Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 66


__ADS_3

Kemeja oversize berwarna fanta dipadukan dengan celana jeans hitam dan sendal berwarna hitam sedikit hak memberikan kesan tinggi jika dipakai. Ane merapihkan jilbab segitiga membungkus rambut indahnya, ia memoles sedikit lip cream berwarna nude kemudian ditimpa dengan lip tint berwarna cherry tak lupa sedikit blush on di pipinya hingga memberikan kesan fresh dari wajah cantiknya.


Di ruang tengah, Ratna bermain bersama Nai sedangkan Chana setengah jam lalu sudah tidur habis diberikan ASI oleh Ane sebelum wanita itu bersiap-siap. Nai menyadari Ane di sekitarnya, terpekik senang, Nai bangkit dari karpet berjalan tertatih mendekati Ane.


Ane menangkap tubuh Nai ketika berada di depannya. Nai tergelak geli saat Ane mencium pipi tembamnya. Ane menurunkan Nai hendak memberikan anaknya pada Ratna mengingat sebentar lagi memasuki jam makan siang. Nai menolak ketika Ane ingin menurunkan tubuhnya, tangan mungilnya memeluk erat leher Ane enggan turun.


“Anak cantik sama Uti dulu yah, mama mau keluar sebentar nanti habis dari luar kita bermain bersama, oke anak baik,” bujuk Ane tetapi Nai bersikeras enggan turun.


Ratna berdiri dari duduknya mencoba mengambil alih Nai dari gendongan sang putri tetapi sama saja Nai memberontak keras dan sekarang pun bayi itu menangis kencang. Ane membuang napasnya berat, jika sudah seperti ini maka sulit untuk membujuk Nai terpaksa Ane membawa Nai ikut serta. Lebih dulu Ane mengganti popok dan baju Nai. Gerakan Ane begitu lincah dan gesit jadi tidak membutuhkan waktu lama, lebih lagi taksi online yang ia pesan sudah berada di depan rumah padahal awalnya ia ingin menggunakan ojek online tetapi berubah ketika Nai ikut bersamanya kasihan bila naik motor Nai akan kepanasan. Ane pun pamit pada Ratna serta menitipkan Chana untuk beberapa jam ke depan, ia juga berjanji akan secepat mungkin balik ke rumah, Ane sudah menyiapkan asi di lemari pendingin sebagai cadangan selama ia keluar.


Nai bertepung tangan senang saat berada di dalam mobil, sesekali bibir mungilnya berceloteh tak jelas sambil menunjuk ke arah luar jendela, mata bulatnya seakan terpana melihat mobil berlalu lalang, juga gedung-gedung tinggi, serta beberapa orang yang ia lihat. Nai bergerak lincah di pangkuan Ane sampai sang ibu sedikit ribet menyuruh Nai untuk tenang saking senangnya.


“Ma...tu..” Nai menunjuk sebuah mobil berwarna merah terang tepat di samping taksi yang dikendarai mengingat sedang terjebak di lampu merah.


“Iya, mobil merah, mbak Nai suka?”


“Bil...ka!” balas Nai lucu lagi dan lagi bertepuk tangan. Ane jadi gemas sendiri lalu memberikan kecupan di pipi tembam putri sulungnya.


Menit demi menit pun berlalu, taksi yang ditumpangi berhasil sampai dengan selamat di rumah sakit. Ane turun dari mobil setelah membayar taksi tak lupa ada Nai digendongannya nampak bingung melihat sekelilingnya. Satu tangan Ane merogoh tas mencari keberadaan ponselnya hendak menghubungi sang suami jika ia sudah sampai, Ane memilih menunggu di lobi saja. Usai menelfon dan memberitahu sang suami jika ia sudah tiba, tak lama Bhanu datang sambil mengukir senyumanan menyambut kedatangan istri dan anaknya.


Nai melambaikan tangan pada sang ayah, “papa...ni!”


Bhanu makin melebarkan senyuman, tangannya direntangkan lebar-lebar mengambil alih Nai tak lupa melayangkan kecupan sayang di pipi tembam Nai. Bhanu juga memberikan kecupan di kening istrinya dan satu tangannya menyusup merangkul pinggang wanita cantik itu. Tentu perlakuan Bhanu tidak lepas dari beberapa staff, suster, dokter dan beberapa orang yang berada di tempat tersebut, mereka tak sungkan memberi salam hangat pada Bhanu beserta Ane dan memuji kecantikan Ane serta kelucuan Nai.


“Kok, mbak Nai ikut sama mama? Kasihan dong adek Chana sendiri di rumah, gak ada teman main deh,”


“Iya nih, pa, mbak Nai nangis kalau gak ikut, tapi di rumah adek Chana sama Uti, jadi gak sendiri iya kan mbak?” timpal Ane, si kecil Nai memberikan respon seperti memahami ucapan Ane dengan anggukan kepala tak lupa sebuah celotehan lucu.


“Ti...dek...mah!”


Bhanu menjawil hidung Nai gemas, “ngomong apasih kamu ini, papa gak ngerti ah,”

__ADS_1


Nai refleks menepuk pipi Bhanu atas aksi pria itu menjawil hidungnya, “pa!” protesnya.


“Iya, maafin papa,”


Ane mengambil Nai karena Bhanu akan mengemudikan mobil, berbahaya jika Bhanu memangku Nai ketika mengemudi bisa saja anak mereka akan mengganggu nanti, untung saja Nai tidak protes dan anteng di pangkuan Ane walau sesekali berteriak nyaring menyebutkan kata-kata lucu yang tidak dipahami.


...****...


Di ruangan kecil yang terdapat di cafe, khusus tempat sang pemilik cafe memantau aktivitas pegawai serta para pengunjung datang melalui kamera CCTV, tempat itu juga menjadi ruang kerjanya. Pemilik cafe tersebut adalah Rangga—kakak tertua dari Ane. Rangga menyingkirkan laptopnya sejenak, kini ia beralih pada ponsel pintarnya hendak menelepon seseorang di negara lain. Sosok yang berapa bulan ini mengisi hati dan hidupnya.


“Assalamualaikum,”


“Walaikumsalam om papa! Kinan kangen kapan om papa ke sini lagi?”


“Yang kangen cuma Kinan aja nih? Mama Erina gak kangen sama om papa?” alis Rangga naik turun menggoda sosok wanita cantik di belakang tubuh mungil Kinan.


Terlihat di layar ponsel, Kinan menoleh ke arah belakang melihat sang ibu kini tersenyum kikuk.


“Iya, om papa, mama juga kangen katanya, setiap malam selalu senyum-senyum lihat foto kita bertiga, terus selalu bilang begini, terima kasih sudah hadir di hidupku dan Kinan—” Erina menutup mulut sang anak agar tidak melanjutkan ucapannya karena ia sudah kepalang malu. Bisa-bisanya Kinan tahu kebiasaannya tiap malam, padahal ia melakukan itu ketika Kinan sudah terlelap. Berarti selama ini Kinan diam-diam menguping dan tidak benar-benar tidur.


“Ah, tidak sayang, Kinan harus terus berkata jujur, tidak boleh berbohong. Om papa percaya kok, kalau Kinan itu jujur, kan Kinan anak baik. Mama Erina nih, jangan ajarin Kinan bohong dong,”


“Rangga!”


“Dalem? Jadi kapan aku mempertemukan kamu, Kinan dan Ibu? Lagian ibu pasti senang dapat menantu cantik dan juga cucu secantik kalian,”


“Please, Rangga! Jangan membahas itu lagi, bukan kah kita udah sepakat untuk bersabar sampai Kinan benar-benar sembuh? Tolong, mengerti, prioritas aku saat ini Kinan,”


“Hei, aku cuma bercanda, aku ingat dengan itu dan aku akan sabar menunggu kamu, fokus lah dengan kesehatan Kinan, karena Kinan penting buat kita, bukan? Permata hati kita,”


Di layar ponsel, Erina menampilkan senyuman serta anggukan kepala, ini lah yang ia harapkan dari Rangga, pengertian dan kesabaran dan semoga Rangga tidak akan pernah bosan akan hal itu. Perbincangan mereka terpaksa putus sebab ada satu karyawan cafe mengatakan jika sosok adik serta ipar Rangga sudah berada di cafe. Rangga keluar dari ruangan menemui Ane dan Bhanu lalu mengantar kan mereka ke sebuah tempat yang lebih private atas permintaan adik dan iparnya itu. Rangga sendiri sebenarnya tidak tahu menahu atas pertemuan Ane, Bhanu dan Citra, yang ia tahu hanya Ane dan Bhanu akan bertemu dengan seseorang serta membutuhkan tempat yang agak tertutup.

__ADS_1


“Eh, ada ponakan cantiknya om ikut juga,” Rangga mencolek pipi Nai membuat bayi cantik itu menyembunyikan wajahnya malu.


“Iya, mbak Nai gak mau ditinggal nih, jadi terpaksa dibawa,” seru Ane.


Rangga manggut-manggut saja, “oh, iya kalian emang mau ketemu sama siapa memangnya?”


Ane melirik suaminya sejenak, mendapatkan anggukan dari sang suami Ane pun menjawab, “itu salah satu temannya mas Bhanu dan kami ada sedikit urusan,”


Rangga membuka bibirnya seperti mengatakan ‘oh’. Pria itu tidak bertanya lebih jauh, ia mengajak Nai ikut dengannya, karena berpikir jika Ane dan Bhanu mempunyai urusan penting dengan membawa Nai dari sana mungkin memerlukan ruang yang lebih bebas. Nai mau saja ikut dengannya hingga ia pergi keluar ruangan tinggallah Bhanu dan Ane.


...****...


Citra turun dari taksi, matanya memerhatikan keadaan cafe dari luar, kakinya melangkah pelan memasuki cafe, di dorong pintu hingga terbuka, ia berhenti di tempatnya untuk beberapa saat. Kedua bola matanya bergerak liar mencari sosok yang hendak ia temui tetapi tak menemukan sosok itu lalu seorang waiters datang menghampiri.


“Selamat datang, atas nama mbak Citra?”


Citra memandang lekat wajah waiters tersebut, anggukan kepala sebagai tanda bahwa dia adalah orang yang dimaksud oleh waiters tersebut. Citra pun di gotong oleh waiters cafe menuju ruangan yang telah disediakan tentu di sana sudah ada Bhanu dan Ane. Citra mematung melihat ada sosok lain di sana, ia pikir jika hanya Bhanu saja, Citra tidak tahu siapa wanita itu tapi yang jelas dari kedekatan antara Bhanu dan sosok wanita itu sudah menggambarkan jika Bhanu bersama istrinya.


Citra tidak tahu maksud dan tujuan Bhanu mengajaknya bertemu siang ini apalagi membawa istrinya serta. Citra harus menghadapi ini, bagaimana pun ia sudah terlanjur datang ke cafe untuk mundur dan berbalik arah rasanya tidak mungkin.


“Kamu sudah datang rupanya, silahkan duduk!” Bhanu berdiri dari kursi menyuruh Citra duduk. Ane ikut berdiri menyambut Citra seramah mungkin, wajah cantiknya memasang senyuman agar Citra nyaman dan tidak merasa terintimidasi.


“Perkenalkan, ini istriku Ane dan ini Citra seperti yang papa ceritakan tempo hari ke mama,” Bhanu berbasa-basi sejenak mengusir kecanggungan yang mungkin saja dirasakan Citra ataupun Ane.


Mendengar panggilan mama—papa dari Bhanu, Citra tertegun sesaat, matanya menatap tak percaya sosok mantan kekasihnya, ia seakan tersadarkan akan suatu fakta yang menyakitkan. Hubungannya bersama Bhanu sudah berakhir, kini pria itu berhasil move on dan mendapatkan pengganti dirinya. Sulit diterima tapi itu lah yang terjadi. Lama Citra melamun, disadarkan oleh Ane dengan suara dehaman dan mengajak Citra berkenalan secara langsung.


“Hm, mbak. Saya Ane, istri mas Bhanu,” Ane mengulurkan tangannya di depan Citra.


Citra menatap uluran tangan itu dengan perasaan campur aduk tetapi ia menyampingkan semua perasaan itu lalu membalas uluran tangan Ane.


“Citra,” balasnya tanpa embel-embel sebagai mantan kekasih Bhanu.

__ADS_1


Terdengar suara dering ponsel dari dalam saku celana milik Bhanu—pria itu merogoh mengambil ponsel, di layar tertera nama kontak Rangga. Bhanu izin mengangkat telepon sejenak dan rupanya Rangga mengatakan jika Nai mulai rewel. Bhanu memberitahu Ane—wanita itu, meminta tolong pada suaminya agar menangani Nai dan menyodorkan botol susu milik Nai. Bhanu hanya menurut saja kemudian pamit menghampiri Rangga.


Di ruangan itu, kini diisi oleh dua wanita cantik yang satunya adalah masa lalu Bhanu dan satunya lagi pendamping hidup Bhanu sekarang hingga nanti. Keduanya saling diam seribu bahasa, saling menerka satu sama lain dan sibuk dengan pikiran yang ada di kepalanya masing-masing.


__ADS_2