
“Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kau harus ikut denganku sekarang juga.” Liu Wei meraih lengan Wuxian sembari menariknya agar ikut bersamanya. Namun, Wuxian tak bergerak sedikit pun ataupun berpindah dari posisinya sebelum Liu Wei menjelaskan alasan mengapa dia hrus ikut bersamanya.
“Ke mana? Aku tidak akan pergi ke mana pun jika tidak tahu alasan kenapa aku harus iku bersamamu,” cetus Wuxian.
Liu Wei menghela nafasnya, dengan terpaksa dia melepaskan pegangan tangannya. Dia berbalik lalu angkat bicara, “Apa kau lupa, hari ini hari apa?” tanya Liu Wei. Dia sengaja membuat Wuxian memikirkannya sebelum dia menjelaskannya.
Wuxian terhening senejak seraya mencerna perkataan yang dikatakan oleh Liu Wei. Sayangnya, sekeras apa pun ia berpikir, ia benar-benar tidak tahu harus mengingat perihal apa yang harus dia tebak dari pertanyaan yang diajukan oleh Liu Wei. Liu Wei hanya membuatnya semakin pusing dan bingung karena merasa tidak ada hal apa pun yang perlu diingat olehnya.
“Jangan bertele-tele. Katakan saja apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin membuang-buang waktu,” kata Wuxian. Dia tidak ingin mengulur waktu lebih lama lagi karena ia merasa bahwa ada banyak hal penting yang harus dilakukan.
“Wuxian, Wuxian. Jika seperti ini terus, kenapa kau tidak keluar saja dari sekte dan berlatih sendirian seperti para pendekar pengelana di alam bebas sana? Aku pikir, sepertinya semakin lama kau melupakan statusmu. Bagaimana pun juga, kita tetaplah murid sekte Qing Long. Kita tetap harus melakukan tugas dan kewajiban kita terhadap sekte. Dan juga, sepanjang hari kau tinggal di gubug reyot ini, apa kau tidak takut?” celetuk Liu Wei.
__ADS_1
Selama 5 tahun terakhir, Wuxian tak pernah lagi tinggal di kediamannya, setelah dia mendirikan sebuah gubug di halaman belakang sekte yang telah lama terbengkalai. Wuxian mendirikan sebuah gubung dengan usahanya sendiri. Pondasinya terbuat dari batang-batang pohon cemara yang ditebang oleh Wuxian dengan pedang miliknya.
Pedang milik Wuxian sebenarnya tidak terlalu pantas disebut pedang karena bentuknya yang lebih seperti golok yang digunakan oleh para m petani, berbanding jauh dengan pedang-pedang milik kultivator dunia Jianghu yang memiliki keindahan dan motif-motifnya tersendiri. Pedang itu ia dapatkan dari dapur sekte. Karena ia merasa tak ada seorang pun yang menggunakannya, maka sebaiknya ia manfaatkan saja untuk melatih keterampilan beladiri.
Wuxian tidak mendapatkan kehormatan untuk menerima senjata magis yang dihadiahkan oleh para guru sekte Qing Long. Ya, karena sampai kini tak ada seorang pun guru yang bersedia mengangkat Wuxian sebagai muridnya. Bagaimana pun juga, setelah semua itu, tekada Wuxian tak pernah goyah sedikit pun. Tidak masalah jika semua orang meremehkannya, tidak menghargainya, menyakitinya, selagi ia memiliki bekal kemauan, pasti akan ada jalan.
Terlebih lagi, pedang hanyalah senjata. Sekali pun tak memiliki roh yang akan setia kepada tuannya, pedang tetaplah pedang, karena pedang adalah senjata yang tak bermata dan berhati. Terlepas dari segalanya, Wuxian tetap menghargainya sebagai benda yang menemaninya selama ini. Setiap benda yang berguna, mereka pasti berharga, tergantung bagaimana kita memperlakukannya.
Liu Wei sedikit terhenyak kala mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Wuxian. Ia reflek menatap wajah Wuxian dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia berusaha membaca isi pikiran Wuxian, tetapi yang dia lihat dari sorot mata Wuxian hanyalah kebencian yang begitu dalam.
“Wuxian, apa aku tidak salah dengar? Kau … ingin balas dendam? Apa tujuan kultivasi yang kau lakukan selama ini hanya untuk menuruti kebencianmu?” cecar Liu Wei.
__ADS_1
“Lalu? Apa lagi tujuannya? Setelah semua yang terjadi, Wuxian telah mati. Jika dia tidak bisa bangkit untuk membalaskan dendamnya, tidak ada Wuxian yang hidup sampai saat ini di dunia ini,” cetus Wuxian.
Tiba-tiba Liu Wei merasa kasihan ketika melihat perasaan putus asa yang diderita oleh Wuxian. Kemudian, ia menyentuh bahu Wuxian sembar menepuk-nepuk pelan beberapa kali.
“Wuxian, terlepas dari segalanya, tujuan kultivasi itu untuk memurnikan hati. Jika ada perasaan tidak baik, kultivasi pun akan kalah. Jika tujuanmu hanya untuk membalaskan dendam, jangan salahkan jika kultivasi akan melawan hati nuranimu. Kita bisa menjadi dewa, tapi jangan lupa … selain dewa, ada juga iblis. Iblis adalah makhluk yang memiliki dendam dan ambisi yang mengerikan terhadap makhluk di dunia. Jika tidak bisa menjadi dewa, jangan sampai kita menjadi iblis. Lupakan saja … jika tujuanmu hanya untuk memuaskan hasrat terpendam dalam hatimu. Untung saja kau tidak memiliki bakat kultivasi, sehingga kau tidak kehilangan kontrol atas dirimu sendiri. Wuxian, sebelum itu, apa kau pernah belajar ilmu pemurnian?” Liu Wei memberi nasihat panjang kali lebar kepada Wuxian.
Wuxian terdiam tanpa bisa berkata-kata. Dia tak mengatakan apa pun karena merasa tiada yang salah dari setiap perkataan yang diucapkan oleh Liu Wei. Namun, ia benar-benar tak bisa melepaskan orang-orang yang telah menghancurkan desanya dan membunuh orangtuanya tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Ia bahkan tidak bisa menemukan jasad orangtuanya karena kemungkinan jasad mereka telah terbakar habis menjadi abu.
Namun jika dipikir lagi, pembalasan dendam memanglah seperti menggerogoti daging sendiri. Terlebih lagi, dia tidak ingin menjadi iblis kejam yang memusnahkan makhluk tanpa belas kasihan. Jika ia tidak bisa menjadi orang baik yang memberi banyak bantuan kepada orang yang membutuhkan, ia tidak ingin menjadi orang jahat yang merugikan.
Hingga akhirnya, Wuxian menunjukkan reaksi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata, “Tidak. Aku belum pernah mempelajarinya,” jawab Wuxian berterus terang.
__ADS_1
“Benarkah? Bagaimana kau … ini … Aissh! Tentu saja kau tidak tahu tingkatan-tingkatannya. Aku lupa, dari awal, kau memang tidak memiliki seorang guru,” ujar Liu Wei. Meskipun Liu Wei adalah murid buangan, setidaknya sebelum ia mendapat status itu, dia pernah berguru kepada salah seorang guru sekte Qing Long. Akan tetapi, karena kurangnya bakat, dia harus rela melepas posisinya sebagai murid. Selama ini, Liu Wei hanya membungkam mulutnya dan tak pernah menceritakannya kepada siapa pun karena ia akan terluka jika mengingat-ingat ketika ia harus melepas kehormatannya di depan saudara seperguruannya. “Wuxian, tahap pertama yang harus kau pelajari adalah ilmu pemurnian,” ungkap Liu Wei.