PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
AMBISI KEHANCURAN


__ADS_3

Wuxian dan Huang Chao membisu seketika. Perkataan Nenek tua tentang Kota Yi yang saat ini mereka singgahi, memang misterius dan berbau mistis. Ada sebab-akibat tentang legenda yang diceritakan secara turun-temurun tentang Kota Yi.


“Kalau begitu, apa mungkin… akan terjadi bencana di Kota Yi? Hari ini, aku dan saudaraku terlihat berjalan di Kota Yi ketika siang hari.” Akhirnya Wuxian mengutarakan segala sesuatu yang mengganjalnya, tatkala mendengar penjelasan terakhir dari Nenek tua yang berada tepat di hadapannya.


“Bukan tidak mungkin jika akan ada bencana. Entah bencana seperti apa yang akan melanda. Namun, kalian berdua hanyalah perantara. Segala sesuatu sudah ditakdirkan. Dan untuk ramalan tentang Kota Yi… kehancurannya sudah semakin dekat,” tuturnya dengan santainya.


“Kenapa demikian?” Huang Chao benar-benar tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Nenek tua itu. “Kenapa kalian bisa menyimpulkan bahwa kehancuran tempat tinggal kalian seakin dekat? Dan juga, apa kalian tidak melakukan tindakan pencegahan untuk melakukannya?” tanya Huang Chao.


“Bukannya kami tidak ingin. Namun, hanya beberapa orang saja yang percaya. Meskipun Kota Yi memiliki Legenda yang masing dianggap mitos, tetapi penduduk Kota Yi sama dengan penduduk Kota lainnya. Semua orang hanya mengutamakan fakta. Mereka hanya percaya dengan apa yang mereka lihat. Dan jika mereka tidak melihatnya secara langsung, maka mereka tidak akan percaya. Termasuk ramalan, dan mitos lainnya. Yang hanya mereka percayai hanya satu, mereka hanya tidak boleh keluar ketika siang hari,” jelasnya panjang kali lebar.


“Tidak heran jika benar demikian. Lalu, tentang ramalan kehancuran Kota Yi, siapa yang meramalkannya demikian?” tanya Wuxian yang penasaran.


“Aku.” Jawaban dari Nenek tua itu membuat Yu Wuxian dan Huang Chao terhenyak seketika. Mereka tertegun tatkala mendengar bahwa peramal yang meramalkan tentang kehancuran Kota Yi, berada tepat di hadapan mereka saat ini. Ya, Nenek tua salah satu penduduk Kota Yi yang secara kebetulan ternyata adalah seorang peramal terkenal.

__ADS_1


“J-jadi, kau adalah seorang peramal?” tanya Wuxian dengan gaya bicara gagapnya karena terlalu terkejut mendengar fakta yang didengarnya secara kebetulan.


“Benar, aku seorang peramal. Namun, aku hanyala peramal biasa yang menerawang segala sesuatu lewat mata batin saja. Aku bukanlah kelompok penyihir yang melakukan ekperimen dengan rasi bintang di langit,” jelasnya.


“Kau… apa benar kau bisa meramal takdir seseorang lewat mata batin?” Huang Chao bertanya karena merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Nenek tua yang ternyata seorang peramal itu.


“Aku hanya mencermatinya. Namun, jarang mengungkapkannya dan menjual bakatku seperti para penipu di pasar. Kedua mataku yang buta ini, orangtuaku mengatakannya suatu berkah. Aku tidak bisa melihat wujud kasar segala sesuatu di dunia ini. Namun, aku memiliki kemampuan lain yaitu melihat nasib mereka di masa depan. Ketika pertama kali datang ke Kota Yi, pikiran tentang kehancuran sudah terlintas di dalam benakku. Aku bisa melihat masa depan yang tergambar di alam bawah sadarku, termasuk takdir kalian berdua,” jelasnya panjang kali lebar.


“Benarkah? Kalau begitu, bagaimana denganku? Apa kau bisa meramalkan masa depanku? Apa yang akan kulakukan di masa depan, dan akan menjadi siapa diriku nantinya?” Wuxian bertanya sewajarnya siapa pun, jika saja ada seseorang yang bisa meramalkan tentang masa depan seseorang.


“Bukannya aku tidak bisa, hanya saja aku tidak ingin melakukannya. Masa depan setiap orang harus dilalui oleh orang itu sendiri, bukan orang lain yang harus mengatakannya dengan cara menerawangnya. Rahasia takdir hanya ada di tangan Tuhan. Itulah mengapa aku tidak berani menjual bakatku ini hanya semata dengan uang. Alasan karena memiliki kemampuan lebih, yaitu digunakan dengan sebaik-baiknya. Kemampuan semacam ini ibarat harta, jika kita menggunakannya sebaik-baiknya, maka akan menghasilkan pahala. Dan jika digunakan dengan cara buruk, maka hanya akan ada karma yang menimpa. Kelebihan ini suatu anugerah, tetapi juga bisa menjadi bencana. Kau adalah anak yang baik, bagaimanapun hidupmu di masa depan, kau akan tetap menjadi orang baik dengan caramu sendiri. Kau akan melakukan hal hebat yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang lain. Sebatas ini saja yang bisa kukatakan. Selebihnya, kau yang harus menjalaninya dan membuktikannya. Dan juga, siapa pun identitasmu, tetaplah lakukan segala sesuatu di atas dasar kebaikan,” ucap Nenek tua itu panjang kali lebar.


Wuxian dan Huang Chao terhening mendengarkan semua yang dikatakan Nenek tua itu dengan seksama. Kata-kata motivasinya sungguh menyentuh kedua hati mereka.

__ADS_1


Setiap pertemuan dengan siapa pun sudah ditakdirkan. Wuxian yang secara tidak sengaja bertemu dengan Huang Chao yang kini menjadi sauadaranya, dan kini bertemu seorang Nenek tua yang memberikan nasihat baik kepadanya, semuanya sudah ditakdirkan dari awal.


“Aku tidak tahu harus memnggilmu bagaimana. Nenek, terimakasih atas nasihat yang kau berikan. Aku akan selalu mengingatnya dan menyimpannya rapat-rapat di dalam lubuk hatiku. Seberat apa pun perjalanan hidupku nantinya, akan kupastikan untuk tetap menggunakan hati nuraniku,” cetus Wuxian.


Huang Chao tersenyum kecil tatkala mendengar perkataan Wuxian. Kemudian, Huang Chao pun mulai angkat bicara, “Kalau begitu, apa kau bisa memberitahu kami penyebab kehancuran Kota Yi?” Huang Chao pun mulai kembali serius dengan perkataannya.


Nenek itu menghela nafasnya, kemudian angkat bicara, “Ambsisi.” Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, sebagai jawaban dari pertanyaan dari Huang Chao.


“Ambisis? Apa maksudnya?” tanya Huang Chao seraya mengernyitkan kedua alisnya, karena ia pun turut memikirkan perihal yang sedang mereka bahas saat ini.


“Benar, ambisi. Ambisi manusia tidak pernah terpuaskan. Kenapa dunia ini tidak pernah damai? Alasannya, karena ambisi manusia sebagai orang yang meninggali dunia ini tidak pernah puas dengan satu hal yang mereka miliki. Manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih, dan lebih dari apa yang mereka miliki. Mereka menginginkan pencapaian besar atas apa yang mereka perjuangkan dan raih. Karena ambisi itulah, dunia ini tidak pernah damai. Manusia bisa membangun ribuan bangunan mewah dalam kurun waktu berabad-abad. Namun, mereka lebih berbakat menghancurkannya dalam waktu sehari,” cetusnya.


“Kalau begitu, ambisi semacam apa yang mmebuat Kota Yi ini akan hancur?” taya uang Chao.

__ADS_1


“Bukan hanya Kota Yi. Kota Yi hanyalah bagian kecil atau sarana untuk mencapai tujuan mereka. Tujuan mereka sebenarnya adalah… dunia,” ungkapnya.


Terdengar cukup mengerikan di telinga Huang Chao dan Wuxian. Tidak heran ambisimacam apa yang bisa menghancurkan. Dan ternyata ambisi yang menggiurkan mereka adalah dunia da seisinya.


__ADS_2