
Ariane sedang bersantai ria di ruang tengah rumahnya, matanya memandang lurus ke arah layar datar yang menampilkan series favoritnya. Rasa gatal terasa di bagian dagunya, tak sadar ia menggaruk area tersebut namun lupa jika sedang menggunakan masker yang masih lembab.
“Yah, asem banget!” ujarnya pada diri sendiri. Ia bangkit dari sofa lalu meraih cermin kecil melihat wajahnya. Maskernya terkelupas di area yang ia garuk tadi. Akhirnya ia mengoleskan kembali sisa masker yang berada di wadah, ke wajahnya.
“Dek, besok pagi ikut ibu pengajian lagi yuk!” suara sang ibu terdengar seiring kemunculan sosok wanita paruh baya datang membawa piring berisikan irisan buah semangka.
“Kayaknya gak bisa deh, Bu! Besok, Ane udah janji sama Mas Banyu buat temenin ke kondangan,” jawab Ane sembari membersihkan jari-jarinya yang terkena masker.
“Oalah, yaudah kalau gitu, tapi besok minta tolong anterin ibu dulu yah ke tempat pengajian,” ujar sang ibu yang diangguki oleh Ane sembari mencomot satu iris semangka.
Tiba-tiba saja pikiran untuk menikah muncul di kepala Ane dan mengutarakan pada sang ibu.
“Ane, nikah aja kali yah Bu, seru juga deh kayaknya apalagi kalau Ane punya anak terus manggil ibu dengan sebutan nenek atau Mbah,” ucap Ane senyum sendiri sambil berimajinasi.
Ratna—ibu Ane, terkekeh lalu menepuk lembut pundak sang putri lalu berkata, “Amiin Allahumma Amiin, semoga jodoh adek datangnya cepat, jadi ibu bisa lihat kamu nikah dan insyaallah bisa gendong sama bantu kamu rawat cucu ibu nanti,”
Ane mengerucut bibirnya seketika, “ih, tapi kalau gitu berarti Ane gak kerja dong, gak jadi ah, Ane mau kerja dulu nabung uang yang banyak habis itu nikah deh,”
__ADS_1
“Sebaik-baiknya rencana, lebih baik rencana dari Allah SWT, mau kamu nikah dulu atau kerja itu gak masalah, Nak! Sama-sama rejeki, asal ketika nikah emang niatannya buat ibadah, Insyaallah bakal diberkahi Allah SWT,” masukan Ratna pada Ane.
Di tempat lain, Bhanu mulai jengah mendengar obrolan dari sang nenek bersama sahabat diwaktu mereka masih muda, serta ada juga gadis yang rencananya hendak dijodohkan padanya. Sungguh Bhanu sangat tidak suka tindakan sang nenek menjodohkannya, selama ini Bhanu bukannya tidak ingin mencari pasangan hanya saja memang Bhanu belum menemukan yang pas sesuai dengan pilihan hatinya. Gadis yang dijodohkan dengannya mempunyai pekerjaan dibidang kesehatan sama sepertinya. Perawat cantik yang bertugas di salah satu rumah sakit di Yogyakarta.
“Gimana, nak Bhanu? Menurut kamu Rita seperti apa?” tanya sosok wanita paruh baya yang umurnya setara dengan sang nenek.
Bhanu mengembuskan napasnya lalu menjawab dengan jujur, “cantik seperti para wanita pada umumnya, lagian Bhanu belum bisa menilai lebih jauh, kami kan baru bertemu hari ini,”
Gadis yang bernama Rita, harus bersikap seperti apa atas pernyataan Bhanu, walau begitu ia tetap tersipu malu karena memujinya cantik.
Nenek Bhanu ikut bersuara yang membuat Bhanu kesal sendiri, sejak awal melihat Rita entah mengapa hati Bhanu langsung seakan menolak gadis itu dijodohkan padanya.
Rita menyembunyikan senyumnya ketika menundukkan kepala, dalam hati ia bersorak ria mendapat waktu bersama Bhanu, sejak awal tahu perjodohan yang diusulkan oleh neneknya, Rita setuju dan sangat senang apalagi mengetahui Bhanu adalah sosok pria tampan. Ia berharap perjodohan ini akan berhasil sampai pelaminan.
Karena desakan sang nenek, Bhanu tidak punya pilihan lain. Ia bangkit dari kursi pamit untuk bersiap. Selang beberapa menit kemudian, Bhanu datang, penampilannya telah siap dan rapi, pria itu menggunakan kemeja navy yang begitu pas membalut tubuh berototnya. Rita terkesima melihat sosok pria tampan di depannya.
“Aduh, cucu Mbah, siap kencan,” sang nenek ikut memuji ketampanan sang cucu. Rita disenggol oleh sang nenek untuk segera berdiri dan menghampiri Bhanu.
__ADS_1
Rita tersenyum malu, perlahan bangkit dan mendekati Bhanu sembari mengangguk ramah. Bhanu tersenyum tipis sebagai respon. Keduanya pun pamit meninggalkan kedua nenek terpekik senang dan berharap jika cucu mereka akan saling jatuh cinta dan menerima perjodohan khususnya Bhanu.
Suasana di dalam mobil terasa begitu canggung bagi Rita, tidak bagi Bhanu yang merasa biasa saja dan memilih untuk diam. Rita sungguh bingung harus melakukan apa, namun begitu ia berinisiatif untuk mengajak Bhanu berbincang.
“Mas, gimana kalau kita ke Cafe aja? Kebetulan aku punya rekomendasi cafe yang bagus menu-menunya juga enak,” usul Rita yang diangguki oleh Bhanu. Rita melirik Bhanu diam tak bergeming, ia sepertinya harus lebih aktif mengajak Bhanu berinteraksi agar keduanya cepat akrab.
“Aku dengar Mas tugas di Jakarta yah?” Bhanu tak lantas bersuara, pria itu hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban sembari melirik Rita sekilas.
Rita mengembuskan napasnya pelan, ia tidak boleh menyerah, ia harus tetap mengajak Bhanu berbincang, “dari kecil emang Mas mau jadi dokter atau tuntutan orang tua?” gadis itu mencari topik agar perbincangan keduanya semakin lebar.
Bhanu terpaksa bersuara atas pertanyaan Rita padanya, “tidak ada tuntutan apa pun dari orang tua, jadi dokter memang keinginan saya,”
Rita mengangguk mengerti, lalu kembali bersuara, “Mas setuju sama keinginan nenek-nenek kita perihal perjodohan ini?” tanyanya hati-hati, Rita awalnya ragu dengan pertanyaan itu hanya saja rasa penasaran mengenai pendapat Bhanu mengenai perjodohan ini sangat menggebu dipikirannya.
“Saya lagi nyetir, tidak baik berbincang saat berkendara,“ alibi Bhanu yang sebenarnya ia hanya tidak ingin menjawab pertanyaan itu membuat Rita kembali bungkam. Gadis itu tak lagi mengajukan pertanyaan dan memilih diam namun sesekali bersuara memberikan arahan pada Bhanu lokasi cafe yang akan mereka tuju.
...Terima kasih yang sejauh ini Vota+like+comment, walau cerita ini masih baru, tapi semoga kalian gak pernah bosan menunggu setiap update-an per-babnya. Big Love ♥️...
__ADS_1
...RA...