Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 61


__ADS_3


...(Source of pinterest)...


@BhanuKumaraG


Our little miracle! @ArianneEdithC ♥️👶 Assalamualaikum aunty uncle, it's me baby Chana Talea Giandra. Terima kasih atas doa baiknya, semoga doa balik pada kalian😊


Jangan lupa to say MasyaAllah yah!;) Foto tangannya dulu aja yah heheh.


@Banyudewa : Ponakan om nih!!! Otw jkt wait me baby girl!!! #MasyaAllahtabarakallah


@LinggaayuL : MasyaAllah♥️ Geng mbak Caca nambah satu lagi nih 😁🤭


@Rezaa01 : Welcome to the bapack-bapack club brader!!! MasyaAllah baby Chana jodohin sama anak gue yah? 😁🤭


@Anantyaani : Selamat dokter dan istri, semoga jadi anak yang berbakti pada orang tua dan keluarga, MasyaAllahtabarakallah 🙏😊


Lihat komentar lainnya.



...(Source of pinterest)...


@ArianneEdithC


MasyaAllah, terima kasih atas segala doa baik dari semuanya. Dedek Chana kesayangan mama, papa dan mbak Nai nih, jadi anak baik yah nak sehat selalu, mama, papa dan mbak Nai sayang dedek Chana♥️.


POV dedek Chana : hoamz, ngantuk nih dedek!


@BhanuKumaraG : MasyaAllah, sayang-sayangnya papa nih! ♥️


@Hannaaaaaaja : Dari samping aja udah kelihatan cakepnya nih mancung bet hidungnyaaaa! Ih cute overload!!!! MasyaAllah cantiknya aunty gak sabar pengen ketemu ♥️


@Banyudewa : Selamat adek udah jadi ibu aja nih! Sehat selalu kesayangan mas Banyu♥️ #MasyaAllahtabarakallah


@Ranggaadimas : MasyaAllahtabarakallah


@LinggaayuL : ♥️♥️♥️


Lihat komentar lainnya.


...****...


Seluruh keluarga antusias menanti Ane pulang dari rumah sakit bersama baby Chana tentunya. Bahkan rumah Bhanu sudah ada keluarga kecil Lingga, orang tua Bhanu dan kedua kakak Ane sedangkan Ratna sejak kemarin menemani Ane di rumah sakit dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka semua menyiapkan kejutan kecil, berbagai macam makanan juga tersedia, bi Popon turut andil dalam menyiapkan kejutan tersebut.

__ADS_1


“Bunda, Tante Ane udah datang,” teriak Satya melihat mobil Bhanu memasuki pekarangan rumah. Semua orang pun segera bersiap menyambut kedatangan Ane dan baby Chana.


Masing-masing orang memegang satu balon yang bertuliskan satu huruf di setiap balon dan ketika mereka berdiri berjejeran maka terbentuklah lah tulisan “Welcome Home Chana” tentu balon itu sudah dipesan dua hari sebelum hari H. Ane yang menggendong baby Chana terkejut sekaligus terharu mendapatkan sambutan meriah dari keluarganya. Begitu pula dengan Bhanu menggendong baby Nai sedang tertidur. Ratna ikut tersenyum senang lalu melangkah mendekati keluarga lainnya.


“Makasih semua, terharu deh,” Ane menyeka sudut matanya mulai berair saking terharunya.


Satu tangan Bhanu merangkul bebas pundak Ane membawa wanita itu memasuki rumah menghampiri semua keluarga. Baby Chana kini berpindah tangan ke sang nenek, bayi kecil itu menggeliat pelan kemudian perlahan membuka mata.


“Eh, cucu Nenek bangun, maaf yah sayang,” Sri mengecup pipi merah Chana.


“Kangen, pake banget pokoknya!” Ane memeluk erat Rangga karena mereka hampir sebulan tidak bertemu karena Rangga benar-benar sibuk mengurus cafe dan pria itu juga sempat berangkat ke Singapura lagi selama seminggu.


“Sama mas juga kangen, gak kerasa loh dek udah jadi ibu aja kamu, padahal dulu mas masih ingat loh kamu suka banget kalau mas gendong, sekarang mas gendongnya anak kamu deh,” Rangga sedikit flashback ke masa kecil ketika saat itu Ane masih kecil yang selalu nempel padanya.


Ane terkekeh melepaskan diri dari pelukan sang kakak tertua, “makanya mas nikah yah? Supaya Ane juga bisa gendong anak mas jadi kita gantian, mas gendong anak Ane terus Ane gendong anak mas, kan seru!”


Rangga memutar bola matanya malas lalu menjawil hidung sang adik, “kenapa malah dibelokin ke situ sih? Gak nyambung dek, kamu tuh yah!” sungutnya gemas.


Ane tertawa pelan namun tiba-tiba ia melebarkan mata tatkala satu kakaknya tidak mau kalah memeluknya erat.


“Eh, ini main nyosor aja nih!” semburnya pada Banyu.


“Gak boleh protes, mas udah lama gak peluk kamu loh, dulu aja apa-apa nangisnya selalu pengen dipeluk mas, sekarang mana ada boro-boro!” protes Banyu mendapat kekehan dari semua orang.


“Kan udah punya suami, jadi pasti peluknya suami lah! Makanya nikah supaya ada yang bisa dipeluk,” balas Ane santai.


“Yo, emang benar toh? Nasib mas jomblo Yo ngono raono seng meluk!” potong Ane.


Ratna geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya, ia pun berdiri di tengah-tengah Ane dan Banyu.


“Uwes, ra isin po didelok wong? Koyo cah cilik wae. Wes Nduk, samperin suami mu, kae wes bablas nang kamar,” Ratna menunjuk Bhanu melenggang pergi menuju kamar, tujuan Bhanu sendiri adalah ingin menidurkan baby Nai takut jika anaknya terbangun.


“Lucu yah mereka?” bisik Randu pada sang istri sedari tadi hanya menyaksikan tingkah laku adik dan kakak tersebut.


Lingga mengangguk setuju, ia jadi ingat masa-masa di mana dulu masih suka bertengkar atau sekedar adu mulut dengan sang adik, hampir sama dengan apa yang dilakukan Ane dan Banyu.


Saat Ane menyusul sang suami berbeda hal dengan yang lain sedang berkumpul di ruang tengah sembari berbincang dan menyicipi berbagai jenis kue serta minuman segar. Satya terlihat anteng di samping sang nenek, matanya tak pernah lepas dari bayi cantik di gendongan Sri. Sesekali tangan Satya mencolek pipi baby Chana untung saja bayi itu tak terganggu sedikit pun. Caca sendiri asik duduk di pangkuan sang bunda menyantap kue coklat hingga kedua pipi tembamnya belepotan.


Di kamar, Bhanu tengah membaringkan baby Nai tetapi anak sulungnya ternyata terbangun. Nai merengek kecil, Bhanu mengurungkan niatannya dan menepuk pelan bokong sang anak agar kembali tenang. Ane membuka kamar melihat pria yang dicintainya tengah menimang-nimang baby Nai.


Ane menyentuh pundak suaminya hingga pria itu berbalik arah. Ane tersenyum lembut, meraih tubuh mungil baby Nai namun seakan mengerti baby Nai menangis mengencangkan pegangan pada kerah baju Bhanu. Yah, sampai hari ini baby Nai masih sama, sudah banyak kali Ane mencoba menarik perhatian anak sulungnya tetapi tidak berhasil. Jangan ditanya apa yang dirasakan Ane, tentu saja sedih, bingung dan rindu memeluk serta menggendong baby Nai jadi satu.


“Na...u...pa...pa!” rengek baby Nai dalam pelukan Bhanu.


“Iya sayang tenang yah, ini papa nak!” Bhanu melirik sang istri menunduk sedih sambil meremas tangannya sendiri. Bhanu akan menenangkan baby Nai lebih dulu setelah itu giliran Ane—wanita itu tidak boleh sedih apalagi sampai stress karena akan mempengaruhi kondisi tubuhnya. Beberapa menit, Bhanu berhasil dan kini baby Nai mulai tenang.

__ADS_1


Bhanu melangkahkan kaki menuju ranjang menyusul sang istri lalu duduk tepat di samping wanita itu.


“Nai anak papa yang baik dan pintar, mama lagi sedih loh, katanya rindu sama Nai. Mama mau gendong terus peluk Nai, boleh yah sayang?” tutur lembut Bhanu berharap jika Nai mengerti maksud perkataannya.


Baby Nai nampak mengalihkan pandangan ke arah Ane yang menatapnya sendu, mata bulat bayi itu mengedar seakan mencari sesuatu ketika apa yang ia cari tidak ada, Nai kembali menatap polos wajah Ane.


“Mama rindu Nai, sini yuk sayang sama mama,” seru Ane penuh harap merentangkan tangan selebar-lebarnya.


Baby Nai sekali lagi mengedarkan pandangan ke sembarang arah kemudian merangkak naik ke pangkuan Ane.


“Ma...ma...” Ane tak sanggup menahan tangisan harunya, setelah penantian berhari-hari kini baby Nai tidak lagi menghindar. Ia mendekap erat Nai serta memberikan kecupan manis ke seluruh wajah cantik Nai.


“Sayangnya mama, Sholehahnya mama, cantiknya mama, rindu baby Nai,”


“Ma...ma...” Nai menepuk-nepuk dada Ane sambil terkekeh geli karena Ane terus mencium wajahnya.


Bhanu ikut senang karena Nai tidak lagi menghindar dari Ane.


“Nai sayang mama kan?”


Baby Nai terdiam sejenak menatap kedua bola mata Ane namun beberapa saat kemudian, bibir mungilnya bergerak mengeluarkan suara lucu dan menggemaskan.


“Sayang gak?”


“Yang!” pekik Nai menenggelamkan wajahnya di dada Ane.


“Oh, sayangnya mama! Sama mama juga sayang banget sama Nai, putri kecil mama, anak yang baik!”


Bhanu tak tahan menahan hasrat untuk mendekap kesayangannya, lengan kekarnya merangkul Ane sedang memangku Nai.


“Sayang-sayangnya papa nih!”


Kemesraan mereka terhenti seketika saat sosok Sri muncul di balik pintu membawa Chana tengah menangis lirih.


“Maaf ibu ganggu, Chana nangis nih kayaknya mau susu,” Sri melangkah mendekati anak dan cucunya berada.


Melihat kehadiran sosok bayi lain, Nai langsung merengek dan bergerak mendekati Bhanu.


“Pa...pa...!”


Bhanu meraih Nai—bayi kecil itu mulai merengek dan menunjuk pintu. Bhanu melirik istrinya dan memberikan kode jika tidak ada yang perlu wanita itu khawatirkan. Bhanu kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar membawa Nai turun.


Sri menyerahkan Chana pada Ane, “tidak usah dipikirkan, hal yang wajar. Mungkin Nai mulai merasakan saingan, makanya kamu dan Bhanu harus sering-sering mendekatkan Nai dan Chana, ikut sertakan Nai dalam setiap perkembangan Chana, agar dia tidak merasa diasingkan atau tersaingi. Kasih Nai pengertian secara pelan-pelan, kamu harus bisa buat Nai berpikir jika Chana bukan lah saingannya tapi adik atau bahkan temannya. Misalnya aja kalau Chana nangis kamu bisa tuh inisiatif ajak Nai buat tenangin Chana dan yang terpenting adalah jangan pernah membedakan keduanya, kasih sayang kalian harus sama! Nai dan Chana adalah anak kalian berdua terlepas dari kenyataan Nai bukan anak kandung kalian, mengerti kan maksud ibu? Ohiya kamu juga jangan terlalu memikirkan hal ini, jangan sampai kamu stress itu bisa mempengaruhi asi kamu,”


Ane menghela napas pelan menyerap semua nasihat dan masukan dari ibu mertuanya.

__ADS_1


...Assalamualaikum, i know maybe kalian udh bosen sama alurnya gini2 aja yah? so sorry thanks, buat readers setia vote+like+comment! ;)......


...Big Love ♥️...


__ADS_2