PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
ORGANISASI TERSEMBUNYI


__ADS_3

“Aku memang orang bodoh. Oleh sebab itu, aku selalu bertindak tanpa berpikir. Aku harus menyelamatkannya!” cetus Wuxian. Ia masih saja keras kepala dan bersikeras ingin menyelamatkan seorang anak yang terperangkap di dalam api.


“Bodoh! Terserah kau saja. Lakukan apa yang kau inginkan. Jika kau ingin mati, jangan seret aku mati bersamamu. Aku masih memiliki tujuan hidupku. Aku tidak akan mati hari ini.” Huang Chao pum akhirnya menyerah atas Wuxian. Dia melepaskan Wuxian dan membiarkannya untuk menyelamatkan seorang anak yang terperangkap di dalam api.


“Aku juga memiliki tujuan yang masih belum tercapai. Sesuai dengan apa yang kau katakan, aku tidak akan mati hari ini. Tidak semudah itu. Hari ini bukanlah hari kematianku!” cetus Wuxian dengan percaya diri.


Setelah menyelesaikan perkataannya, Wuxian pun segera mencari cara untuk menerobos pintu yang tertutup oleh api itu. Setelah berhasil, tanpa pikir panjang, Wuxian pun masuk ke dalam rumah itu hanya untuk menyelamatkan seorang anak kecil berkisar umur 6 tahunan.


“Asishhh! Dasar anak bodoh. Dia lebih merepotkan dari yang kukira,” gerutu Huang Chao.


“Kakak … siapa kau?” tanya anak kecil itu kepada Wuxian, ketika Wuxian datang menghampirinya. Anak kecil itu pun akhirnya berhenti menangis.


“Aku akan membawamu keluar dari sini. Aku akan menyelamatkanmu.” Ucapan Wuxian berusaha menghibur anak itu.


Wuxian menggendong anak kecil itu dan membawanya berjalan ke pintu keluar. Namun, dinding kayu yang membakar rumah itu mulai rapuh dan terjatuh menutupi pintu. Pintu untuk mereka keluar pun akhirnya tertutup oleh api yang menyala semakin besar.


BRUAKKK!!! Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari arah kanan. Ternyata, di balik suara itu, ada Huang Chao yang beraksi untuk menyelamatkan mereka.


Huang Chao menghancurkan tembok rumah itu dan membuat jalan agar Wuxian dan anak yang ada di gendongannya berhasil keluar dari sana.

__ADS_1


“Kak Chao … .”


“Tunggu apa lagi? Cepat keluar! Aku tidak ingin mencium aroma manusia panggang dari tubuh kalian,” cetus Huang Chao.


Bersama dengan seorang anak yang ada di gendongannya, Wuxian akhirnya berhasil membawanya keluar dari sana. Ketika telah berhasil keluar, Wuxian pun menurunkan anak yang ia gendong ke tanah.


“Kak Chao, bukankah kau bilang … .”


“Aku memang tidak ingin mati bersamamu, tapi bukan berarti aku akan meninggalkanmu mati terpanggang dengan api itu. Merepotkan! Hanya anak lemah saja sok ingin menjadi seorang pahlwan!” Huang Chao yang kesal pun langsung mengomeli Wuxian tanpa memikirkan apa yang ia katakan, karena ia sengaja mengatakan semua hal itu.


“Kak Chao, maaf karena aku merepotkanmu. Kau bisa saja meninggalkanku dan menyelamatkan dirimu keluar dari Kota ini.” Wuxian merasa bersalah karena baru saja membuat Huang Chao harus menyelamatkannya.


Wuxian tersenyum tatkala mendengar pernyataaan dari Huang Chao. Ternyata, bukan hanya dirinya saja yang telah menganggap keselamatan Huang Chao lebih penting, tetapi Huang Chao pun menganggap keselamatan Wuxian sangat penting.


“Sudahlah! Berhenti membahas hal ini. Yang harus kita pikirkan saat ini adalah… cara keluar dari Kota ini. Benar-benar sudah terlambat. Tidak tahu apakah api sudah memblokir jalan keluuar Kota atau belum. Kita tidak bisa keluar dari jalan utama. Kita harus mencari jalan pintas lain. Ayo!” himbau Huang Chao.


Huang Chao memimpin jalan, diikuti Wuxian yang menggandeng seorang anak kecil yang baru saja diselamatkan olehnya. Di tengah kobaran api yang perlahan semakin besar, para penduduk Kota berlarian, huru-hara menyelamatkan nyawa mereka masing-masing. Tidak perduli dengan hal lain. Mereka semua yang ada di sana hanya ingin keluar dari sana hidup-hidup, karena hawa api yang semakin besar itu menjadi sangat panas.


***

__ADS_1


“Sesuai dengan yang Anda perintahkan. Kami telah berhasil menghancurkan Kota sebagai alat peralihan,” lapor salah seorang pria berpakaian serba hitam, dengan wajah tertutup, kepada seserang yang tengah berdiri membelakanginya.


“Bagus… dilakukan dengan baik,” ucap pria yang berdiri membelakangi pria berpakaian seraba hitam itu. Ia terlihat sangat puas, dengan senyum tersungging yang terlukis di wajahnya. “Bagaimana dengan hal lain yang kuperintahkan? Apa kalian mendapatkannya?” tanyanya.


“Tuan, kami terlambat selangkah. Dia membawa benda itu kabur dari Kota ini. Entah bagaimana dan lewat mana dia pergi, sayangnya dia berhasil melarikan diri,” jelasnya.


Seorang pria yang tak lain adalah pimpinan atau seorang Tuan itu terdiam seketika. Senyum tersungging yang terlukis di wajahnya pun langsung menghilang begitu saja, digantikan dengan geraman yang terdengar dari gigi gerahamnya yang menggertak.


“Berani sekali dia kabur. Tidak bisa dibiarkan terus seperti ini. Benda yang dia bawa adalah kunci dari semua benda yang berhasil kita kumpulkan selama ini. Tidak boleh kehilangannya lagi. Hidup atau mati, kita harus menangkapnya dan merebut benda yang ada di tangannya!” cetusnya geram. “Karena misi gagal, kita harus segera pergi dari Kota ini. Penyelidikan tentang keberadaannya harus terus dilakukan. Dia bisa bersembunyi, tapi tidak dengan lari. Semua, kita pergi ke target selanjutnya!” himbaunya kepada para bawahannya.


Bawahan dari pria yang disebut ‘Tuan’ itu adalah sekelompok pria berpakaian hitam dengan penutup wajah misterius yang menutup wajahnya. Senjata yang mereka gunakan pun bukanlah senjata biasa, melainkan senjata tajam yang kejam terhadap musuh, juga kejam terhadap diri mereka sendiri. Ya, mereka adalah orang-orang yang menghancurkan Kota Yi dan membuat Kota Yi dilahap api besar yang berkobar.


Ketika mereka tidak mendapatkan barang yang mereka inginkan, mereka pun meninggalkan Kota Yi yang berhasil mereka hancurkan. Sudah dipastikan, mereka akan pergi ke suatu tempat yang di mana tempat itu akan mereka hancurkan pula.


Rumor tentang kekacauan yang disebutkan oleh kelompok itu pun telah beredar di dunia Jianghu. Para pendekar curiga bahwa tujuan mereka menghancurkan satu tempat ke tempat lain tidak akan sesederhana itu. Telah terlintas pula dalam pikiran para sekte kebenaran bahwa kelompok sadis itu menginginkan sesuatu yang sangat besar sebagai tujuan akhir mereka. Entah apa yang mereka inginkan, target mana saja yang akan mereka hancurkan, dan siapa sebenarnya identitas mereka.


Pergerakan kelompok itu sangat misterius, sadis, dan cekatan. Mereka selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mereka tidak pernah menetap di satu tempat, ataupun memiliki markas mereka sendiri. Tidak tahu di mana markas utama mereka sebenarnya. Dan juga, setiap tempat atau daerah yang mereka singgahi, maka alamat kehancuran tempat itu sudah dapat dipastikan dan tak dapat dihindari


"Hancurkan tempat ini dan persembahkan untuk pimpinan! Serang!!!"

__ADS_1


***


__ADS_2