
“Untuk perjalanan kali ini, cukup Qi Feng yang melakukannya. Dia harus menjadi salah satu di antara mereka, menjadi mata-mata yang beridentitaskan murid sekte iblis. Sedangkan untuk kalian, tetap lanjutkan tugas kalian. Tetap lanjutkan perburuan malam dan mengawasi kekacauan-kekacauan yang terjadi di sekitar untuk membantu masyarakat setempat,” cetus Yuan Lu.
“Baik, Guru!” ucap semuanya serentak.
Semua murid yang berada di sana pun berlalu untuk menjalankan perintah dari Yuan Lu, menyisakan Qi Feng seorang di sana.
“Guru, aku bergegegas menjalankan tugas,” cetus Qi Feng.
“Baiklah, hati-hati. Jangan sampai mereka tahu jika kau berasal dari sekte kebenaran.” Memberi pesan kepada Qi Feng.
Qi Feng terhening sejenak. “Guru, apa itu artinya, aku harus menghancurkan kultivasiku?” tanyanya dengan ragu.
Yuan Lu pun membisu tatkala Qi Feng menanyakan pertanyaan yang pada akhirnya ditanyakan olehnya.
“Sungguh disayangkan. Qi Feng, selama ini kau telah berlatih keras dalam budidaya, hingga menyempurnakan kultivasimu. Sayangnya, jika kau ingin agar sekte iblis tidak curiga denganmu, kau harus menghancurkan budidayamu terlebih dahulu. Sudahlah, Guru tidak akan memaksa. Semuanya adalah pilihanmu sendiri. Kau bisa mempertahankan kultivasimu, tapi kau harus menghindari kontak fisik dengan murid-murid sekte iblis. Jangan sampai mereka tahu jika kau memiliki energi spiritual dari sekte kebenaran,” sarannya.
Qi Feng terdiam seraya menghela nafasnya. “Guru, aku telah memilih. Pilihanku, menghancurkan kultivasiku. Kultivasi bisa dilatih kembali. Kedamaian dunia adalah prioritas utama. Kita tidak bisa melewatkan kesempatan ini dan mengacaukan rencana,” cetus Qi Feng.
***
“Wuxian, apa kau mengerti sekarang?” tanya Huang Chao.
__ADS_1
“Tentang apa?” Wuxian balas bertanya karena tak mengerti apa yang dimaksudkan dari pertanyaan Huang Chao.
“Sekte Qing Long. Aku memberimu kesempatan. Jika kau tidak yakin, kau bisa berhenti sebelum memilih jalan ini. Jalan kultivasi bukanlah jalan yang mudah. Kita mesti mengorbankan banyak hal dalam hidup kita, untuk menjadi kuat dan tak terkalahkan,” cetus Huang Chao.
“Jika aku takut, dari awal aku tidak akan sampai ke tempat ini. Untuk apa kita melalui perjalanan yang begitu panjang dan sulit, jika aku masih ragu-ragu dengan langkahku. Aku telah menetapkan segalanya di atas pilihanku. Ketika aku telah kehilangan keluargaku, aku tak memiliki tujuan lain, dan apa pun yang aku sayangkan untuk ditinggalkan. Aku akan meninggalkan apa pun itu, untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Aku tidak perduli dengan konsekuensi yang harus dilalui di kemudian hari. Jika telah memilih, bukankah seharusnya kita siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi?” tuturnya panjang kali lebar.
“Baguslah. Memang jawaban seperti ini yang ingin kudengar darimu. Aku juga. Setelah kehilangan segalanya, aku tak memiliki apa pun yang harus disayangkan. Aku hanya memiliki nyawa, dan itu pun bukan sepenuhnya milikku. Aku menyayangi nyawaku, tapi aku juga rela jika harus kehilangannya ketika memilih jalan ini. Jika hidup hanya dilalui dengan bersantai ria, untuk apa kita hidup?” balas Huang Chao.
Keduanya pun saling terhening. Mereka merasa bahwa waktu istirahat mereka sudah cukup. Mereka harus bangkit dan melanjutkan perjalanan mereka. Jarak mereka menuju tebing sudah sangat dekat.
Wuxian dan Huang Chao pun bangkit dan melanjutkan perjalanan mereka. Ketika mereka berdua telah sampai di bawah tebing, keduanya pun mendongakkan kepala mereka, menatap tebing es yang menjulang tinggi ke langit, seperti gunung dengan puncak tertinggi di atas permukaan air laut.
“Kak Chao, sangat mustahil kita akan sampai ke atas sana dengan cara memanjat. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Wuxian.
“S-semingu? Kak Chao, tidak mungkin. Kau bercanda, bukan? Seminggu? Jika kita tidak bisa sampai ke puncak untuk datang ke sekte Ling Long, lalu bagaimana kita bisa berlatih di sana? Apa kita harus kembali dan mencari sekte lain yang lebih mudah dijangkau?” Wuxian mulai ragu dengan apa yang mereka lakukan, tatkala menyadari ketidakmungkinan yang terkesan tidak akan pernah menjadi kenyataan.
“Wuxian, apa kau ragu? Jika kau ragu, kau bisa kembali dan mencari sekte yang lebih mudah dijangkau, seperti yang baru saja kau katakan,” sindiri Huang Chao. Ia sengaja melakukannya agar Wuxian memantapkan hatinya dan yakin bahwa mereka bisa melalui semua itu.
“Lalu, apa kita akan memanjat?” tanyanya.
“Wuxian… Wuxian … memanjat katamu? Ingin mati? Tentu saja tidak,” jawab Huang Chao.
__ADS_1
“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Jangan membuatku menunggu lebih lama dan semakin penasaran. Kak Chao, aku tidak mengerti. Kau memang tanda tanya,” celetuknya.
“Hei, maka dari itu, jika ada orang yang belum selesai bicara, tunggu sampai mereka selesai. Aku bahkan belum selesai menjelaskan, tapi kau terus-terusan menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan konyolmu yang diulang-ulang,” balas Huang Chao.
“Kalau begitu, jelaskan sekarang. Aku akan berhenti bertanya dan hanya akan mendengarkan,” ujar Wuxian.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Tebing ini … .”
Tebing itu adalah tebing dewa. Siapa pun yang tak memiliki kultivasi tingkat tinggi, tak akan mungkin bisa sampai ke puncaknya. Untuk orang biasa seperti Wuxian dan Huang Chao, mencapai ke puncak atas dengan segala usaha adalah tindakan mustahil yang terkesan konyol. Siapa pun pasti tertawa jika mendengar bahwa mereka akan memanjat tebing tersebut.
Lalu, bagaimana mereka bisa sampai ke atas sana?
Sebelum itu, tentang nama tebing tersebut yang disebut tebing dewa. Kenapa disebut dengan demikian? Tentu saja nama tersebut bukanlah nama yang dipilih secara acak. Semua sudah pasti memiliki sejarah tertentu. Namun, jika membahas sejarah, siapa pun akan bosan dan mengantuk ketika mendengarnya.
Yang akan dibahas Huang Chao kali ini yaitu tentang cara agar siapa pun bisa mencapai puncak, tapak melakukan tindakan konyol dan bodoh seperti yang dipikirkan oleh Wuxian.
Memanjat? Oh, tentu saja tidak. Tebing dewa, sesuai dengan namanya, pasti memiliki keistimewaan tertentu. Tebing dewa termasuk salah satu perlindungan bagi sekte Qing Long. Sedikit sejarah menceritakan bahwa pemimpin sekte Qing Long yang telah menyempurnakan kultivasinya, mengorbankan setengah roh primodialnya hanya untuk melindungi sekte Qing Long.
Salah satu bentuk perlindungan tersebut yakni, membentuk tebing dewa yang siapa pun jika tak memiliki kultivasi tinggi, tak akan pernah bisa melihat sekte Qing Long, apalagi menjamahnya.
“Lalu, bagaimana kita bisa sampai ke sana?”
__ADS_1
“Hei, Wuxian! Kebiasaanmu ini benar-benar … sudah kubilang, dengarkan sampai tuntas. Aku belum selesai menjelaskan!”