PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
ALAM NIRWANA


__ADS_3

Wuxian keluar dari gerbang belakang sekte, menuruni tangga yang memiliki begitu banyak anak tangga. Untuk pertama kalinya, Wuxian menginjakkan kaki di tangga yang berjarak 1 Km dari dataran.


Di tempat yang begitu tinggi, Wuxian tak menuruni tangga dengan tangan kosong. Ia membawa setumpuk pakaian yang harus dia cuci. Wuxian sangat berhati-hati ketika dia menuruni satu persatu anak tangga. Terpeleset sedikit saja, maka Wuxian akan menggelinding hingga ke bawah.


Pertama kalinya, Wuxian sangat tegang ketika menaiki tangga tersebut. Namun ketika menuruninya, Wuxian merasa jauh lebih tenang. Padahal, dari atas sana, Wuxian melihat ketinggian yang tidak main-main. Mungkin karena kedua kalinya ia mengarungi tebing tinggi, dia sudah mulai terbiasa.


Namun tiba-tiba ....


Srettt… “Aaaaaaa!!!” Wuxian berteriak lantang ketakutan.


Ketika Wuxian hampir sampai ke bawah, tiba-tiba saja kakinya terpeleset, membuatnya menggelinding hingga ke dataran bawah.


“Ouch!” Wuxian memegangi kepalanya yang terasa nyeri, karena membentur tanah dengan sangat keras. Ia pun memeriksa sikut lengannya yang juga terasa perih.


Ketika melihat pakaian-pakaian milik seniornya, entah kenapa rasa sakitnya berganti dengan kekesalan.


"Mengesalkan! Aku datang ke tempat ini bukan untuk melakukan semua hal tidak berguna ini. Bisa-bisanya senior-senior itu mengerjaiku, hanya karena aku tidak memiliki seorang Guru," gerutu Wuxian, seraya membanting pakaian-pakaian milik senior ke tanah. "Untuk apa aku melakukan semua ini? Di samping itu, kenapa dia menyuruhku tidak mencuci di laut? Mana ada laut di sekitar bongkahan es seperti ini? Tidak masuk akal. Jika bukan junior, aku ingin sekali meninju wajahnya. Ah, sepertinya tidak benar. Mereka seorang senior, pasti aku yang akan dibuat babak belur," gumamnya sendirian.


Wuxian menginjak-injak pakaian milik para senior itu. Kemudian, ia berlalu pergi tanpa memperdulikan perintah yang mereka berikan kepadanya. Wuxian terlalu enggan untuk dikerjai, hanya karena tak ada satu pun Guru di sekte Qing Long yang ingin menerimanya sebagai murid.

__ADS_1


"Untuk apa aku jauh-jauh datang ke tempat ini, jika akhirnya aku tidak mendapat apa pun? Kak Chao orang yang sangat berbakat. Tentu saja dia diterima dengan mudah oleh gurunya. Sedangkan aku? Apa mereka hanya menilai kemampuan dengan sekilas mata? Mereka pikir, aku tidak bisa melakukan apa-apa begitu?!" Wuxian menggerutu sendirian sembari berjalan tanpa arah karena terlalu kesal atas ketidakadilan yang terjadi kepadanya. "Lalu, siapa yang harus kusalahkan? Toh semua juga bukan salah mereka. Salahkan takdir yang tak berpihak kepadaku."


Wuxian menghentikan langkahnya, menatap langit mendung yang juga tak berpihak kepadanya.


"Di mana aku? Apa aku telah berjalan terlalu jauh?" Wuxian bertanya-tanya tentang keberadaannya saat ini. Ia terus berjalan tanpa arah, sampai ia tak menyadari tempat keberadaannya saat ini.


Kala Wuxian berjalan tiga langkah maju dari posisinya berpijak, sontak saja keningnya terbentur oleh benda keras.


"Ouch! Sakit sekali." Wuxian mengerang kesakitan sembari mengusap-usap keningnya, yang sepertinya memar. "Apa ini? Tidak ada apa-apa di hadapanku? Lalu, apa yang barusan aku tabrak?"


Wuxian semakin heran tatkala ia menyadari bahwa di depannya hanyalah pemandangan biasa saja, tembus pandang. Namun, anehnya ketika Wuxian menyentuhnya dengan tangannya, ia seperti menyentuh sebuah tembok penghalang.


"Apa semua ini? Jika dilihat, tidak ada apa pun di depanku saat ini. Tapi mengapa, tubuhku bisa merasakan adanya penghalang?" Logikanya pun mulai bermain, karena pemikirannya memang sudah tak berlogika. "Mungkinkah ... Ada sebuah formasi pembatas yang diletakkan di sini?" pikirnya.


"Apa yang terjadi?" Wuxian sangat penasaran dengan penampakan mistis nan misterius di hadapannya. "Aku tidak akan tahu jika tidak memeriksanya sendiri." Wuxian pun memutuskan untuk datang ke hutan belantara yang ada di hadapannya. Namun, di detik terakhir, ia mengurungkan niatnya. "Tidak benar. Jika semua ini hanyalah ilusi, maka, aku tidak akan pernah bisa kembali." Opininya pun ikut bergelut.


Wuxian pun mengurungkan niatnya, dan lebih memilih mengawasinya saja. Namun, ia dikejutkan oleh dua sosok yang ia lihat di hadapannya.


"Siapa mereka?" Tubuh Wuxian tergerak, tangannya reflek menyentuh formasi pembatas itu. Dan ....

__ADS_1


"Aaaa ..." Wuxian terserap ke dalam formasi yang ada di hadapannya. "Siapa mereka?"


Sangat tak terduga. Ternyata Wuxian benar-benar terserap ke dalam formasi pembatas.


Kala mendapati dirinya di alam yang berbeda, Wuxian merasa sangat panik.


"D-di mana aku?" Wuxian bertanya-tanya sembari menatap sekelilingnya yang terasa asing. Ya, tentu saja tidak masuk akal baginya karena sebelumnya pemandangan sekelilingnya hanyalah bongkahan-bongkahan es Kutub Utara, tetapi saat ini, di tempat ia berpijak, pemandangan berubah menjadi hutan tropis yang ditumbuhi oleh pepohonan.


"Apa aku terjebak ke dalam mata formasi? Aishh, sial! Hidupku memang sangat sial. Tidak bisakah aku hidup lebih tenang? Setelah semuanya, apa aku akan terjebak dan mati di tempat ini?" protesnya dengan putus asa.


Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja angin berhembus begitu kencangnya, membuat pepohonan yang kokoh itu terombang-ambing dengan mudahnya. Sementara Wuxian mulai panik tatkala mendapati tubuhnya yang turut terombang-ambing oleh kencangnya angin yang bertiup.


"Aaaaa ...!!!" Wuxian berteriak ketakutan tatkala segala sesuatu di sekelilingnya seakan menyerangnya secara bersamaan. Karena telah pasrah dan menyerah akan takdirnya, Wuxian pun memejamkan kedua matanya. Ia pikir hari ini adalah kematiannya. "Apa aku akan mati? Baguslah. Ibu, Ayah, aku datang menyusulmu," ucap Wuxian.


Sayangnya, harapannya bertemu dengan kedua orangtuanya di nirwana telah berubah. Tidak, kini Wuxian benar-benar telah datang ke Nirwana, tempat kebebasan dari samsara, yaitu siklus mati dan kelahiran kembali.


Wuxian menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, tentang orang-orang yang menaiki sebuah rakit yang mengapung di atas sungai. Ya, orang-orang itu adalah penumpang yang telah diperbolehkan mencapai nirwana. Sayangnya, Wuxian sama sekali tak mengerti dengan segala sesuatu yang ia lihat saat ini.


"Di mana tempat ini? apa orang-orang itu nyata? Apa mereka hidup?" Wuxian bertanya-tanya karena ia benar-benar tidak mengerti apa pun tentang segala sesuatu yang dilihatnya saat ini. Karena sangat penasaran, Wuxian pun berinisiatif untuk memastikannya. "Permisi! Lihat aku di sini? apa kalian semua mendengarku? Permisi!!!" Wuxian melambai-labaikan tangannya seraya berteriak kepada orang-orang yang menaiki kapal dengan harapan mereka dapat mendengar seruannya.

__ADS_1


Semua itu hanyalah kekonyolan sepihak Wuxian. Tentu saja mereka semua takkan mendengar seruannya.


"Ini aneh. Aku sudah berteriak sangat kencang sampai tenggorokanku sakit. Tapi kenapa ... satu pun dari mereka tak ada yang menyahutiku?"


__ADS_2