
Di teras rumah, Ane duduk meminum teh hanget dan cookies cokelat. Pagi yang cerah, di halaman sang ibu asik menyiram tanaman. Saat memegang cangkir, mata Ane justru salah fokus dan memerhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya. Seketika sebuah senyum indah terukir di wajahnya, ia menaruh cangkir itu lalu mengelus cincin pemberian Bhanu. Semalam, Bhanu langsung memberinya kabar jika telah mendarat di Jakarta. Tapi pagi ini belum ada kabar dari Bhanu lagi.
Ane ingin chat Bhanu lebih dulu tapi ia malu, padahal sebenarnya dia juga penasaran apa yang dilakukan Bhanu saat ini. Apakah Bhanu kerja atau tidak, sudah sarapan atau belum, rasanya Ane ingin mempertanyakan itu pada Bhanu hanya saja rasa malunya lebih dominan.
Saking fokusnya memandangi cincin, Ane tidak menyadari jika ada sosok kakak laki-lakinya berdiri berkacak pinggang melihatnya sembari menggelengkan kepala.
“Aduh, tau yang udah punya calon, Mas kalah cepet nih,” Ane terlonjak kaget dan menoleh ke sumber suara yang tersenyum menggoda.
“Ih, Mas Banyu bikin kaget!” kesal Ane mencibir.
Banyu terkekeh geli dan merangkul pundak sang adik, “adek udah beneran dewasa, bentar lagi di lamar, Mas bakal sedih nih, apalagi kalau kamu ikut suami kamu nanti,”
Ane memegang lengan Banyu yang melingkar di pundaknya, “kan belum, Mas! Jadi sebelum Ane nikah Mas harus puas-puasin manjain Ane, soalnya nanti katanya Mas Bhanu gak suka kalau Ane manja selain bukan sama dia,” sadar tidaknya Ane dalam berucap, seakan dia telah setuju dan menerima Bhanu sebagai calon suaminya.
Ratna ikut bergabung dan berdiri di depan kedua anaknya namun matanya menyipit memandang Ane setelah gadis itu berucap.
“Berarti kamu terima Nak Bhanu, dek?” Ane mengerjakan matanya.
Banyu melepaskan lengannya dan berdiri di samping sang ibu memandang Ane, “emang kalau setelah nikah Mas gak boleh manjain kamu, gitu? Gimana pun kamu tetap adik Mas satu-satunya jadi gak masalah dong,” ujar Banyu sengit.
__ADS_1
“Jawab dulu pertanyaan ibu tadi, emang kamu udah terima Nak Bhanu?” tuntut Ratna masih ngotot meminta jawaban dari Ane yang kini terlihat bingung.
“Ibu sama Mas Banyu ngeselin, deh!” Ane bukannya menjawab justru berbalik menuju kamar sembari menghentakkan kakinya.
\*\*\*\*
Bhanu melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 7 pagi, pria itu segera menghabiskan sarapannya. Nasi goreng beserta telur mata sapi menjadi pilihan sarapannya pagi ini. Usai bersarapan, Bhanu bergegas menuju rumah sakit sebab ia akan segera melakukan kunjungan visit ke pasiennya.
Bhanu melajukan mobil menuju tempatnya bekerja, waktu yang dihabiskan pria itu hampir sejam lamanya karena jalanan begitu macet. Sepanjang koridor rumah sakit ada beberapa perawat dan juga dokter menyapa Bhanu yang dibalas ramah oleh pria itu. Setibanya di bangsal anak, Bhanu segera menuju ruangannya.
“Pagi, dok!” seorang perawat menyapa dokter tampan yang hampir setiap hari ditemuinya. Bhanu hanya mengangguk singkat dan tersenyum ke arah perawat itu. Kemudian Bhanu bersama perawat itu melakukan kunjungan visit ke pasien. Di ruang inap, sosok anak kecil terbaring di ranjang rumah sakit dengan lengan yang di infus.
“Dokter!” pekik bocah perempuan melihat Bhanu berada di ruangannya. Bocah itu merentangkan tangan yang di sambut hangat oleh Bhanu.
“Kangen dokter,” Bhanu mengelus lembut kepala Kinan dengan sayang. Kinan adalah salah satu pasiennya yang sedang berjuang melawan kanker.
“Bagaimana kabar kamu? Apakah ada yang sakit?”
Kinan menggelengkan kepalanya pelan dan berkata, “rambut Kinan makin rontok, dok! Kinan takut gak punya rambut lagi,” mata Kinan mulai berkaca-kaca. Hingga sosok wanita cantik baru saja keluar dari toilet dengan wajah yang segar.
__ADS_1
“Eh, dokter, maaf saya habis bersih-bersih,” Bhanu hanya tersenyum maklum dan kembali fokus pada Kinan yang kini tertunduk sedih.
“Kinan tetap cantik kok dan akan selalu cantik,” tangan Bhanu mengusap air mata di pipi bocah perempuan itu.
“Mama,” rengek Kinan memanggil sang ibu. Tangan kecil Kinan merangkul pundak sang ibu sedangkan satu tangan lainnya merangkul tangan Bhanu.
“Kinan senang, setidaknya seperti ini Kinan merasa mempunyai orang tua lengkap ada papa dan Mama,” ketika Kinan mengucapkan papa ia menoleh ke Bhanu yang memasang ekspresi wajah kaget namun setelahnya senyum tercipta di wajah tampan pria itu.
Erina selaku ibu Kinan, sosok ibu tunggal yang selama ini merawat dan membesarkan anaknya seorang diri sejak umur sang anak menginjak satu tahun, yang di mana suaminya mengalami sebuah insiden yang membuat Erina terpaksa menjadi orang tua tunggal bagi putrinya.
Bhanu melanjutkan pemeriksaan pada Kinan dan perawat yang tadi menemaninya pun setia mencatat kondisi kesehatan Kinan. Namun atensi perawat itu lebih ke sosok Erina yang begitu terlihat jika menyukai Bhanu karena Erina tak pernah lepas memandangi wajah Bhanu bahkan sesekali tersenyum.
Usai memeriksa Kinan, Bhanu pamit dan melanjutkan perjalanan menuju ruang pasiennya yang lain.
“Sepertinya Ibu Erina suka sama dokter,” celetuk Tya.
Bhanu melirik gadis di sampingnya dengan tatapan malas. Sebenarnya tanpa Tya memberitahu ia pun sudah bisa menduga selama di ruangan tadi pun Bhanu berusaha untuk tidak bersitatap dengan Erina bukan tanpa sebab ia hanya risih saja dan tidak ingin memberi ruang bagi Erina makin suka padanya.
Satu persatu telah usai, Bhanu kembali ke ruangan dan ia melirik ponselnya tak ada notifikasi apa pun. Ia mendesah kecewa karena Ane tidak mengirimkannya pesan. Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang ia duduki saat ini. Bhanu memejamkan matanya membayangkan wajah cantik Ane yang terus berputar di kepalanya, hingga Bhanu tak kuat lagi, ia meraih ponsel dan menghubungi Ane.
__ADS_1