Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 68


__ADS_3

“Saya akan membantu mbak!”


Citra mengangkat pandangan menatap ke arah Ane yang memasang tampang serius. Citra menajamkan pendengarannya sekali lagi memastikan jika ia tidak salah dengar.


“A—pa?” gagunya tak percaya.


Ane mengangguk, “iya, saya akan membantu mbak!” ulangnya.


Citra melebarkan mata, ia menegakkan tubuhnya lalu kembali berkata, “maksud kamu apa? Kamu mengizinkan Bhanu menikahi saya? Itu maksud kamu?”


Senyum kecil terbit di bibir Ane, “rupanya mbak lupa dengan saya katakan sebelumnya, baiklah saya ingatkan sekali lagi, saya tidak suka berbagi dan membagi cinta suami saya mbak. Ya, saya akan membantu mbak, tapi dengan cara lain, keadilan dan pengakuan dari pria itu, saya akan berusaha, tapi saya butuh kerjasamanya, saya tidak bisa berjalan sendiri apalagi saya tidak mengenal pria itu, mbak bersedia?”


Citra terkekeh pelan, ia tidak percaya dan lebih meremehkan sikap percaya diri Ane, “kamu juga lupa ternyata, baiklah saya ingatkan kembali, Andrew bukan orang biasa yang gampang dikalahkan, saya sudah mencoba segala cara tapi sia-sia, bahkan dia balik mengancam, lalu dengan cara apa yang kamu lakukan? Sudahi semua, kalau memang kamu tidak bersedia membantu saya sesuai dengan keinginan saya tidak masalah—”


“Jika dia bisa menggunakan cara licik maka kita harus cerdik mbak! Jika dia bisa menemukan rekaman CCTV itu dengan mudah, kenapa kita tidak bisa?”


“Beda! Dia punya kekuasaan bisa menyuap siapa saja dengan uang! Saya yakin dia sudah menutup mulut pemilik club dan membayar pria suruhan dia yang mengaku-ngaku sebagai ayah anak saya dengan uang yang banyak. Andrew bukan hanya kepala dokter rumah sakit tapi anak pemilik rumah sakit itu!”


“Mbak, kalau sejak awal mbak sudah pesimis seperti ini, saya malah gak yakin jika mbak sebenarnya tidak membutuhkan apa yang mbak mau, atau jangan-jangan memang mbak hanya menginginkan pengakuan dari suami saya?”


“Kamu—”


Ane meraih tangan Citra yang mengambang di udara, Ane berusaha untuk tetap tenang, sungguh Ane berubah menjadi pribadi lain. Apakah ini adalah sisi lain dari seorang istri yang merasa terancam atas usikkan dari wanita lain?


“Niat saya baik loh mbak! Tolong kerjasamanya, anak mbak butuh pengakuan kan? Maka dari itu tolong, jangan bersikeras seperti ini. Saya bantu mbak dan mbak juga bantu saya,”


Citra memilih bungkam memikirkan perkataan Ane serta nasib anaknya, perkataan Ane ada benarnya, menggantung harapan pada Bhanu rasanya tidak mungkin lagi ia sudah mendapatkan ultimatum dari Ane dan Bhanu. Rasa kesal, marah dan kecewa masih menggerogoti Citra pada Andrew, jadi tidak ada salahnya menerima bantuan yang ditawarkan Ane padanya.


”Oke, saya harap kamu benar-benar bisa membantu saya!”


Senyum mengembang di bibir Ane, “yah, jika mbak yakin maka jalan akan lebih mudah!”


Tiba-tiba saja perut Citra terasa mengencang dan rasa sakit menghantamnya. Citra refleks meremas perutnya menahan rasa sakit, panik menguasai Ane berdiri dari kursi mendekati Citra sedang mengerang kesakitan.


“Tolong, ini sakit sekali!” lirih Citra.

__ADS_1


Ane memanggil suami serta sang kakak untuk membantunya membawa Citra ke rumah sakit.


“Biar mas yang gendong, kamu dan mas Bhanu langsung ke parkiran saja, tolong buka pintu mobil milik mas, biar mbak ini ikut mobil mas saja,” ujar Rangga pada sang adik.


Ane mengajak Bhanu menuju parkiran sesuai instruksi Rangga.


“Maaf saya izin menggendong mbak,” izin Rangga menyelipkan satu tangannya di pinggang Citra dan satunya lagi di bagian belakang lutut wanita itu.


Ditengah kesakitan yang dirasakan, Citra tertegun saat suara berat Rangga meminta izin padanya, sopan dan tampan itu lah yang mencerminkan sosok Rangga pada Citra. Padahal tanpa izin pun Citra tidak akan protes karena memang membutuhkan bantuan, sebuah perasaan aneh merebak menerobos masuk ke dalam hatinya. Rasa sakit yang ia rasakan seakan tak terasa sesakit sebelumnya.


...****...


“Sayang, kita pulang aja yuk, Citra aman kok di sini nanti papa titipin di suster atau dokter, kasihan Chana, Nai juga udah tidur nih kasihan,” Bhanu duduk di samping sang istri mengajak wanita itu pulang ke rumah. Sejam lagi, jam pergantian shift, Bhanu akan pulang lebih awal ia pun sudah mengecek pekerjaannya dan semuanya aman.


Rangga menyetujui perkataan Bhanu, ia pun mengajukan diri menunggu Citra sampai selesai di periksa. Dengan bujukan dari suami dan kakaknya, Ane pun setuju dan menitipkan Citra pada Rangga. Nanti Ane akan menghubungi Citra langsung mengenai itikad baiknya membantu Citra.


Baru saja Ane dan Bhanu melangkah menjauh dari ruangan, dokter keluar.


“Bagaimana keadaan pasien dok?”


Kaki jenjang Rangga melangkah mendekati brankar di mana Citra berbaring di sana. Menyadari ada suara langkah kaki, sontak mata Citra terbuka dan pandangannya mengarah ke sosok Rangga.


“Maaf saya merepotkan anda dan terima kasih telah menolong saya,”


“Yah, sama-sama. Tidak usah se-formal itu, terdengar sangat kaku kamu memanggil anda,” balas Rangga tersenyum kecil. Rupanya senyum itu tertular pada Citra. “Adik saya dan suaminya izin pamit lebih dulu, maaf karena tidak menunggu kamu selesai diperiksa, soalnya keponakan saya di rumah masih bayi jadi takutnya rewel,” lanjutnya.


“Ka—mu, kakak dari istrinya Bhanu?”


“Iya, gak percaya?”


“Gak, bukan itu, tapi saya pernah melihat ada pria lain yang sepertinya juga kakak wa—maaf maksudnya Ane,”


Mata Rangga menyipit, “Banyu? Oh, itu adik saya juga, Ane adik bungsu saya,”


“Oh, gitu.”

__ADS_1


“Apa yang kamu rasakan sekarang, perut kamu?” Raut khawatir tercetak jelas dari wajah tampan Rangga, Citra bisa melihatnya dan hatinya pun bertanya-tanya mengapa pria itu bisa se-khawatir itu padanya dan peduli, bukan kah pria itu bisa pergi begitu saja tanpa harus menunggunya? Citra mulai terusik akan perasaan aneh menghinggapi.


“Hm, it's okay. Udah baik-baik aja kok,”


Rasa penasaran di kepala Rangga tak bisa ditahan, “maaf jika saya lancang atau kurang sopan bertanya seperti ini, kamu ada hubungan apa sama adik dan ipar saya?”


“Jadi mereka belum cerita, gimana yah, yang pada intinya adalah, saya mantan Bhanu, hamil dan meminta pertanggungjawaban—” Citra menjeda ucapannya melihat perubahan ekspresi wajah dari Rangga ia menyadari jika kalimatnya mengundang pikiran negatif, “tenang, bukan anak Bhanu kok, tapi pria lain. Kami one night stand, mabuk berakhir di ranjang dan yah sekarang saya hamil,”


“Lalu apa hubungannya dengan mas Bhanu?”


Sorot mata Citra seketika menjadi sendu, apalagi kembali mengingatkannya atas kejadian pahit itu tapi kondisi sekarang memang ia tidak bisa lepas akan hal itu, mungkin ia akan dituntut terus mengingat kejadian itu sampai apa yang dia inginkan tercapai.


“Dia tidak mau bertanggung jawab, makanya saya mencoba meminta tolong pada Bhanu untuk menikahi saya minimal sampai saya lahiran, setelah itu mau diceraikan juga tidak masalah yang terpenting anak saya mendapat status yang jelas, saya takut jika besar nanti diejek oleh teman-temannya, hanya itu,”


“Lalu di mana pria itu?” tingkat penasaran Rangga menjadi-jadi.


“Bali, saya tinggal di sana dan bekerja. Saya memutuskan pindah ke Bali setelah putus dari Bhanu karena alasan klasik pengen move on, terlalu banyak kenangan di Jakarta, jadi lebih baik saya pergi dari kota ini dan berharap di Bali saya bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang masa pacaran. Tapi ternyata di sana apa yang saya mau tidak terjadi malah sebaliknya, saya sering menghabiskan waktu di club hanya sekedar minum menghilangkan stress hingga kejadian itu terjadi, pria itu kepala dokter di rumah sakit tempat saya bekerja sekaligus anak pemilik rumah sakit. Atas kekuasaan yang dipunya saya tidak bisa apa-apa dan dipaksa bungkam dan menyerah walau saya sudah berusaha semaksimal mungkin, yang ada justru saya dipojokkan dan direndahkan atas berita bohong yang pria itu buat, sampai saya dipecat. Sungguh ironis bukan?”


Napas panjang terdengar, Rangga merasakan sesak ada rasa empati pada Citra, mendengar cerita wanita itu cukup memantik kobaran api di dalam dirinya terhadap sosok pria brengsek yang dimaksud wanita itu. Bagaimana bisa ada seorang pria bisa bertindak keji seperti itu.


Citra menarik senyum simpulnya, matanya menangkap Rangga terdiam seribu bahasa, ada suatu perasaan aneh mendorong Citra menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya. Entah suasana sedang mendukung ataukah hanya perasaan membutuhkan tempat cerita saja, Citra pun tidak mengerti namun cerita keluar dari mulutnya mengalir begitu saja.


“Dari kecil saya sudah terbiasa dengan rasa sakit, kecewa dan dipaksa untuk berdamai dengan diri sendiri menerima semua apa yang terjadi. Orang tua saya cerai saat saya umur sebelas tahun itu pun karena saya yang meminta, saya muak melihat mereka setiap hari bertengkar, mereka bertahan hanya demi saya tapi itu semua tidak menjamin kebahagiaan saya bahkan sebaliknya. Mereka beralasan jika cinta di antara mereka sudah hilang, secara terang-terangan pun mereka memiliki kekasih dan semua itu mereka sembunyikan dari saya namun tidak bertahan lama karena kekasih ayah saya hamil, semuanya pun terbongkar apa yang mereka tutupi dengan rapat saya pun tahu. Usai bercerai, mereka tanpa memperdulikan perasaan saya memilih untuk menikah dengan kekasih mereka masing-masing dan tidak ada yang peduli dengan saya, mereka pun kompak menolak mengasuh saya akhirnya saya hidup dan dibesarkan oleh nenek dan kakek saya orang tua bunda. Ayah memilih kembali ke kampung halamannya membuka bisnis baru dengan keluarga barunya sedangkan bunda sekarang berada di Malaysia, suaminya bekerja di sana. Setiap hari, saya selalu bertanya apakah ini adil bagi saya sementara pada anak-anak lain mereka bisa hidup bahagia dengan keluarga mereka, cinta dan kasih sayang dari orang tua seakan ilusi semata bagi saya. Dari kisah mereka saya menjadi ragu atau saya takut akan pernikahan, menjalin hubungan dengan Bhanu lantas tidak membuat saya merasa yakin walau Bhanu sudah berusaha meyakinkan bahwa pernikahan tidak seburuk yang saya pikir, tapi saya menyerah dan memilih tunduk dengan rasa takut itu,”


“Terkadang memang kita harus melawan rasa takut itu, jika tidak maka selamanya akan terjebak dalam rasa takut, padahal apa yang kita takutkan belum tentu seburuk apa yang dipikirkan jika dijalani, setiap orang memiliki garis takdir yang berbeda-beda,”


Manik mata keduanya saling tatap penuh makna, tanpa sadar Citra mendekatkan tangannya lalu menyentuh tangan kekar milik Rangga.


“Terima kasih, sudah mau mendengarkan cerita saya walaupun saya yakin itu tidak penting bagi mu,”


Rangga termangu menyaksikan bagaimana tangan halus milik Citra membungkus tangannya, namun begitu dengan pelan Rangga menjauhkan tangannya dari Citra tentu hal itu membuat Citra malu, padahal ia tidak bermaksud apa-apa.


“Sama-sama. Kalau begitu saya coba panggil dokter apakah kamu bisa pulang atau tidak, kalau dokter mengizinkan kamu pulang saya akan mengantar kamu, saya permisi dulu,”


Citra dibuat tak percaya, mengapa Rangga begitu baik dan peduli, mereka hanya orang asing yang kebetulan dipertemukan, Citra menepis pikiran aneh menyusup ke relung hatinya.

__ADS_1


__ADS_2