Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 12


__ADS_3

Esok pagi, Bhanu akan kembali ke Jakarta, satu tekad yang ingin ia capai sebelum ia meninggalkan kota kelahiran sang Ayah yaitu bisa bertemu Ane. Sehari setelah mendengarkan cerita panjang lebar dari Sri mengenal sosok Ane, hatinya makin yakin jika Ane lah yang mampu mendampinginya hingga tua nanti. Apalagi sang ibu sangat mendukungnya mendekati Ane dan Neneknya pun ikut penasaran dan tak sabar ingin mengenal Ane secara langsung.


Bhanu memikirkan cara bagaimana cara agar ia bertemu dengan Ane, bahkan nomor ponsel gadis itu pun ia tidak ketahui. Sri juga lupa meminta nomor ponsel Ratna atau pun Ane pada pertemuan kedua, karena tidak akan menyangka jika muncul ketertarikan dalam diri Bhanu pada Ane. Bhanu menggulung sejadah usai melaksanakan sholat Sunnah Duha, ia merapihkan penampilannya kembali. Terlintas di pikirannya nama salah satu anak Koas di tempatnya bekerja.


Bhanu meraih ponsel di kasur lalu mencari kontak “Saqilla(co-as)” tanpa menunggu lama, ia segera menelepon kontak tersebut, panggilan pertama gagal karena tidak diangkat oleh Qilla, Bhanu mencoba untuk kedua kalinya dan akhirnya Qilla mengangkat panggilan tersebut.


“Assalamualaikum, kenapa dok?”


“Walaikumsalam, saya minta kontak teman kamu, Ane sekalian dengan alamat rumahnya, sekarang yah, gak pakai lama! Ini penting, chat saya saja!”


Di Jakarta, Qilla terkaget-kaget mendapatkan panggilan Bhanu hanya untuk meminta nomor serta alamat Ane. Qilla tidak bisa sembarangan memberikan itu pada Bhanu, ia harus meminta izin dulu sama Ane. Qilla pun, menghubungi Ane. Qilla membuka room chat bersama Ane yang ternyata gadis itu sedang online, jadi Qilla memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Ada yang minta kontak kamu, aku kasih gak? Dokter Bhanu yang kemarin kita datangi rumahnya.


Ane yang sedang berada di rumah, juga heran mendapat pesan dari Qilla. Ia mengingat kembali wajah tampan Bhanu, lalu setelahnya menaikkan alisnya heran mengapa Bhanu meminta nomor ponselnya. Ia membalas Qilla, mempertanyakan maksud dan tujuan Bhanu meminta nomornya, tapi balasan Qilla tentu saja tidak tahu, karena Bhanu pun secara tiba-tiba meneleponnya. Ane berpikir sejenak, mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasan Bhanu.


“Apa Bu Sri yang minta, yah, buat ngajak ibu pengajian lagi, apa gimama sih? Yaudah deh, siapa tau gitu,”


Setelah menyetujui jika Qilla boleh memberikan nomor ponselnya pada Bhanu, ia menyingkirkan ponselnya lalu menatap langit-langit kamar sembari pikiran melayang-layang.


“Apa jangan-jangan suka sama aku, yah? Eh tapi gak mungkin, kan udah punya pasangan! Gak mau ah, aduh gimana dong kalau beneran, ibu pasti marah ini, yah walaupun aku juga suka sih, tapi—gak,gak,gak!” racau Ane seperti orang gila.


“Dek, Mas nganter ibu dulu ke pasar bentar, jangan lupa kunci pintu,” kepala kakak tertua Ane muncul di balik pintu kamar, membuat Ane terkejut dan spontan mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


...****...


Bhanu membuka lemari pakaian mencari baju yang pas untuk ia pakai bertemu Ane. Setelah mendapatkan kontak beserta alamat, Bhanu tidak ingin membuang waktu lagi ia akan segera menemui Ane langsung ke rumah gadis itu.


Bhanu melihat pantulan dirinya di cermin, rambutnya kembali disisir rapi, tak lupa menyemprotkan parfum di badannya. Kemeja flanel menjadi pilihan pria itu serta celana jeans dan memakai sepatu sneaker. Kakinya melangkah pasti hendak keluar, tiba-tiba sang ibu menahannya dan bertanya ia hendak kemana.


“Mau ke mana?”


“Mau ke rumah calon istri, doain Bhanu yah, Bu, assalamualaikum,” Bhanu meraih punggung tangan ibunya tak lupa mengecup pipi kanan wanita yang melahirkannya itu.


Sri menggelengkan kepalanya melihat tingkah putranya yang lagi kasmaran. Dalam hati ia mendoakan agar usaha sang putra berhasil meluluhkan hati Ane calon menantunya, mengingat senyum manis Ane, Sri tak sabar menjadikan Ane sebagai menantunya.


Butuh waktu setengah jam agar Bhanu sampai ke alamat yang diberikan Qilla. Mobilnya berhenti tepat di sebuah rumah minimalis yang dipenuhi oleh beberapa tanaman di pekarangan rumah. Bhanu turun dari mobil, pagar rumah itu nampaknya tidak dikunci. Bhanu akhirnya masuk, hingga tepat di depan pintu, ketika tangannya hendak mengetuk pintu tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan sosok gadis cantik terlonjak kaget melihat dirinya dan menutup kembali pintu itu.


Ane sangat kaget melihat Bhanu, ia tidak tahu jika pria itu datang ke rumahnya, awalnya ia hendak menutup pagar dan pintu rumah. Ane mengintip di balik jendela dan berusaha dengan intonasi sedikit tinggi.


“Bentar, yah, Mas, Ane pakai jilbab dulu,”


Ane meninggalkan ruang tengah merubah penampilan, ia tadi hanya menggunakan piyama polos berwarna pink dan sarung Bali yang menutupi kepalanya. Ane mengambil cardingan rajut serta jilbab instan, setelah merasa cukup rapi Ane bergegas menemui Bhanu. Jujur saja ia deg-degan. Berulangkali ia mengatur napas, meredakan kegugupan yang ia rasakan. Tangannya sampai gemetar memegang kenop pintu, dalam hati gadis itu mengucapkan kata basmalah. Hingga pintu terbuka membuat keduanya saling pandang.


Sama yang dirasakan Ane, Bhanu juga deg-degan, ia tidak menampik kegugupan yang membelenggu. Bhanu berdeham mencoba untuk mengurangi rasa gugup.


“Hm, Maaf, Mas cari siapa?”

__ADS_1


“Kamu,” jawab Bhanu singkat namun matanya tak henti memandang wajah Ane.


Ane menjadi salah tingkah karena tatapan Bhanu yang begitu dalam padanya, apalagi benar jika Bhanu ke rumah untuk mencarinya.


“Untuk apa yah, Mas? Atau Ane ada utang sama Mas? Tapi kayaknya enggak deh, kan aku sama Mas baru ketemu sekali—”


“Tiga kali, kamu lupa, yah? kamu punya utang sama saya,” Bhanu memasang senyum manis sembari menggoda Ane. Ketika Ane mengatakan jika punya utang padanya, ia sangat ingin tertawa sungguh gemas pada Ane.


“Berapa, Mas? Tapi kapan Ane minjem uang ke Mas?” suara tawa akhirnya terdengar, Bhanu tidak bisa menahannya lagi.


“Haha, bukan uang. Kamu lucu sekali,” ujar Bhanu disela ketawanya. Ia mengatur napasnya, lalu kembali berkata, “kamu ngambil hati saya, jadi saya ke sini buat nagih,”


Ane menganga dan alisnya mengernyit bingung, tak mengerti maksud Bhanu—pemuda itu terkekeh geli, “kamu buat saya jatuh hati pandangan pertama, bahkan kamu berhasil ngambil hati saya, jadi saya boleh menagihnya?”


“Hah? Caranya?” spontan Ane bersuara sembari memasang wajah bengong.


Bhanu menarik napas pelan, lalu mendekatkan wajahnya beberapa Senti ke depan yang membuat Ane langsung memudurkan sendikit tubuhnya.


“Jadi lah istri saya!” hening seketika, Ane masih mencerna kalimat Bhanu di otaknya baik-baik sembari memperhatikan wajah Bhanu apakah hanya lelucon saja atau tidak, hingga suara penolakan terdengar membuat Ane bahkan Bhanu menoleh ke sumber suara.


“Gak!”


...

__ADS_1


__ADS_2