PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
TEBING DEWA


__ADS_3

“Baik, Baik. Aku tidak akan bicara lagi,” ujar Wuxian.


“Maka dengarkan dengan baik!” sentak Huang Chao.


“Baik, Kak Chao. Maaf,” ucapnya.


“Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Sampai di mana aku tadi?” tanyanya.


“Tebing dewa,” jawab Wuxian.


“Ah, benar. Hanya orang-orang yang ditakdirkan untuk … .” Huang Chao reflek menghentikan perkataannya, kala ia melihat bongkahan batu yang turun perlahan dari atas tebing. “Wuxian, lihat ke atas!” perintah Huang Chao.


“Apa itu?” Wuxian bertanya-tanya atas penampakan yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


“Batu melayang. Hanya orang-orang yang ditakdirkan yang bisa datang ke sekte Qing Long, meski mereka tak memiliki kultivasi kuat. Wuxian, sepertinya takdir berpihak pada kita,” ungkap Huang Chao dengan girang.


Wuxian reflek menoleh ke samping, menatap Huang Chao yang tengah antusias memperhatikan batu melayang yang perlahan menuruni tebing.


“Apa maksudnya?” Wuxian benar-benar tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Huang Chao.


“Wuxian, di dunia ini, apa sih yang kau tahu?” Huang Chao bertanya balik.


“Tidak ada, selain makan dan tidur,” jawabnya asal.


“Bodoh!” ejek Huang Chao. “Untung saja, kita ditakdirkan menjadi murid sekte Qing Long. Batu melayang itu akan mengantarkan kita sampai ke puncak. Setelah itu, aku tidak perlu memberitahunya. Bodoh berakar jika kau tak mengerti apa maksudku,” ucapnya.


“Ah, jadi seperti itu. Aku mengerti,” ujarnya.


“Baguslah.”

__ADS_1


Wuxian dan Huang Chao saling terhening, tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Mereka tetap setia menunggu bongkahan batu melayang yang perlahan menuruni tebing. Memang pergerakan cukup lama, tetapi mereka akan sabar menunggunya.


Huang Chao beranjak dari tempatnya, berjalan menjauh dari tebing. Ketika Wuxian melihat Huang Chao yang pergi begitu saja meninggalkannya, ia pun penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Huang Chao.


“Kak Chao, kau mau ke mana?” tanya Wuxian.


“Menyelamatkan diri,” jawabnya.


“Ah?” Wuxian lagi-lagi tak mengerti dengan maksud perkataan Huang Chao.


“Bodoh! Apa kau mau tertimpa batu di situ?” cerca Huang Chao. ‘Memang bodoh berakar,’ batin Huang Chao.


“Oh ya, benar juga. Aku pasti akan tertimpa batu jika berdiam di sini,” gumamnya. “Kak Chao, tunggu aku!” Wuxian pun menyusul Huang Chao yang telah berjalan jauh darinya.


“Cepat! Lambat sekali,” celetuk Huang Chao.


“Kak Chao,” panggil Wuxian.


“Kenapa?” tanyanya.


“Apa sekte akan menerima kita?” Wuxian ragu jika sekte akan menerima murid bodoh sepertinya. Di sisi lain, ia berpikir bahwa sekte Qing Long psti tak akan menolak murid sepintar Huang Chao, tidak dengan dirinya yang tak memiliki pengetahuan apa pun tentang dunia.


Huang Chao terhening, tak menjawab pertanyaan dari Wuxian. Namun, ia malah memberi jawaban lain dari pertanyaan yang diajukan oleh Wuxian.


“Wuxian.”


“Hmm?”


“Menurutmu, kenapa batu melayang menuruni tebing?” Memberi so’al kepada Wuxian.

__ADS_1


“Kak Chao bilang, karena kita ditakdirkan,” jawab Wuxian.


“Itulah yang ingin kau ketahui. Jika kita telah ditakdirkan, mana mungkin sekte Qing Long berani menolak kita? Menurutmu, siapa yang membuat kita tiba-tiba ditakdirkan menjadi murid sekte Qing Long?” tanyanya lagi.


“Aku tidak tahu,” jawab Wuxian dengan nada lebih rendah dari sebelumnya. Wuxian tidak percaya diri, mengingat dirinya yang tak memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang apa pun. Dia yang berasal dari kaum rendah dan kampungan, selalu merasa tak percaya diri. Apalagi ketika pertama kali ia mengenal Huang Chao yang memiliki pengetahuan luas, dan sekilas saja ia dapat menebak bahwa Huang Chao bukanlah keturunan dari keluarga sembarangan.


“Wuxian … Wuxian … kau memang tidak tahu apa pun tentang dunia. Itulah mengapa, aku mengajakmu berguru pada suatu sekte. Ketika menjadi murid dalam satu sekte, kita tidak hanya menjadi seorang kultivator yang berlatih budidaya setiap harinya. Kita juga bisa menjadi seorang sarjana yang berpengetahuan luas, karena di sana terdapat tempat yang disebut dengan perpustakaan,” ungkap Huang Chao.


“Perpustakaan?”


“Benar, perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat banyaknya buku-buku yang berisi pengetahuan tentang dunia. Buku-buku itu disimpan di ruangan yang disebut perpustakaan. Kau akan tahu jika kita sudah sampai di sana. Aku memang belum pernah mengunjungi sekte mana pun selama hidup ini. Tapi, aku pernah datang ke perpustakaan yang ada di kediaman tempat tinggalku dulu,” jelas Huang Chao.


“Jadi begitu,” ucap Wuxian singkat.


“Jadi, jawaban dari pertanyaanmu itu … kenapa batu melayang memilih kita? Dan siapa yang menggerakkan batu melayang sebagai kendaraan kita mencapai puncak sana? Jawabannya, siapa lagi selain pemimpin sekte Qing Long sendiri. Semua orang sudah tahu jika pemimpin sekte Qing Long tak pernah menampakkan dirinya dan telah berubah menjadi abadi yang memustuskan hubungannya dengan urusan dunia. Namun, dia tetap dapat memilih siapa yang ingin ia pilih menjadi murid sekte Qing Long. Wuxian, kita berdua telah dipilih. Jadi, sekte tak memiliki wewenang untuk menolak kita,” cetus Huang Chao.


Wuxian terdiam seraya mencerna semua yang dikatakan oleh Huang Chao. Ia telah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Akan tetapi, ia masih merasa resah, khawatir, dan ragu, atas semua yang diungkapkan oleh Huang Chao.


“Kak Chao, bagaimana jika batu melayang hanya menerimamu, tapi menolakku?” Akhirnya, Wuxian mengutarakan kegundahan yang meragukannya sejak tadi.


Pertanyaan dari Wuxian benar-benar membuat Huang Chao tak bisa berkata-kata. Ia tertegun dalam keheningan, karena ia sendiri tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, atas pertanyaan Wuxian. Wuxian berkali-kali mengutarakan kepadanya, tetapi pertanyaan kali ini sukses membuat Huang Chao menutup mulut rapat-rapat.


Setelah terdiam beberapa lama, akhirnya, Huang Chao pun mulai angkat bicara lagi.


“Wuxian, apa yang kau khawatirkan? Apa yang harus kita khawatirkan? Bukankah semuanya tentang takdir? Pertanyaanmu itu … membuatku tak bisa berkomentar. Baiklah, jika itu hanya aku yang ditakdirkan. Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika hanya kau yang ditakdirkan, tapi tidak denganku? Bagaimana jika batu melayang menolakku?” balas Huang Chao.


Wuxian reflek menatap wajah Huang Chao, tatkala Huang Chao membalikkan pertanyaannya. Ia menatap wajah samping Huang Chao yang tak balas menatap wajahnya. Ia melihat dengan jelas, tentang kekhawatirkan yang tergambar di wajah Huang Chao. Sepertinya, bukan ia saja yang merasa gelisah dan resah, tetapi Huang Chao pun tak kalah merasakan hal yang sama dengannya. Namun, Wuxian tetap yakin dengan satu hal yang ia yakini dengan kuat di lubuk hatinya.


“Kak Chao, tidak mungkin batu melayang menolakmu. Kau adalah orang yang berpengetahuan luas dan berbakat. Jika bukan sekte Qing Long, pasti banyak sekte besar lainnya yang menginginkanmu. Dan juga, untuk apa kita mengkhawatirkan semua ini? Bukankah seharusnya kita lebih yakin? Kak Chao, kita harus percaya pada diri kita sendiri!” cetus Wuxian.

__ADS_1


__ADS_2