuanmu membawa kami ke tempat ini?” tanya Wan Hua karena merasa curiga.
“Aku tidak punya tujuan lain. Aku hanya ingin … .” Wuxian dengan sengaja menggantung perkataannya. Ia terlalu enggan untuk menjelaskan segala hal karena ia merasa tak perlu memberi penjelasan apa pun atas tindakan yang dilakukannya.
“Wan Hua.” Huang Chao mencekal pergelangan tangan Wan Hua, isyarat agar Wan Hua tidak teralu menekannya. “Adik seperguruan, apa kau ada perlu terhadap kami? Tunggu! Kau ... wajahmu terlihat tidak asing.” Huang Chao menatap wajah Wuxian dengan tatapan intens. Entah mengapa, perasaan ketika menatap wajah Wuxian terasa familiar. Tatkala Huang Chao menatap wajah Wuxian begitu lama, Huang Chao pun akhirnya teringat. “Kau … kau Wuxian!!!” ungkap Huang Chao histeris. Dia terlihat gembira kala akhirnya dapat mengenali wajah Wuxian dengan penglihatannya. Ia yakin bahwa ia tidak salah mengenalinya.
__ADS_1
“Benar, aku Wuxian. Tapi, bagaimana kau tahu namaku? Kita baru saja bertemu,” balas Wuxian.