PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
TERTELAN HIU


__ADS_3

Pegang Samsara yang dimasuki oleh roh Qiaofeng pun kembali menyerang monster air. Ketika monster air telah menyerah dan kembali ke dasar laut, Qiaofeng kembali ke bentuk manusianya. Ia mengangkat benang mengangkat benang merah yang sepanjang samudera itu dengan kekuatannya. Tatkala benang merah telah berhasil jatuh ke tangannya, seketika benang itu berubah menjadi lebih pendek, sekitar setengah meter layaknya ukuran sitar/kecapi.


Qiaofeng tersenyum separuh bibir ketika dia berhasil mendapatkan benang pertama yang tak lain adalah benang merah sitar pelangi. Kemudian, ia bergegas menyelam ke dalam laut, dengan tujuan mencari keberadaan Wuxian.


"Wuxian! di mana kau?" Qiaofeng mencoba memanggil Wuxian dengan kontak batin yang tersambung dengannya. "Wuxian, apa kau baik-baik saja?" Ia terus mencari-cari, ke dasar laut samudra yang tak berujung.


Lautan sangatlah luas. Hampir mustahil jika ia mencarinya dengan cara sederhana. Tidak ada pilihan lain selain memanggil jiwa Wuxian, meskipun ia harus kehilangan banyak kekuatan spiritualnya.


Qiaofeng akhirnya memutuskan untuk mencari Wuxian dengan mantra pemanggil jiwa. Sebagai roh pedang, jantung pedangnya telah dimiliki oleh Wuxian. Qiaofeng hanya perlu memanggil jantungnya yang berada melindungi Wuxian selama ini.


"Anak sialan itu!" Qiaofeng masih sempat mengumpat ketika kekuatan spiritualnya melemah ketika memanggil jiwa Wuxian. Jantung pedang adalah bagian terpenting Qiaofeng dalam mempertahankan wujud manusia. Jika ia merasa dalam bahaya, maka tubuhnya perlahan menjadi tembus pandang, karena itulah yang dia rasakan saat ini.


Qiaofeng menyadari bahwa tubuhnya perlahan menghilang ketika melihat telapak tangannya yang menjadi tembus pandang ketika dia berenang mengarungi samudera, sedang Wuxian tak kunjung ditemukannya.


"Tidak bisa begini terus. Samudera begitu luas dan dalam. Di mana aku harus menemukannya? Aku tidak memiliki banyak waktu. Sebentar lagi wujud asliku akan kembali," gumamnya. Qiaofeng mulai panik tatkala ia tak kunjung menemukan Wuxian, bahkan ketika dia telah merapalkan mantra pemanggil jiwa. "Di mana sih bocah sialan itu!" umpatnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya Qiaofeng dapat merasakan kehadiran jantungnya di sekitarnya. Namun, ia tetap kesulitan menemukan sosok Wuxian di antara ribuan spesies lautan di dalam samudera yang begitu luas.


"Hiu? Yang benar saja, bocah itu di dalam perut hiu?" Qiaofeng tak ingin percaya, tapi itulah kenyataannya. Dia merasa konyol bercampur geli.

__ADS_1


Wuxian yang sebelumnya mengatakan bahwa dia dapat mengalahkan monster laut dengan percaya dirinya, kini berakhir di dalam perut seekor hiu biasa. Namun, kekhawatiran Qiaofeng pun berubah menjadi kekesalan sektika.


"Tuanku yang saat ini memang tak bia diandalkan!"


Secepat kilat, Qiaofeng menerjang tekanan arus di dalam laut untuk mengeluarkan Wuxian dari perut hiu. Tidak sulit bagi Qiaofeng untuk mengalahkan hiu biasa semacam itu. Tanpa pikir panjang, Qiaofeng memisahkan roh tubuhnya dengan wujud pedang, kemudian dia menggenggam Pedang Samsara dengan tangannya sendiri.


SREEEEK!!!


Tidak banyak berpikir, dibelahnya perut hiu itu dengan sekali tebasan. Seketika, tubuh hiu itu terbelah menjadi dua. Air laut pun berubah menjadi merah karena tercampur oleh darah hiu yang menelan tubuh Wuxian.


Qiaofeng melakukan aksi tindakan itu tanpa banyak berpikir. Ia tidak perduli serangannya itu dapat melukai Wuxian ataupun membelah tubuhnya seperti terbelahnya tubuh hiu itu. Tatkala tubuh hiu itu terbelah menjadi dua, di sekumpulan organ dalam, terlihatlah seonggok tubuh yang berlumuran darah hiu yang terbelah. Ya, seonggok tubuh itu pastilah tubuh Wuxian. Untung saja, Qiaofeng mengeluarkan tubuh Wuxian dari perut hiu dalam kondisi utuh tanpa terpotong sedikit pun. Namun, melihat Wuxian yang benar-benar baik-baik saja, justru tak membuat Qiaofeng merasa senang sedikit pun.


"Tidak berguna! seharusnya salah satu kaki atau tangannya, atau sekalian kepalanya harus terpisah dari badannya!" celetuk Qiaofeng karena kesal. "Mempermalukan nama baik klan Asura saja! sepanjang sejarah, tidak ada anggota klan yang selemah dia! tidak ada satu pun anggota klan yang pernah ditelan oleh hewan sepertinya. Memalukan!" Qiaofeng belum puas melampiaskan kemarahannya ketika berkali-kali dia sendiri yang harus turun tangan menyelamatkan Wuxian dari dampak pembuatannya yang selalu berakhir konyol.


***


Malam pun akhirnya tiba. Para pendekar yang melakukan perjalanan ke Samudera bagian Timur Laut guna mencari artefak pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah penginapan terdekat. Begitupula dengan Huang Chao dan saudara seperguruannya yang telah melalui perjalanan selama sehari semalam. Sudah pasti mereka sangat lelah, apalagi saat ini Huang Chao masih dalam tahap pemulihan.


Bukan hanya mereka yang datang secara berkelompok, tetapi juga banyak murid utusan sekte abadi yang lain, dan juga melalui perjalanan menuju Samudera bagian Timur Laut. Tujuan mereka pun sama, yakni untuk mencari artefak suci yang tersebar di berbagai penjuru. Perjalanan mereka hampir sampai. Oleh sebab itu, mereka menundanya hingga esok hari. Namun tiba-tiba saja, semua murid yang menginap di sebuah penginapan merasakan getaran ketika mereka menapakkan kakinya di tanah.

__ADS_1


"Apa kalian merasakan getaran di sekitar sini?" tanya Huang Chao kepada rekan-rekannya.


"Senior, aku merasakannya."


"Aku juga."


"Aku juga merasakannya."


"Sebenarnya, apa yang terjadi di sekitar sini? kenapa tanah tiba-tiba bergetar? meskipun getarannya tidak kuat, tetapi sangat jelas dirasakan." Huang Chao bertanya-tanya tentang apa yang tengah terjadi.


"Itu pasti ulah monster air," sahut seseorang yang menengahi pembicaraan mereka.


Dia adalah Chang Sheng yang datang membawakan semangkuk sup obat untuk pemulihan Huang Chao. Tatkala mendengar perkataan dari Chang Sheng, serempak semua yang ada di sana pun tidak mengerti dan penasaran dengan perihal yang dimaksud Chang Sheng.


"Monster air? apa maksudnya? apa ada semacam monster yang mengganggu ketentraman daerah sekitar sini?" cecar Huang Chao.


"M-monster air apaan? tapi jika benar-benar ada monster di sekitar sini, kita harus melenyapkannya sesuai dengan ajaran sekte!" cetusnya.


"Monster air yang kumaksud tidak seperti yang kalian bayangkan. Monster air tidak mengganggu siapa pun, tetapi dia justru penjaga keseimbangan laut. Keseimbangan laut yang dimaksud adalah benang merah sitar pelangi. Monster itu menjaga benang sitar pelangi. Namun sepertinya, dia telah gagal menjalankan tugasnya. Seseorang telah berhasil mengangkat benang merah dari samudera bagian Timur Laut. Kalian sangat terlambat. Selamat, perjalanan kalian ke tempat ini sia-sia," kata Chang seng sembari menjelaskan.

__ADS_1


"Benang merah sudah diangkat? siapa yang telah mengangkatnya? apa para murid sekte yang datang bersama kami?" cecar salah seorang rekan seperguruan Huang Chao.


"Tidak mungkin. Sudah pasti bukan mereka yang melakukannya. Matahari telah terbenam. Aku tebak, orang yang mengangkat benang merah pasti telah lama sampai ke samudera Timur Laut."


__ADS_2