
“Hei, apa yang kau maksud?” Huang Chao memotong perkataan Wuxian dengan cepat. “Lalu, kau? Apa kau pernah bermimpi semacam itu?” tanyanya balik.
“Entah kau memang berpemikiran polos atau pura-pura polos. Kau sendiri adalah seorang pria. Kau tahu bagaimana pemikiran pria ketika melihat gadis-gadis cantik di hadapanmu,” selidik Wuxian, menatap Huang Chao dengan tatapan nakal.
“Aku tidak pernah kehabisan gadis-gadis semacam itu. Di kediamanku dulu ada banyak seorang pelayan yang melayaniku, sampai mempersiapkan tempat mandiku. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik dengan mereka. Tak ada yang menarik dari wanita,” cetus Huang Chao memberi pembelaan terhadap dirinya sendiri. Ia tidak senang jika dirinya disalahlahami, apalagi tentang hal yang menurutnya sangat melakukan.
“Tunggu… apa kau benar-benar normal? Tidak mungkin, kau juga tidak menyukai wanita? Kau tidak menyukai pria, juga tidak menyukai wanita. Lalu, apa yang kau sukai di dunia ini?” Wuxian tak berhenti penasaran dengan Huang Chao.
“Aku menyukai diriku sendiri… juga menyukaimu.” Perkataan Huang Chao reflek membuat Wuxian tertegun, tanpa sadar menjatuhkan pakaian yang ia keringkan dengan ekspresi wajah tercengang. “Sebagai saudaraku,” lanjut Huang Chao. Ketika Huang Chao melanjutkan perkataannya, Wuxian pun dapat menghela nafasnya dengan damai.
“Tidak normal. Kau adalah orang egois bagi orang lain, tetapi kau sangat memperdulikan orang di sekitarmu. Kau tipe orang yang tidak perduli dengan masalah orang lain, tetapi lebih memilih memberikan dunia kepada orang terdekatmu. Aku pikir… kau tipe orang semacam itu,” tebak Wuxian.
“Mungkin. Aku sendiri tidak terlalu memahami diriku sendiri. Aku tidak perlu repot memahami diri sendiri, karena bakal ada orang lain yang menilainya,” ujar Huang Chao.
“Tapi adakalanya kita memahami diri sendiri agar bisa memahami orang lain,” balas Wuxian.
“Aku tidak perlu memahami orang lain, selain dirimu,” ujar Huang Chao.
“Sudahlah. Sekarang aku mengerti. Kau telah terobsesi denganku. Lupakan semua itu dan ayo kita tidur,” ucap Wuxian. Selang beberapa detik, ia sadar dengan kalimat terakhir yang diucapkan. “Maksudnya, kita tidur masing-masing,” lanjutnya.
“Aku tahu, aku tahu. Kau tidak perlu memberi penjelasan perkataanmu. Hei, aku ini pria normal!” cetus Huang Chao. Huang Chao mulai berpikir bahwa Wuxian telah memandangnya dengan cara berbeda.
“Ya, ya, ya. Aku percaya kau pria normal,” ucapnya meremehkan.
__ADS_1
Setelah Wuxian dan Huang Chao mengeringkan pakaiannya, mereka memutuskan untuk beristirahat. Malam itu, mereka terlelap hingga tak sadar jika api unggun yang mereka nyalakan telah padam.
Keesokan paginya, mereka berdua pun bangun dan keluar dari gua. Pemandangan salju di luar semakin menebal karena turunnya rintikan salju semalaman.
“Wuxian, apa kau yakin tidak ingin bermain-main dengan salju sebentar saja?” tawarnya.
Wuxian teridam sejenak, lalu angkat bicara, “Ide yang bagus. Kenapa tidak?” ujarnya.
Tanpa aba-aba, Huang Chao melemparkan bola-bola salju ke arah Wuxian, hingga mengenai wajahnya. Wuxian yang dilempar bola-bola salju oleh Huang Chao pun tidak ingin berdiam diri menerima serangan darinya. Ia membalas Huang Chao dengan melempar dengan bola-bola salju.
Mereka saling berperang dengan bola-bola salju. Mereka berlari dan tertawa, melepaskan segala masalah yang membebani pikiran mereka selama ini. Sekali saja, untuk terakhir kali mereka sangat ingin bahagia dan hidup normal seperti anak lain pada umumnya.
“Aku lelah. Wuxian, berhenti melempariku bola-bola sialan itu,” ucap Huang Chao seraya merebahkan tubuhnya di tumpukan salju.
Wuxian pun berhenti melempari Huang Chao dengan bola-bola salju, karena Huang Chao pun telah berhenti melemparinya. Wuxian pun berpikir untuk berhenti sejak tadi, karena ia sangat lelah. Akan tetapi, Huang Chao terus-terusan melemparinya dengan bola salju.
“Kak Chao, kapan terakhir kali kau bermain salju?” tanya Wuxian.
“Hmmm… mungkin ketika aku berumur 5 tahun. Setelah aku berumur 6 tahun, aku tidak pernah diizinkan untuk bermain-main lagi, karena kedua orangtuaku menuntutku untuk banyak-banyak belajar setiap harinya. Kau? Kapan terakhir kali kau bermain salju?” tanya Huang Chao balik.
“Mungkin kali ini,” jawab Wuxian.
“Eh?” Huang Chao heran.
__ADS_1
“Benar. Ini kali pertamaku bermain salju dan bermain lempar-lemparan bola salju. Kau tahu sendiri, di daerah kelahiranku, tidak pernah ada yang namanya hujan salju. Ini pertama kalinya aku melihat salju, menyentuhnya, dan bermain-main dengan salju. Ternyata sangat menyenangkan. Alangkah baiknya jika kita bisa terus bermain-main seperti ini. Mungkin, ini memang kali pertamaku. Sayangnya, ini juga kali terkahir kita bermain-main seperti ini. Kita memiliki tujuan masing-masing yang harus dicapai. Setelah kita menjadi salah satu sekte dan berkelana di dunia Jianghu, hidup kita mungkin selalu serius. Tidak ada waktu untuk bermain-main seperti hari ini.” Wuxian menyuarakan isi hatinya.
“Kau benar. Itulah mengapa, kita harus membuat kenangan terakhir kita lebih bahagia. Kapan lagi kita bisa sebahagia ini? Wuxian, apa tujuan awalmu menjadi kuat… tetap sama?” tanyanya, sembari menoleh ke samping. Huang Chao menatap wajah Wuxian yang berbaring di sampingnya.
Wuxian tetap menatap langit-langit, kemudian menjawab pertanyaan dari Huang Chao. “Entahlah… mungin akan sama, tapi mungkin tujuan utamaku akan berbeda,” jawabnya.
***
“Wu Xian, apa kau lihat puncak di sana?” Huang Chao menunjuk puncak yang menjulang tinggi dan dilapisi es.
Wuxian pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Huang Chao. Ia tak melihat apa pun, selain salju yang semakin lebat nan langit yang gelap di puncak yang ditunjuk oleh Huang Chao.
“Apa kau tidak melihatnya?” tanya Huang Chao seraya menatap Wuxian dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Aku tidak melihat apa pun,” jawab Wuxian apa adanya.
Huang Chao terdiam sejenak seraya menghela nafasnya tatkala dia mendengar jawaban dari Wuxian.
Huang Chao pun angkat bicara kembali, “Aku juga. Aku juga tak melihat apa pun, tapi aku sangat yakin bahwa letak sekte terbesar di daerah Utara ada di sana. Sekte Qing Long namanya,” ujar Huang Chao.
“Sekte Qing Long?” Wuxian bertanya-tanya.
“Ya, benar. Naga langit yang agung,” ucap Huang Chao.
__ADS_1
“Nama yang sangat bagus. Aku sudah merasakan energi posistif sejak kita berada di sekitar sini,” ujar Wuxian. “Sangat tinggi. Bagaimana kita bisa memanjat tebing setinggi itu?” Akhirnya Wuxian menanyakan pertanyaan yang ditunggu-tunggu oleh Huang Chao.
“Pertanyaan ini, aku harus memberi satu hal terlebih dahulu tentang sejarah dari sekte Qing Long. Apa kau siap mendengarnya?” tanyanya.