PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
GUNUNG WAN DU


__ADS_3

"Siluman? Kakek, apa Anda bercanda? Jika kau hanya mengatakan omong kosong semacam itu, aku akan pergi." Huang Chao tidak percaya dengan ungkapan yang dikatakan oleh Kakek tua itu kepadanya.


"Aku hanya memberitahumu, terserah kau percaya atau tidak. Aku melihat jejak kekuatan spiritual yang kau berikan kepadanya. Apa kau tahu ... Kenapa kau tidak berhasil mentransfer untuk mengobati luka dalam temanmu itu? Itu karena essensi kultivasi kalian tidak sama. Tubuh siluman dan manusia berbeda. Jika energi spiritual sekte abadi kau berikan kepadanya, itu sama halnya kau melukai inti silumannya. Itulah mengapa lukanya bertambah parah," jelas Kakek itu panjang kali lebar.


Huang Chao mulai goyah ketika mendengar penjelasan darinya. Ia kembali membaringkan tubuh Chang Sheng dan membalas perkataan kakek tua itu.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau tahu banyak hal? Mungkinkah Chang Seng ... Dia siluman?" Huang Chao bertanya-tanya sembari menatap Chang Sheng yang tak sadarkan diri. "Tidak benar. Jika dia siluman, kenapa dia bisa masuk ke sekte dan menjadi murid Guru Jiang Ruyi? Mungkinkah ... Tak ada seorang pun yang mengetahui identitasnya, termasuk Guru Jiang? Jika dia siluman, kenapa aku tidak bisa merasakan aura silumannya?"


"Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang pengelana yang mencari banyak pengalaman selama separuh hidupku. Tentu saja ada banyak hal yang kuketahui karena tempat tinggalku selalu berpindah-pindah. Karena usiaku sudah lanjut, akhirnya aku memutuskan untuk menikmati hidup santai di tempat ini. Benar juga, di Gunung Wan Jia terdapat tumbuhan langka yang dapat menyembunyikan aura tubuh suatu makhluk, termasuk siluman dan iblis. Mungkin temanmu pernah mengonsumsi tumbuhan itu. Dari awal, dia pasti menipu banyak orang di sektemu, itulah mengapa kukatakan bahwa dia bukan orang baik," kata Kakek itu seraya menaruh lanjung anyaman miliknya.


"Aku tidak perduli dia manusia atau siluman, yang terpenting dia adalah temanku. Aku tidak akan membiarkannya mati, aku akan menyelamatkannya bagaimana pun caranya," cetus Huang Chao.


"Hufft ... sudahlah jika kau bersikeras menyelamatkannya. Jika kau bersedia, ada satu cara untuk menyelamatkannya," ujar kakek itu.

__ADS_1


"Apa itu? Tolong beritahu kepadaku. Aku akan melakukan apa pun untuk menyelamatkannya," pinta Huang Chao. Huang Chao yang saat ini hanya memikirkan tentang bagaimana dia harus menyelamatkan Chang Sheng. Ia tak perduli resiko yang harus dia hadapi, asalkan dia dapat menyelamatkan Chang Sheng.


Kakek tua itu bangkit dari tempatnya, lalu berjalan menghampiri Chang Sheng yang terbaring di atas ranjang kayu. Ia meraih pergelangan tangan Chang Sheng untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Tatkala dia telah memeriksanya, ia pun mengetahui bahwa inti siluman Chang Sheng terluka parah. Namun, selain beridentitaskan siluman, ada semacam energi tubuh yang kuat dan sengaja disembunyikan oleh Chang Sheng. Mengenai hal itu, Kakek tua itu sengaja untuk menyembunyikannya dari Chang Sheng.


"Ternyata inti silumannya terluka parah. Permukaannya terkikis akibat perlawanan dari luar. Inti siluman adalah bagian terpenting bagi siluman, seperti halnya dengan jantung manusia. Waktunya tidak banyak, ada semacam kekuatan spirirual yang membuat inti silumannya mendingin. Jika dibiarkan, inti silumannya akan membeku hingga menyalur ke setiap merdian tubuhnya. Sepertinya, dia terluka karena bertarung dengan seseorang," ungkap kakek itu. "Di Gunung Wan Jia terdapat banyak obat-obatan langka. Ada satu bahan obat yang dapat memperbaiki inti siluman. Namanya adalah Rumput Kelereng Lahar yang dapat membantu mencarikan inti silumannya. Namun, aku tidak bisa menjamin bahwa rumput itu masih ada di sana karena sudah pasti banyak para siluman yang membutuhkannya," jelasnya panjang kali lebar.


"Aku akan pergi ke sana!" cetus Huang Chao tanpa banyak mempertimbangkannya lebih dahulu.


"Apa kau tahu Gunung Wan Jia? Gunung itu disebut juga dengan Gunung Wan Du (Seribu Racun). Medan rintangannya sangat sulit untuk ditempuh. Meskipun di sana ada banyak obat, tapi juga ada ribuan racun berbahaya. Aku sarankan, sebaiknya kau memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk datang ke sana." Kakek itu memberi saran kepada Huang Chao untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk pergi ke Gunung Wan Jia.


Letak Gunung Jia berdekatan dengan sekte Lembah Tabib Mujarab. Karena letaknya sangat berdekatan, memudahkan untuk sekte mencari tumbuhan-tumbuhan yang dibutuhkan. Namun, sekte Lembah Tabib Mujarab sudah tak seperti dahulu, semenjak Meng Xia mengkhianati sekte dan meracuni banyak murid-murid sekte.


Meskipun mengetahui betapa sulitnya rintangan yang harus dia hadapi, ia takkan menyerah dengan mudah. Chang Sheng yang saat ini sangat membutuhkan pertolongan, karena saat ini hanya Huang Chao satu-satunya orang yang dapat menolongnya.

__ADS_1


"Aku tidak perduli. Asalkan aku dapat menyamatkan nyawanya, rintangan apa pun pasti akan kuhadapi. Aku tidak percaya jika aku tidak bisa mendapatkan obat yang dia butuhkan," cetus Huang Chao.


***


"Kau sudah siuman rupanya. Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Qiaofeng sembari membantu Wuxian bangkit menyandarkan punggungnya. Akan tetapi, Wuxian dengan angkuhnya menolak bantuan dari Qiaofeng. Ia malah mendorong tubuh Qiaofeng agar menjauh darinya. Qiaofeng pun tak punya pilihan selain menyingkir menjauhi Wuxian. "Hei, tuan yang terhormat. Apa kau tidak diajari cara menghargai orang lain? Aku berusaha membantumu tapi kau malah mendorong. Tidak tahu Terimakasih!" protes Qiaofeng karena marah.


"Kau tidak perlu mengajariku cara menghargai orang lain, karena aku adalah orang. Bagaiamana denganmu? Apa kau orang? Aku hanya menghargai orang, bukan roh pedang," balas Wuxian dengan sikap ketusnya.


"Kau! Bersikap sabar kepada orang kurang ajar memang tidak layak. Iya, benar! Memang aky bukan orang, tapi aku lebih tahu cara menghargai daripada orang sepertimu," cetusnya. "Sudahlah. Awalnya aku ingin membantumu, tapi kau tidak menghargainya. Tidak ada gunanya, lebih baik tidur," sambungnya.


Qiaofeng kehilangan kesabarannya tatkala menghadapi sikap Wuxian yang dikit dan kurang ajar. Meskipun ia adalah roh pedang, tetapi dia telah mendapatkan wujud manusia. Dia tetap memiliki emosi dan perasaan. Namun karena jantung pedang miliknya sudah dia berikan kepada Wuxian, maka yang tersisa baginya saat ini adalah emosi.


Qiaofeng menghilang begitu saja dari pandangan Wuxian, lalu merubah wujudnya menjadi pedang besi berkarat yang tak lain adalah Pedang Samsara. Sesaat setelah Qiaofeng menghilang, seseorang tiba-tiba muncul di hadapan Wuxian.

__ADS_1


"Mengagetkan saja!" Wuxian terkejut ketika melihat sesosok yang muncul di pandangannya secara tiba-tiba. "Sepertinya, aku harus menyegel kediamanku agar tidak ada seorang pun yang leluasa masuk ke dalam kamarku," sindir Wuxian.


"Maaf, tapi hal ini mendesak."


__ADS_2