Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 6


__ADS_3

Ariane Edith Callista


Selamat pagi!


Terima kasih sudah berpartisipasi untuk bergabung bersama kami. Diberitahukan bahwa Anda dinyatakan tidak lolos pada seleksi tahap 2. Sampai ketemu di rekrutmen lainnya.


@Lindaa💃


^^^Ane, lo harus tahu!!!! Alhamdulillah, gue keterima kerja di bank! Aaaa, sumpah gue gak percaya asli, padahal gue baru nyoba daftar eh taunya lulus, gila!!!^^^


“Ibuuuuuuu!!!” pekikan keras terdengar hampir keseluruh ruang. Wanita paruh baya yang mendengar suara tersebut segera meninggalkan piring-piring yang hendak dicucinya. Dengan langkah tergopoh-gopoh, wanita itu menuju kamar sang putri, ia panik saat melihat anaknya menangis kencang.


“Hei, kenapa?” tanyanya cemas meraih tubuh anaknya.


“Huhu, ibuuuuuuuu!!!” Ane memeluk ibunya erat menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya. Dua hari yang sangat berat bagi Ane. Satu hari sebelumnya, ia juga tidak lolos saat mendaftar di kantor dekat cafe kakaknya dan hari ini ia juga tidak lolos dari seleksi salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia.


Sang ibu meraih ponsel milik anaknya yang tergelatak di ranjang, matanya jeli membaca tulisan yang ada di layar ponsel itu. Terdengar hembusan napas berat, ia paham dengan perasaan anaknya saat ini. Tangannya membalas pelukan Ane tak kalah erat.


“Istighfar, Nak! Belum rejeki, sabar!” ucapnya lembut tepat di telinga sang putri tercinta.


“Ane capek Bu! Kenapa tidak satu pun ada yang terima Ane! Salah Ane apa Bu? Ane udah berjuang, berdoa juga tapi kenapa begini, Allah enggak sayang Ane, bu! Teman Ane aja sekarang udah kerja, bahkan cuma sekali lamar langsung keterima beda sama Ane udah berpuluh kali tapi enggak ada satupun yang berhasil,” racau Ane lirih.


“Hei, kok adek ngomong gitu, sih? Hush, enggak baik! Lihat ibu, Nak!” Ibu Ane, menarik tubuh putrinya bergetar agar bisa melihat wajah Ane—gadis itu menatap sendu wajah sang ibu di depannya, matanya tak henti mengeluarkan air mata, bahkan hidungnya berubah menjadi merah.


“Berulang kali ibu bilang, rejeki orang itu berbeda-beda, bukan karena Allah enggak sayang sama adek, mungkin menurut Allah memang belum waktunya, sabar Nak! Kita harus tetap bersangka baik sama Allah dan percaya kalau Allah sudah atur rejeki kita dan menyiapkan suatu lebih indah dari ini. Istighfar, Nak!” nasihat sang ibu dengan tegas namun masih tersirat kelembutan.


Ane mengelap cairan kental yang keluar dari hidungnya menggunakan lengan baju piyamanya, sedangkan sang ibu dengan telaten menyeka air matanya.


“Tapi Ane capek ibu!!!” rengek Ane.


“Iya enggak apa-apa! Adek istirahat dulu aja cari kerjanya, refreshing dulu, tenangin hati dan pikiran, setelah merasa lebih baik, kalau adek masih mau cari kerja, ya lanjut, bismillah, rejeki enggak bakal ketuker kok, Nak! Sabar, yah!”


Ane kembali memeluk ibunya mencari ketenangan yang dibalas oleh sang ibu.

__ADS_1


“Udah, ah, sedihnya! Mending ikut ibu ntar sore,” Ane menengadah menatap wajah ibunya.


“Kemana?”


“Pengajian,”


“Ih, ibu!”


“Kenapa? Bagus tahu, sempat di sana kamu dapat pencerahan dari ustadz terus sekalian minta tips doa atau amalan apa yang bisa mendatangkan rejeki,”


“Ane udah hapal, jauh-jauh hari udah search di Google kok,” jawab Ane.


“Dari pada kamu di rumah melamun, mikirin hal-hal yang buat kamu makin stress, mending ikut sama ibu, siapa tahu setelah dari pengajian rejeki kamu kebuka, kan enggak ada yang tahu, Nak!” dengan bujuk rayu dari ibunya, akhirnya Ane menyetujui.


****


Gadis cantik memakai gamis berwarna putih gading berjumbai di bagian bawah, dipadukan jilbab segiempat berwarna mocca dengan motif bunga dibagian ujung jahitan. Wajahnya dipoles make up tipis sehingga terkesan natural. Ia menggunakan sepatu teplek berwarna senada dengan jilbabnya.


Ane tersipu malu, “ibu, ih! Biasa aja, enggak usah lebay!” rengeknya.


Sang ibu merangkul lengan putrinya sembari berkata, “harusnya bilang Alhamdulillah dong, Nak! Lagian emang anak ibu ini cantik, ibu kan enggak suka bohong, dosa!”


“Alhamdulillah, ibu bisa aja deh!” kekeh Ane.


Ane memesan taksi online untuk mengantarnya bersama sang ibu ke tempat pengajian. Di rumahnya ada dua kendaraan, satu motor matic dan satu mobil yang digunakan oleh kedua kakaknya bekerja. Ane sebenarnya ingin naik motor hanya saja pakaian yang digunakan membuatnya berpikir dua kali, sebab ia dan sang ibu menggunakan gamis dan tentu cukup ribet jika mereka menggunakan motor.


Selang beberapa menit, taksi yang dipesannya pun tiba. Lokasi tempat pengajiannya terletak disebuah masjid besar di kotanya. Ibu Ane memang cukup rajin mengikuti pengajian dimana pun itu yang penting lokasinya masih bisa dijangkau.


Cukup banyak yang hadir dalam pengajian kali ini, apalagi ustadz yang memberi ceramah agama pun cukup terkenal di kotanya turut hadir sebagai pengisi acara. Acara nampaknya belum dimulai, tetapi masjid sudah hampir penuh oleh para Jamaah. Ane bersama ibunya berjalan bergandengan memasuki masjid. Beberapa orang ada yang mengenali ibu Ane hingga terjadi perbincangan kecil, sesekali Ane bersuara ketika ada yang mengajaknya berbicara. Namun hal itu tak berlangsung lama karena acara pun dimulai.


Selama berlangsungnya acara, seluruh Jamaat begitu khusyuk membaca Al-Quran dan mendengarkan ceramah bahkan sesekali mereka tertawa kecil ketika ustadz memberikan sedikit guyonan disela-sela ceramahnya. Tak terasa hari kian petang, acara berlanjut tak lupa melakukan sholat isya berjamaah hingga acara pun berakhir dan para jamaah berangsur-angsur meninggalkan masjid.


Ada sosok ibu-ibu yang menarik perhatian Ane—gadis itu melirik wanita paruh baya tersebut yang sedang berdiri terlihat gelisah melihat jam tangannya. Dalam otak kecilnya, ia berpikir kalau sosok itu sedang menunggu jemputan, sama seperti dirinya menunggu sang kakak menjemput. Ane menarik lengan ibunya mendekati sosok wanita asing itu, berniat untuk menemani disela-sela waktu menunggu.

__ADS_1


“Bu, lihat deh, ibu itu kayaknya lagi nunggu jemputan juga, kita ke situ aja yuk, Bu! Kasihan nunggu sendirian,” ujarnya yang diangguki sang ibu.


Ibu Ane berinisiatif menyapa wanita yang sepertinya hampir seumur dengannya.


“Permisi, maaf saya ganggu, ibu lagi nunggu jemputan?” wanita paruh baya yang memakai gamis cokelat tua menoleh pada dua orang wanita berbeda usia didepannya.


“Eh, iya, Bu!”


“Saya Ratna dan ini anak saya Ane, kebetulan kami juga sedang menunggu jemputan, terus anak saya lihat ibu yang nampaknya juga sama seperti kami, jadi anak saya ngajak ke sini katanya kasihan ibu nunggu sendirian,” Tutur Ratna—ibu Ane, ibu di depannya terlihat menunjukkan senyum ramahnya.


“MasyaAllah, sweet sekali kamu!” ujar wanita itu memuji Ane sembari mengulurkan tangannya tanpa ragu mengelus lengan gadis cantik tersebut. “Ah, iya, saya Sri, kebetulan memang saya lagi nunggu suami jemput,” lanjutnya yang diangguki oleh Ane dan ibunya.


“Anak manis umurnya berapa?” tanya Sri pada seakan Ane masih seperti bocah membuat gadis itu makin tersipu.


“Dua puluh dua tahun, Bu. Bentar lagi sih dua puluh tiga,” jawab Ane.


“Udah lulus kuliah?”


“Alhamdulillah udah,”


“Hm, terus kegiatannya apa sekarang? Atau udah kerja?”


Raut wajah Ane seketika berubah menjadi sendu, menyadari akan hal itu, sang ibu yang menjawab pertanyaan tersebut.


“Masih sibuk cari kerja, begitu lah Bu, jaman sekarang kan emang dapat kerja susah dan belum rejeki anak saya juga jadi yah tetap ikhtiar aja lah,” jawaban itu disetujui oleh Sri bahkan memberikan dukungan dan nasihat pada Ane.


“Ibu benar, sekarang persaingan dunia kerja emang udah lebih banyak dibandingkan waktu jaman dulu. Tapi kamu enggak boleh putus asa, yang namanya rejeki itu enggak bakal kemana-mana, kita juga enggak boleh membandingkan rejeki kita dengan orang lain, karena masing-masing punya porsinya sendiri. Yang penting kita tetap berikhtiar kepada Allah, yakin dan percaya jika suatu saat Allah akan memberikan hasil buah dari ikhtiar,” naluri seorang ibu membuat Sri mengikis jarak antaranya dan Ane. Bahkan tangannya tak sungkan mengelus punggung Ane dengan lembut.


Ratna terenyuh melihat kelembutan Sri terhadap putrinya. Tak hanya sampai situ saja, Sri kembali berbicara seakan menambah semangat dalam diri Ane.


“Terus berusaha, tapi ingat kita enggak boleh memaksakan kehendak, mungkin saja Allah punya sesuatu yang lebih baik untuk kita, bukan berarti Allah tidak sayang karena tidak mengabulkan keinginan kita tapi mungkin Allah pikir waktunya belum tepat. Ingat, harus selalu berpikir positif, apa-apa itu harus pikirnya yang baik dan bersyukur, hilangkan semua pikiran negatif kamu, anggap saja Allah belum kasih kamu kerjaan mungkin Allah kasih kamu waktu untuk me time dan waktu bersama keluarga lebih banyak, karena ketika kamu kerja pun prioritas kamu pada pekerjaan, bahkan bisa jadi sampai lupa sama diri sendiri. Be positive,”


Akhirnya di wajah Ane terbentuk sebuah senyum dan kepalanya pun mengangguk atas nasihat Sri padanya. Obrolan tersebut harus diakhiri secara kebetulan jemputan mereka datang secara bersamaan, tak lupa mereka saling berpamitan satu sama lain dan Ane pun mengucapkan terima kasih atas nasihat Sri padanya

__ADS_1


__ADS_2