PENDEKAR BELENGGU NIRWANA

PENDEKAR BELENGGU NIRWANA
PERHATIAN TAK PERLU


__ADS_3

Chang Sheng mengacuhkan perkataan Huo Yi dan menganggap ia tak mendengar apa pun. Sekilas pun ia tak menatap wajah Huo Yi atau mengatakan apa pun. Tingkah laku Chang Sheng itu membuat Huo Yi merasa terabaikan dan marah, hingga ia mencengkram pergelangan Chang Sheng. Hal itu membuat Chang Sheng tidak sengaja terjatuh ke dalam pelukan Huo Yi.


Jarak antara wajah mereka hanya beberapa inchi, sebab Chang Sheng dapat mendengar jantung Huo Yi berdebar kencar dan keringatnya perlahan mengucur dari pelipisnya. Namun, Chang Sheng menunjukkan reaksi yang berlawanan dari Huo Yi. Ia hanya menatap dingin wajah Huo Yi, lalu bergegas melepaskan cengkraman tangan Huo Yi yang menahannya.


“Lepaskan!” perintah Chang Sheng dengan sikap ketusnya. Sayangnya, Huo Yi tak sedikit pun mengindahkan perkataan Chang Sheng. Baginya, perkataan Chang Sheng tak berbobot sedikit pun.


“Melepaskan? Bukankah kau juga menikmati posisi ini?” balas Huo Yi. Ia dengan sengaja menggoda Chang Sheng agar terlarut dalam kungkungan nafsunya.


Di mata Chang Sheng, Huo Yi bukanlah seorang pria. Ia adalah penganut Tao. Baginya, jenis kelamin tak membedakan, karena di matanya hanya ada manusia yang perlu dia obati dan selamatkan. Sekeras apa pun Huo Yi berusaha merayunya, Chang Sheng sama sekali tidak tergoda. Di samping itu, sekali pun Chang Sheng menganggap Huo Yi seorang pria, dia bukanlah tipikal idamannya.


“Gila! Apa kau tidak waras?! Lepaskan atau aku akan berteriak,” ancam Chang Sheng dengan tatapan mata layaknya pisau terhunus.


“Coba saja berteriak. Aku yakin, selain kita berdua … tak ada siapa pun di sini,” balas Huo Yi tanpa rasa malu sedikit pun.


“Baik! Lebih bagus jika tidak ada siapa pun. Maka aku akan lebih … .”


“Lepaskan dia!” Sebelum Chang Sheng menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba saja seseorang melepaskan cengkraman tangan Huo Yi yang mencengkram pergelangan tangan Chang Sheng. Ia melakukannya secara paksa dan kasar, hingga akhirnya Huo Yi tak punya pilihan selain melepaskannya.


“Aisshh… sial,” desis Huo Yi, kesal karena merasa urusannya dicampuri oleh orang lain.


“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya seraya menarik Chang Sheng dan menyembunyikannya di balik punggungnya.

__ADS_1


Chang Sheng menatap wajah bagian samping milik pria yang menolongnya. Kemudian, ia pun menjawab pertanyaannya, “Aku tidak apa-apa,” jawab Chang Sheng.


“Lagi-lagi kau! Hei, Huang Chao, apa kau sangat senang mencampuri semua urusanku?” protes Huo Yi.


“Karena urusanmu patut diikutcampuri. Kau bahkan tidak punya etika terhadap seorang gadis. Apa kau binatang?! Aku yakin Mahaguru Tianji tidak pernah mengajarkanmu hal tidak bermoral seperti ini. Kau mempermalukan nama gurumu!” cetus Huang Chao.


“Kau!”


“Kenapa?! Apa ada yang salah dari ucapanku?” sahut Huang Chao tanpa memberikan kesempatan untuk Huo Yi melanjutkan perkataannya.


Huang Chao tak bisa berkata-kata. Dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin menghajar Huang Chao dan membuatnya babak belur dibuatnya. Akan tetapi, dengan kondisinya saat ini, ia yakin bahwa orang yang akan dibuat babak belur adalah dirinya sendiri.


“Huang Chao, tunggu saja! Lain kali, aku akan memperhitungkannya denganmu. Kali ini saja aku biarkan kau merasakan hari-hari damaimu. Setelah itu … .”


“Sialan!” umpat Huo Yi dengan suara lantang, sengaja agar Huang Chao mendengar umpatan darinya. Namun, Huang Chao sengaja berpura-pura jika ia tak mendengar apa pun sembari keluar menarik Chang Sheng.


Ketika Huang Chao dan Chang Sheng telah keluar dari ruang pemulihan, Cang Sheng lebih dulu menghentikan langkahnya di halaman kediaman. Tatkala Chang Sheng menghentikan langkahnya, Huang Chao pun reflek menghentikan langkahnya.


Kemudian, Huang Chao berbalik menatap Chang Sheng yang tak balas menatap Huang Chao. Chang Sheng hanya menundukkan kepalanya, lalu melepaskan tangan Huang Chao dengan tangan lainnya.


“Terima Kasih,” ucap Chang Sheng tanpa berbasa-basi.

__ADS_1


“Ah, itu … bukan apa-apa. Maaf karena telah menyentuhmu … laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bersentuhan,” ujar Huang Chao. Ia tak bisa mengendalikan dirinya yang tersipu malu di hadapan Chang Sheng.


“Namun, kau tidak perlu melakukan hal itu. Lain kali, jangan lakukan itu lagi. Kali ini aku akan berterimakasih karena kejadiannya sepontan. Tapi lain kali, aku tidak akan membiarkanmu melakukan tindakan yang sama seperti hari ini. Aku tidak butuh orang lain untuk melindungiku,” kata Chang Sheng dengan dinginnya seraya berlalu pergi melewati Huang Chao yang terpaku di tempatnya tanpa sempat mengatakan sepatah kata pun.


Begitu Chang Sheng menyelesaikan perkataan kasarnya terhadap Huang Chao, ia pergi meninggalkannya tanpa rasa bersalah. Hati Chang Sheng telah terlatih untuk tidak memperdulikan hal-hal sepele yang dapat menggoyahkan hatinya. Sekali ia telah memutuskan sesuatu, ia tak akan membiarkan siapa pun atau apa pun untuk menggoyahkannya.


Sikap baik dan perhatian orang lain baginya hanyalah kepedulian sesaat, siapa pun tanpa terkecuali pasti pernah mendapatkan kepedulian semacam itu. Semua itu hanyalah bentuk kesopanan dan tatakrama dalam bersiosialisasi, tidak perlu membawanya hingga ke hati dan perasaan, karena perasaan hanya akan . menggoyahkan suatu tujuan.


***


“Wuxian, Wuxian … .”


“Hah?!” Karena begitu terkejut dan was-was, Wuxian dengan sigap menangkap lengan yang mengguncang-guncang tubuhnya.


Wuxian reflek membuka matanya ketika telah sadarkan diri tatkala Liu Wei membangunkannya dari tidurnya. Wuxian menatap Liu Wei sembari mengernyitkan kedua alisnya dan berkata, “Liu Wei? Apa ada yang salah?” tanya Liu Wei dengan serius.


“Wuxian, ada apa denganmu? Aku hanya membangunkanmu agar kau segera menghabiskan obatmu. Jangan terlalu tegang. Tidak ada orang yang akan membunuhmu di sini.” Liu Wei mencoba untuk menenangkan Wuxian dengan perkataannya, sedangkan Wuxian hanya menghela nafasnya dan mengerjapkan matanya. Ketika pertama kali ia terbangun, tergambar jelas dari raut wajahnya jika banyak hal yang membuatnya tertekan. “Sebelum itu, bisakah kau melepaskan tanganku? Apa kau ingin menggenggam tanganku, sehidup semati, takkan terpisahkan hingga maut menjemput,” goda Liu Wei agar suasana yang tegang menjadi lebih santai.


“Kau sudah gila!” celetuk Wuxian, lalu dengan kasarnya melepaskan tangan Liu Wei dan menghempaskannya begitu saja.


“Eih, dasar kau ini … cepat, habiskan!” perintah Liu Wei seraya menyodorkan semangkuk sup obat pahit kepada Wuxian.

__ADS_1


Melihat semangkuk sup obat pahit itu saja membuat Wuxian tak berelera dan ingin muntah. Ia benar-benar benci waktu ketika ia harus menghabiskan obat herbal yang membuatnya lebih baik mati, dibandingkan harus mengecapnya hingga ke tetes terakhir.


“Kenapa tidak kau saja yang menghabiskannya?” balas Wuxian.


__ADS_2