PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
PENYESALAN


__ADS_3

“Wuxian, apa yang kau maksud? Kau harus menjelaskannya. Aku benar-benar tidak mengerti. Apa aku ada berbuat kesalahan kepadamu? Katakan saja. Jika seperti ini, bagaimana aku tahu apa yang kau rasakan,” ujar Huang Chao.


“Kak Chao, jangan mempermalukanku. Kau sudah tahu dari awal. Ketika kau datang ke sekte, kau disambut dengan baik oleh mereka. Lalu aku? Bagaimana denganku? Apa aku harus mengatakannya satu persatu, perlahan-lahan, segala hal yang mempermalukan diri sendiri? Kak Chao, kau tahu sendiri! Tidak ada seorang pun di sekte ini yang menerimaku. Tidak ada yang menganggap kehadiranku di sini. Kehadiranku tidak disambut, kedatanganku percuma. Berlatih budidaya? Dari mana aku mendapat kehormatan itu. Mereka merendahkanku, meremehkanku, merundungku, menginjak-injak harga diriku. Kak Chao, apa semua tidak terlihat jelas? Jika kau seperti ini, kau sama dengan mereka semua. Lihat saja penampilanku? Dari mana aku terlihat seperti seorang murid yang mendapat bimbingan dan kehormatan? Aku berbeda. Aku tidak mendapat kehormatan itu. Aku tidak bisa membanggakan seragamku, ataupun senjata magisku. Lupakan tentang menjadi kuat dan memberantas kejahatan. Aku bahkan kesulitan menyesuaikan diri sendiri di tempat ini,” jelas Wuxian panjang kali lebar. “Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku akan pergi. Aku hanya murid buangan, tidak sepertimu. Banyak pekerjaan yang harus kukerjakan. Jaga dirimu,” ucap Wuxian sebelum berlalu pergi melewati Huang Chao.


Huang Chao terhenyak tatkala mendengar satu persatu kata yang terlontarkan dari mulut Wuxian. Ia terpaku kaku di tempatnya, menatap pandang lurus kekokosongan senyap di hatinya. Secara tidak langsung, Wuxian memberinya goresan yang cukup dalam di hati Huang Chao. Tidak pernah terbanyangkan, Huang Chao tidak tahu jika selama ini Wuxian mengalami banyak kesulitan.


Setelah segala sesuatu yang dialami Wuxian m selama ini, bisa-bisanya dia tidak mengetahuinya. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan Wuxian 5 tahun ini. Bahkan, sekali pun ia tak pernah mengunjunginya ataupun memeriksa bagaimana keadaannya. Betapa naifnya, ia berpikir jika Wuxian memiliki keseharian yang sama sepertinya.


Berlatih, berlatih, dan berlatih setiap hari. Berkultivasi, mengolah budidaya untuk mencapai keabadian. Menjunjung tinggi prinsip pendekar sekte aliran lurus untuk memberantas kejahatan dan menegakkan keadilan di dunia. Namun ternyata, kehidupan Wuxian berbanding jauh darinya.


Bagaimana mungkin Wuxian sama sepertinya? Tidak sepertinya yang mendapat kasih sayang dan rahmat dari gurunya dan semua saudara seperguruannya, bahkan mendapat kehormatan sebagai murid unggul yang telah dilantik sebagai Ketua kedisiplinan. Keseharian Wuxian dijalani dengan penuh penderitaan, cacian dan hinaan pun tak luput tercap, bahkan terjahit mengakar dalam kehidupannya sehari-hari.

__ADS_1


Tidak semua murid sekte Qing Long menjalani hari-hari yang sama. Keseharian para murid buangan lebih berat daripada mereka yang setiap harinya sekadar berlatih dengan tenang tanpa mempedulikan apa pun.


Huang Chao benar-benar tidak tahu jika Wuxian benar-benar tak mendapatkan seorang guru. Awal berpisah dengannya, kala Jin Xun telah menerima Huang Chao sebagai muridnya, Huang Chao hanya menebak jika guru lain terlihat tak menginginkan Wuxian. Ternyata dugaannya menjadi fakta yang tak terbantahkan. Namun ia tak pernah berharap Wuxian menjalani kehidupan seperti itu.


Awalnya, ia pikir jikalau Wuxian tak berbakat, ada seorang saja yang bersedia menampungnya dan mengajarkannya bakat lain. Sayangnya, detail lain yang tidak diketahui oleh Huang Chao adalah tentang tulang dan merdian tubuh Wuxian yang rentan tak dapat menerima energi spiritual budidaya, sekali pun memaksa diri untuk berlatih segiat mungkin.


“Kakak … Kakak!” panggil Wan Hua dengan suara lantang, hingga membuyarkan Huang Chao dari lamunannya. “Apa yang kau lamunkan? Bagaimana perbincangan kalian? Kenapa dia pergi begitu saja?” cecar Wan Hua.


“Tidak apa-apa. Wan Hua, kau telah berda di luar terlalu lama. Ayo kita kembali. Ibumu pasti menyadari kepergianmu. Jangan membuatnya khawatir,” himbau Huang Chao.


Sepanjang perjalanan, Huang Chao terlihat sangat dingin. Dia tak mengatakan sepatah kata pun, dan terus membungkam mulutnya. Tidak biasanya Wan Hua melihat raut wajah Huang Chao terlihat lesu. Terpampang dengan jelas jika Huang Chao menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


Sementara Wan Hua hanya menatapnya karena tak ingin mengganggunya karena tampaknya suasana hatinya sedang tidak baik. Jika ia mengganggunya, takutnya ia harus menghadapi sikap sensitif yang tak pernah ditunjukkan kepadanya.


‘Sepertinya, perbincangannya dengan teman lamanya tak berjalan dengan lancar. Aku penasaran apa yang sedang mereka perbincangkan, tapi aku tidak bisa menanyakannya secara langsung. Temannya terlihat marah ketika meninggalkan Huang Chao di sana. Apa mereka bertengkar? Tidak mungkin, kan? Itu pertemuan pertama mereka setelah berpisah sangat lama. Jika mereka sedekat itu, kenapa harus bertengkar setelah tidak lama bertemu? Ternyata ada orang yang lebih kekanak-kanakan dariku,’ batin Wan Hua. Wan Hua sangat penasaran dengan apa yang tengah terjadi di antara Huang Chao dan Wuxian.


Walau sangat penasaran, Wan Hua hanya bisa memendam rasa penasaran itu. Ia tak ingin . mengungkitnya di depan Huang Chao. Sangat jarang Wan Hua melihat Huang Chao menunjukkan ekspresi seperti yang dilihatnya saat ini. Tidak, lebih tepatnya Wan Hua baru kali ini melihat ekspresi Huang Chao yang membuat orang di sekitarnya pun merasa tidak enak hati.


***


“Aisshhh, sial! Kenapa semua ini sangat menggangguku? Baik, Wuxian, kau boleh marah dan merasa semua yang terjadi kepadamu ini tidak adil. Tapi kenapa kau malah melampiaskan semuanya kepada Kak Chao? Padahal, ini pertemuan pertamaku dengannya setelah berpisah lama. Bukannya berbincang santai dan menceritakan keseharianku secara baik-baik, tapi aku malah melampiaskan kemarahanku kepadanya. Kak Chao tidak salah apa pun, tapi aku membuatnya jadi merasa bersalah. Semua yang terjadi padaku bukanlah kesalahannya. Bisa-bisanya aku mengatakan semua itu. Arrggghhh!!!”


Wuxian akhirnya menyadari kesalahannya setelah ia meninggalkan Huang Chao dan mengatakan kata-kata kasar yang menyakitkan bagi Huang Chao. Sebenarnya, ia tak bermaksud mengatakan semua itu. Namun, emosinya menguasai perkataannya. Dia sangat bersalah setelah mengatakan semua itu kepada Huang Chao setelah lama tidak bertemu.

__ADS_1


“Tidak tahu apa setelah ini aku bisa bertemu dengannya atau tidak. Payah sekali! Dasar bodoh! Bodoh!!!” Wuxian memukuli kepalanya sendiri tatkala menyadari kebodohannya. Dia merasa sangat bodoh karena terkendalikan oleh emosi sesaatnya. “Jika aku kembali, pasti dia sudah tidak ada di sana. Aku harus meminta maaf kepadanya. Aku bahkan belum menceritakan segala hal kepadanya.” Pada akhirnya, Wuxian pun menyesal karena ia tak sempat menceritakan segala hal kepada Huang Chao, apalagi mendengar pengalaman-pengalaman hebat yang telah dicapai oleh Huang Chao selama ini. Memang penyesalan selalu datang di akhir.


“Hei, Wuxian! Apa yang kau lakukan di sana? Kau terlihat seperti monyet tolol, tahu?!”


__ADS_2