
“Ouch … sakit sekali kepalaku,” pekik Wuxian seraya bangkit dari posisinya. Sembari memegangi kepalanya yang seperti terkoyak, Wuxian melihat sekelilingnya. Langit gelap menjadi biru abu-abu karena sebentar lagi matahari akan muncul.
Ternyata, semalaman Wuxian tergeletak di tumpukan salju. Anehnya, tubuhnya sama sekali tak membeku. Umumnya, tubuh seseorang akan menggigil jika tertimbun oleh butiran-butiran salju. Akan tetapi, hal itu tidak terjadi kepada Wuxian. Kulit Wuxian telah mati rasa ketika dia menyentuh butiran salju itu.
“Apa yang terjadi? Kenapa indera perbaku tak bisa merasakan kedinginan salju?” gumam Wuxian sembari memikirkan perihal yang tengah ia alami saat ini.
Untuk memastikan sesuatu, Wuxian pun mencubit kulit tangannya. Anehnya, ia tak merasa sakit sedikit pun. Detail terpenting, indera perabanya dapat merasakan sentuhan, tetapi tak dapat merasa sakit, dingin, sementara panas ia belum mencobanya.
“Aneh sekali. Apa sekarang kulitku kebal rasa sakit? Kenapa?” Semakin dipikirkan, semakin Wuxian merasa bahwa segala sesuatu yang terjadi kepadanya hanyalah ilusi yang membuatnya semakin kebingungan.
Sekilas Wuxian menoleh ke samping. Sorot matanya berpusat kepada benda asing yang tergeletak di atas tanah yang tertumpuk oleh butiran salju.
“Aku ingat sekarang. Terakhir kali yang kulihat adalah benda aneh itu,” gumam Wuxian.
Meskipun merasa ragu, Wuxian memberanikan diri untuk menyentuh benda aneh itu untuk kedua kalinya. Namun, ekspetasinya tentang benda itu berubah dalam sekejap tatkala menyadari bahwa benda yang berbentuk layaknya pedang terbelenggu rantai itu tak menunjukkan reaksi apa pun.
Benda itu hanyalah benda biasa yang tak memiliki kekuatan apa pun kala Wuxian memegangnya kali ini. Wuxian melayang-layangkan benda berbentuk senjata itu untuk memeriksa kegunaannya. Ia pikir, benda itu adalah benda magis yang memiliki sihir, roh, atau semacamnya. Sayangnya, realita menyadarkan Wuxian bahwa benda itu hanyalah sekadar benda atau senjata biasa.
Karena merasa bahwa benda itu tak berguna, Wuxian pun tanpa ragu membuang benda itu ke tempatnya. Ia sama sekali tidak tertarik kepada benda yang tak membawa kegunaan baginya. Saat ini, dia bukanlah seorang anak yang memiliki rumah untuk mengoleksi barang-barang tak berguna.
Meskipun sekte Qing Long telah menerimanya, tetap saja sekte Qing Long bukanlah rumah baginya. Ia tetap harus bersikap sopan sebagaimana etika ketika bertamu di rumah orang lain.
__ADS_1
KREEEK … Wuxian mendorong sebuah pintu rapuh. Ya, pintu itu adalah pintu kamar tempat tinggalnya bersama dengan anak lain yang bahasa kasarnya, disebut murid buangan sekte karena dianggap lemah dan tidak berguna.
Tak ada seorang pun yang memperhatikan kedatangan Wuxian. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Meskipun disatukan ke dalam ruangan yang sama, semua itu tak menjamin keakraban para murid satu sama lain.
Setiap individu hanya mementingkan urusannya masing-masing. Ruangan itu hanyalah tempat bagi murid-murid putus asa yang merasa bahwa tak ada gunanya berjuang ketika takdir menetapkan pilihannya sebagai anak lemah.
‘Suasana ruangan ini bahkan lebih menyedihkan daripada rumah duka,’ batin Wuxian seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Tiba-tiba saja, ia merasakan sesuatu yang menyentuh pundaknya. Ya, meskipun peka terhadap rasa Wuxian tak bekerja, tetapi indera perabanya masih berfungsi dengan baik. Kala mengetahui seseorang tengah menyentuhnya, Wuxian pun reflek menoleh ke belakang.
Dia mendapati seorang anak yang terlihat umurnya lebih tua darinya mentap Wuxian dengan tatapan dingin.
Wuxian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, pertanda mengiyakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh anak itu.
“Seorang Senior sialan mencarimu ke mana-mana. Apa kau tahu?” tanyanya lagi.
Lagi-lagi Wuxian perlu mencerna pertanyaan tang diajukan kepadanya. Ia tak mengerti kata ‘Senior sialan’ yang diucapkan oleh anak itu.
“Apa sebelumnya, apa kau ada menyinggungnya? Dia sangat kurang ajar. Dia datang membuat keributan terhadap kami hanya karena mencarimu. Tapi ternyata, kau sama sekali tidak tahu jika dia mencarimu,” gerutunya dengan sikap ketusnya. Anak itu sangat kesal karena dia adalah anak yang berurusan dengan senior itu. Dia tak lain adalah Liu Wei.
Jawabannya, bukan karena Wuxian tidak tahu jika seorang senior yang tak lain adalah Huo Yi tengah mencarimu. Huo Yi sempat menemukan Wuxian, hanya saja kala itu kesadaran mental Wuxian benar-benar tak stabil. Wuxian tidak ingat jika ia sebelumnya bertemu dengan Huo Yi. Dia melupakannya karena memorinya tak bekerja pada saat itu.
__ADS_1
Sekian menelurusi ingatan tentang senior yang dimaksud oleh Liu Wei, akhirnya Wuxian teringat
jika ia sempat dikerjai untuk menyuci setumpuk pakaian. Ia terlupa detail itu karena ia tak melintasi jalur yang sama ketika Wuxian menjatuhkan pakaian-pakaian milik para senior itu.
“Gawat! Tamatlah riwayatku!” cetus Wuxian. Ia reflek meninggalkan tempat dan kembali keluar dari ruangan itu.
“Apa dia korban perundungan?” gumam Liu Wei, menebak-nebak hal yang dialami oleh Wuxian.
Ketika menyadari bahwa ia meninggalkan pakaian-pakaian milik para senior di bawah tangga tebing, ia pun dengan cepat berinisiatif untuk memungutnya kembali, sebelum sesuatu terjadi kepada pakaian-pakaian itu. Wuxian benar-benar tak ingin mendapat masalah yang sangat ingin ia hindari, semata karena hal sepele semacam itu. Dia tidak ingin menabur kemarahan dan dendam terhadap murid lain karena ia hanya ingin berlatih dan hidup tenang di dalam sekte.
Sayangnya, masalah yang sangat ingin ia hindari selalu saja bersikeras menghampiri. Secara tidak langsung, ia dikenal karena tak ada seorang pun guru di sekte Qing Long yang bersedia menjadi gurunya. Wuxian menjadi jenis yang paling berbeda dari lainnya. Setidaknya, murid buangan lain pernah mendapatkan seorang guru, hanya saja mereka harus dipecat menjadi murid para guru itu karena dianggap menyusahkan dan hanya beban.
Memang sangat aneh, Wuxian pun baru mengetahuinya. Ternyata, ada seorang guru yang dengan teganya memutus hubungannya dengan murid yang pernah dilatihnya. Seorang guru derajatnya sama dengan orangtua. Jika disinonimkan, artinya orangtua memutus hubungan dengan anaknya sendiri. Sayangnya, semua itu terasa tak asing bagi Wuxian. Sekali pun orangtuanya tak pernah memutus hubungan dengannya, mereka menganggap Wuxian sebagai anak pembawa sial yang tak pantas dilahirkan. Semua itu setara membunuh jiwa Wuxian hidup-hidup sedang menyisakan raga untuk menahan pedihnya luka yang tertanam di jiwa.
“Hei, apa yang kau lakukan?!” teriak Liu Wei dari atas tangga.
Wuxian reflek mendongakkan kepalanya ke atas ketika ia tengah sibuk memungut satu persatu pakaian yang berserakan di bawah tangga.
“Begitu bodohnya kau ketika bersedia menjadi bahan rundungan para senior sombong itu? Apa kau berani menyebutmu seorang laki-laki? Harga diri laki-laki itu sangat tinggi. Dengan melakukan itu, kau sama sekali menurunkan harga dirimu sendiri. Apa kau pantas menyebut dirimu laki-laki?!” seru Liu Wei dari atas tangga.
“Seorang laki-laki tetap memiliki harga diri meski harga dirinya terinjak-injak. Mereka yang bersikap semena-mena terhadap sesamanya adalah mereka yang menurunkan harga diri mereka sendiri. Mereka tidak layak. Tenang saja, aku tetap bisa menjaga harga diriku ketika menghadapi orang-orng yang tidak memiliki harga diri. Aku pasti akan menjadi lebih kuat dari mereka!” cetus Wuxian.
__ADS_1