Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 73


__ADS_3

Tristan menggerakkan kepalanya naik turun mengerti atas perintah Banyu—ia menawarkan sejumlah uang pada Tristan apabila bisa membantunya mendapatkan rekaman CCTV. Mungkin saja sebagai orang yang memiliki kehidupan mewah dan dilimpahi materi, tidak akan menerima tawaran yang diberikan Banyu, tetapi berbeda dengan Tristan—ia hanya rakyat biasa dan hidup sederhana serta dituntut terus bekerja memenuhi kebutuhan hidup, makan bayar kontrakan rumah dan menjamin hidup keluarganya.


“Tapi malam ini saya tidak bisa, besok saya baru bisa bergerak besok, malam ini pak bos ada di club kunjungan rutin,”


“Baik lah, tidak masalah saya masih bisa menunggu,”


Usai kesepakatan, Banyu pamit pada Tristan karena malam semakin larut, tidak baik bagi Devi terlalu lama berkelana di malam hari. Banyu mengajak Devi pulang dan menyempatkan mengisi perut di tempat makan siap saji buka 24 jam.


“Jadi gimana mas tadi? Devi bingung mau ngapain di sana soalnya ramai banget, terus agak risih liat mereka tuh,” Devi menyesap ice coffe menghilangkan dahaganya.


“Alhamdulillah semoga lancar, ada yang bisa membantu, maaf kalau kamu harus ikut ke tempat itu tapi besok-besok kalau saya harus ke sana lagi, saya bisa sendiri kok, kasihan kamu juga,”


Devi melengkungkan bibirnya ke bawah, “aku, gak bermaksud gimana loh mas, aku cuma emang risih lihat kayak gituan, yah maklum belum pernah ke club jadinya gitu,”


Banyu memasang senyum maklum pertanda ia mengerti.


“Mas jangan sungkan loh sama saya, kalau mas butuh bantuan Devi siap kok,”


Banyu memberikan acungan jempol pada Devi. Dering telepon serta getaran dari dalam saku celana, Banyu merogoh ponselnya terpampang nama Citra di layar ponsel. Ia menarik senyum merekah lalu mengangkat panggilan tersebut.


“Assalamualaikum, halo?”


“Walaikumsalam, kamu dimana? Udah dari club apa masih di sana? Aman kan? Atau—”


“Hei, satu-satu dong tanyanya, khawatir yah?”


“Eng—gak sih cuma nanya aja,”

__ADS_1


“Oh gitu, yah!” jawab Banyu dengan nada kecewa.


Di seberang sana, Citra jadi tidak enak dan bingung harus merespon apa.


“Eh, maaf bercanda. Aman kok, saya udah balik nih tapi singgah makan dulu bareng Devi,”


“Oh, yaudah kalau begitu, lanjutin makannya,”


“Sip, kenapa belum tidur? Jangan suka tidur terlalu malam, ingat kamu lagi hamil, habis ini langsung tidur gak usah mikir aneh-aneh, semuanya aman kok,”


Apakah itu bentuk rasa peduli Banyu padanya? Batin Citra mengusik hatinya. Mengapa para kakak Ane begitu mudah mengusiknya? Ada apa dengan dirinya atau memang ada yang salah dari kedua pria itu—Rangga dan Banyu.


“Hm, yaudah saya tutup teleponnya,”


Devi diam-diam memerhatikan raut wajah Banyu seperti sedang menelepon dengan kekasihnya. Terlihat begitu sumringah dan semangat, apakah mereka terlibat hubungan spesial atau hanya satu pihak saja yang mencinta? Devi menggelengkan kepala mengusik rasa penasaran di kepalanya. Ia tidak boleh terlalu kepo pada urusan orang lain apalagi menyangkut isi hati karena sejatinya manusia memiliki privasinya sendiri dan terkadang tidak ingin diketahui orang lain.


Sesuai ucapan Tristan—pria itu baru bisa bergerak mencari rekaman CCTV yang diminta oleh Banyu. Dua jam sebelum ia bekerja, Tristan datang lebih awal memakai pakaian biasa serta topi dan masker. Ada celah-celah yang bisa Tristan masuki, pintu belakang yang tersambung langsung dengan lorong-lorong ruangan bos dan ruang yang sering mengawasi CCTV club, di mana bagian itu tidak difasilitasi kamera CCTV alasannya mengapa Tristan sendiri tidak tahu menahu namun sangat membantunya dalam rencana kali ini jadi bukan hal yang sulit bagi Tristan menerima tawaran Banyu.


Matanya bergerak ke sana kemari mengawasi sekelilingnya, suasana club masih sepi dan aman. Kaki Tristan melangkah hati-hati dan berhasil memasuki ruangan CCTV. Pria menutup pintu sangat pelan agar tidak menimbulkan suara. Ruangan kosong melompong, di jam seperti ini memang petugas belum datang dan di hari ini pula club akan aman dari pantauan bos langsung jadi ruang geraknya tidak terbatas.


Tristan segera mengecek CCTV di waktu yang Banyu sebutkan, jari-jarinya bergerak lincah mencari rekaman tersebut karena tak ingin membuang waktu lama. Pria itu menarik sudut bibirnya tersenyum puas. Tristan berada di ruangan itu tidak lama, setelah mendapatkan apa yang dia mau, ia langsung bergegas pergi tak lupa memastikan bahwa ia tidak meninggalkan jejak di ruangan itu. Tristan merogoh saku celana mengambil ponsel lalu menghubungi Banyu agar mereka bertemu.


Di sisi lain, Banyu sedang bersantai ria di rumah kontrakan milik Citta, ponselnya berdering nyaring dan kemudian mengangkat panggilan tersebut. Betapa senangnya, Banyu setelah mendapatkan kabar dari Tristan. Ia melompat dari kursi menuju kamar hendak bersiap-siap menemui Tristan. Satu persatu, ia harus menemukan bukti, jika rekaman CCTV club sudah ia kantongi maka tinggal satu bukti lagi yaitu CCTV hotel yang menjadi tempat kejadian itu.


Menggunakan motor sewaan, Banyu menyusuri jalan menuju tempat pertemuannya dengan Tristan bermodalkan google maps. Setelah tiba, Banyu melihat sosok Tristan. Tanpa banyak pikir, ia segera turun dari motor menghampiri Tristan.


“Thanks, kerja yang bagus,” Banyu memuji betapa cepatnya gerakan Tristan. Ia meraih sebuah flashdisk dari tangan Tristan.

__ADS_1


“Wait, saya pinjam laptop dulu ke dalam,” Tristan berjalan ke samping kostnya meminjam laptop pada salah seorang tetangga kostnya.


Banyu memikirkan jika ia di Bali mungkin tidak akan lama, bila semua berjalan lancar sesuai rencana dan Banyu akan selalu berusaha untuk itu. Banyu memberikan kembali flashdisk pada Tristan untuk membuka rekaman CCTV tersebut. Mata Banyu menyipit memerhatikan setiap gerak gerik yang ditunjukkan melalui rekaman tersebut. semua ditampilkan, mulai dari kedatangan Citra lalu disusul Andrew. Keduanya memang nampak berjauhan dan seakan tak saling kenal, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Citra nampak minum sambil berjoget bersama seorang pria sedangkan Andrew duduk dengan beberapa orang. Rekaman terus berputar hingga aksi di mana Citra melangkah menuju meja bar memesan minuman lagi, Andrew pun terlihat berjalan ke arah sana dan terjadilah interaksi keduanya bahkan mereka minum bersama. Menit terus berjalan, mata Banyu makin menyipit dikala Andrew merangkul bahu Citra yang terlihat sudah mabuk berat, rekaman itu terus berputar sampai ke pelataran parkiran dan mereka memasuki sebuah mobil.


“Jadi gimana?” tanya Tristan usai menonton rekaman tersebut.


“Good, tapi saya masih harus mencari bukti lain dan ah iya, pria yang berjoged dengan mbak Citra, saya harus mencarinya juga,” jawab Banyu mengingat sosok pria yang diceritakan oleh Citra mengaku sebagai ayah dari bayi dikandung wanita itu. Di sini sudah jelas, jika Andrew hanya mengambil potongan saja tidak secara keseluruhan dan membuat skenario lain seakan bukan dirinya lah pria yang berhubungan dengan Citra.


Tristan memerhatikan secara lekat wajah pria yang berjoged bersama Citra, “Ciko!”


“Kamu kenal?”


“Yah, dia Ciko, dulunya dia juga sama seperti saya. Di tanggal itu, bentar—” Tristan memutar kembali memori dalam otaknya berusaha mengingat apa yang terjadi pada hari itu. “Ciko, hari itu dia lagi off, benar dia datang ke club pada saat itu yang aku tahu, dia stress karena belum bayar kost dan sekolah adiknya, dia datang awalnya pengen pinjam uang cuma gak ada yang kasih dia pinjaman, itu yang aku tahu, mungkin saja—”


“Andrew memanfaatkan itu agar teman kamu mau melakukan apa yang Andrew mau,” lanjut Banyu menerka.


“Tapi, Ciko seakan hilang dan dia pun katanya sudah kembali ke kampung halamannya dan tidak ada satu pun yang tahu, kecuali bos sih, saya rasa bukti ini sudah cukup dan sudah jelas juga kalau bukan Ciko,”


Banyu merasa ada benar juga, ia akan menyampingkan masalah Ciko karena tujuan penting ada bukti rekaman hotel. Banyu menceritakan kembali apa yang akan ia cari berharap kali ini Tristan dapat membantunya lagi.


Apa yang ada di kepala Banyu nyatanya tak semudah di bayangkan. Tak mudah mendapatkan rekaman CCTV di hotel tersebut, bahkan mereka terlibat perdebatan alot dan berujung sia-sia, Banyu tetap tidak diperbolehkan serta di usir oleh pihak keamanan hotel. Melihat ke-frustasian Banyu, sosok Tristan yang sedari tadi hanya diam mengamati akhirnya bergerak untuk membantu. Ia menyuruh Banyu menunggu di depan gedung hotel, sementara Tristan melangkah memasuki hotel untuk kedua kalinya. Ada satu cara yang mungkin saja membantunya. Pihak keamanan yang melihat Tristan kembali masuk langsung menghadap menganggap jika Tristan akan berbuat ulah seperti Banyu.


“Tenang, saya tidak akan berbuat macam-macam, kalaupun iya anda bisa langsung menyeret saya keluar,” ujar Banyu dengan nada tegas.


Tristan pun diperbolehkan masuk, pria itu menuju meja resepsionis. Tristan menilai jika wanita menggunakan seragam berwarna cokelat muda itu bisa memberinya informasi sesuai apa yang diinginkannya. Dari arah luar, Banyu bisa melihat melalui kaca Tristan terlibat perbincangan dengan salah satu resepsionis hotel, entah apa yang mereka bicarakan.


...Assalamualaikum, apa kabar semuanya? aku gak tahu apakah masih ada yg menunggu kelanjutan cerita ini, tapi semoga masih ada. jujur aku sebenarnya gak yakin sama cerita ini buat lanjut apa gak why? karena gimana yah, aku ngerasa gak ada kemajuan apapun but once again aku akan coba buat semangat lagi nulisnya;) big Love ♥️...

__ADS_1


...RA...


__ADS_2