PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
5 TAHUN BERLALU TETAP SAMA


__ADS_3

SLERETT … BRUUKK!!!


“Sialan! Siapa itu?!” sentaknya.


Seorang remaja laki-laki tengah fokus berlatih keterampilan pedangnya di atas bongkahan es yang licin. Namun, tiba-tiba saja fokusnya terganggu karena seseorang meleparinya sebuah batu dan mengenai pinggangnya. Karena terkejut, ia gagal menyesuaikan keseimbangannya hingga terjatuh ke bawah permukaan tanah yang dilapisi oleh salju.


Dari balik pohon cemara, keluar seorang remaja yang membawa batu di genggaman tangannya. Remaja itu tersenyum ke arah remaja lain yang dilemparinya dengan batu yang digenggam di tangan lainnya. Tanpa sedikit pun rasa bersalah, ia menghampiri remaja yang terjatuh itu sembari mengulurkan tangannya guna memberi bantuan kepadanya.


Sejenak remaja yang terjatuh itu menatap uluran tangannya. Dia sedikit merasa tersinggung karena latihannya diganggu dan membuatnya terjatuh dengan konyolnya. Namun, ia melupakannya begitu saja ketika meraih tangan temannya dan bangkit dari posisinya.


“Berlatih dan berlatih setiap hari. Eh, Wuxian, apa kau tidak bosan menjadi budak pedang setiap hari?” protesnya.


“Bukan urusanmu. Dan juga, aku bukanlah budak pedang, tapi pedanglah yang menjadi barang yang kukendalikan,” balas Wuxian.


5 tahun telah berlalu. Kini, Wuxian telah menginjak usia 17 tahun. Dia tumbuh menjadi remaja laki-laki yang tangguh dan tak kenal lelah, meskipun penindasan yang ia terima dari para seniornya tidak pernah berubah. Akan tetapi, Wuxian tidak akan menyerah meskipun selama 5 tahun keterampilannya tidak pernah meningkat seperti anak-anak lain yang kemampuannya meningkat pesat.


Beberapa kali Wuxian teringat dengan Huang Chao, seorang remaja berusia 15 tahun yang melalui banyak rintangan hingga akhirnya berhasil sampai ke sekte Qing Long bersama dengannya. Usia Huang Chao telah menginjak umur 20 tahun. Wuxian menebak, Huang Chao pasti telah menjadi pendekar hebat yang memiliki kultivasi dan ilmu beladiri tinggi. Hmmm … Wuxian tidak perlu menebaknya, karena berdasarkan rumor yang beredar, Huang Chao telah menjadi anggota pengurus kedisiplinan sekte.

__ADS_1


Berbanding jauh dengan Wuxian yang sampai kini tetap menjadi seorang pelayan sekte yang setiap hari melakukan pekerjaan kasar untuk melayani para guru dan murid-murid berbakat sekte Qing Long. Wuxian berpikir bahwa Huang Chao mungkin telah melupakan Wuxian karena sekali pun Huang Chao tak pernah datang mengunjunginya.


‘Tentu saja. Lagian, untuk apa mengingat anak buangan sepertiku? Berteman denganku hanya akan membuatnya merasa malu.’


“Wuxian, Wuxian!!!” sentak Liu Wei.


“Ah? K-kenapa?” gagapnya.


“Apa yang kau lamunkan? Apa kau kemasukan roh?” celetuk Liu Wei.


“Sembarangan!” timpal Wuxian.


“Kau? Kapan kau bicara?” tanya Wuxian ling-lung.


“Sudah kuduga. Pasti dari tadi kau sedang melayang ke awan sana. Berhenti menghalu dan ikut aku!” perintah Liu Wei.


Tanpa banyak berkata, Liu Wei menyekal pergelangan tangan Wuxian seraya menariknya. Akan tetapi, Wuxian dengan sengaja menahan tubuhnya di posisinya. Karena Wuxian tak beranjak sedikit pun, Liu Wei terpaksa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Dia berbalik seraya berkata kepada Wuxian, “Ada apa? Apa kau tidak ingin ikut?” tanya Liu Wei.


“Aku akan ikut jika kau memberitahuku alasan kenapa aku harus ikut. Jika tidak ada hal penting yang harus dilakukan, aku akan tetap di sini dan berlatih pedang lagi,” tolak Wuxian.


“Sayangnya, bukan kau yang memutuskan. Wuxian, berhentilah berlatih. Setiap hari aku melihatmu terlalu giat berlatih. Lalu … apa yang kau dapatkan? Apa kau berhasil merapalkan satu mantra saja? Tidak, sejauh ini kau selalu gagal. Kau gagal menguasai satu sihir pun. Wuxian, kita telah dicap sebagai anak yang tidak memiliki bakat beladiri. Sekeras apa pun kita berusaha, takdir telah mengikuti kita sejak lahir. Sebagai teman, aku tidak berhak memerintahmu untuk menyerah. Selama ini aku selalu memberimu semangat, tapi semakin kau kekeuh, semakin kau memliki banyak bekas luka di tubuhmu. Aku akan memberikanmu sebuah saran, berhentilah. Aku juga akan berhenti berlatih mulai sekarang. Nadiku semakin berantakan setiap kali aku memaksakan diri untuk melatih budidaya. Apa kau tidak? Wuxian, aku tahu apa yang kau rasakan meskipun kau tidak mengatakannya. Setiap malam kau pasti menahan rasa sakit yang menyayat-nyayat. Aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri. Jangan pikir aku yang selama ini diam tidak tahu jika kau kesakitan setiap malam.” Liu Wei memberi nasihat panjang kali lebar kepada Wuxian.


Wuxian hanya terhening tanpa berkata-kata tatkala mendengarkan nasihat dari Liu Wei. Ia sangat menghargai nasihat yang diberikan oleh Liu Wei kepadanya. Sayangnya, nasihat dari Liu Wei sama sekali tak menggoyahkan tekad Wuxian sedikit pun.


Seperti yang dikatakan banyak orang, Wuxian adalah anak keras kepala yang pendiriannya sangat sulit untuk diubah. Bahkan, beberapa senior yang mengerjainya pun terkadang lelah karena Wuxian sama sekali tak menunjukkan sikap lemahnya sedikit pun di depan mereka.


Kulit Wuxian memang sudah tak peka terhadap rasa sakit. Itulah sebabnya, tubuh Wuxian umur 17 tahun saat ini banyak memiliki bekas luka sayatan pedang sejak dia berlatih tanpa lelah selama 5 tahun. Akan tetapi, tidak bisa merasakan sakit bukan karena tubuhnya benar-benar kebal.


Tidak bisa merasakan rasa sakit di kulit, bukan berarti syaraf-syaraf tubuhnya tak bisa merasakan sakit. Syaraf jantung Wuxian seringkali merasakan nyeri tak tertahankan ketika esensi dalam tubuhnya melawan balik kala Wuxian memaksakan diri untuk mengkultivasikan budidaya. Perihal itulah yang membuat Wuxian menderita rasa sakit dan tidak bisa tidur nyenyak setiap malam.


Dari awal, para guru dan Run Yu sang pemimpin sekte telah mengingatkan Wuxian untuk tak memaksakan diri, karena hal itu dapat berpengaruh buruk pada kesehatan fisiknya. Sayangnya, Wuxian yang kekeuh tak pernah percaya jika dirinya tak bisa melatih budidaya. Jika orang lain bisa melakukannya, kenapa dia harus tidak?


Dia tidak pernah lupa jika ada juga takdir yang bisa diubah dengan usaha dan kerja keras. Ia percaya bahwa usaha dan kerja keras yang ia lakukan selama ini akan membuahkan hasil. Jika tidak sekarang, mungkin suatu hari nanti. Ia tidak ingin menyesal jika menyia-nyiakan hidupnya hanya karena perkataan orang-orang terhadapnya.

__ADS_1


“Liu Wei, jika kau adalah temanku, aku yakin kau pasti mengenalku. Menyerah? Kata itu tidak ada di dalam kamusku. Kita memang tidak bisa memilih takdir yang telah ditetapkan untuk kita sejak lahir. Namun, aku akan berusaha lebih keras agar takdir pada akhirnya yang memilihku,” cetus Wuxian.


“Huftt … .” Liu Wei menghela nafasnya. “Sebelum aku mengatakan semua itu, aku sudah menebak jawaban apa yang akan kudengar darimu. Memberi nasihat kepadamu sama sulitnya seperti mencairkan balok es dengan nafas,” celetuk Liu Wei.


__ADS_2