PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
SIHIR DARAH


__ADS_3

Entah datang dari arah mana, sebuah pedang secepat kilat menyerang Huo Yi secara membabi buta. Rencananya untuk melenyapkan Wuxian tertunda karena pedang yang entah dari mana asal-usulnya, terpaksa menunda niat Huo Yi untuk membunuh Wuxian.


Pedang itu bukanlah pedang biasa. Sama seperti benda magis lainnya, pedang yang menyerang Huo Yi memiliki roh yang dapat bergerak dengan sendirinya. Pedang itu terlihat kuno dan tak terawat. Penampilannya tidak memiliki nilai estetika, besi tajamnya berkarat, dan bagian terpenting yang mencolok dari pedang itu yakni terdapat rantai yang melilit pegangannya.


“Sialan! Pedang milik siapa ini? Beraninya menghalangiku!!!” Huo Yi kesal sekaligus lelah karena terus-terusan berhadapan dengan pedang tersebut.


Pada awalnya, tak ada hal yang aneh dari pedang itu. Pedang itu sekadar tak membiarkan Huo Yi berhasil lolos darinya. Namun lama kelamaan, tatkala Huo Yi sudah tak tahan lagi, dia tak berpikir panjang dan ingin melenyapkan pedang itu dengan kekuatan sihirnya.


Huo Yi mengikat pedang itu dengan cambuk Hantam Halilintar miliknya. Sekuat tenaga dia berusaha menahan pedang itu agar tak bergerak sedikit pun. Setelahnya, dia mengeluarkan kekuatan spiritual dari telapak tangannya.


Jurus yang dikeluarkan oleh Huo Yi disebut jurus tapak penghancur. Sesuai dengan namanya, jurus itu dapat menghancurkan apa saja yang disentuhnya. Ketika telah siap, ia menarik cambuknya dan mendekatkan pedang itu ke telapak tangannya.


Sayangnya, semua tak berjalan sesuai dengan rencananya. Rantai yang terdapat di gagang pedang kuno itu bereaksi, hingga melukai telapak tangan Huo Yi. Rantai itu melilit telapak tangan Huo Yi, hingga tangannya terluka dan meneteskan darah.


Tatkala darahnya menetes, mengaliri pedang hingga ke ujungnya, sepontan pedang itu menunjukkan reaksi misterius. Pedang itu mengeluarkan asap hitam, lalu asap hitam itu membuat jantung Huo Yi merasa sesak.


“Gawat! Ini racun!” gumamnya.


Bukan hanya mengeluarkan asap hitam yang membuat Huo Yi keracunan. Lebih dari itu, pedang itu menunjukkan reaksi yang melebihi ekspetasi. Selang asap hitam keluar dari pedang, ledakan pun terjadi dan membuat Huo Yi terpental jauh.


“Ougghh … sakit sekali,” rintihnya sembari memegangi dadanya yang nyeri akibat membentur tanah dengan kuat. Karena racun telah menyebar hingga ke jantungnya, Huo Yi pun tak berdaya. Perlahan-lahan pandangannya remah berkunang-kunang. ‘Sihir darah? Pedang itu bukanlah pedang biasa. Itu adalah benda iblis,’ batinnya berkata-kata sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


Ledakan yang terdengar begitu bising nan nyaring itu sampai ke telinga beberapa murid yang mendengarnya dalam radius jarak sekitar 0,5 KM dari tempat kejadian. Sontak saja mereka yang mendengarnya turut terkejut dan tercengang.


“Suara apa itu? Terdengar seperti ledakan?”

__ADS_1


“Ledakan? Tidak mungkin. Bubuk mesiu dari mana? Sekte kita tidak pernah menyimpan bubuk mesiu.”


“Tidak, bisa saja ledakan itu bukan karena bubuk mesiu. Sekte kita adalah sekte abadi. Mungkin ada seorang murid yang sedang melatih keterampilannya.”


“Tidak mungkin. Siapa yang sekuat itu sampai bisa meledakkan sesuatu? Sekali pun bisa, itu bukanlah hal wajar, karena aturan sekte tidak memperbolehkan kita menghancurkan segala sesuatu.”


“Sepertinya, ini masalah serius. Kita harus melaporkannya kepada Pimpinan.”


“Tidak, kita harus melaporkannya kepada Ketua pengawas. Orang-orang dari sana pasti akan segera memeriksa apa yang telah terjadi.”


Beberapa murid yang mendengarnya merasa sangat was-was dan panik, sementara beberapa lainnya merasa biasa saja karena berpikir suara semacam itu adalah hal wajar dan tak perlu dikhawatirkan. Namun, tetap saja mereka tak bisa mengacuhkannya. Sebentar lagi pertemuan umum akan diadakan di sekte. Oleh karena itu, tak boleh ada insiden yang terjadi hingga membuat orang luar sekte turut merasa was-was.


“Ketua Pengawas!” salah seorang murid masuk ke dalam Biro Keamanan dan memberi salam tatkala menghadap kepada Ketua Pengawas yang tengah bekerja di meja kerjanya. Kemudian, ia pun melaporkan kejadian yang tengah terjadi kepada Ketua Pengawas.


“Ada apa kau menemuiku? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Ketua Pengawas yang bernama Zhang Yunji.


“Bagaimana jelasnya? Apa yang telah terjadi?” Zhang Yunji meminta agar murid itu menjelaskan bagaimana detailnya.


“Ketua Pengawas, baru saja kami mendengar suara ledakan yang terjadi di halaman belakang sekte. Entah apa yang telah terjadi, saya belum memeriksanya karena langsung bergegas melapor ke sini,” jelasnya.


“Ledakan? Bagaimana mungkin? Sekte melarang keras para murid untuk membuat suara-suara keras yang mengganggu kedamaian dan ketertiban. Siapa gerangan yang berani membuat kegaduhan? Baiklah. Aku akan mengutus beberapa murid Biro Kedisiplinan untuk memeriksa apa yang telah terjadi di sana. Kau bisa pergi,” ucap Zhang Yunji.


“Baik. Terimakasih, Ketua Pengawas,” ucapnya sebelum berlalu pergi meninggalkan tempat.


Setelah mendengar laporan dari salah seorang murid, Zhang Yunji pun tidak ingin menunda waktu. Ia bergegas bangkit dari tempatnya dan memanggil asistennya untuk menyampaikan pesan kepada beberapa murid anggota Biro Kedisiplinan yang akan ditugaskan untuk mengkonfirmasi insiden serius yang terjadi di belakang sekte.

__ADS_1


Asisten Zhang Yunji pun mengutus 2 orang murid untuk memeriksa ke tempat kejadian. Yang pertama adalah Jin Ling dari Biro Keamanan, dan lainnya tak lain adalah Huang Chao dari Biro Kedisiplinan.


“Ketua Pengawas telah memerintahkan kalian … apa kalian mengerti?” tanyanya dengan nada bicara tegas.


“Baik!!!” jawab keduanya serempak. Setelah memberi hormat, Jin Ling dan Huang Chao pun beranjak dari tempatnya.


Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya bergegas pergi ke halaman belakang sekte dengan tujuan memeriksa insiden yang tengah terjadi. Sesampainya di sana, sesuai dugaan, kabar cepat sekali menyebar seperti virus.


Banyak para murid yang penasaran, memeriksanya sendiri ke tempat kejadian untuk memeriksa apa yang tengah terjadi. Sementara kedatangan Jin Ling dan Huang Chao membelah kerumunan dan langsung mendatangi pusat permasalahan yang harus ditangani.


Para murid itu hanya melihat kejadian dari kejauhan, karena mereka tidak berani mendekat secara langsung jikalau ledakan akan terjadi sewaktu-waktu. Sementara Jin Ling dan Huang Chao yang telah ditugaskan untuk memeriksanya, tanpa ragu berjalan maju untuk memeriksa detail kejadian.


Pertama kali, mereka melihat seonggok tubuh yang terbaring di atas permukaan tanah dalam posisi tiarap. Jin Ling dan Huang Chao turun tangan dan segera memeriksa identitas murid yang berseragamkan pakaian kediaman Mahaguru Tianji.


Tatkala membalikkan tubuhnya, Huang sekejap saja Huang Chao dapat mengenali identitasnya. Dia adalah Huo Yi.


“Huo Yi?” gumam Huang Chao.


“Apa kau mengenalnya?” tanya Jin Ling dengan suara tegas dan tatapan dinginnya kepada Huang Chao.


“Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu siapa dia,” jawab Huang Chao apa adanya.


Sekilas Huang Chao menolehkan pandangannya ke arah samping dan mendapati sebuah pedang berkarat yang terlantar di permukaan tanah yang tertutupi oleh salju. Dalam sekali pandang, ia sudah yakin jika ada yang tidak beres dengan pedang itu.


Tanpa ragu, Huang Chao berjalan mendekatinya. Melihat percikan darah yang telah mengering di pedang itu, dapat ditebak dengan jelas bahwa pemilik darah adalah Huo Yi. Ya, karena sebelumnya Huang Chao memeriksa bahwa pergelangan tangan Huo Yi terluka.

__ADS_1


“Asap hitam? Sihir darah? Sudah jelas, benda ini memiliki aura jahat. Pedang ini pasti milik sekte iblis!”


__ADS_2