
“Itu mereka! ternyata klan iblis yang berhasil mengangkat benang merah.”
Tampak Qiaofeng yang tengah merangkul tubuh Wuxian dengan pakaian yang basah kuyup. Qiaofeng baru berhasil menyelamatkan Wuxian dari dalam laut, lalu ketika ia telah naik ke darat, tiba-tiba saja ia harus dihadapkan oleh para murid sekte abadi yang datang dengan tujuan yang sama seperti mereka sebelumnya. Pada malam hari ketika mereka merasakan tanah di sekitar samudera yang bergetar, mereka pun terpaksa harus menunda istirahat mereka, guna memeriksa samudera bagian Timur Laut.
Sesuai dengan dugaan, mereka terlambat selangkah ketika menyadari bahwa benang merah telah berhasil diangkat oleh Wuxian dengan dibantu oleh Qiaofeng.
“Gawat! Sepertinya mereka telah menyadarinya. Sialnya, dia masih belum sadar juga,” gumam Qiaofeng seraya melirik Wuxian yang masih memejamkan matanya. “Tidak bisa begini, aku tidak punya waktu untuk menghadapi mereka. Aku harus segera membawanya pergi dari sini.”
Qiaofeng telah berniat membawa Wuxian menghilang bersamanya. Namun, keberuntungan tak berpihak padanya. Kekuatan spiritualnya yang melemah karena merapalkan mantra pemanggil jiwa, membuatnya gagal berteleportasi. Pada akhirnya, Qiaofeng harus menghadapi para murid sekte abadi terlebih dahulu. Sebelum itu, dia meletakkan tubuh Wuxian, barulah ia menghadapi para murid sekte abadi.
Di tengah pertarungan sengit antara Qiaofeng yang melawan para murid sekte abadi sendirian, Huang Chao dan beberapa saudara seperguruannya akhirnya tiba di lokasi kejadian. Ia sempat melihat Qiaofeng yang bertarung melawan para murid sekte abadi. Awalnya, ia ingin membantu, tetapi ketika melihat tubuh Wuxian yang tergeletak, ia mengurungkan niatnya.
“Wuxian?” gumam Huang Chao.
Melihat Wuxian yang tak sadarkan diri, ia pun segera menghampirinya guna memerika keadaannya.
“Ada apa dengannya?” Huang Chao memeriksa denyut nadi Wuxian.
“Senior, bukankah dia murid pengkhianat itu?”
“Tidak diragukan lagi. Senior, dia adalah murid pengkhianat sekte yang masuk ke klan iblis. Kita harus membunuhnya!”
“Tutup mulut kalian! Dia bukanlah pengkhianat. Aku percaya padanya, dia pasti dijebak dan terpaksa harus menjadi iblis. Sekali pun dia harus dibunuh, kita tidak berhak melakukannya,” sahut Huang Chao yang tidak terima ketika saudara seperguruannya menyebut Wuxian sebagai murid pengkhianat.
“Senior, lalu … apa yang akan kau lakukan? Apa yang harus kita lakukan terhadapnya? Sekali pun kau sangat mempercayainya, kenyataan jika dia adalah iblis tidak bisa dipungkiri.”
“Aku akan menolongnya,” cetus Huang Chao.
“Senior, ini … senior, jika guru sampai tahu, kau pasti akan dihukum berat karena membantu klan iblis. Membantu iblis sama dengan bersekutu dengan iblis. Kau tidak boleh membantunya.”
__ADS_1
“Aku tahu dengan jelas apa yang kulakukan. Aku tidak perlu kalian untuk mengajariku. Aku sendiri yang akan bertanggung jawab penuh, kalian tidak perlu terlibat,” cetus Huang Chao.
Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakan, Huang Chao pun merangkul Wuxian dan membawanya pergi dari tempat itu dalam sekejap mata. Huang Chao membawa Wuxian ke tempat tersembunyi untuk mengobati lukanya.
Qiaofeng akhirnya berhasil mengalahkan semua murid sekte abadi. Namun saat ia kembali untuk membawa Wuxian, Wuxian sudah tidak ada di tempatnya.
“Ke mana dia? siapa yang mengganggunya? Sial! Masalah apa lagi yang dia sebabkan?!” Qiaofeng sudah tak bisa mengendalikan emosinya lagi, hingga seluruh pepohonan di sekitarnya seperti tertiup oleh angin kencang akibat Qiaofeng gagal mengendalikan emosinya.
***
“Wuxian? Wuxian!” Huang Chao mencoba menyadarkan Wuxian. Akan tetapi, kondisi Wuxian saat ini tidak mungkin membuatnya mudah tersadar.
Huang Chao membawa Wuxian ke sebuah gua di tengah hutan. Huang Chao telah membawa Wuxian menjauh dari samudera. Namun karena ia tak mahir dalam masalah pengobatan, ia pun terpaksa harus meninggalkan Wuxian di gua itu sendiri. Sebelum Huang Chao pergi meninggalkannya, ia menyegel gua tersebut agar siapa pun tak dapat mengganggu Wuxian. Kemudian, ia pun pergi meninggalkannya.
“Chang Sheng, aku butuh bantuanmu,” pinta Huang Chao. Ia menemui Chang Sheng secara diam-diam di penginapan yang sebelumnya mereka singgahi.
“Tidak, aku bukan mencari mereka. Aku datang ke sini khusus menemuimu. Aku membutuhkan bantuanmu. Apa kau bisa membantuku?” pinta Huang Chao.
“Aku? apa yang bisa kubantu? Selain masalah pengobatan, aku tidak bisa membantumu apa pun,” ujar Chang Sheng.
“Tepat sekali. Aku membutuhkanmu karena hal itu,” cetus Huang Chao.
“Apa kau terluka? Di bagian mana?” tanya Chang Sheng.
“Bukan aku yang terluka, tapi temanku … dia adikku. Apa kau bisa membantuku menyembuhkannya?” pinta Huang Chao penuh harap.
“Adik? Aku baru dengar kalau kau punya adik. Tapi itu bukan urusanku. Di mana adikmu?” tanya Chang Sheng.
“Dia … maaf karena harus merepotkanmu. Jika ingin menyelelamatkannya, kau harus ikut denganku,” cetus Huang Chao.
__ADS_1
“Ke mana?” tanya Chang Sheng.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Huang Chao meraih lengan Chang Sheng dan menariknya keluar dari penginapan. Di alam liar, Huang Chao memantrai pedangnya dan membawa Chang Sheng terbang di atas pedang bersamanya.
“Pegang yang erat.” Huang Chao memperingati Chang Sheng.
Chang Sheng pun tidak punya pilihan selain menuruti perkataan Huang Chao. Chang Sheng menggenggam erat pakaian Huang Chao bagian pinggangnya. Setelah itu, Huang Chao melajukan kecepatan pedangnya agar mereka lebih cepat sampai ke tempat tujuan.
“Di sini?” tanya Chang Sheng saat pertama kali Huang Chao membawanya turun di tengah hutan.
“Di sana,” tunjuk Huang Chao pada sebuah gua yang berada di jarak sekitar 10 meter dari tempat mereka berpijak.
Mereka pun beranjak dari tempatnya, berjalan menuju gua yang terletak di depan mereka. Ketika berada tepat di pintu gua, Huang Chao menghentikan langkah Chang Sheng yang hampir menabrak formasi yang ia ciptakan untuk melindungi gua.
“Hati-hati, aku memasang formasi,” ujar Huang Chao.
“Ah, begitu ternyata,” balas Chan Sheng.
Setelah Huang Chao melenyapkan formasi yang dia pasang, mereka berdua pun masuk ke dalam gua tempat Huang Chao menyembunyikan Wuxian.
“Wuxian?” gumam Chang Sheng saat pertama kali melihat sosok Wuxian.
“Apa kau mengenalnya?” tanya Huang Chao penasaran.
Chang Sheng menoleh ke samping sembari menatap wajah Huang Chao dan menjawab, “Tentu saja aku mengenalnya. Dulu, aku juga pernah mengobatinya sekali. Tidak disangka, ternyata aku harus bertemu dengannya lagi. Mungkin ini takdir,” kata Chang Sheng.
“Kau … kau pernah mengobatinya? Kapan?” tanya Huang Chao.
“Apa kau sudah lupa? Waktu dia berada di sekte, seorang murid kediaman Mahaguru Tianji hampir membunuhnya. Sejak saat itulah aku mengenalnya. Dan sekarang, aku harus mengobatinya lagi. Dia terlalu sering terluka. Bahkan dengan kekuatan besar di dalam tubuhnya, dia masih tidak pintar menjaga diri,” ujar Chang Sheng.
__ADS_1