
"Benar-benar ... tuanku yang saat ini memang bodoh!" cerca Qiaofeng sembari menatapi tubuh Wuxian yang terbaring di atas ranjang penginapan.
Qiaofeng yang cukup kesal pun mulai memberikan perhitungan kepada Wuxian. Melihat Wuxian yang terbaring dengan nyamannya, menggerakkan niat Qiaofeng untuk membangunkannya.
Qiaofeng melirik sebuah vas bunga yang berisi air, lalu menumpahkannya ke wajah Wuxian. Dia benar-benar sudah tidak perduli, yang terpenting adalah melampiaskan kemarahannya atas kecerobohan yang dilakukan oleh Wuxian.
"Apa ini? dia tidak bangun juga? Aisshh ... ." Qiaofeng semakin kesal ketika air yang dia tumpahkan ke wajah Wuxian tak menyadarkannya sedikit pun. Tidak peduli hal lain lagi, yang terpenting dia sudah melampiaskan kemarahannya. Qiaofeng pun hanya bisa menunggu hingga Wuxian tersadar.
Selama lebih dari 2 jam dia menunggu, akhirnya Wuxian pun tersadar. Tatkala Wuxian membuka matanya, samar-samar dia melihat seorang gadis berpakaian serba merah tengah duduk di sebuah kursi sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada. Ya, siapa lagi gadis itu jika bukan Qiaofeng si roh pedang.
"Sudah sadar rupanya. Hei, kau!" Baru saja Wuxian terbangun, Qiaofeng sudah mulai meneriakinya.
"Kau ... siapa ya?" tanya Wuxian.
"Weh, jangan pura-pura tidak ingat. Aku tahu kau sengaja menghindari dari kesalahan. Dengarkan baik-baik, jika tadi terlambat sedikit saja ... nasibmu akan sama seperti para roh yang terperangkap! baru merasa hebat sedikit saja sudah sombong. Jangan ceroboh bertindak hanya karena ... ." Belum puas Qiaofeng memarahinya panjang kali lebar, Wuxian pun memotong perkataannya.
"Aku tahu, aku tahu. Kau tidak perlu menasihatiku. Kau terlalu berisik untuk menjadi roh pedang," celetuk Wuxian sembari menggaruk-garuk telinganya yang tak gatal sedikit pun. "Jadi, apa artefak pertama yang harus kutemukan di sekitar sini?" tanya Wuxian tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Qiaofeng hanya bisa menghela nafasnya ketika menghadapi Wuxian yang tak memiliki sopan santun sedikit pun terhadapnya.
"Sitar Pelangi. Ingat, mendapatkan sitar pelangi tidak semudah yang kau bayangkan," kata Qiaofeng.
"Apa yang harus kulakukan agar bisa mendapatkannya?" tanya Wuxian penasaran.
__ADS_1
"Apa kau tahu, alasan mengapa banyak murid dari sekte abadi di sekitar sini? Mereka juga datang untuk mendapatkan Sitar Pelangi. Berdasarkan dari informasi yang kudengar, sekte abadi juga mulai melakukan pencarian 4 artefak. Karena cermin penangkap roh telah berada di tangan Gu Xiang, mereka berpikir jika mereka tidak mendapatkannya terlebih dahulu, dunia akan kacau jika semua artefak jatuh ke tangan klan iblis. Apa kau mengerti apa yang harus kau lakukan?" kata Qiaofeng sembari menjelaskan.
"Jadi seperti itu. Tenang saja, aku tidak akan membiarkan 4 artefak jatuh ke tangan siapa pun. Tidak untuk Gu Xiang, tidak juga untuk sekte abadi," cetus Wuxian.
Sitar pelangi adalah artefak magis yang paling misterius. Wujudnya tak berwujud, karena setiap benangnya tersebar di tujuh samudra. Sitar pelangi memiliki enam benang yang memiliki 7 warna bayangan cahaya.
Sesuai dengan namanya, benang sitar pelangi yang memiliki tujuh warna bayangan cahaya, yakni merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.
"Menarik. Apa sebelumnya, ada yang pernah berhasil mendapatkan sitar pelangi?" tanya Wuxian.
"Tidak ada, juga tidak ada yang berani. Dikatakan jika benang sitar pelangi sepanjang samudera. Sejauh ini, belum ada seorang pun pendekar di dunia manusia yang berani menaklukkannya," ungkap Qiaogeng.
"Jika benar seperti yang kau katakan, kenapa saat ini sekte abadi mengirimkan muridnya untuk mendapatkan benang sitar di 7 samudera? bukankah tugas berat itu sama artinya mereka menyuruh murid-muridnya untuk mati?" Wuxian mulai berasumsi.
"Tidak perlu banyak berpikir. Kau sendiri tahu jika di dalam sekte abadi banyak orang munafik. Mereka hanya menjadikan murid-muridnya sebagai poin untuk mencapai tujuan egois mereka sendiri. Lihat saja, alasan mulia yang mereka katakan untuk mencegah kehancuran dunia hanyalah alasan belaka. Manusia tidak pernah puas dengan segala yang mereka miliki," tutur Qiaofeng.
"Senior, kau harus menghabiskan obatmu terlebih dahulu," ujar salah seorang saudara sperguruan Huang Chao sembari menyodorkan semangkuk sup obat untuk membantu pemulihan luka dalam Huang Chao.
"Yi Zhang, aku baru saja menghabiskan semangkuk. Kenapa kau memberiku semangkuk lagi?" protes Huang Chao karena dia merasa telah menghabiskan obatnya.
"Senior, obat ini berbeda dari yang tadi kau minum. Obat tadi hanya pencuci luka dalam, tidak akan cukup untuk mengobati lukamu. Seseorang datang untuk meresepkan obat yang lebih bagus. Harus dihabiskan," kata Yi Zhang.
"Seseorang? Bukankah guru hanya mengirim 5 orang dari kediaman?" tanya Huang Chao karena ia menyadari ada yang tidak benar.
__ADS_1
"Aku," sahut seseorang yang perlahan berjalan menghampiri mereka berdua.
Huang Chao reflek membulatkan manik matanya ketika mengenali siapa seseorang yang baru saja disebutkan oleh saudara seperguruannya. Sosok itu tersenyum ke arah Huang Chao sembari menghampirinya.
"Chang Sheng? Bagaimana kau ... tidak, itu tidak penting. Bukankah seharusnya kau memulihkan lukamu? kenapa kau bisa berada di sini?" cecar Huang Chao.
"Temanku terluka, bagaimana mungkin aku tetap bersantai memulihkan diriku sendiri? lihat, aku sudah benar-benar pulih. Aku belum berterima kasih kepadamu sebelumnya. Terimakasih karena telah menolongku," ucap Chang Sheng.
"Di antara teman tidak perlu ada kata Terimakasih dan hutang. Kau tidak berhutang padaku sedikit pun," balas Huang Chao.
"Kalau begitu, lupakan masalah itu. Aku datang sebagai tabib. Sudah tugasku menyelematkan nyawa orang lain," kata Chang Sheng. "Di samping itu, aku tidak datang sendirian. Seseorang datang bersamaku," sambungnya.
"Siapa?"
"Aku!" cetusnya.
Seorang pria lain muncul dari balik pintu. Dia berjalan dengan gagahnya menghampiri Huang Chao yang terbaring di atas ranjang.
"Apa kau mau kabur? kau tidak berhutang padanya, tapi jelas berhutang padaku. Aku datang untuk menagihnya. Hei, kau belum selesai membayar hutangmu tapi ingin pergi? Mantra penyambung tubuh yang kau ajarkan belum selesai. Bisa-bisanya kau melakukan tugas lain," protesnya.
Dia tak lain adalah roh serigala yang sempat berurusan dengan Huang Chao. Sebelumnya, Huang Chao telah berjanji untuk membantunya menumbuhkan ekornya. Huang Chao sempat mengajarkan setengah kepada roh serigala.
Roh serigala merasakan efek yang dia rasakan. Dia merasa bahwa tulang ekornya sudah mulai terbentuk kembali. Namun, semua belum sempurna terbentuk karena Huang Chao baru mengajari setengahnya saja. Kala itu, Huang Chao mendapat surat dari gurunya untuk pulang ke sekte.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berniat kabur. Apa yang kujanjikan, tidak akan pernah kuingkari," balas Huang Chao.
"Senior, apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata kau benar-benar mengenal siluman itu. Apa yang kau janjikan padanya? Gara-gara dia, banyak saudara seperguruan yang terluka karena berusaha menahannya," ujar Yi Zhang.