PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
KOTA MISTERIUS


__ADS_3

“Tidak ada kenyamanan dari harta yang berlimpah. Meskipun semua bisa dibeli dengan uang, tapi tidak dengan kebahagiaan. Semua harta itu sama sekali tak membuatku bahagia selama hidupku. Aku memiliki banyak rumah, emas, perak, giok, dan barang-barang berhaga lainnya. Di belakang kediamanku ada sebuah taman bunga dan kolam ikan mas yang cukup dalam. Setiap hari, aku hanya bersantai ria menikmati hidup yang membosankan. Baik pelayan pria, maupun pelayan wanita, mereka selalu membantuku menyiapkan segala sesuatu yang kubutuhkan. Namun, aku tidak perah puas dengan semua itu. Karena kenyamanan seperti itu tidak membuatku bahagia. Karena itu, aku memutuskan untuk mencari seorang guru di dunia Jianghu. Dulu, tujuanku menjadi pendekar kuat yang dapat memberantas kejahatan dan menolong yang lemah dan siapa pun yang membutuhkan. Sayangnya, sebelum semua itu terwujud, insiden besar terjadi di keluargaku yang mengharuskanku berakhir tak memiliki rumah dan tujuan seperti ini,” ungkapnya panjang kali lebar.


Wajah Huang Chao mulai sendu tatkala ia mengungkit tentang apa yang terjadi dalam hidupnya. Meskipun ia mencoba menyembunyikannya, tetapi bahasa tubuh tak bisa membohonginya.


Wuxian termenung mendengarkan apa yang diceritakan oleh Huang Chao secara seksama. Setelah peristiwa tragis yang menimpanya, Wuxian pun sadar jika bukan hanya dia orang yang paling menyedihkan. Huang Chao, meskipun dia tidak menjelaskan insiden apa yang terjadi kepada keluarganya, Wuxian dapat menebak bahwa insiden tersebut bukanlah insiden biasa, karena insiden membuat Huang Chao kehilangan rumah, bahkan diburu oleh para bandit untuk dibunuh oleh mereka.


“Kak Chao, jangan khawatir. Aku juga akan membantumu dan melindungimu. Setelah ini, kita akan melalui kesulitan bersama,” cetus Wuxian. Ia mencoba menghibur Huang Chao, juga berusaha untuk menghibur dirinya sendiri.


Huang Chao tersenyum kecil sembari melirik wajah Wuxian yang duduk di sampingnya. Lalu, ia pun angkat bicara, “Baik! Setelah ini, kita akan menjadi saudara yang saling melindungi. Aku akan melindungimu, kau juga bisa melindungiku. Aku bukanlah orang yang suka meratapi nasibku tanpa tindakan sampingan yang dapat membantuku membalasnya. Jika dulu tujuanku menjadi Pendekar terkuat untuk melindungi orang lemah dan siapa pun yang membutuhkan, tujuanku saat ini tetap sama. Hanya saja, aku menambahkannya dengan hal lain. Aku akan menjadi kuat agar bisa melindungi mereka yang lebih dan siapa pun yang membutuhkan. Dan juga, agar aku bisa melindungi siapa-siapa yang ingin kulindungi, mereka yang aku sayangi dan cintai. Aku akan membalaskan dendamku kepada siapa mereka yang telah menghancurkan keluargaku,” cetus Huang Chao.


Yu Wuxian tersenyum karena merasa semua yang dikatakan oleh Huang Chao menumbuhkan semangat juang dalam dirinya yang mulai panas membara.


“Baik! Aku juga akan menjadi kuat agar bisa melindungi siapa pun yang tertindas, melawan kejahatan yang merajalela di dunia. Dan juga, aku akan membalaskan dendamku kepada mereka yang telah memusnahkan desaku dan membuatku terpisah dari keluargaku,” cetus Yu Wuxian. “Kak Chao, setelah ini, kita akan ke mana?” tanya Wuxian.


Huang Chao terdaim sejenak sembari memikirkan tujuan mereka selanjutnya. Setelah memikirkannya, ia pun mengemukakannya.


“Gunung Gao, di sana tempat sekte Qing Yun berdiri,” ucap Huang Chao.

__ADS_1


“Gunung Gao? Sekte Qing Yun? Kita harus ke mana agar bisa sampai ke sana?” tanya Wuxian.


“Aku memang belum pernah datang ke sanan. Namun, guru belajarku dulu pernah memberitahuku letak sekte Qing Yun di Gunung Gao. Gunung Gao ada di daerah Utara,” ujar Huang Chao.


“Daerah Utara? Bukankah di sana sangat dingin?” Wuxian menebak karena ia pun pernah sedikit mendengar tentang daerah Utara yang dimaksud oleh Huang Chao.


“Benar, kita memang akan menuju ke sana. Daerah Utara, letak Gunung Gao. Dan Gunung Gao sendiri memiliki nama lain Gunung Peri Es,” jelas Huang Chao.


Yu Wuxian membisu, tatkala mendengar penjelasan dari Huang Chao. Tidak pernah terlintas dalam benaknya, jika dia akan pergi ke tempat yang sangat dingin dan tinggal di sana andai takdir mengizinkannya.


Selama ini, Yu Wuxian tak pernah merasakan musim dingin seperti daerah lainnya, karena desa tempat tinggalnya berdekatan dengan gurun yang sangat luas. Berbeda dengan Negara dan kota-kota lain yang memiliki enam musim. Desa tempat tinggal Wuxian tak memiliki musim yang sama dan kerap mengalami kekeringan. Bahkan, tanah di desanya termasuk tanah tandus yang sulit untuk ditanami sesuatu, kecuali dirawat dengan benar. Oleh sebab itu, Wuxian lebih senang bermain ke tempat yang lebih tropis, seperti hutan-hutan yang lumayan berdekatan dengan desa tempatnya tinggal. Akan tetapi, karena kebiasaan bermainnya itulah yang membuat Wuxian selalu mendapat perlakuan kasar dari kedua orangtuanya.


Daerah Utara bahkan berhasil mendapat predikat pusat perdagangan terbesar di Negara Dong, Negara tempat Yu Wuxian tinggal.


“Apakah di sana sangat dingin?” tanya Yu Wuxian.


“Entahlah. Mungkin akan sangat dingin, lebih dari yang kita bayangkan. Ah, benar… kita harus mencari pakaian yang lebih tebal untuk persedian perjalanan kita juga,” ujar Huang Chao.

__ADS_1


“Tapi aku tidak memiliki uang,” ucap Wuxian.


“Tenang saja. Aku memiliki yang terakhir,” ujar Huang Chao sembari memperlihatkan sebuah gantungan giok yang ia sembunyikan di balik pakaiannya.


Yu Wuxian terbelalak tatkala melihat sebuah barang amat cantik yang selama ini tak pernah dilihat olehnya.


“Apakah itu sangat mahal?” Wuxian bertanya karena sangat penasaran dengan harga barang yang ditunjukkan oleh Huang Chao.


“Hmmm… mungkin akan cukup untuk membeli 5 karung beras,” jawabnya.


“Li-lima karung beras? Apakah benar?!” Wuxian histeris ketika mendengar jawaban Huang Chao yang tak sesuai dengan ekspetasi yang dipikirkannya. Wuxian hanya menebak jika gantungan giok itu hanya dapat ditukar dengan 2 karung beras. Namun ternyata, lebih dari 2 dan itu adalah 5.


“Benar, kira-kira segitu. Aku memang belum pernah menjualnya secara langsung, tetapi anggap saja segitu perhitungannya. Namun, kita tidak tahu kali ini akan laku berapa. Kita coba saja. Ah, benar… tapi yang kita tukar kali ini bukanlah karung beras, melainkan pakaian. Pakaian bisa lebih murah. Mungkin, kita akan mendapat kembalian banyak,” jelas Huang Chao. “Benar, kita harus keluar dari hutan ini dan pergi ke kota Yi,” ujar Huang Chao sembari menunjuk jalan yang akan mengantarkannya ke kota Yi.


Kota Yi adalah tujuan mereka berikutnya. Huang Chao mengarahkan tujuan mereka ke Kota Yi tatkala ia melihat sebuah nisan yang tertulis kaligrafi yang dibaca ‘Yi’.


Lewat jalan kecil itu, Wuxian dan Huang Chao menyusurinya agar bisa segera sampai ke Kota tujuan mereka.

__ADS_1


“Kak Chao, apa kau tidak lelah?” tanya Wuxian.


__ADS_2