
“Liu Wei? Siapa yang kau bilang monyet? Kau itu yang monyet tolol?” balas Wuxian. Wuxian yang tengah berduduk santai di atas pohon persik pun turun ke bawah. Wuxian melempari Liu Wei dengan bola salju untuk memberinya pelajaran, sayangnya serangannya meleset, karena Liu Wei sengaja menghindarinya.
“Hei, kau sedang apa di sana? Kemari dan bantu aku … .” Belum sempat Liu Wei menuntaskan perkataannya, seseorang tiba-tiba mencengkram kerah bajunya secara tiba-tiba.
Liu Wei sontak menatap wajah orang yang berani menantangnya tanpa alasan. Ketika pertama kali melihat wajahnya, sekejap saja Liu Wei dapat mengenalinya. Dia adalah Huo Yi.
“Apa itu kau? Ternyata memang benar, itu kau. Kau yang dulu pernah menantangku, lalu bersembunyi di balik perlindungan sahabatmu.” Huo Yi menatap wajah Liu Wei dengan tatapan kebencian, sekilas setelahnya menatap Wuxian seraya berkata, “Ah, begitu rupanya. Ternyata kedua pecundang ini berteman baik. Kalian memang teman yang sangat cocok. Sama-sama pecundang!” cerca Huo Yi.
“Kau!!!” Liu Wei geram tatkala Huo Yi seenak hati menghinanya sedemikian rupa.
“Lepaskan dia!!! Jika kau ada urusan denganku, hadapi aku secara langsung, jangan menyeretnya!!!” cetus Wuxian dengan suara lantangnya. Ia memerintah Huo Yi agar segera melepaskan cengkramannya terhadap Liu Wei.
Namun semakin keduanya terlihat tak berdaya, Huo Yi semakin merasakan kebahagiaan dalam hatinya. Dia sangat gembira ketika melihat orang-orang lemah yang ditindasnya semakin menentangnya, bukannya meminta pengampunan. Dia telah bosan menindas mereka yang lemah dan meminta ampunan ketika tak berdaya, berbeda dengan Liu Wei dan Wuxian yang semakin lama semakin tak kenal rasa takut.
“Dia? Kau ingin aku melepaskannya? Sebenarnya, aku tidak menyeretnya, tapi aku memang ada urusan dengannya. Dulu aku memang tidak sempat memberinya pelajaran, tapi kali ini aku tidak akan segan-segan!”
Huo Yi semakin mencengkram erat kerah leher Liu Wei, lalu tanpa ragu sedikit pun melemparkan tubuh Liu Wei hingga ia terbentur oleh bongkahan es dan terjatuh membentur permukaan tanah yang dilapisi salju.
Seketika Liu Wei memuntahkan banyak darah dari mulutnya karena bagian tubuh dalamnya terluka tatkala punggungnya membentur bongkahan es yang padat seperti batu. Karena benturannya yang cukup kuat, bongkahan es itu mulai retak, hingga serpihan-serpihan pecahan es itu jatuh menghijani Liu Wei.
Sementara Wuxian yang melihat kejadian itu pun takkan tinggal diam. Dia memang tak bisa melawan Huo Yi, tetapi dia bisa melindungi Liu Wei. Liu Wei telah terluka cukup parah. Wuxian tak bisa membiarkannya tertiban pecahan-pecahan es yang setajam kaca.
Serpihan yang ketajamannya seperti kaca itu menggores, melukai pungung Liu Wei. Melihat hal itu, Wuxian bergegas berlari menghampirinya. Tanpa pikir panjang, dia memeluk punggung Liu Wei dan menggantikannya menahan sakitnya serpihan es yang melukai punggungnya.
__ADS_1
“Wuxian, apa yang kau lakukan? Jangan pikirkan aku. Pergi!” Liu Wei mengusir Wuxian karena ia sangat mengerti karakter Wuxian yang bodoh.
“Tidak! Aku tidak akan pergi. Kau terluka parah, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Jika harus pergi, kita harus pergi bersama!” cetus Wuxian.
Begitu keras kepalanya Wuxian, dia tak ingin meninggalkan Liu Wei yang menderita luka parah sendirian. Namun, ia pun tak berdaya untuk melawan perbuatan yang dilakukan oleh Huo Yi. Ia tak sempat membawa Liu Wei pergi. Oleh sebab itu, ia hanya bisa melindungi Liu Wei dan menggantikan rasa sakitnya.
“Liu Wei, ayo kita pergi!” himbau Wuxian.
“Kau pergilan! Jangan pedulikan aku! Wuxian, aku tidak terima jika kau berkorban untukku. Cepat pergi dan minta bantuan orang lain. Mereka pasti akan membantu kita!” perintah Liu Wei.
“Kita pergi bersama!!!” balas Wuxian sembari membantu Liu Wei bangkit dari posisinya. Namun, tubuh Liu Wei terluka sangat parah, terlalu lemah untuk bangkit bersamanya.
“Sudah kubilang, pergi! Cepat pergi!!!” usirnya.
“Aku hanya akan pergi jika kau pergi bersamaku!” cetus Wuxian.
DUAARRR!!!
Belum puas membuat Liu Wei terluka, Huo Yi menarik sabuknya dan merubahnya menjadi cambuk. Ia menghantamkannya ke bongkahan es yang retak dan membuat retakan es itu semakin melebar.
KRETEEKK … KRETEKK … Suara bongkahan es yang retak itu terdengar jelas di telinga Wuxian dan Liu Wei. Wuxian reflek mendongakkan kepalanya, menatap retakan tebing es yang mulai membesar.
“Gawat! Liu Wei, kita harus segera pergi dari sini!” himbau Wuxian sembari memapah Liu Wei untuk bangkit.
__ADS_1
Namun, Liu Wei dengan sengaja melepaskan rangkulan Wuxian seraya berkata, “Cepat pergi! Jangan pedulikan aku!!!” perintahnya.
“Tidak! Jika aku pergi, kau harus pergi bersamaku,” balas Wuxian. Ia kembali merangkul Liu Wei dan memapahnya untuk bangkit dari tempatnya.
“Dua anak bodoh. Melihat manusia rendahan seperti mereka membuatku merasa mual,” ujar Huo Yi sebelum dia berlalu pergi meninggalkan Wuxian dan Liu Wei begitu saja.
“Wuxian, aku bilang pergi!!!” desak Liu Wei sembari mendorong tubuh Wuxian menjauhinya dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Meskipun demikian, Wuxian tetap tidak akan pergi begitu saja meninggalkan Liu Wei. Wuxian tetap kembali menghampiri Liu Wei dan memapahnya untuk bangkit.
“Dasar bodoh … .” Liu Wei telah menyerah kepada Wuxian yang keras kepala. Perlahan-lahan ia mulai bangkit bersama Wuxian yang tetap setia membantunya.
KRETEEKKK … SLERETT … terlambat. Sebelum keduanya berhasil menepi, tebing es dengan retakan yang lebih besar pun akhirnya terjatuh. Menyadari hal itu, Wuxian reflek mendongakkan kepalanya, lalu menutupi wajahnya dan melindungi Liu Wei. Akan tetapi, Wuxian merasa janggal ketika menyadari tak terjadi apa pun kepada mereka. Sementara Liu Wei yang sudah tak bisa menahan rasa sakitnya, pada akhirnya tak sadarkan diri.
Perasaan janggal itu membuat Wuxian menyingkirkan lengan yang menutupi pandangannya tanpa ragu. Tatkala pandangannya tak terhalang apa pun, Wuxian dibuat terhenyak saat melihat pemandangan aneh yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Kabut hitam apa itu?” Wuxian melihat gumpalan kabut hitam yang begitu tebal yang mengambang di atasnya, tanpa sadar bahwa kabut hitam yang menggumpal itu berasal dari tubuhnya sendiri.
Tubuh Wuxian mengeluarkan asap hitam yang sekaligus menyelamatkannya dari hantaman bongkahan besar es yang hampir jatuh mengenainya dan Liu Wei.
“Liu Wei, apa kau baik-baik saja?” tanyanya kepada Liu Wei yang memejamkan matanya tak sadarkan diri.
Di saat yang sama, Wuxian tertegun kala melihat asap hitam yang keluar dari tubuhnya sendiri. Dia tidak ingin percaya dengan peristiwa yang tengah dilihatnya saat ini. Akan tetapi, percuma saja kalau pun dia berusaha menolak untuk mempercayainya, karena semua itulah yang terjadi kepadanya.
__ADS_1
Asap hitam yang awalnya entah berasal dari mana, kini Wuxian akhirnya mengetahuinya. Asap hitam yang telah menyelamatkannya dari hantaman bongkahan es yang besar adalah asap hitam yang berasal dari tubuhnya sendiri.
“Tidak mungkin. Kenapa tubuhku bisa … mengeluarkan asap hitam?”