Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 10


__ADS_3

Di sebuah cafe yang tidak terlalu luas namun begitu nyaman apalagi desain interiornya begitu unik. Hampir 20 menit Bhanu dan Rita berada di cafe tersebut, suasana antara keduanya masih sama, Rita lebih banyak bersuara dibandingkan Bhanu. Selama itu keduanya mengobrol mengenai karir satu sama lain.


Sebuah lonceng terdengar seiring suara gesekan pintu lalu muncul lah dua sosok berbeda jenis kelamin berpakaian rapi. Sang pria menggunakan batik serta celana jeans hitam sedangkan sang wanita memakai dress polos dengan balutan outer lace viscose berwarna maroon. Keduanya saling bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih di mata orang-orang yang tidak mengenal mereka.


Pandangan Bhanu seakan terpaku pada sosok wanita muda yang berada disamping pria berpakaian batik itu. Sosok yang sama ketika Qilla berkunjung ke rumahnya, gadis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak pertama berjumpa. Rita menyadari padangan Bhanu seakan enggan berpaling, matanya ikut menelisik sosok gadis yang menjadi objek pengamatan Bhanu saat ini.


“Cantik, pertemuan kedua,” hati kecilnya berbicara. Namun ada terbesit rasa kecewa karena berpikir jika gadis itu sudah memiliki pasangan.


Pandangan Bhanu terus mengikuti setiap langkah kaki dari gadis itu hingga tak terlihat lagi, seiring kedua pasangan tersebut memasuki ruangan yang ada di cafe tersebut. Bhanu mengalihkan pandangannya ke arah Rita yang kini cemberut merasa jika diabaikan.


“Maaf,” ucap Bhanu. Rita hanya mengangguk saja.


Bhanu melirik jam di tangannya, sebentar lagi acara pengajian yang diikuti oleh sang ibu akan selesai. Bhanu pun mengajak Rita pergi dari cafe itu, namun sepertinya semesta masih ingin membuat Bhanu menahan degup jantungnya. Gadis berparas cantik, keluar dari ruangan dengan senyum mengembang tak lupa tangannya meraih punggung tangan pria tampan di hadapannya.


“Hati-hati dijalan yah,” ujar pria itu yang mampu didengar oleh Bhanu. Bukan hanya itu, sebuah kecupan singkat diberikan pada gadis itu yang dibalas kecupan pipi oleh gadis itu pada pemuda berkemeja batik.


Tanpa diduga, gadis itu menoleh ke arah Bhanu sempat membuat gadis itu terpaku sesaat tapi tak lama, sebab gadis itu kembali berjalan anggun keluar cafe tetapi sebelum itu sebuah senyum manis dilemparkan kepada Bhanu makin membuat jantung Bhanu berdetak tak karuan.


Rita berdeham cukup keras hingga Bhanu kembali fokus dan tak lagi menatap gadis tersebut. Bhanu dan Rita kembali melanjutkan jalannya menuju mobil.


****


Di sebuah mesjid megah, ada sebuah acara pengajian rutin yang selalu diadakan dan dihadiri banyak orang. Berbagai kelompok pengajian di daerah tersebut datang dan meramaikan bersilaturahmi sembari mendengar kultum dari ustadz. Acara di mulai pukul 10 hingga jam 1 siang. Menginjak penghujung acara, para hadirin ada yang masih berbincang ada juga yang telah meninggalkan mesjid.


“Bu Sri di jemput siapa kali ini?”

__ADS_1


“Putra saya, kebetulan lagi di Jogja, oh,iya si anak manis enggak ikut yah?”


“MasyaAllah, iya, Bu, putri saya lagi nemenin Masnya ke nikahan, tapi bentar lagi juga dia datang kebetulan dia yang jemput,”


“Oh ya? Aduh, kebetulan sekali, nanti saya kenalkan dengan putra saya kalau begitu,”


Kedua ibu itu pun kembali berbincang sembari menunggu anak-anaknya menjemput. Yah, kedua ibu itu adalah Ratna dan Sri yang notabenenya adalah orang tua dari Bhanu dan Ane. Ratna dan Sri kembali dipertemukan setelah pertemuan awal mereka di acara yang sama dan pada saat itu Ratna bersama Ane.


Dua mobil secara bersamaan memasuki pelataran masjid dan bahkan kedua mobil itu parkir bersebelahan. Pengemudi salah satu mobil tersebut turun dari mobil, lalu disusul oleh mobil satunya. Ane, gadis yang mengendarai mobil putih milik kakaknya, tak menyadari jika sosok pria yang ditemui di cafe ternyata berada di belakangnya bersama sosok wanita yang menemani pria itu.


Rita semakin merasa kesal karena tingkah aneh Bhanu, sedari tadi saat mereka berada di cafe, menuju masjid bahkan ketika sampai pun gadis yang mencuri perhatian Bhanu juga berada di tempat yang sama dengannya. Bhanu mengikut setiap langkah kaki Ane, hingga tak sadar Rita jalan berada di belakangnya memasang wajah kesal.


“Mas, tunggu!” Teriak Rita membuat langkah Bhanu terhenti.


“Jalannya jangan cepat-cepat, kaki ku lecet,” rengek Rita memperlihatkan ujung kaki tepatnya sebelah kaki jempolnya lecet akibat memakai flat shoes yang ujungnya sedikit sempit. Terpaksa Bhanu menunggu Rita menghampirinya, matanya sesekali mengawasi pergerakan Ane, tapi sayang langkah Ane seakan begitu cepat hingga Bhanu kehilangan jejak gadis itu.


“Maaf, Ane lama Bu, jalannya agak macet,” ujar Ane mencium punggung tangan sang ibu. Tak lupa memberi salam pada sosok wanita paruh baya yang menjadi teman berbincang sang ibu.


“Aduh, cantik sekali,”


“MasyaAllah,” ujar Ratna tersenyum begitu pula dengan Ane.


“Itu anak saya juga udah datang,” tunjuk Sri pada putranya bersama seorang wanita kian melangkah mendekati.


Ane terpaku menyadari sosok pria itu, entah mengapa seakan semesta selalu mempertemukan keduanya untuk bertemu. Bhanu merasa jantungnya tak aman, apalagi melihat sosok cantik yang berdiri di tengah-tengah dua wanita paruh baya dan senyum manis terpatri di wajah gadis itu.

__ADS_1


Dengan ramah, Bhanu menyapa ibu berserta Ane dan Ratna. Rita ikut menyapa dan seketika dalam pikiran Ane jika Rita adalah pasangan Bhanu.


“Mas, ini teman pengajian ibu, namanya ibu Ratna dan anaknya, namanya Ane,” ujar Sri memperkenalkan sosok ibu dan anak di sampingnya.


Bhanu mencium punggung tangan Ratna serta mengulurkan tangan di depan Ane sebagai tanda perkenalan. Ane dengan canggung membalas tangan Bhanu.


“Bhanu,”


“Ane, Mas!”


Suara lembut milik Ane begitu sopan memasuki telinganya, bahkan membuat hatinya berdegup kencang.


Ane menarik tangan lebih dulu, kemudian berinisiatif mengulurkan tangan di depan Rita yang di balas cukup ramah oleh Rita.


“Rita,” gadis itu tersenyum masih setia memegang lengan Bhanu.


“Ane, Mbak!”


Ratna sedari tadi menangkap tatapan mata Bhanu seakan tak lepas dari sosok putrinya. Ratna berdeham lalu berinisiatif untuk pamit lebih dulu pada Sri yang membuat Bhanu sedikit kecewa karena masih ingin berlama-lama melihat Ane. Ratna tidak ingin jika, Bhanu tertarik pada Ane yang ia pikir jika Rita dan Bhanu adalah sepasang kekasih. Ia tidak ingin putrinya terjebak dan menjadi duri dalam hubungan orang.


Ane mencium punggung tangan Sri sekaligus pamit pada Bhanu dan Rita.


“Ane pamit, Bu, Mas, Mbak!” ujarnya sembari menganggukkan kepala lalu berjalan bersama sang ibu menuju mobil.


......Gimana dengan bab ini? Udah mulai terlihat nih hilalnya hehe, kurang greget yah? tunggu dibab selanjutnya yah! Jangan lupa vote+like+comment! ......

__ADS_1


...BIG LOVE ♥️...


...RA...


__ADS_2