
“Kita bisa membahas hal itu setelah menentukan siapa guru untuk anak itu,” kata Run Yu tertuju kepada Wuxian. “Zi Qi, bagaimana denganmu? Sepertinya, kediamanmu kekurangan seorang murid. Bagaimana jika kau mengambilnya menjadi muridmu?” Run Yu mengusulkan Wuxian kepada Zi Qi, salah seorang guru sekte Qing Long.
Sementara Zi Qi hanya terdiam sembari menatap Wuxian dari ujung rambut hingga ujung kakinya, hingga ia pun angkat bicara, “Bukannya aku tidak ingin menerimanya menjadi muridku, tapi sepertinya tulang punggungnya yang terlihat lunak tidak cocok dengan pelatihan yang kuajarkan kepada murid-muridku. Takutnya … tidak sampai seminggu, tubuhnya tidak akan bisa menahannya,” ujar Zi Qi dengan sengaja beralasan karena ia sama sekali tak berniat menjadikan Wuxian sebagai muridnya.
Wuxian terhenyak kala ia mendengar pernyataan dari Zi Qi yang seakan memandang rendah Wuxian dengan tatapan sekilas mata. Sesakit apa pun hinaan yang diterima oleh Wuxian, ia berusaha sebisa mungkin untuk menahannya.
“Kau bahkan belum mengajarkan apa pun kepadanya. Bagaimana kau tahu jika dia tak memiliki potensi?” sindir Run Yu kepada Zi Qi.
“Ekhem … .” Zi Qi hanya berdehem kala mendengar perkataan dari Run Yu karena ia benar-benar tak ingin membahasnya lebih lanjut.
Di sisi lain, Jin Xun yang telah menerima Huang Chao sebagai muridnya pun memerintah Huang Chao untuk berlalu pergi meninggalkan aula ketika salah seorang murid Jin Xun datang untuk menemani Huang Chao datang ke kediamannya.
__ADS_1
Dengan berat hati, Huang Chao meninggalkan Wuxian yang masih berlutut di tempatnya. Sesekali Huang Chao berbalik menatap punggung Wuxian. Sebenarnya, ia tidak tega berpisah dengan Wuxian yang terlihat sangat menyedihkan. Sekilas saja Huang Chao dapat menebak bahwa tak ada satu pun guru sekte Qing Long yang bersedia mengangkat Wuxian sebagai murid.
Mereka berdua telah ditakdirkan menjadi murid sekte Qing Long. Akan tetapi, mereka tidak ditakdirkan untuk belajar dan berlatih kultivasi bersama. Wuxian telah lulus menjadi murid sekte Qing Long, tetapi dia tidak ditakdirkan memiliki seorang guru di sekte Qing Long.
“Sudalah. Karena di antara kalian semua tidak ada yang ingin menerimanya sebagai murid, maka tidak ada pilihan lain selain menjadikannya pelayan sekte,” ucap Run Yu sembari menghela nafasnya.
Pelayan sekte, sebutan untuk beberapa murid yang bebal. Di dalam sekte Qing Long, beberapa murid yang tidak memiliki bakat kultivasi terpaksa harus melakukan pekerjaan kasar, seperti memasak, mencuci dan sebagainya. Hanya saja, semua murid itu awalnya memiliki seorang guru. Namun karena rendahnya kualifikasi, mereka terpaksa harus melatih fisik terlebih dahulu dengan cara melakukan pekerjaan kasar.
‘Pelayan sekte? Apa maksudnya … di tempat ini aku tidak akan berlatih dan hanya menumpang tempat tinggal dengan melakukan pekerjaan di dalam sekte? Tidak, aku tidak boleh menyerah seperti ini. Tujuanku datang ke tempat ini bukan hanya untuk menumpang tempat tinggal,’ batin Wuxian mulai gelisah. Ia pun memberanikan diri untuk angkat bicara semata menyerukan suara hatinya, “Tolong, siapa saja terima aku menjadi murid sekte. Aku akan melakukan apa pun yang diperintahkan jika seorang saja bersedia mengangkatku menjadi murid. Aku janji akan berlatih keras. Aku pastikan tidak akan membuat sekte malu karena memiliki murid sepertiku. Aku berjanji akan menjadi seorang pendekar hebat!” Wuxian tak ada pilihan lain selain memberaninkan diri untuk memohon kesediaan para guru untuk menerimanya sebagai murid.
Semua harapan benar-benar dihancurkan oleh kenyataan. Wuxian kini telah putus asa tatkala mendengar pernyataan dari salah satu guru sekte Qing Long. Berdasarkan perkataan Zi Qi, nyawa Wuxian akan terancam jika ia memaksa untuk melatih kekuatan spiritual karena lemahnya tulang dan merdian tubuhnya.
__ADS_1
Mencari pelaku yang telah menghancurkan desanya dan membalaskan dendam kedua orangtuanya adalah hal terpenting bagi Wuxian. Tidak, hal itu lebih penting karena Wuxian telah menjadikan hal itu sebagai tujuan hidupnya. Apalah artinya ia hidup jika ia hanya bisa menikmatinya tatkala kenyataan menamparnya sangat keras tentang tragedi yang terjadi terhadap desa tempat tinggalnya. Akan tetapi, sekali pun ia memaksa, ia tetap akan mati konyol sebelum dia berhasil membalaskan dendam tatkala mendapati tubuhnya akan hancur ketika dilatih budidaya.
“Lalu … apa yang harus kulakukan?” Wuxian telah putus asa, dan kini hanya kalimat itu yang terlontar dari mulutnya.
“Nak, jangan memaksakan dirimu. Itu semua adalah takdir. Tak ada seorang pun yang dapat melawan takdir. Karena takdirmu, kau boleh tinggal di sekte ini,” ujar Run Yu.
“Bagaimana jika aku bersikeras melawan takdir?” cetus Wuxian. Ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, lalu bangkit dari posisinya. Ia menatap Run Yu dengan tatapan setajam elang.
Seketika semua yang ada di aula itu menatap Wuxian yang bersikap berani karena menatap wajah Wakil sekte. Run Yu mengernyitkan kedua alisnya seraya membalas tatapan Wuxian. Terlihat dengan jelas emosi yang bercampur aduk di kedua manik mata Wuxian kala Run Yu menatapnya.
“Melawan takdir? Hekh … .” Run Yu menyeringai menanggapi perkataan Wuxian yang terkesan konyol dan arogan baginya. “Apa yang kau punya untuk melawan takdir? Senjata apa? Kekuatan apa yang kau punya untuk menantang takdir? Bahkan, dewa sekali pun tak luput dari takdirnya. Kemarahan hanya megundang kekonyolan. Nak, lupakan tentang melawan takdir. Kau bahkan tak bisa luput dari segala hal yang menimpamu. Semua anak yang datang ke sekte ini memiliki latar belakang yang beragam. Kau hanyalah salah satu di antara anak lain yang juga mengalami kemalangan. Baiklah, kami hargai tekadmu. Begini saja, kau bisa membuktikan dirimu dengan berlatih sendirian. Buktikan tekadmu dengan usaha yang membuahkan hasil memuaskan. Sekte kami memiliki berbagai macam rahasia beladiri yang tertulis di dalam gulungan yang tersimpan di perpustakaan. Kau bebas memahami ilmu itu untuk membuktikan tekadmu,” tutur Run Yu panjang kali lebar.
__ADS_1
Selain mengizinkan Wuxian untuk tinggal, Run Yu pun mengizinkan Wuxian untuk mempelajari sihir sekte Qing Long, meskipun tak ada seorang pun yang bersedia menjadi guru bagi Wuxian.
“Baik! Terimakasih Wakil sekte. Akan kubuktikan bahwa anak lemah sepertiku akan menjadi pendekar hebat di dunia Jianghu!” cetus Wuxian.