PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
PENGOBATAN


__ADS_3

“Eittt … jangan asal sentuh!” Jin Ling menahan Huang Chao yang hampir memungut pedang yang terlantar di tumpukan salju itu. Sepontan Huang Chao pun mengurungkan niatnya tatkala Jin Ling mencegahnya.


“Senior, kita harus melaporkan tentang pedang ini. Pedang itu bukanlah pedang biasa. Semua tanda-tanda akurat yang terlihat dapat dipastikan bahwa pedang itu berasal dari sekte iblis,” cetus Huang Chao.


“Tentu saja kita akan melaporkannya, tapi jangan bertindak ceroboh. Apalagi jika pedang ini milik sekte iblis, kita harus lebih berhati-hati. Jangan asal menyentuhnya. Aku akan melaporkan hal ini terlebih dahulu. Biar Ketua Pengawas yang mengurusnya,” balas Jin Ling.


“Baik.” Huang Chao hanya bisa menuruti intruksi dari Jin Ling. Sekali lagi, Huang Chao dibuat terhenyak tatkala menyaksikan 2 orang murid lain yang tengah tak sadarkan diri. Kemudian tanpa menunda waktu, ia bergegas menghampiri kedua murid itu. Ia semakin tercengang ketika mengenali salah satu di antara mereka. “Wuxian?!” ucapnya histeris.


“Apa yang terjadi?” tanya Jin Ling seraya menghampiri Huang Chao.


“Senior, maaf. Aku harus pergi lebih dulu. Aku harus menolong temanku. Kasus ini, aku serahkan padamu. Setelah aku menyelamatkannya, aku pasti akan membantumu lagi,” ujar Huang Chao sebelum ia berlalu pergi bersama Wuxian.


“Weh, kau mau ke mana? Apa kau membiarkanku mengurus semuanya? Benar-benar …,” gerutu Jin Ling.


Tatkala Huang Chao melihat Wuxian terluka parah dan tak sadarkan diri, ia segera merangkul Wuxian dan membawanya pergi ke tabib yang ada di sekte Qing Long. Sekte Qing Long pun memiliki Biro Kesehatan untuk para murid yang sakit dan terluka. Tanpa pikir panjang, Huang Chao bergegas memasuki kediaman dan menyerahkan Wuxian kepada salah seorang tabib yang bertugas.


Tanpa menunda waktu, Huang Chao bergegas membaringkan tubuh Wuxian di salah satu ranjang dan segera diperiksa oleh sang tabib. Ketika memeriksa merdian tubuh Wuxian, tabib itu tak menunjukkan ekspresi apa pun.


Huang Chao akhirnya dapat menghela nafasnya dengan lega karena yakin tak terjadi hal yang serius pada kondisi tubuh Wuxian saat ini.

__ADS_1


“Tabib, bagaimana keadaannya?” tanya Huang Chao.


“Dia baik-baik saja, hanya luka luar. Bagian tubuh dalamnya tidak terluka. Hanya saja … .” Tabib itu sengaja menggantungkan perkataannya.


“Hanya saja, kenapa? Tabib, apa ada yang salah dengannya?” Huang Chao mulai khawatir.


“Merdian tubuhnya sangat lemah. Dan juga, syaraf jantungnya terdapat kerusakan. Hal itu disebabkan karena dia memaksa tubuhnya untuk menerima kekuatan budidaya. Jika hal itu dilakukan secara terus menerus, akan terjadi hal buruk pada jantungnya. Paling tidak, dia akan terkena serangan jantung, dan paling parah jantungnya akan meledak karena tak sanggup menerima essensi keabadian,” jelasnya panjang kali lebar.


Huang Chao tak bisa berkata-kata, saat tabib sekte menjelaskan secara terperinci tentang kondisi Wuxian. Wuxian adalah murid yang tidak mendapat seorang guru karena tulang dan merdian tubuhnya terlalu lemah untuk menerima esensi budidaya dalam pembentukan tulang dewa. Oleh sebab itu, ia menjadi murid buangan dan terbelakang. Namun setelah semua itu, Huang Chao bahkan tidak tahu apa pun tentang Wuxian.


Jika dari awal Huang Chao tahu dengan jelas tentang kondisi tubuh Wuxian, dari awal dia pasti tidak akan mengajak Wuxian untuk berguru di sebuah sekte agar dapat menjadi seorang pendekar hebat dunia Jianghu. Jika dipikir, semua yang terjadi kepada Wuxian adalah salahnya. Huang Chao menyalahkan dirinya sendiri.


Ia merasa bersalah terhadap Wuxian karena secara tidak langsung, ia memaksa Wuxian untuk melakukan hal yang tidak mungkin, terlebih dapat merugikan diri sendiri.


“Baik, Guru,” jawabnya.


Tabib itu juga termasuk salah seorang guru di sekte Qing Long. Hanya saja, statusnya lebih rendah dari para Mahaguru lainnya. Jiang Ruyi namanya, dia lebih berfokus pada bidang kesehatan daripada budidaya karena ingin menebar kebaikan dengan caranya sendiri. Menyembuhkan dan mengobati siapa pun yang membutuhkan adalah cita-citanya. Dia tidak perduli dengan kehormatan dan segala hal yang bersifat duniawi, sebab ia adalah seseorang yang menganut ajaran Tao.


Seseorang yang menganut ajaran Tao harus menjauhkan segala ambisi yang bersifat keduniawian. Tugasnya hanyalah menebar banyak kebaikan dan membantu sesiapa yang membutuhkan. Jiang Ruyi hanya memiliki satu murid di kediamannya. Namanya adalah Chang Sheng. Dia mengikuti jejak gurunya, menganut ajaran Tao dan hanya perduli terhadap keselamatan orang lain, yang juga memang begitulah tugas seorang tabib.

__ADS_1


“Permisi … apa kau bisa membantuku?” tanya Chang Sheng kepada Huang Chao.


Ketika Huang Chao mendengar suara Chang Sheng, ia pun reflek menoleh ke arahnya. Pandangannya mendapati seorang gadis berpakaian warna hijau muda yang tengah memegang alat pengobatan. Tatkala pertama kali Huang Chao menatapnya, ia tak langsung menjawab pertanyaan dari Chang Sheng karena terpaku oleh sosoknya.


Sementara Chang Sheng pun merasa heran kala melihat Huang Chao yang menunjukkan sikap tak wajar. Ia pun angkat bicara kembali, “Permisi, apa kau mendengarku?” tanya Chang Sheng sembari melebarkan netranya yang bulat.


“E-eh, iya,” gagap Huang Chao. “Apa yang kau katakan barusan?” tanya Huang Chao gelagapan.


“Begini … aku harus mengobati luka luar yang ada di punggungnya. Tapi karena aku seorang gadis, sepertinya tidak nyaman jika aku yang melepaskan pakaiannya. Bagaimana jika kau yang melepaskannya?” ucapnya dengan sopan.


Huang Chao reflek menatap Wuxian yang terbaring tak sadarkan diri. Kemudian, ia pun menjawab perkataan Chang Sheng, “Tidak masalah. Aku akan melakukannya,” jawab Huang Chao dengan nada dinginnya.


“Terima Kasih,” ucap Chang Sheng.


Huang Chao tak lagi mengatakan sepatah kata pun karena ia harus melakukan tugasnya. Dia melepaskan pakaian Wuxian yang terlihat kumuh, karena itu adalah pakaian satu-satunya yang dimiliki oleh Wuxian. Sayangnya, satu-satunya pakaian milik Wuxian itu tak layak dikenakan lagi karena bagian punggungnya telah sobek dan ternodai oleh darahnya.


Tatkala Huang Chao telah melepaskan pakaian atas yang dikenakan oleh Wuxian, Chang Seng pun mendekati Wuxian dan menyandarkan pipi kirinya di tembok. Chang Sheng mulai membersihkan luka-luka Wuxian dengan kain kering, tanpa air sedikit pun karena lukanya akan semakin parah jika terkena air. Ia hanya membersihkan sisa-sisa darah di pinggir luka Wuxian, lalu mengoleskan obat di permukaan lukanya. Chang Sheng membiarkan lukanya terbuka tanpa membalutnya, sebab luka di punggung Wuxian tidak terlalu dalam.


“Lukanya luarnya tidak serius. Tunggu beberapa hari lagi, nanti akan kering,” ucap Chang Sheng seraya bangkit dari tempatnya.

__ADS_1


Namun sepertinya, tugas Chang Sheng belum usai ketika 2 orang murid datang lagi ke ruangan itu. Benar, kedua murid itu adalah Liu Wei dan Huo Yi yang menderita luka lebih parah daripada Wuxian.


“Kenapa mereka bisa terluka seperti ini?” tanya Chang Sheng sembari mengernyitkan kedua alisnya.


__ADS_2