Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 27


__ADS_3

“Ibu! Kangen!”


Ane memeluk tubuh berisi sang ibu ketika telah menginjakkan kakinya di rumah yang menjadi tempat perlindungannya sedari kecil bersama keluarga tercinta. Ratna tersenyum lebar menyambut hangat kepulangan kedua anaknya. Ane memeluk erat ibunya seakan tak ingin dilepas, Rangga menggeleng atas sifat Ane sering kali masih manja pada sang ibu. Pria itu membawa barang miliknya dan Ane tak lupa oleh-oleh titipan dari Lingga untuk Ratna dan juga Sri.


Lingga baru mengingat jika ia menyiapkan sebuah oleh-oleh untuk ibunya dan juga ibu Ane sebagai tanpa pengenalan darinya apalagi selama Ane di Jakarta gadis itu sangat membantunya dalam menjaga Satya dan Caca. Sehabis pulang dari puncak, Lingga dan Randu sebenarnya menyempatkan waktu ke butik milik kerabat Randu, sepasang suami-istri itu membeli dua gamis cantik untuk diberikan kepada Sri dan Ratna. Lingga sangat lupa memberikannya pada Ane ketika di rumah Bhanu, tengah malam Lingga memberitahu sang adik jika ia menyiapkan oleh-oleh, mau tak mau habis subuh Bhanu membawa oleh-oleh tersebut ke hotel sebelum Ane On The Way, momen itu juga menjadi kesempatan Bhanu melihat wajah cantik pujaan hatinya sebelum mereka menjalani hubungan jarak jauh lagi.


“Eh, adek Mas paling cantik udah datang toh, sini peluk dulu!” Banyu muncul dari arah dapur habis makan malam. Banyu merentangkan tangannya, Ane tersenyum lebar berpindah ke pelukan kakak keduanya. “Aduh, kangennya,” lanjut Banyu menggoyangkan tubuh mungil Ane dalam pelukan.


Ane tertawa senang, ia juga merindukan Banyu, seminggu berada di Jakarta tentu rasa rindu pada ibu serta kakaknya hadir memenuhi relung hati Ane.


“Gimana kalau kamu beneran udah nikah yah, dek! Mas kayaknya kangen terus deh,” celetuk Banyu membayangkan suatu saat Ane menikah dan ikut ke rumah suami tentu momen kebersamaan dengan sang adik akan selalu dirindukan, apalagi jika memang takdir Ane menikah dengan Bhanu mau tak mau Ane akan berpindah mukim di Jakarta.


Ratna menimpali perkataan Banyu, “emang adek udah mau nikah?” Ratna memberi godaan pada Ane—sudah terlihat salah tingkah sendiri, bagaimana tidak otak kecil gadis itu tanpa diminta ikut membayangkan suasana ketika ia menikah nanti.


“InsyaAllah Bu, otw halal nih bos!” Ane membalas perkataan ibunya dengan jawaban sedikit menyeleneh.


Ratna, Rangga dan Banyu kompak membulatkan matanya mendengar jawaban Ane, ketiganya segera menyuruh Ane duduk membahas serius ucapan Ane, apalagi Ratna berpikir jika sudah saatnya Ane membahas masalah lamaran Bhanu.


“Dek, duduk dulu, kita obrolin baik-baik,” Banyu meraih pundak sang adik menuntun Ane duduk.


“Eh, ngapain? Kok kayak Ane mau diintrogasi sih?” sungut Ane melihat ekspresi wajah ibu beserta kedua kakaknya.


“Iya memang seperti itu, apalagi kamu kan selama di Jakarta bareng Mas Bhanu terus, kamu juga gak cerita apa-apa sama Mas selama kamu sama Mas Bhanu,” kini Rangga yang bersuara, rasa penasaran terhadap hubungan adiknya dan Bhanu muncul begitu saja, padahal ia sangat jarang kepo pada hubungan adik-adiknya.


Ane melipat tangannya berpangku di pahanya, satu-satu dilirik olehnya, mulai dari Ratna hingga kedua kakaknya.


“Jadi di sana kamu pacaran dek? Dih, padahal kan awalnya buat teman mas Rangga di Jakarta,” cibir Banyu.


Ane menggaruk keningnya bingung, mana ia tahu bahwa di Jakarta lebih banyak menghabiskan waktu bersama Bhanu daripada Rangga.


“Kok pacaran sih? Kan Ane sama Mas Bhanu gak pacaran,” Ane mengelak.


“Iya tapi kencan berdua, sama aja!” balas Banyu.


Ane menggerakkan tangannya ke kanan dan kiri tak menerima jika ia dituduh berduaan sama Bhanu terus-menerus, “gak berdua tapi berempat!”


“Berempat? Siapa aja?” tanya Ratna bingung.


“Ane, Mas Bhanu sama dua anak—”

__ADS_1


“Anak? Kalian punya anak? Eh maksudnya Bhanu?” tak sabaran Banyu mencecar sang adik padahal yang dikatakannya tidaklah benar.


Rangga menepuk pundak Banyu, “mbok yo meneng sek toh, dengerin Ane dulu, grasak-grusuk koyok bebek!” tegurnya, Banyu pun mendadak diam.


“Mas Banyu suka ngawur kalau ngomong! Dua anak kecil maksudnya tuh keponakan Mas Bhanu anaknya Mbak Lingga, di sana kalau Ane ketemuan pasti ada Satya sama Caca kok, yah kalau berdua pas nemenin mas Bhanu belanja dapur gak lebih,” jelas Ane yang diangguki oleh orang-orang di sana.


“Tuh, dengar jangan suudzon dulu,” Ratna melirik Banyu.


“Kok jadi aku yang kena sih!” kesal Banyu.


“Jadi Mas Bhanu punya kakak?” Ane mengangguk atas pertanyaan Ratna kemudian Ane mulai bercerita apa saja yang dilakukan selama bersama Bhanu tak lupa menceritakan sosok Lingga beserta anak-anaknya.


Ratna selaku orang tua Ane, merasa lega sebab Ane selama di Jakarta tidak melakukan hal-hal aneh bersama Bhanu bukannya mau berpikir buruk hanya saja kekhawatiran tentu pasti ada mengingat Ane dan Bhanu belum menikah.


“Jadi gimana sama kamu, dek! Kalau kamu emang udah yakin kasih Mas Bhanu kepastian, menunggu itu tidak enak loh, niat kalian buat ibadah, percaya sama ketentuan Allah SWT, InsyaAllah kedepannya pun akan baik,” Rangga memberi nasihat, karena menurutnya juga tidak baik berlama-lama dihubungan yang tak jelas. Sejauh ini Bhanu selalu bersikap baik dan menghormati Ane sebagai wanita, itu menjadi pandangan Rangga selama ini.


“Iya, kami gak papa kok dilangkahi, kalau emang kamu udah mantap, gak masalah siapa tau habis kamu nikah mas-mas kamu ini bakal terbuka jodohnya,” Banyu tertawa kecil.


“Ya udah, kalian jangan rengek rindu yah sama Ane kalau udah nikah,” ujar Ane secara langsung mengatakan jika ia sudah mantap menerima Bhanu sebagai suaminya dan pendamping hidupnya. Ane bangkit dari sofa mendekati sang ibu lalu memeluk Ratna. “Doa'in Ane yah Bu, semoga ini pilihan yang tepat buat Ane,” bisiknya.


“Tentu sayang, ibu selalu mendoakan anak-anak ibu bahagia dunia dan akhirat,” balas Ratna.


Rangga dan Banyu akan menyiapkan mental mereka melepas sang adik dipinang oleh Bhanu serta menerima Bhanu menjadi bagian dari keluarganya kelak.


Pagi menjelang, suara ayam berkokok terdengar jelas serta kicauan burung saling bersahutan. Ane sedang menyapu teras rumahnya usai membantu sang ibu di dapur. Semua daun kering yang berguguran di sapu olehnya, ia berhenti sejenak memerhatikan pohon mangga di rumahnya.


“Kok belum ada tanda-tanda berbuah?” gumam Ane, pohon mangga di rumahnya belum menampakkan akan berbuah. Padahal Ane sudah tidak sabar memetik buah mangga, membanyangkan betapa manis dan lezatnya mangga madu miliknya seketika Ane sangat ingin makan mangga saat ini.


Lamunan Ane terhenti ketika suara sang ibu terdengar.


“Dek, sarapan!”


Ane kemudian melanjutkan sesi menyapunya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam tak lupa mencuci tangan lebih dulu sebelum menyentuh makanan. Sudah dua hari sejak ia balik dari Jakarta dan Ane habiskan untuk berpikir secara matang mengenai hubungannya. Hatinya tak ada lagi keraguan hingga siang nanti rencananya Ane akan mengirimkan balasan lamaran yang Bhanu buat kemarin. Ia pun tak ingin kalah dari Bhanu, ia membuat balasan dengan sangat unik dan tak tanggung-tanggung bahkan beberapa persyaratan umum pengurusan dokumen pernikahan pun ia kirim. Hatinya sudah yakin dan mantap, percaya jika inilah keputusan tepat serta jalan yang diberikan Allah SWT padanya.


“Bu, nanti siang Ane mau keluar yah, terus ibunya Mas Bhanu ngajak ketemuan, ibu mau ikut gak?” ujar Ane habis meminum air mineral.


Ratna sedang mengambilkan nasi goreng untuk Rangga dan Banyu pun menoleh ke arah putrinya lalu berucap, “kayaknya ibu gak bisa soalnya mau bantu-bantu masak acara sunatan anaknya Bu Asri,”


“Ya udah deh, makasih ibu,” Ane meraih piring berisikan nasi goreng dari tangan ibunya.

__ADS_1


“Ibu titip salam saja buat bu Sri,” Ane mengacungkan jempol atas ucapan Ratna.


Sesi sarapan, suasana hening sebab semua asik melahap nasi gorengnya masing-masing. Beberapa menit kemudian, nasi goreng di piring Rangga dan Banyu sudah habis, kedua pria itu pamit untuk bersiap-siap ke cafe. Tak lama Ratna pun ikut pamit untuk bersih-bersih hendak ke rumah tetangganya. Ane masih menikmati nasi goreng buatan ibunya, ia membuka ponsel miliknya mengecek room chat WhatsApp. Bibirnya tertarik membentuk senyuman tatkala Bhanu mengirimkan sebuah chat padanya.


Mas Bhanu


Assalamualaikum, selamat pagi calon istrinya Mas 😊♥️


^^^Me^^^


^^^Walaikumsalam, Mas udah sarapan?” ^^^


Mas Bhanu


Mas habis bikin sandwich soalnya Bi Popon lagi izin gak enak badan yaudah mas sarapan nyiapin sendiri.


^^^Me ^^^


^^^Kasihan Bi Popon, Mas sabar yah nanti kalau udah nikah aku yang siapin sarapan 😁^^^


Entah keberanian dari mana Ane dapatkan hingga ia membalas pesan Bhanu seperti itu. Sungguh hal yang menggelikan sebetulnya bagi Ane sebelum mengenal Bhanu. Ane salah tingkah sendiri dan mencibir dirinya melakukan hal segila itu.


Mas Bhanu


Amiin Allahumma Amiin, jadi mas udah diterima nih? Jadi kapan Mas bisa ke rumah kamu, bawa ibu sama ayah? 🤔


^^^Me ^^^


^^^Haha besok deh kalau gak hujan 🤣^^^


Mas Bhanu


Biar pun kalau mendung nih, Mas bakal nazar biar gak hujan


^^^Me ^^^


^^^Hahaa apasih, udah deh mending sarapan ntar keburu telat. Ane juga mau siap2 ketemu camer! Bye Mas! ♥️^^^


Ane bertingkah seperti anak remaja lagi kasmaran, kalau anak jaman sekarang bilangnya Budak Cinta, yah Ane sedang mode bucin-bucinnya. Bhanu terlonjak senang walau hanya emotikon love tapi pria itu sangat senang bukan tanpa sebab Ane baru kali ini menyelipkan emot love dalam chatnya, pagi ini rasanya sangat indah bagi Bhanu, secercah harapan indah didapatkannya.

__ADS_1


...Assalamualaikum, gimana nih? udah jelas belum hilalnya? 🤣 cie Bhanu & Ane otw halal nih, ditunggu kelanjutannya yah, jangan lupa vote+like+commentnya yah terima kasih....


...Big Love ♥️...


__ADS_2