
Ujian dalam rumah tangga tentu pasti akan dirasakan oleh pasangan suami-istri, bukan kah setiap hubungan tidak akan selalu berjalan lurus atau sesuai dengan ekspektasi kita? Terkadang ada ujian atau rintangan yang akan dilalui sebagai proses terjalinnya ikatan yang semakin kuat pasangan suami-istri, namun jika itu disikapi dengan bijak dan dewasa, memandang segala sesuatu sebagai pembelajaran dan proses kehidupan rumah tangga.
Semenjak pertemuan dengan Citra, Bhanu lebih banyak termenung memikirkan bagaimana jika Citra tetap nekad atau bahkan lebih parahnya jika Ane sampai tahu, walau itu bukan kesalahannya hanya saja rumah tangga bisa saja goyah karena Citra, Bhanu hapal betul sifat keras kepala dan ambisi Citra apa yang wanita itu inginkan maka Citra tidak akan menyerah. Bhanu harus waspada dan memikirkan cara agar Citra tidak akan mengganggunya.
Ane baru saja naik ke atas kamar lalu pemandangan pertama yang ia lihat adalah sang suami tengah melamun di atas ranjang, guratan jelas terlihat di kening wanita itu. Apakah yang dipikirkan sang suami, mungkin itu lah yang ada di kepala Ane—wanita itu perlahan mendekati ranjang dengan menggendong Chana nampak terlelap. Kening Ane makin mengernyit heran, Bhanu sama sekali tidak menyadarinya hingga ia menyentuh dan memanggil sang suami.
“Papa, kenapa? Are you okay?” tangan Ane menyentuh lengan Bhanu—pria itu berjengit kaget sembari mengucapkan istighfar. “Kenapa? Ada masalah?” lanjut Ane.
Bhanu menggeleng pelan, “it's okay, papa cuma capek aja kok. Eh, anak papa tidur,” jawabnya lalu mengalihkan perhatian pada sang anak tertidur pulas.
Ane tidak yakin apa yang diucapkan Bhanu itu adalah kebenaran, ia merasa ada keanehan dari sikap sang suami, namun begitu ia mencoba memahami Bhanu mungkin saja memang pria itu letih bekerja. Entah lah, Ane tidak ingin berprasangka aneh pada sang suami, bukan kah kepercayaan itu penting? Maka Ane akan percaya pada suaminya.
Ane pamit sebentar menaruh Chana ke ranjang bayi itu, Bhanu pun hanya berdeham sebagai respon. Sosok bayi lain terlihat sedang berdiri memegang pinggiran ranjang memasang wajah polosnya. Ane mengukir senyum di wajah cantiknya ketika melihat Nai. Pelan-pelan Ane menaruh tubuh mungil Chana lalu beralih meraih Nai.
“Mbak Nai udah bangun toh, pintar banget anak mama gak nangis,” puji Ane mencium pipi tembam Nai.
“Ma...ma...pa...pa!”
“Mau ketemu papa? Mbak kangen papa yah?”
“Ngen! Pa!”
“Aduh gemes banget anak cantik, anak Sholehahnya mama dan papa, yuk kita ke papa,”
Nai bertepuk tangan riang apalagi saat mata bulatnya berhasil melihat sang papa. Bibir mungilnya bersuara hingga berteriak nyaring memanggil Bhanu.
“Pa!”
Bhanu menoleh ke arah sang istri serta anaknya. Senyum terbit tanpa dipinta, Bhanu merentangkan tangan mengambil alih Nai.
“Sayangnya papa nih,” pria tampan yang sudah menyandang gelar seorang bapak, memeluk erat putri sulungnya serta menciumi pipi tembam anaknya.
“Papa! In, papa in!” Nai menepuk-nepuk tangan mungilnya di dada sang papa seraya menatap wajah tampan Bhanu.
“In? Apa nak? Papa gak ngerti,” balas Bhanu mengelus pipi Nai.
“In...u...in papa! Tu!” jari gemuk Nai menunjuk sebuah mainan kuda-kudaan baru yang dibelikan Ratna beberapa hari lalu. Bhanu baru paham, ia pun turun dari ranjang dan membawa Nai untuk bermain kuda-kudaan.
“Pa, mama ke bawah dulu mau siapin makan malam,” Ane pamit ke bawah.
Setibanya di dapur, ternyata sang ibu sudah mengeksekusi dapur. Ane mendekati Ratna tengah asik memotong kentang dan wortel. Tangannya terangkat menyentuh pundak sang ibu hingga wanita paruh baya itu menoleh ke arahnya.
“Ibu mau masak apa?”
“Ibu mau masak sup iga, lagian cuaca lagi dingin begini jadi enaknya makan yang hangat-hangat. Iganya sementara ibu rebus tuh,” jawab Ratna.
“Maaf yah Bu, selama ibu di sini malah Ane sering repotin ibu,”
Ratna menggeleng, meletakkan pisau lalu memegang tangan putrinya, “sayang, ibu sama sekali tidak merasa direpotkan, lagi pula memang ibu kan di sini buat bantuin adek, jangan pernah merasa sungkan sama ibu ah,”
“Hehe, iya, pokoknya makasih yah Bu udah bantuin Ane,”
“Sama-sama sayang! Oh, iya, cucu-cucu ibu pada tidur?”
__ADS_1
Ane membantu Ratna mengupas bawang sebagai bumbu masakan, “adek Chana tidur, kalau mbak Nai lagi main sama papanya,” jawabnya yang diangguki saja oleh Ratna.
“Dek, rencana kamu ke depan gimana?”
“Maksud ibu apa?”
“Kamu masih mikirin karir? Apa sudah gak?”
Ane menggigit kecil bibirnya, mengingat masalah karir di kepalanya sudah terlintas suatu hal yang harus ia lakukan setelah anak-anaknya tak rewel jika ditinggal bekerja. Ah, bukan kerja kantoran, tapi bisnis kecil-kecilan yang akan ia tekuni mengingat pekerjaan kantoran tentu akan terikat sementara Ane pun tidak ingin karena memikirkan anak-anaknya. Setidaknya jika memiliki bisnis sendiri, waktu Ane lebih fleksibel jadi tidak harus melulu patuh pada peraturan kantor.
“Ada sih Bu, tapi nunggu anak-anak gede dikit terutama adek Chana,”
“Hm, sudah diskusi sama suami? Tetap harus izin loh, dek, ingat kan kata ibu apa pun itu harus didiskusikan supaya ke depannya tidak ada yang harus diributkan,” saran Ratna pada anaknya.
“Iya, nanti Bu, lagian bukan waktu dekat ini juga kok jadi masih bisa diomongin nanti,”
“Yowes, kamu ke atas gih panggil suami kamu makan,”
Ane mengatur peralatan makan di atas meja lebih dulu setelahnya naik ke kamar memanggil sang suami.
“Bukan kah sudah ku bilang jangan menghubungi ku lagi, kita sudah selesai! Jangan meminta pertanggungjawaban yang bukan salah ku!”
Suara itu terdengar cukup jelas masuk ke telinga Ane—wanita itu terdiam di balik pintu mengatur deru napasnya terasa sesak. Di kepalanya sudah di penuhi pikiran-pikiran liar terus saja berputar seperti gasing, Ane menggeleng keras berusaha mengusir pikiran itu dalam kepala. Apa yang telah disembunyikan oleh suaminya itu? Ane mencoba mengatur napas dan mengontrol diri agar terlihat biasa saja.
“Pa!” serunya masuk ke dalam kamar, melihat sang suami duduk di karpet bersandar pada ranjang dan di depan pria itu Nai nampak asik bermain sendiri dengan boneka.
Bhanu memijat pangkal hidungnya, lalu menoleh ke arah sang istri.
Bhanu masih mode diam, matanya pun seketika terpejam sesaat menahan segala emosi yang menghinggapi ketika Citra menghubunginya bahkan ia pun tidak tahu dari mana kah Citra mengetahui nomor ponselnya, sehabis putus Bhanu sempat mengganti nomor ponsel.
“It's okay, papa baik-baik aja. Yuk, kita ke bawah udah lapar nih,” balas Bhanu berdalih bahwa ia baik-baik saja. Pria itu menarik pelan sang istri begitu pula meraih tubuh mungil Nai.
“Papa!”
“Iya, kita ke bawah, mbak Nai emang gak lapar?”
Wajah Nai menengadah menatap Bhanu, bibirnya mungilnya lalu bergerak, “mam?”
“Iya makan, kita makan bareng mama sama Uti di bawah,”
Nai bertepuk senang mendengar kata makan. Kaki-kakinya ikut bergerak senang, Ane terkekeh gemas mencuri satu kecupan di pipi sang anak begitu pula dengan Bhanu, pasangan suami-istri itu tertegun sesaat sambil melemparkan tatapan satu sama lain hingga Bhanu berinisiatif duluan menempelkan bibirnya di bibir ranum Ane dan hanya menempel saja tidak lebih mengingat ada Nai.
...****...
Banyu memasuki kompleks perumahan milik Bhanu. Banyu baru saja tiba dari Yogyakarta, setelah melakukan kurang lebih 9 jam perjalanan. Mobilnya berhenti tepat di depan rumah, namun ada hal janggal yang pria itu temukan. Matanya menyipit menelisik penampakan seorang wanita berdiri di depan pagar. Banyu turun dari mobil memastikan wanita tersebut, ia pikir jika wanita itu adalah kerabat dari iparnya tapi mengapa tidak masuk apakah di dalam rumah tak ada orang?
Seorang wanita cantik berambut panjang sebahu yang tergerai lurus berwarna cokelat serta dress selutut membungkus tubuh wanita cantik itu. Mata Banyu tak lepas menelisik penampilan wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kulit putih dan mulus, kontras dengan warna dress yang digunakan wanita itu. Mata Banyu terhenti pada satu tonjolan bagian depan wanita itu nampak terlihat jelas walau tertutupi baju.
“Hm, assalamualaikum,” suara Banyu berhasil membuyarkan lamunan wanita hamil itu.
“Walaikumsalam,” mata wanita itu mengecil memerhatikan sosok pria jangkung di depannya. Ia tidak mengenal siapa pria itu dan ada apa hubungannya dengan pemilik rumah.
“Maaf, mbak cari siapa?” tanya Banyu.
__ADS_1
“Anda siapa?”
Alis Banyu menukik samar, “loh, kok malah nanya saya siapa, lah wong mbaknya berdiri di depan rumah ipar saya, yah pantes toh tak tanya siapa mbaknya ini,”
Wanita cantik itu terkesiap sesaat, dalam hati bergumam tak jelas karena ada yang melihatnya apalagi adik ipar Bhanu, padahal hampir 15 menit berdiri di depan rumah Bhanu tak ada satu pun orang yang melihatnya dan kini ia tertangkap basah. Ia memang ingin menemui Bhanu, tapi mobil yang digunakan Bhanu tidak terlihat di pekarangan rumah jadi wanita itu mengurungkan niatnya. Namun ternyata malah ia bertemu dengan adik ipar Bhanu.
“Loh, kok bengong mbak?” todong Banyu tak sabaran karena wanita di depannya diam saja.
“Eng—itu, saya—harus balik iya, maaf mengganggu! Permisi!” wanita hamil itu memutar tubuhnya berjalan menjauh dari rumah Bhanu. Tidak ada yang ingin ia temui selain Bhanu karena ia hanya punya urusan dengan Bhanu.
Banyu melebarkan matanya tak percaya wanita hamil itu memilih pergi dengan memberinya tanda tanya besar dalam kepala. Cukup lama memandangi punggung wanita itu hingga perlahan menjauh, Banyu pun memutuskan untuk masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum,” Banyu melepas sepatu dan menyimpan di rak sepatu di ujung dekat pintu masuk. Terdengar balasan salam dari arah ruang tengah dan di sana ada ibu, adik dan kedua ponakannya.
“Walaikumsalam,” jawab Ane dan Ratna bersamaan.
Baby Nai yang tadinya asik bermain boneka melihat kedatangan Banyu, Nai langsung melempar boneka kesayangannya dan berjalan mendekati Banyu walau langkah Nai masih belum sempurna.
“Eits, bentar om cuci tangan sama kaki dulu anak cantik, bentar yah!” Banyu berlenggang pergi menuju kamar mandi dan membuat Nai cemberut siap menangis.
“Eh, cucu Uti jangan nangis dong, om Banyu mau bersih-bersih dulu, Nduk! Kan dari luar banyak kuman, sini sama Uti dulu,” Ratna meraih Nai mulai merengek.
Lima menit, Banyu pun kembali ke ruang tengah bahkan sudah mengganti kemejanya dengan kaos polos putih. Melihat kedatangannya, Nai melompat ke pangkuannya.
“Hap! Rindu Om yah mbak? Sholehahnya om Banyu nih!” Banyu mencium seluruh wajah Nai hingga bayi itu tertawa geli tak lupa tangannya memukul pipi Banyu agar pria itu berhenti.
“Udah om, mbak Nai geli, ngomong gitu nak sama om!” Ane menimpali interaksi kakak dan putri sulungnya.
“Dah! Li om! Dah!” Bayi pintar itu ternyata mengerti dan mengikuti ucapan sang ibu membuat semua tertawa serta gemas dengan Nai.
“Udah pintar ngomong yah—eh adek Chana gak bobo, nak? Kangen sama om juga?” Banyu menggeser tubuhnya mengarahkan wajahnya mendekat Chana sedang di gendong oleh Ane.
Chana tersenyum sebagai respon seakan mengerti sedang diajak ngobrol oleh sang paman. Nai memukul lengan Banyu.
“Om! In tu!” bibir mungil Nai monyong menunjuk boneka kesayangannya tergeletak di atas karpet.
“Mau main?” tanya Banyu yang diangguki oleh Nai. “Oke, let's go kita main!”
“Ma!”
Panggilan itu sontak saja membuat orang-orang di ruang tengah terdiam. Ane menepuk jidatnya, ia baru sadar jika di kamar sang suami sedang sakit dan Bhanu sudah bangun. Ane menitipkan Chana pada Ratna sejenak karena ia harus ke atas menemui sang suami.
“Dek, bentar, mas Bhanu di rumah?” tanya Banyu menghentikan langkah Ane.
“Iya, lagi sakit jadi gak kerja,”
“Oalah, terus mobilnya mana kok mas gak lihat di depan,”
“Dipinjam mbak Lingga jemput mas Satya, kenapa emang?”
“Itu, tadi mas lihat di depan ada cewek tapi lagi hamil gitu berdiri di depan rumah tapi gak masuk, mas coba tanya siapa eh dianya pergi gitu aja,” ungkap Banyu mengutarakan apa yang ia lihat sebelum masuk ke dalam rumah.
Ane terdiam kaku mencerna apa yang dikatakan Banyu dan terus terngiang di kepala Ane, wanita? Hamil? Siapa dia?
__ADS_1