Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 15


__ADS_3

Long Distance Relationship?


“Astaga gue gak percaya dokter Bhanu bisa segercap itu,”


“Iya makanya itu, gue juga bingung mau merespon kayak gimana, emang menurut kamu si Mas Bhanu itu orangnya gimana sih?” Ane yang masih menggunakan mukena sembari baring di atas ranjang, asik bercengkrama bersama Qilla melalui telepon.


“Baik banget asli terus gak pelit, dia tuh kadang suka traktir makan dan gak tanggung-tanggung, perhatian juga kadang suka ingatin sholat, makan terus istirahat, cuma kadang nyebelin juga sih, soalnya tipekal perfeksionisnya itu yang kadang buat sebagian orang sebel, misalnya kalau minta data pasien hasil pemeriksaan dll, terus kalau datangnya telat aduh bakal ceramah sepanjang masa deh,”


“Aduh, bingung aku, menurut kamu aku harus gimana?”


“Aku gak mah cuma saranin, kalau emang kamunya nyaman sama dokter Bhanu yaudah gakpapa di coba aja, lagian kalian gak langsung nikah juga, kan? Jadi yaudah sih, jalani aja, karena setahu ku, dokter Bhanu bukan tipe cowok yang suka obral janji atau genit gitu sih ke cewek. Eh, aku gak bisa ngobrol lama-lama nih, aku harus balik ke rumah sakit lagi,”


“Ya udah, btw, makasih loh mau dengerin aku, yaudah aku tutup teleponnya yah, Assalamualaikum,”


Ane menaruh ponselnya, melamunkan yang ada dipikirannya saat ini. Kalau soal nyaman, Ane akui ia nyaman di dekat Bhanu dan apalagi ketika seharian bersama Bhanu kemarin ia mulai bisa menilai Bhanu seperti ini apa. Semua penilaian Qilla benar adanya. Suara notifikasi terdengar membuat Ane beralih pada ponselnya kembali.


Mas Bhanu


Assalamualaikum Ane, ikut ke Bandara, bisa? Ada sesuatu yang mau aku kasih ke kamu.


Ane membalas pesan itu dengan mempertanyakan apa yang hendak diberikan oleh Bhanu tetapi pria itu justru membuat Ane makin penasaran sekaligus kesal belum sempat mengiyakan jika dia akan ke bandara malah Bhanu menyuruh supir menjemputnya.


Mas Bhanu


Siap-siap aja supir udah otw rumah kamu, sekalian kamu ajak ibu kalau beliau tidak sibuk kasian kalau di rumah sendiri.


Ane mau tak mau segera bersiap tidak lupa memberi tahu Ratna untuk bersiap ke Bandara. Suara decitan mobil terdengar dan berhenti tepat di depan rumah. Ane mengintip di jendela dan benar saja sebuah mobil terparkir di depan rumah lalu sosok pria paruh baya berpakaian kaos berkerah turun dari mobil. Ane membuka pintu berjalan menuju halaman rumah hendak membuka pagar.


“Saya supir yang disuruh Mas Bhanu buat jemput Mbak,”


“Oh iya, bentar yah pak, saya panggil ibu saya sekalian ambil tas,” Ane berbalik memasuki rumahnya kembali. Langkah kakinya menuju ruang tengah mengambil tas sembari memanggil sang ibu. Ane juga tak lupa membawa totebag berisikan puding yang ia buat pagi tadi, ia melakukan itu atas saran sang ibu. Lagian tidak enak jika Ane tak membawa sesuatu untuk Bhanu.

__ADS_1


“Ibu, supir Mas Bhanu udah datang, nih!”


“Iya, ini ibu udah selesai,” Ratna keluar dari kamarnya telah rapih memakai atasan tunik hingga bawah lutut dan bawahan rok.


Keduanya berjalan bersamaan menuju mobil, sebuah senyum ramah mereka berikan pada supir Bhanu dan ketika hendak dibukakan pintu oleh supir, Ratna dan Ane kompak menolak sebab mereka bisa membukanya seorang diri. Di sepanjang perjalanan, Ane hanya sibuk melihat pemandangan dari jendela, suasana jalanan nampak lenggang. Waktu tempuh tidak terlalu lama dihabiskan menuju Bandara. Jantung Ane makin tak karuan seiring langkahnya kian mendekat ke Bhanu.


Sampai di Bandara, supir memarkirkan mobil secara sempurna, lalu Ane dan Ratna turun dari mobil.


“Mari saya antar Mas Bhanu beserta ibu dan bapak udah menunggu,”


Ane dan Ratna mengikuti langkah kaki supir Bhanu, Ane tak melepaskan genggaman tangannya di tangan sang ibu, tangannya berasa dingin sekarang. Ratna merasakan suhu tangan anaknya, tersenyum penuh arti melirik Ane tak lupa tepukan halus ia berikan pada tangan Ane hingga putrinya menoleh.


“Bismillah, belum lamaran jangan gugup gitu dong,” canda Ratna menggoda Ane.


“Ih, ibu,” rengek Ane kini memeluk lengan ibunya.


Arah semakin dekat, sosok Bhanu beserta kedua orang tua pria itu pun sudah terlihat. Hingga langkah Ane perlahan dan pasti sampai di depan Bhanu.


Ane menyapa lebih dulu orang tua Bhanu tak lupa mencium punggung tangan mereka, Ratna juga memberi salam pada calon besannya.


“Sama-sama, Bu!” balas Ratna dengan senyuman.


“Ini buat Mas,” Ane menyerahkan Totebag pada Bhanu.


“Kenapa repot-repot sih, sweet girl,” celetuk Sri tak lupa mengelus lembut lengan Ane yang berdiri di sampingnya lebih tepatnya di tengah-tengah dirinya dan Ratna.


Ane mengukir senyum, “gak repot kok, lagian Ane tadi pagi buat puding jadi sekalian bawain Mas Bhanu,” balasnya.


Mulut Bhanu mengucapkan terimakasih pada Ane. Tangannya merogoh bagpage yang tersampir di pundaknya, sebuah kotak persegi empat berwarna merah ia genggam. Ia melangkah ke hadapan Ane.


Ane memicingkan matanya melihat kotak beludru itu, ia sudah bisa menduga kotak itu pasti berisikan sebuah perhiasan. Bhanu membuka kotak itu tepat di hadapan Ane, sebuah cincin indah yang ditengahnya ada hiasan batu permata kecil.

__ADS_1


Telapak tangan Bhanu terbuka meminta tangan Ane, “aku izin pasang cincin ini di jari kamu,“ menunggu reaksi Ane yang masih diam.


“Nak Bhanu, ibu rasa ini berlebihan, lagian kalian masih masa pengenalan,” celetuk Ratna.


Sri menggelengkan kepala tanda tak setuju lalu membalas perkataan Ratna, “tidak sama sekali, justru bagus jadi lewat cincin itu ada komitmen di antara keduanya dan bukti keseriusan Bhanu pada Ane,”


“Maaf, Bu, kalau saya terkesan terburu-buru, hanya saja saya tidak ingin Ane direbut orang lain, saya pun memberikan cincin agar ketika seorang pria hendak mendekati Ane dan melihat cincin melingkar dijarinya pertanda jika Ane bukan gadis single lagi,” Bhanu ikut bersuara.


Namun seketika suasana yang tadinya canggung menjadi lebih cair karena Ane berkata yang membuat Orang tua keduanya tergelak.


“Loh, bukannya emang Ane masih single, Mas?” ujar Ane dengan polosnya.


“Calon mantu, kamu jangan buat anak saya jadi malu, tuh liat wajahnya udah merah gitu,” ledek ayah Bhanu.


“Iya, single tapi udah ada yang seriusin gitu, makanya Mas kasih kamu cincin jadi cowok lain gak deketin kamu,” kesal dan gemas melebur jadi satu.


“Tapi ini serius buat Ane?” Ane mengerjapkan matanya lucu yang makin buat Bhanu merasa gemas.


“Iya, buat siapa lagi. Yaudah sini tangannya, Mas pasangin, bentar lagi Mas harus naik ke pesawat,” pinta Bhanu.


Perlahan Ane menggerakkan tangan hingga tangannya kini terulur di depan Bhanu. Senyum terukir di wajah Bhanu sembari memasangkan cincin di jari manis Ane. Senyum itu pula ternyata menular ke orang tua keduanya.


“Bismillah semoga Allah SWT juga merestui hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan,” ayah Bhanu mendoakan putranya beserta Ane yang di aminkan oleh Ratna dan Sri.


“Terima kasih, Mas!” bibir Ane melengkung ke atas sembari mengucapkan terimakasih kepada Bhanu. Ia menatap cincin itu melingkar indah di jarinya. Hatinya seakan berbunga-bunga mendapatkan cincin dan perhatian dari Bhanu.


Bhanu melirik jam di tangannya, sudah saatnya ia pamit untuk check in dan naik ke pesawat. Bhanu menyalami punggung tangan ayah, ibu beserta ibu Ane dan ketika pandangannya berhenti di Ane.


“Mas pergi dulu, jaga diri baik-baik, InsyaAllah bulan depan Mas balik lagi ke sini,” Bhanu menyentuh kepala Ane yang tertutupi hijab, tak lupa mengelusnya sayang.


Ane mendapatkan perlakukan itu makin berbunga-bunga dan rasanya sangat nyaman. Anggukan pelan Ane berikan untuk Bhanu tak lupa membalas perkataan Bhanu.

__ADS_1


“Mas juga hati-hati, semoga sampai Jakarta dengan selamat, jangan lupa pudingnya dimasukin kulkas kalau mas belum ingin memakannya,”


“Iya, kalau gitu Mas pamit, Assalamualaikum,” ujar Bhanu pada semuanya lalu berbalik memasuki area dalam bandara.


__ADS_2