Pengangguran Naik Pelaminan

Pengangguran Naik Pelaminan
Bab 18


__ADS_3

Ane dan Ratna mengunjungi kediaman orang tua Bhanu, sebab Kakek Bhanu sedang sakit. Ratna mengetahui hal itu dari status WhatsApp Sri dan mengajak Ane mengunjungi Wibisono. Ketika mereka sampai, rupanya ada sosok Rita di rumah itu. Ane bersikap biasa saja di tengah tatapan Rita yang sepertinya tak menyukai kehadirannya.


Keluarga Bhanu menyambut hangat kedatangan Ratna beserta Ane apalagi Sri ketika melihat Ane ia langsung memeluk Ane erat. Ane membalasnya tak kalah erat dengan senyum mengembang di wajahnya. Aksi pelukan berlangsung cukup lama hingga Sri beralih pada Ratna tak lupa mengucapkan kata terima kasih datang menjenguk sang mertua. Ane mendekatkan diri hendak menyalami punggung tangan nenek Bhanu yang disambut hangat. Ini kali pertama Ane bertemu dengan nenek beserta kakek Bhanu walau sang kakek terbaring lemah di ranjang dan sepertinya sedang tidur. Jadi Ratna dan Ane hanya melihat sejanak kemudian berkumpul di ruang tamu beserta yang lainnya. Ajeng—nenek Bhanu, diam-diam meneliti karakter Ane apakah sama dengan yang selama ini ia dengar dari menantu dan cucunya.


Ane canggung dengan nenek Bhanu apalagi ini kali pertama mereka bertemu, walau begitu Ane berusaha terlihat biasa saja. Ajeng terlihat ingin berdiri dari kursi dan nampak agak kesusahan melihat itu Ane sigap membantu Ajeng.


“Ane bantu Mbah,” suara lembut milik Ane terdengar di telinga Ajeng.


“Terima kasih, Nduk!” Ajeng tersenyum tipis.


“Mbah, mau ke mana? Biar Ane bantu berjalan,”


“Mbah mau ke kamar liat Mbah Kakung,”


Ane membantu menopang tubuh Ajeng berjalan, melihat sikap Ane, Rita mencibir dalam hati tak suka seakan Ane sedang mencari perhatian pada wanita tua itu.


Sesampainya di kamar, Ane tak langsung balik, ia mengamati sejenak wajah tua kakek Bhanu ada kemiripan yang diturunkan ke Bhanu, walau wajah keriput Wibisono namun kemiripan Bhanu dan sang kakek masih terlihat. Ane bahkan bisa membayangkan wajah Wibisono ketika muda pada sangat tampan seperti Bhanu. Wibisono tiba-tiba saja terbangun, Ajeng langsung menanyakan keinginan sang suami. Wibisono meminta air, Ajeng melihat cerek ternyata airnya habis. Ane menawarkan diri untuk mengambilkan minum, ia kasihan jika Ajeng harus berjalan lagi.


“Biar saya saja Mbah,”

__ADS_1


“Gak apa-apa, Nduk?”


“Iya, letak di dapurnya di mana Mbah?”


“Keluar kamar ini kamu belok kiri terus aja nanti sampai belakang dan dapurnya sebelah kanan,”


Ane pamit ke dapur mengambil minum. Ajeng sudah bisa menilai sedikit banyaknya mengenai Ane, menurutnya Ane memang anak yang manis, peka dan perhatian bukan karena cari muka atau sebagainya, Ajeng bisa melihat ketulusan Ane dalam membantunya. Setelah air di dalam cerek terisi, Ane kembali ke kamar. Ia juga menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Ajeng yang kemudian diberikan kepada Wibisono.


“Semoga lekas sembuh dan sehat kembali Mbah, Ane doakan semoga Allah SWT mengangkat penyakit dan sakit yang di derita Mbah sekarang ini,” ujar Ane tulus.


“Amiin Ya Rabbal Alamin, terima kasih, Nduk!” balas Wibisono usai meneguk air.


Ane tersenyum kaku ketika Rita mendongak menatap wajahnya. Rita hanya diam terkesan cuek, bahkan gadis itu menatap ponselnya menghiraukan Ane.


“Mbak belum balik?” tanya Ane yang tak bermaksud apa-apa justru ditangkap lain oleh Rita.


Rita menukik alisnya tajam memandang Ane dengan ekspresi tak suka, “kenapa? Mau ngusir?”


“Enggak, bukan gitu maksudnya Ane, eng—” Ane mengangkat satu tangannya di depan Rita lalu menggoyangkan ke kanan dan ke kiri. Atensi Rita kini beralih ke jari manis Ane, dimana ada sebuah cincin melingkar indah di sana.

__ADS_1


Rita langsung tertuju pada cerita Ajeng bahwa Bhanu menolak perjodohan dengannya dan memilih Ane sebagai calon pendamping pria itu. Awal bertemu dengan Ane di mesjid, ia belum melihat cincin di jari manis Ane namun kini terlihat berbeda. Tanpa berpikir panjang, Rita sudah bisa menebak cincin itu. Apalagi mendengar cerita Ajeng mengenai keseriusan Bhanu kepada Ane.


“Jangan pikir, kamu berhasil memakai cincin pemberian Mas Bhanu, kamu bisa mengusir saya di rumah ini, kamu masih calon belum menjadi menantu sah di rumah ini,” desis Rita.


Ane makin tak enak hati dibuatnya, “mbak jangan berpikir seperti itu. Ane sama sekali tidak bermaksud apa pun, Ane hanya berpikir jika—”


Rita menaikkan jari telunjuk dan menempelkan di bibirnya, “sstt! Gak usah ngomong panjang lebar. Saya juga gak butuh penjelasan kamu!”


Ane dibuat bungkam, bahkan jari-jarinya meremas ujung hijab miliknya. Rita kembali bersuara dan membuat suasana semakin canggung bahkan terkesan tegang.


“Secepat itu, kah? Oh saya lupa, Mas Bhanu punya pesona yang luar biasa, cewek mana pun pasti akan tertarik. Atau jangan-jangan kamu hanya iseng menerima Mas Bhanu atau karena udah frustasi mencari kerja jadi sekali ada yang lamar langsung di terima, gitu?” ujar Rita dengan nada mengejek bahkan terkesan menyudutkan Ane. Rita sudah mengetahui cukup banyak perihal Ane dari nenek Bhanu yang informasi tersebut berasal dari Sri.


Ane menghela napasnya kasar, ia dengan tegas membalas perkataan Rita, “mohon maaf, kalau saya begitu cepat menerima Mas Bhanu dan membuat Mbak Rita tidak senang, saya sama sekali tidak pernah bermain-main dengan hubungan bahkan soal pernikahan. Munafik kalau saya bilang, gak frustasi cari kerja, tapi itu bukan alasan untuk menerima Mas Bhanu, saya gak sepicik itu Mbak!”


Rita menaikkan sudur bibirnya tersenyum paksa, “oh, bagus lah! Satu yang kamu ingat, di luar sana saya yakin masih banyak wanita atau gadis lain yang menyukai Mas Bhanu, sekali kamu lengah maka bisa saja posisi kamu akan terancam bahkan bisa jadi kamu tergantikan,” usai mengatakan itu, Rita langsung bangkit dari duduknya segera pamit pada Sri dan juga Ratna. Seulas senyum penuh arti diberikan pada Ane sebelum ia melangkah keluar rumah.


Ane memejamkan mata, menelan semua perkataan Rita kemudian di cerna baik-baik di dalam otaknya. Terbuka lah mata Ane ketika ingatannya kembali tertuju pada sosok anak kecil yang memanggil Bhanu dengan sebutan ‘Papa Dokter’ yang mengharuskan Bhanu menjelaskan secara detail ke Ane setelah Video Call berakhir. Permasalahan itu pun Ane anggap clear, ia juga sebenarnya tidak mempermasalahkan lagi pula, ia kasihan pada Kinan jadi Ane bisa memaklumi.


......Assalamualaikum, haduh gimana dengan bab yg ini? apakah kalian ikut emosi atau setuju sama Rita? maaf yah kalau updatenya sehari se-bab soalnya aku emg cuma bisa updatenya segitu perhari. jangan lupa vote+like+comment! see you di bab selanjutnya. big love ♥️......

__ADS_1


...RA...


__ADS_2