
“Di sana ada gunung. Apa gunung itu yang dinamakan Gunung Wan Jia?” gumam Huang Chao tatkala dia menyaksikan penampakan sebuah gunung menjulang tinggi yang tertutupi oleh kabut.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 hari 2 malam, akhirnya ia sampai di peradaban Lembah Tabib Mujarab. Ia sempat mengunjungi lembah tabib dan menanyakan tentang letak keberadaan Gunung Wan Jia.
Seorang paruh baya sempat melarang Huang Chao untuk pergi ke Gunung Wan Jia karena akhir-akhir ini terjadi gempa di sekitar kaki Gunung. Penduduk sekitar menebak bahwa sebentar lagi akan terjadi erupsi. Akan tetapi, Huang Chao yang memiliki sikap keras kepala sama sekali tak memperdulikan bahaya yang akan menimpanya. Sejak awal sebelum Huang Chao memutuskan untuk pergi, dia sangat tahu jika akan ada banyak bahaya yang harus dia hadapi saat mencari tanaman obat yang dia butuhkan di Gunung Wan Du.
ClEREETT … Huang Chao terpeleset saat dia mendaki gunung. Untung saja, Huang Chao dengan sigap mencengkram akar pohon. Kemudian, ia pun naik kembali untuk melanjutkan pendakiannya. Ada banyak tumbuhan di Gunung itu, sementara Huang Chao harus mencarinya dengan teliti agar bisa mendapatkannya.
Rumput Kelereng Lahar, sesuai dengan namanya. Rumput itu tumbuh di sekitar kawah berapi. Untuk menemukannya, Huang Chao harus lebih berhati-hati. Ciri-ciri rumput itu yakni sama dengan rumput lainnya, itulah sebabnya akan susah bagi Huang Chao untuk menemukannya. Akan tetapi, satu ciri yang membuatnya mudah dikenali yaitu pada saat tersentuh oleh api, maka, warna rumput itu akan berubah menjadi berwarna merah menyerupai api.
“Tidak ada cara lain. Aku harus mengetes satu persatu rumput di sekitar sini,” gumam Huang Chao.
Ia memantrai rumput-rumput di sekitar kawah gunung dengan sihir api. Satu persatu dia jelajahi, bakar, lalu padamkan. Hingga akhirnya, ia pun menemukan rumput yang berekasi ketika terbakar oleh sihir api. Sekilas saja Huang Chao yakin bahwa rumput itu adalah Rumput Kelereng Lahar.
“Akhirnya aku menemukannya,” ucapnya dengan girang.
Sayangnya, ketika Huang Chao hampir memetik rumput itu, seseorang mendahuluinya. Sosok itu memetik rumput itu dan membawanya pergi.
__ADS_1
“Hei, rumput itu milikku. Kembalikan!” perintah Huang Chao dengan suara lantang. Huang Chao mengejar sosok yang mencuri Rumput Kelereng Lahar miliknya. Sementara sosok yang mencurinya dari Huang Chao pun enggan untuk memberikan rumput itu kepada Huang Chao.
Sosok itu semakin cepat berlari di udara, sementara Huang Chao pun tak ingin meloloskannya. Huang Chao terus mengejar sosok itu hingga mereka berhenti di tengah hutan bambu.
Sosok yang mencuri rumput itu berdiri di pucuk pohon bambu yang menjulang tinggi, begitupula dengan Huang Chao yang berdiri berseberangan dengannya.
“Rumput ini milikku!” cetusnya.
“Weh, jelas-jelas aku yang lebih dulu menemukannya. Kau mencuri barang milik orang lain!” timpal Huang Chao.
“Kau yang mencurinya dariku! Rumput ini rumput terakhir yang sudah kutunggu-tunggu. Tepatnya, hari ini rumput ini akan memuntahkan kelereng yang sangat kubutuhkan. Setiap hari aku menunggu hari ini tiba. Beraninya kau ingin merebutnya dariku!” cetusnya. Ia tak rela memberikan Rumput Kelereng Lahar yang telah dia nantikan.
“Asal kau tahu, aku membenci orang-orang dari sekte abadi. Aku telah berkultivasi selama ribuan tahun, tapi mereka menghancurkannya. Mereka memotong ekorku. Kau tidak tahu apa pun. Serigala yang tidak memiliki ekor dianggap tabu!” Sosok itu terlihat geram dan penuh dengan kemarahan. Kemudian, ia menampakkan wujud selestialnya. Bayangan selestial muncul dari balik tubuhnya, bayangan yang berwujud serigala. Dia adalah roh serigala dari klan siluman. Namun, wujud selestialnya tak menampilkan ekornya, karena ia benar-benar tak lagi memiliki ekor.
“Aku memerlukan rumput ini untuk berkultivasi menumbuhkan ekorku kembali. Jangan harap kau bisa memintanya dariku!” cetusnya.
“Ternyata kau adalah roh serigala,” gumam Huang Chao. “Rumput Kelereng Lahar tidak akan membantumu menumbuhkan ekormu lagi. Begini saja, aku tahu satu teknik penyambung anggota tubuh. Apa kau tertarik?” Huang Chao memberikan penawaran menarik kepada roh serigala itu.
__ADS_1
“Hekh.” Roh serigala hanya menanggapi penawaran Huang Chao dengan seringaian. “Teknik sekte abadi? Apa kau pikir aku ini bodoh? Teknik sekte abadi berlawanan dengan essensi kami. Jangan pikir kau bisa membodohiku! Kau hanya ingin mencelakaiku agar bisa merebut rumput ini!” cetusnya dengan sikap geramnya.
“Aku bersumpah. Aku sama sekali tak ada niatan untuk mencelekaimu. Sekali pun klan siluman dan manusia saling bermusuhan, aku tidak pernah berpikiran untuk mencelakaimu. Tentang orang dari sekte abadi yang memotong ekormu, kau bisa membalasnya setelah kau mengembalikan ekormu. Aku tidak bisa menjamin teknik ini akan berhasil atau tidak, tetapi kebenaran yang harus kau ketahui, Rumput Kelereng Lahar tak akan berpengaruh apa pun padamu. Dari mana kau mendapat pengatahuan jika Rumput Kelereng Lahar dapat menumbuhkan ekor? Jangan asal menggunakannya. Rumput Kelereng Lahar digunakan untuk melelehkan inti siluman yang membeku. Aku benar-benar membutuhkannya, karena temanku menungguku,” tutur Huang Chao.
“Temanmu? Jika Rumput Kelereng Lahar digunakan untuk melelehkan inti siluman yang membeku, apa temanmu adalah siluman?” tanyanya penuh dengan rasa penasaran.
“Benar, temanku sama sepertimu. Aku percaya, tidak semua siluman itu jahat, seperti halnya temanku. Siluman ada yang baik, juga ada yang jahat, begitupula manusia. Semua tergantung kepada hati tiap makhluk. Sepertinya, kau adalah golongan siluman yang baik,” ujar Huang Chao.
“Omong kosong! Kalian telah menetapkan bahwa setiap siluman wajib dibunuh. Aku bukan siluman yang baik. Hiaattt!!!”
Roh serigala terlihat tidak senang ketika mendengar pernyataan dari Huang Chao. Dendamnya mulai membara, lalu ia menyerang Huang Chao secara membabi buta. Roh serigala menunjukkan cakar bayangan dan menyerangnya ke arah Huang Chao. Berkali-kali Huang Chao berusaha menghindari serangan dari roh serigala.
Huang Chao sengaja tidak balas menyerang karena ia ingin meyakinkan bahwa maksud untuk menolongnya benar-benar tulus. Ia tidak ingin menunjukkan kesan jika ia memiliki niat lain selain membantunya agar roh serigala mempertimbangkan penawaran yang dikatakannya.
“Kenapa kau hanya menghindariku? Apa kau meremehkanku karena aku terluka? Dengar, sekali pun aku terluka, percaya atau tidak aku bisa merenggut nyawamu sekarang juga,” ancamnya.
“Tidak, aku tidak meremehkanmu sedikit pun. Aku percaya dengan kekuatanmu. Namun, alasanku tidak menyerangmu karena aku tidak ingin melukaimu,” kata Huang Chao.
__ADS_1
“Hekh! Tidak ingin melukaiku? Jika benar begitu, sama saja kau sedang meremehkanku. Kau terlalu percaya diri. Bagaimana mungkin kau bisa melukaiku, ha?” balasnya penuh dengan keangkuhan.
“Aku hanya ingin menunjukkan ketulusanku. Aku harap kau mempertimbangkan penawaranku. Tenang saja, teknik yang kuberikan bukanlah teknik sekte abadi, melainkan teknik yang terkhusus untuk klan siluman,” ungkap Huang Chao.