
“Benar, aku Wuxian. Dari mana kau tahu namaku? Kita baru saja bertemu. Apa aku sangat terkenal itu?” tanya Wuxian penasaran.
Huang Chao menarik senyumnya tatkala mendengar balasana dari Wuxian. Huang Chao akhirnya dapat mengenali Wuxian setelah 5 tahun berlalu, tetapi Wuxian terlihat sama sekali tak mengenali wajah Huang Chao. Sepertinya wajah Huang Chao memang berubah sangat drastis.
“Anak bodoh. Apa kau pura-pura tidak mengenaliku, atau benar-benar tidak mengenaliku?” balas Huang Chao.
“Kenapa aku harus mengenalmu? Apa kau sangat terkenal?” tanyanya.
“Bisa dibilang begitu. Namun, bukan masalah aku sangat terkenal atau tidak. Kau … kau benar-benar tidak mengenaliku? Apa selama ini kau telah melupakanku? Wuxian, aku Huang Chao. Aku Huang Chao.” Huang Chao mengulangi menyebut namanya sebanyak 2 kali.
“Huang Chao … .” Wuxian menyebutkan nama Huang Chao seraya memikirkannya selama sejenak. Akhirnya, Wuxian pun mengingatnya. Ia membulatkan kedua matanya, tatapannya berbinar kala ia akhirnya mengingat sesiapa yang tengah berdiri di hadapannya saat ini. Ia memperhatikan sosok Huang Chao dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau … kau benar-benar Huang Chao?! Huang Chao yang datang bersamaku ke tempat ini? Huang Chao, apa ini benar-benar kau? Bagaimana, bagaimana kau … penampilanmu sangat berbeda dengan dulu. Bagaimana bisa kau berubah menjadi setampan ini? Makanan apa yang selama ini kau makan?” cecar Wuxian histeris.
Huang Chao hanya menampilkan senyumnya tatkala Wuxian mencecarnya dengan perkataan-perkataan aneh yang terdengar konyol.
“Dasar anak bodoh. Akhirnya kau mengingatku juga. Ternyata kebodohan dan kekonyolanmu memang tidak pernah berubah. Hei, sepertinya kau memang telah melupakanku,” sindir Huang Chao.
“Kakak, apa kalian saling mengenal?” tanya Wan Hua, penasaran dengan situasi yang tengah dihadapinya saat ini.
__ADS_1
“Benar. Kita mengenal dengan baik. Dia adalah anak yang sering kuceritakan padamu, anak yang mengalami banyak rintangan bersamaku, hingga akhirnya kami bisa sampai di tempat ini. Wan Hua, dia adalah Wuxian. Wuxian, dia adalah Wan Hua, adik seperguruanku yang tinggal bersamaku dan murid-murid lain di kediaman guruku. Kami sudah seperti saudara.” Huang Chao saling memperkenalkan kepada keduanya.
“Oh … jadi dia adalah Wuxian yang sering dibahas Kakak sampai telingaku panas mendengarnya. Akhirnya, aku bertemu denganmu juga. Senang bertemu denganmu, aku Wan Hua. Karena kau adalah saudara akrab Kak Chao, maka kita semua saudara. Kalian berbincanglah. Aku akan memberikan ruang untuk kalian berdua bicara secara pribadi,” ujar Wan Hua.
Setelah Wan Hua menyelesaikan perkataannya, ia pun menjauh dari mereka berdua untuk memberikan mereka ruang berbicara. Karena sudah 5 tahun lamanya tidak bertemu, pasti ada banyak hal yang ingin diceritakan oleh masing-masing dari mereka. Ya, sudah pasti ada banyak pengalaman yang perlu ditukarkan untuk melepaskan kerinduan.
Wan Hua tidak ingin mengganggu keduanya. Oleh sebab itu, agar pembicaraan mereka lebih nyaman, ia menjauhkan diri, walaupun tidak sepenuhnya pergi. Ia menjauhkan diri, memilih mencar tempat untuk beristirahat sejenak sembari menunggu Huang Chao selesai berbicara dengan Wuxian. Mungkin, sepertinya akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
“Sepertinya akan membosankan menunggu mereka berdua berbincang-bincang santai,” gumam Wan Hua. Dia menunggu di sebuah batu besar yang berada di jarak yang lumayan jauh sembari memutiki kelopak bunga persik yang ia petik dari pohon.
Sayangnya, perkataan terakhir Huang Chao membuat raut wajah Wuxian yang tadinya bergembira, kini mulai memudarkan kegembiraannya. Ia tampak sedih ketika Huang Chao menyinggung masalah kultivasi.
‘Berburu malam? Aku? Apa aku bisa melakukannya?’ batin Wuxian.
Ekspresi sedih yang terpancar di wajah Wuxian terpampang dengan jelas di mata Huang Chao. Ia dapat melihat dengan jelas tentang kesedihan yang tengah dirasakan oleh Wuxian saat ini. Huang Chao tidak tahu alasannya, tetapi sangat jelas jika Wuxian tampak tidak senang.
“Wuxian? Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sedih?” tanya Huang Chao. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan Wuxian.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku tidak merasa sedih sama sekali. Kak Chao, kalau kau sudah selesai, aku akan segera pergi,” ucap Wuxian seraya berpindah dari posisinya.
Namun sebelum Wuxian berlalu pergi, Huang Chao menahannya di tempatnya. Ia menghadang jalan Wuxian karena tak ingin membiarkan Wuxian pergi secepat itu.
“Wuxian, kau pergi ke mana? Kita sudah lama tidak bertemu. Apa kau akan pergi secepat itu meninggalkanku?” Huang Chao melontarkan perkataannya kepada Wuxian tanpa ragu sedikit pun. Terpampang jelas di wajah Huang Chao jika ia sangat merindukan Wuxian.
Huang Chao juga sama. Setiap hari dia merindukan Wuxian dan mencemaskan keadaannya. Karena bagaimana pun, Wuxian adalah teman yang melalui banyak kesulian dan rintangan bersama. Huang Chao telah menganggap Wuxian seperti saudaranya sendiri. Bahkan lebih dari itu, ia menganggap Wuxian layaknya adik kandungnya sendiri.
Sebelumnya, Huang Chao memiliki seorang adik kandung laki-laki yang seumuran dengan Wuxian. Sayangnya, karena insiden yang menimpa keluarganya, adik kandungnya ikut terbunuh. Perihal itulah yang membuat Huang Chao merasa bersalah karena tak berhasil melindungi adiknya. Ia harus meninggalkannya dan menyelamatkan nyawanya sendiri. Memang terkesan egois, tetapi Huang Chao layaknya menjadikan Wuxian pengganti adik kandungnya yang telah meninggal.
Tidak ada yang mengetahui segala hal yang terjadi kepada Huang Chao karena ia melindungi privasinya serapat mungkin untuk menghindari pecahnya masalah keberadaannya. Termasuk Wuxian, Huang Chao tak pernah mengatakannya kepadanya. Huang Chao belum siap untuk membuka hati kepada Wuxian untuk menceritakan asal-usulnya dan segala hal yang menimpanya. Namun, kepeduliannya terhadap Wuxian sangatlah tulus. Ia telah menganggap Wuxian seperti keluarganya sendiri.
“Kak Chao, apa kau tidak bisa melihatnya dengan jelas?” timpal Wuxian. Ia menatap wajah Huang Chao dengan tatapan tegasnya. Sementara Huang Chao tak merubah raut wajahnya sedikit pun. Ia tetap menatap Wuxian dengan tatapan nanarnya.
“Wuxian, apa maksudmu?”tanya Huag Chao karena ia benar-benar tak mengerti apa yang tengah dimaksud oleh Wuxian.
“Kak Chao, jangan berpura-pura. Aku tahu kau hanya pura-pura tidak tahu karena tidak ingin membuatku terlihat menyedihkan. Benar, bukan?!” Wuxian meninggikan nada bicaranya.
__ADS_1