
Di sore hari, tepatnya pukul 5 Bhanu baru saja tiba karena ia memiliki sedikit urusan maka dari itu ia baru pulang sekarang. Tepat ketika kaki jenjangnya menginjak lantai ruang depan Ane datang lebih tepatnya berlari dan memeluk tubuhnya bahkan wanita itu loncat refleks cepat dilakukan Bhanu menangkap tubuh sang istri kini justru melingkarkan kaki di pinggangnya.
“Rindu banget, astaga Ane tadi hubungi hp mas tapi gak aktif,”
Bhanu diam seperti biasa, ia melangkah memasuki rumah dengan langkah pelan karena kedua tangannya menopang tubuh sang istri. Ane berdecak sebal dan mengigit pundak Bhanu hingga terdengar ringisan dari pria itu.
“Sakit, kamu kalau digigit balik mau gak?” Bhanu menatap sengit tampang polos dan tanpa dosa Ane.
Bahkan Ane mengangguk, “mau, kenapa gak, kan di gigit sama suami sendiri harusnya mas gak marah dong digigit istri sendiri, lagi pula mas sih kok demen banget diam-diam gitu, dosa mas gak ngajak istri ngomong sampe sebulan lebih lagi,” ocehnya.
Bhanu hendak menurunkan Ane di ranjang tetapi wanita itu enggan makin mempererat tangannya melingkar di leher Bhanu.
“Ih masih mau gendong, lagian masih kangen gak peka banget sama istri,”
Bhanu memutar bola matanya malas, Ane bertingkah seperti bocah sejak ia memutuskan mendiamkan wanita itu, tapi terbesit rasa senang karena Ane menunjukkan sikap manja dan sangat disukai Bhanu ketika wanita itu bermanja-manja padanya namun satu hal pasti Bhanu masih menunggu dengan sabar kejujuran Ane sampai sekarang. Bhanu duduk di ranjang hingga posisi berubah kini Ane duduk di pangkuannya.
“Mas mau mandi?”
Pertanyaan konyol, tentu saja tanpa Bhanu jawab seharusnya Ane sudah tahu kebiasaan Bhanu sepulang kerja tentu akan mandi.
__ADS_1
“Ih, tuhkan diam lagi! Kenapa sih? Gigit lagi nih,” Ane gemas sekaligus kesal sendiri aksi diam Bhanu.
“Yah, kamu juga udah tahu ngapain tanya lagi? Minggir mas mau mandi,” usir Bhanu dengan pasrah Ane turun dari pangkuan sang suami.
“Okey, Ane lepaskan kali ini, tapi habis mandi mas harus susul Ane ke dapur terus peluk Ane selama masak, biar romantis gitu mas kayak awal-awal kita nikah, ya, ya?” Ane mengedipkan mata berulang kali sekaligus tampang memelas agar Bhanu setuju.
Ane sengaja melakukan itu agar Bhanu mengingat kembali betapa mesra dan manisnya sikap pria itu padanya, Ane ingin Bhanu kembali seperti semula. Tapi lagi-lagi tanpa kata Bhanu berdiri dan melangkah memasuki kamar mandi.
“Ih Mas Bhanu! Ngeselin!” pekik Ane hendak menangis saking kesal dan letihnya membujuk Bhanu seakan sia-sia karena sikap pria itu tak berubah sedikit pun. Namun begitu Ane tetap menuju dapur tetapi anehnya Ane seketika berubah pikiran, rasa malas tiba-tiba datang begitu saja.
Ane berbalik menuju kamar dan terlihat Bhanu baru saja selesai berpakaian. Ane menekuk wajah langkahnya begitu pelan, Bhanu menaikkan satu alis menangkap tingkah aneh dari sang istri nampak begitu lesu, tetapi Bhanu tidak ada inisiatif untuk bertanya bahkan pria itu duduk di kursi mengeringkan rambutnya yang basah. Ane semakin manyun atas sikap Bhanu, mood Ane benar-benar anjlok secara mendadak.
“Jangan kayak gini Ane gak suka, mas diamin Ane lama banget, Ane juga udah bujuk mas tapi sia-sia mas gak berubah, Ane kesel sedih juga,” bibir Ane bergetar lirih berkata demikian.
“Bohong kalau mas ada masalah pekerjaan, mas diamin Ane lama banget, ini pasti ada yang salah sama Ane, tapi mas ngomong apa supaya Ane mengerti,” lanjut Ane.
Bhanu rasanya ingin memaki meluapkan segala gemuruh dalam hatinya, tapi itu tidak dilakukan oleh Bhanu justru pria itu tetap bersikap tenang. Bhanu menyingkirkan tubuh Ane lalu meraih tengkuk wajah sang istri ditatapnya wajah sembab itu dengan tatapan serius dan dalam.
“Untuk kedua kalinya mas tanya sama kamu, kamu merasa melakukan kesalahan, hm? Bukan kah sejak awal mas menekankan kalau kamu tidak merasa seperti itu, ya sudah untuk apa kamu memikirkan itu lagi?”
__ADS_1
Ane terdiam hanya suara tangis yang terdengar, bibir Ane seakan terkunci sangat sulit untuk berbicara. Bhanu beranjak, ia menjauh dari Ane bahkan tanpa kata keluar dari kamar. Bhanu mengerang frustrasi kenapa Ane begitu kekeh menyembunyikan hal itu, Bhanu hanya ingin kejujuran Ane dan wanita itu sadar akan apa yang dilakukan adalah sebuah kesalahan. Bhanu enggan memberitahu biar lah Ane sadar dengan sendirinya.
Tangisan Ane semakin kencang, dadanya terasa sesak ia tidak ingin terus mendapatkan perlakuan cuek bahkan terkesan dingin dari sang suami. Napas Ane tersendat saking hebatnya menangis. Ane meringkuk di atas kasur menumpahkan segala tangisan. Sedangkan Bhanu berada di ruang tengah duduk sembari memijat kening, kepalanya terasa pening dan rasanya ingin meledak.
\*\*\*\*
Keesokan harinya, Ane tampak begitu tenang dan hanya sesekali mengeluarkan suara tak seperti biasa. Mata Ane terlihat bengkak dikarenakan menangis hampir semalam penuh, kepalanya terasa pusing dan berat walau begitu ia tetap menyiapkan segala keperluan untuk sang suami.
Ane membuatkan teh hijau dan roti panggang untuk sarapan Bhanu, pagi ini ia tidak memasak sarapan berat, moodnya sedang tidak bagus dan hari ini bi Popon sedang izin harus pulang kampung selama beberapa hari jadi Ane seorang diri menyiapkan segalanya bahkan pekerjaan rumah lainnya. Bhanu menyeret kursi untuk diduduki, matanya melirik Ane sekilas yang menaruh piring yang di atasnya ada roti panggang. Ane ikut duduk di kursi menemani Bhanu dengan mulut dan bibir yang seakan terkunci rapat enggan berbicara.
Bhanu menyesap teh dalam diam dengan mata masih tertuju pada sang istri kini sedang mengigit roti. Baru beberapa gigitan ada rasa aneh melanda Ane, ia segera bangkit dari kursi berlari ke kamar. Ane mengunci pintu kamar mandi, kepala dan perutnya sangat tidak enak. Bhanu menyusul naik ke kamar tetapi tidak ada suara apapun terdengar di dalam kamar mandi.
“Ane,” panggil Bhanu khawatir.
“i'm okay, mas pergi aja nanti telat,” balas Ane dari dalam kamar mandi.
Bhanu berpikir sejenak lalu melirik jam di pergelangan tangannya, ia harus berangkat sekarang takut terjebak macet. Bhanu pamit lalu pergi begitu saja. Tak lama Ane keluar dari kamar mandi, ia meraih Hoodie dan jilbab instan ia memesan ojek online.
Apotek, tujuan wanita itu adalah membeli testpack entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ia hamil. Ane juga menyadari jika ia telat datang bulan. Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Ane bergegas mencoba testpack tersebut. Ane merasakan jika jantungnya berdetak kencang, aliran darahnya berdesir dengan hebat serta tangan dan kaki yang gemetar.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu, tanpa kata bahkan Ane tak bisa mengeluarkan suara setelah melihat hasil testpack tersebut. Kepalanya menggeleng bahkan kini air mata telah luruh begitu saja tanpa diminta oleh pemiliknya.